Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Klarifikasi


__ADS_3

"Apa dia memintamu untuk bertanggung jawab?" tanya Fatimah tanpa menjawab pertanyaan Albert.


Albert terlihat menunduk karena yang dikatakan Fatimah adalah benar adanya, selama satu minggu ini Alice selalu saja datang ke perusahaannya.


Dia meminta Albert untuk bertanggung jawab, karena kini dirinya harus menjalani perawatan intensif.


Fatimah terlihat menghampiri Albert, lalu dia pun berdiri tepat di hadapan suaminya itu. Dia menatap suaminya dengan intens.


"Sekarang katakan padaku, apa yang kalian lakukan di belakanga aku?" tanya Fatimah.


Albert langsung membalas tatapan istrinya, dia menatap wajah istrinya dengan raut wajah bersalah.


"Tidak ada, Alice memang selalu datang. Dia selalu meminta pertanggung jawaban padaku, karena saat kita bertemu di Rumah Sakit, dia melakukan pengangkatan rahim. Dia merasa sudah tak sempurna lagi sebagai perempuan," kata Albert.


Pandangan Fatimah kini beralih pada Alice, dia menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya.


"Apa yang tadi kamu lakukan dengan suamiku?" tanya Fatimah.


"Tadi, aku kepeleset. Karena Albert marah dan melemparkan gelas kopinya, aku kaget dan langsung melompat. Tapi aku ngga berniat untuk melakukan hal yang tidak-tidak, aku belum lama melakukan operasi pengangkatan rahim. Aku masih waras, ucap Alice seraya menunduk.


Pandangan Fatimah beralih pada gelas pecah yang berada di kolong meja, dia pun bisa bernapas dengan lega.


"Lalu, bentuk tanggung jawab apa yang kamu inginkan?" tanya Fatimah.


Alice terlihat bingung untuk menjawab, antara takut dan juga ragu. Dia benar-benar merasa sulit untuk bicara, apa lagi saat melihat wajah Fatimah yang begitu tegas dan menakutkan menurutnya.


"A--aku hanya ingin dinikahi, karena tidak akan mungkin ada lelaki yang mau menikahiku kalau tahu aku tak akan bisa mempunyai keturunan," ucap Alis pelan sekali.


Mendengar ucapan Alice, Fatimah langsung tertawa.


"Sombong sekali kamu, kamu itu hanya mahluk ciptaan Tuhan. Berani sekali kamu mendahului takdir Tuhan, memangnya kamu tahu nasib kamu semenit kemudian akan seperti apa?" tanya Fatimah.


Alice terlihat menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tidak tahu. Yang dia tahu saat ini, dia sangat takut tak ada lelaki manapun yang mau terhadap dirinya.


"Berlakulah yang baik, perbaiki akhlak dan penampilanmu. Aku yakin Allah sudah menyiapkan hal yang terbaik untuk umatnya," kata Fatimah.


Alice terlihat memindai penampilannya sendiri, dia hanya memakai dress tanpa lengan dua puluh senti di atas lutut.


Dia benar-benar terlihat sangat seksi, Alice juga sempat melirik ke arah Fatimah. Wanita itu berpenampilan tertutup, tapi terlihat elegan, modis, cantik dan terlihat seperti wanita yang sangat terhormat.


"Maaf," kata Alice.


"Untuk apa?" tanya Fatimah.


"Untuk semuanya, Al memang bukan lelaki yang telah menghamiliku. Aku hanya memanfaatkan situasi saja, maaf." Alice tertunduk lesu.


"Jika kamun percaya akan kekuasaan Tuhan, jangan pernah berpikir buruk tentang takdir kehidupan yang akan datang. Berpikirlah positif, karena semuanya akan terlihat buruk jika kita tidak pernah berpikir baik," kata Fatimah.


"Maaf Nyonya Raimhond, aku tidak akan mengganggu rumah tangga kalian lagi. Aku juga akan berusaha untuk berpikir positif seperti yang kamu katakan," ucap Alis


"Permisi," sambungnya lagi.


Alice terlihat langsung pergi dari ruangan Albert, sedangkan Albert langsung menghampiri Fatimah dengan senyuman yang mengembang.


"Sayang!" Albert terlihat ingin memeluk Fatimah namun dengan cepat Fatimah mendorong dada Albert.


"Jangan berani menyentuhku, jika kamu belum bisa bersikap tegas dengan hidupmu. Jangan pula karena aku tak meluapkan kemarahanku di depan wanita itu, posisimu merasa baik-baik saja. Kamu tetap salah Tuan Raimhond, karena telah membiarkan wanita lain masuk ke dalam kehidupan kita," kata Fatimah.


"Tapi, Yang. Aku tidak bermaksud sama sekali untuk menikahinya, aku hanya berniat untuk memberikan tunjangan hidup yang layak," kata Albert.


"Jangan pernah memberikan celah pada perempuan lain untuk masuk ke dalam rumah tangga kita, Tuan Raimhond. Kamu harus paham akan hal itu," kata Fatimah.


"Terkadang kebaikan yang kita berikan menjadi bumerang untuk diri kita sendiri," sambung Fatimah.


"Maaf, Sayang. Mas janji ngga bakalan kaya gitu lagi, Mas janji cuma ada satu wanita yang bertahta di hatiku ini. Percayalah, Sayang. Mas sudah cinta mati sama kamu," kata Albert.


"Hem," jawab Fatimah seraya berlalu dari dalam ruangan suaminya.


"Sayang," ucap Albert memelas.


Albert langsung menyusul istrinya, dia benar-benar takut jika Fatimah akan marah dan meminta cerai pada dirinya.


Ternyata Fatimah menghampiri asisten pribadi Albert, lalu dia pun memintanya untuk memutar rekaman CCTV selama 1 minggu saat Alice datang ke tempat Albert.


Albert sempat tercengang mendengar permintaan istrinya, namun dia tak bisa melayangkan protesnya.


Dengan cepat sang asisten pribadi Albert pun menyalakan laptopnya, dia memberikan rekaman CCTV tersebut kepada Fatimah.


Dari mulai pertama Alice datang, sampai yang baru saja terjadi di ruangan Albert. Mata Fatimah terlihat begitu fokus saat melihat setiap rekaman CCTV yang diputar.

__ADS_1


Di dalam rekaman CCTV tersebut, sangat jelas jika Alice terlihat begitu agresif untuk menggoda Albert.


Namun Albert tak pernah menggubris Alice sama sekali, Fatimah pun terlihat menyunggingkan bibirnya.


Senyuman yang sangat tipis terukir di bibir Fatimah, bahkan Albert pun tak menyadari senyuman dari Fatimah tersebut.


Dalam hatinya, Fatimah berdecak senang. Karena ternyata suaminya memanglah setia kepadanya.


Mungkin, ini hanyalah godaan rumah tangga yang datang di kala dirinya akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar lagi, dari sang Maha Kuasa.


"Sudah percaya' kan kalau suami kamu ini setia?" tanya Albert.


"Hem," jawab Fatimah.


Albert terlihat begitu senang, lalu dia pun mendekati Fatimah dan hendak memeluk istrinya tersebut.


Namun, kejadiannya terulang lagi. Fatimah langsung mendorong dada suaminya agar bisa menjaga jarak dari suaminya tersebut.


"Kenapa, Yang? Kan aku sudah terbukti ngga selingkuh," ucap Albert sendu.


Sang asisten yang melihat kelakuan Bos besarnya, hanya bisa mengatupkan mulutnya menahan tawa. Dia tidak menyangka jika bosnya yang dingin dan selalu irit bicara, ternyata begitu manja di depan istrinya.


"Kamu harus tetap dapat hukuman, Mas. Karena sudah memberikan celah kepada wanita lain untuk masuk ke dalam kehidupan kita, jadi... selama satu minggu ini kamu nggak boleh nyentuh aku," ucap Fatimah seraya berlalu.


Albert melayangkan tatapan penuh protes kepada istrinya tersebut, lalu dia pun mengikuti langkah istrinya.


Albert terlihat sangat takut jika dia benar-benar tak boleh menyentuh istrinya selama satu minggu, sedangkan sang asisten hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bos besarnya.


+


+


Selamat pagi semuanya, Fatimah udah otewe tamat ya....


Untuk yang berkenan boleh mampir ke karya Othor yang lainnya, masih anget. Baru banget netes.



Bab 1


"Ra, kamu itu jadi orang jangan terlalu percaya banget sama suami kamu," ucap Bu Desi tetangga Larasati.


"Loh, memangnya kenapa Bu? Selama ini suami saya sangat baik, dia tidak pernah berbuat macam-macam," ucap Larasati dengan yakin.


Bu Desi terlihat mencibir ke arah Larasati, dia terlihat kesal karena ucapannya seakan tak dipercaya oleh Larasati.


"Tapi, Ra. Saya sering lo ngelihat suami kamu jalan sama cewek cakep, tubuhnya terlihat seksi dan juga ramping. Nggak kaya--"


Bu Desi tak meneruskan ucapannya, namun matanya menyisir setiap lekuk tubuh Larasati yang terlihat gempal.


Bahkan timbunan lemak pun terlihat menumpuk dimana-mana, Larasati terlihat memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah.


Dia sadar jika tubuhnya kini tidak ramping seperti dulu lagi, itu semua karena saat hamil dia mengalami pendarahan dan dokter berkata jika Larasati harus bedres.


Larasati tak boleh melakukan apa pun, maka dari itu Restoran miliknya pun dikelola oleh suaminya. Karena dia benar-benar harus istirahat dengan total.


Melihat Larasati yang hanya diam saja, Bu Desi pun langsung kembali berkata.


"Kalau kamu tidak percaya dengan ucapan saya, kamu bisa mencari tahu sendiri. Jangan hanya diam saja, nanti kamu menyesal loh," ucap Bu Desi lagi.


Setelah berkata seperti itu, Bu Desi pun langsung pergi meninggalkan Larasati. Dia pun terlihat kembali ke dalam rumahnya.


Setelah kepergian Bu Desi, Larasati pun memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya.


Hatinya merasa tak tenang, rasanya dia ingin segera bertemu dengan suaminya dan menanyakan hal tersebut.


Namun, jika dia bertanya pasti suaminya bisa mengelak. Dia pun berpikir dengan keras, akhirnya dia pun memutuskan untuk membuntuti suaminya sendiri.


"Baiklah, besok aku akan mengikuti suamiku. Semoga saja apa yang diucapkan oleh Bu Desi tak terbukti," ucap Larasati penuh harap.


*/*


Keesokan harinya, setelah suaminya pergim Larasati pun langsung bersiap, dia ingin segera menyusul suaminya ke Restoran.


Sebelum pergi, Larasati memompa asinya terlebih dahulu. Lalu dia menitipkan bayinya kepada asisten rumah tangganya.


"Bi, tolong jaga Satria. Aku akan pergi, asinya sudah aku siapkan dalam botol." Larasati terlihat mengecup pipi gembil putranya.


"Baik, Nyonya," jawab Bi Minah.

__ADS_1


Setelah menitipkan putranya, Larasati pun langsung pergi menuju Restoran menggunakan taksi.


Sampai di sana, Larasati tidak masuk ke dalam Restoran miliknya, dia menunggu tak jauh dari Restoran memiliki tersebut.


Dia terlihat memperhatikan gerak-gerik suaminya, sungguh dia merasa penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Bu Desi.


Tak lama kemudian, Larasati melihat ada seorang wanita cantik yang berdiri tepat di depan Restoran miliknya.


Lalu, tak lama kemudian suaminya terlihat keluar dari dalam Restoran tersebut. Yudha terlihat langsung mengecup kening wanita cantik tersebut dengan sangat mesra.


Hati Larasati terasa mendidih, namun dia tak bisa melabrak suaminya bersama dengan perempuan itu begitu saja.


Dia masih ingin tahu, seberapa jauh hubungan suaminya dengan wanita tersebut. Dengan menahan rasa sakit di hatinya, Larasati pun mengikuti kemana perginya suaminya dengan wanita itu.


Setelah Larasati perhatikan, ternyata suaminya dan perempuan tersebut pergi ke sebuah hotel yang tak jauh dari Restoran miliknya.


Hati Larasati terasa sangat sakit, bahkan darahnya terasa mendidih. Untuk apa lagi seorang lelaki dan perempuan masuk kedalam hotel kalau bukan untuk menyewa kamar dan melakukan hubungan suami istri.


Larasati terlihat menahan amarahnya, dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh suaminya di belakangnya.


Setelah lima belas menit dia terdiam, akhirnya dia pun memutuskan untuk itu masuk kedalam hotel tersebut.


Beruntung Larasati mengenal pemilik hotel tersebut, dia pun meminta tolong kepada pemilik hotel tersebut agar memberikan kunci cadangan kamar hotel yang dipesan oleh suaminya.


Awalnya Awan sang pemilik hotel tak mau memberikannya, namun karena kasihan kepada Larasati dia pun memberikan kunci cadangan kamar hotel tersebut.


Sebenarnya Awan sudah mengetahui perselingkuhan suami Larasati dengan wanita tersebut, namun dia tak mau ikut campur.


Menurutnya, itu adalah urusan rumah tangga Larasati. Bukan urusannya, apa lagi sampai dia mengadukannya kepada Larasati.


"Terima kasih," ucap larasati setelah mendapatkan kunci cadangan kamar hotel tersebut.


Larasati berjalan dengan langkah gontai, menuju kamar hotel yang disewa oleh suaminya beserta dengan wanita selingkuhannya.


Kalau saja membunuh itu tidak haram, rasanya Larasati ingin membawa pisau dan menusuk suaminya bersama dengan selingkuhannya tersebut.


Rasanya dia ingin membunuh suaminya beserta dengan selingkuhannya dengan tangannya sendiri.


Namun, Larasati masih waras. Tiba di depan kamar hotel tersebut, jantung Larasati berpacu dengan sangat cepat.


Keringat bercucuran di dahinya dengan deras, matanya pun mulai memanas. Perasaannya sudah tak menentu, rasanya dia tak sanggup untuk melihat kemungkinan yang akan terjadi.


Namun, sebelum dia melihat semuanya dengan jelas. Larasati pantang untuk pulang.


Perlahan-lahan Larasati pun membuka pintu kamar hotel tersebut, setelah terbuka dengan lebar, nampaklah suaminya yang sedang menggagahi wanita selingkuhannya.


Bahkan saking asiknya mereka bercinta, mereka sampai tak menyadari kedatangan Larasati.


Air mata Larasati langsung luruh seketika, dia melihat suaminya dan perempuan itu begitu menikmati permainan yang sedang mereka lakukan.


Perempuan itu nampak mendongakkan kepalanya lalu mencium bibir suaminya dengan bringas. Sedangkan suaminya terlihat menghentakkan pinggulnya dengan cepat.


"Faster, Honey!" teriak wanita itu.


"Tentu, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan, akan segera aku lakukan," kata Yudha.


"Tentu, Sayang. Kamu harus memberikan apa pun yang aku inginkan, bukankah aku lebih cantik dan seksi dari istri kamu?" tanya wanita itu dengan napas tersenggal.


"Tentu saja, Sayang. Kamu sangat cantik, kamu menarik. Kamu sangat seksi, kamu lebih segala-galanya dari istriku yang gendut itu. Dia tidak apa-apanya, dia hanya wanita menjijikkan yang tidak pernah bisa membuat aku puas di atas ranjang."


Yudha terlihat membalikkan tubuhnya, lalu dia mengangkat tubuh wanita selingkuhannya tersebut dan memintanya untuk memimpin permainan.


Wanita itu pun dengan senang hati langsung melakukan penyatuan, tak lama kemudian wanita itu pun terlihat menggoyangkan pinggulnya.


Larasati yang melihat dengan mata kepalanya sendiri perbuatan suaminya merasa jijik, mual dan juga marah serta sakit hati secara bersamaan.


Larasati hanya bisa menangis sambil menutup mulutnya, agar suara tangisannya tak terdengar kencang.


"Bagaimana, Sayang. Enak bukan?" tanya wanita tersebut.


"Tentu saja enak, si gendut itu mana bisa bermain seperti ini. Dia hanya bisa diam saja seperti patung," ucap Yudha lagi.


Larasati benar-benar sudah tak kuat, mendengar penghinaan demi penghinaan yang terlontar dari mulut suaminya tersebut.


Larasati lalu mengambil pas bunga yang berada di atas meja, lalu dia melemparkannya ke arah tembok yang berada di samping ranjang tempat berlangsungnya kegiatan panas suaminya dengan wanita selingkuhannya tersebut.


PRANG!


Vas bunga berbahan dasar keramik itu pun hancur berkeping-keping, Yudha dan perempuan tersebut pun langsung menghentikan aksinya karena kaget.

__ADS_1


Lalu, mereka pun melihat ke arah Larasati yang kini sedang menangis sambil menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.


__ADS_2