Hati Yang Kau Sakiti

Hati Yang Kau Sakiti
Kepiting Saos Padang


__ADS_3

Fatimah terlihat menyimpan tespeknya di atas meja rias, lalu dia duduk sambil menatap wajahnya dipantulan kaca.


Lama dia terlihat seperti orang bingung, namun tak lama kemudian dia nampak tersenyum. Kemudian dia bangun dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Fatimah sempat melirik ke arah jam digital yang tertera di atas nakas, waktu menunjukkan pukul sebelas siang.


"Sepertinya tidur sebentar bisa membuat tubuh terasa lebih segar," ucap Fatimah lirih.


Fatimah lalu memejamkan matanya, berharap saat matanya kembali terbuka, hanya akan ada kebahagiaan yang menghampirinya.


Sebenarnya itu adalah hal yang mustahil untuk terjadi, karena setiap mahluk hidup pasti akan mengalami yang namanya senang dan sedih.


Tak mungkin hanya akan ada rasa bahagia yang akan datang dan tak mungkin pula akan ada rasa sedih yang meliputi kehidupan.


Karena sesungguhnya kehidupan itu seperti roda yang akan terus berputar, kadang di atas dan terkadang di bawah.


Terkadang kehidupan juga seperti menaiki wahana roller coaster, terkadang terasa menegangkan, menakutkan dan juga merasa senang.


Kecuali, rodanya macet ya. Entah kita akan lama berada di atas atau akan lama berada di bawah, tinggal menunggu perbaikan saja.


Tentu diri kita sendiri yang harus memperbaiki semuanya, bukan orang lain.


*/*


Aliana merasa khawatir karena Fatimah tak segera keluar dari dalam kamarnya, Aliana pun memutuskan untuk melihat keadaan Fatimah.


Aliana menitipkan Baby Delina terlebih dahulu kepada Babysitternya, lalu dia naik ke lantai dua. Dia ingin melihat keadaan Fatimah di dalam kamarnya.


Saat masuk ke dalam kamar Fatimah, Aliana terlihat tersenyum karena ternyata Fatimah sedang tertidur dengan sangat pulas.


Aliana sempat melihat tespek yang tergeletak di atas meja rias, karena penasaran Aliana pun langsung melihat tespek tersebut.


Saat melihat tulisan negatif diatas tespek tersebut, Aliana pun nampak tersenyum.


"Terima kasih, ya Allah. Karena ternyata kak Fatimah tidak mengandung anak dari lelaki itu," ucap Aliana dengan lirih.


Setelah mengucapkan hal itu, Aliana nampak mendekati ranjang milik Fatimah lalu dia pun duduk tepat di samping Fatimah dan mengelus lembut tangan Fatimah.


"Kak, bangun. Ini sudah pukul satu siang, Kakak belum shalat. Kakak juga belum makan," Aliana mencoba membangunkan Fatimah.


Fatimah terlihat menggeliatkan tubuhnya, lalu dia membuka matanya dan meregangkan otot-otot lelahnya. Dia terlihat kaget, saat melihat adik iparnya berada di dekat dirinya.


"Kamu ada di sini? Ada apa? Apa ini sudah sore?" ucap tanya Fatimah.


"Ini sudah pukul satu, segeralah shalat. Nanti kita makan siang bareng," ucap Aliana.


"Ya," jawab Fatimah.

__ADS_1


Aliana terlihat keluar kamar Fatimah, sedangkan Fatimah terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah gontai menuju kamar mandi.


Tak perlu waktu lama, 5 menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan langsung melaksanakan salat dzuhur.


Lima belas menit kemudian, Fatimah pun langsung keluar dari kamarnya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan, saat tiba di sana ternyata Albert sudah menunggu dirinya.


"Al, kenapa kamu di sini?" tanya Fatimah dengan raut bingung.


Ini masih siang, pikirnya. Seharusnya pria yang kini ada di depannya sedang bekerja, lalu... kenapa bisa ada di rumah Aby?


"Karena hari ini aku belum bertemu denganmu, makanya aku ke sini. Aku bawain makanan kesukaan kamu, kepiting saos padang," Albert menunjukkan bungkusan yang dia bawa.


Albert sengaja meminta koki handal untuk membuatkan makanan kesukaan wanitanya, agar Fatimah merasa senang.


"Wow!" Fatimah langsung duduk dan membuka makanan yang Albert bawa.


"Kamu tahu, Ra. Susah loh dapetin makanan ini," ucap Albert.


"Ya, aku tahu," jawab Fatimah singkat.


Fatimah langsung menuangkan kepiting saus Padang yang Albert bawa ke dalam wadah, lalu dia pun mengajak Aliana untuk makan bersama.


"Ayo, Dek. Kita makan bersama," ajak Fatimah.


Aliana sebenarnya sudah makan siang, dia mengajak Fatimah untuk makan bersama itu tentu bukan makan bersama dengan dirinya. Namun, makan siang dengan Albert.


"Aku sudah makan," jawab Aliana singkat.


"Lalu, kenapa tadi kamu bilang kita akan makan siang bersama?" tanya Fatimah.


"Bersama dengan Kak Albert," ucap Aliana sambil tersenyum.


Pandangan mata Fatimah kini beralih pada Albert, dia seolah ingin bertanya pada Albert. Melihat raut wajah Fatimah, Albert pun langsung tersenyum dengan sangat manis.


"Jadi, kamu sudah lama Al, datang ke sini?" tanya Fatimah.


"Sudah dari tadi, tapi aku takut mengganggu tidurmu," jawab Albert.


"Seharusnya kamu membangunkanku," kata Fatimah dengan raut wajah penuh sesal.


"Tak apa, menunggu bertahun-tahun pun aku sanggup. Masa menunggu satu jam saja aku tidak sanggup," kata Albert.


"So sweet," kata Fatimah.


"Sekarang makanlah, pasti kamu lapar," kata Albert.


"Ya, aku sangat lapar. Apa lagi mencium aroma kepiting saos padang, emmm, makin laper," jawab Fatimah.

__ADS_1


Setelah mengucapkan do'a makan, Fqtimah pun langsung memakan makanan yang Albert sediakan dengan sangat lahap.


Albert hanya tersenyum sambil melihat Fatimah yang nampak begitu menikmati makanannya.


"Enak?" tanya Akbert.


"Sangat enak," jawab Fatimah dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Albert langsung tertawa melihat tingkah Fatimah, dia lalu mengambil tisu dan menyusut saos yang menempel di dagunya.


"Kamu jorok, makannya kaya Delina." Kembali Albert mengelap dagu Fatimah.


Fatimah langsung terkekeh mendengar ucapan Albert, namun benar apa kata Albert. Dia makan dengan tergesa, pasti akan belepetan, pikirnya.


Setelah Fatimah menghabiskan setengah makanan yang Albert bawa, Fatimah nampak menghentikan kunyahannya.


Albert sampai bingung dibuatnya, dia langsung menatap Fatimah dengan lekat. Lalu, Albert pun bertanya kepada Fatimah.


"Kenapa berhenti? Apa makanannya tidak enak?" tanya Albert.


"Enak, Al. Sangat enak, tapi aku lupa menawari kamu. Kamu mau?" tanya Fatimah.


"Ya ampun, Arra. Aku kira ada apa, aku sudah kenyang. Kamu makanlah," kata Albert.


"Melihat kamu yang makan dengan sangat lahap seperti itu, membuat aku sangat kenyang Arra," ucap Albert dalam hati.


"Baiklah, akan aku habiskan semua. Kamu jangan nyesel karena ngga mau nyoba," ucap Fatimah.


Albert langsung tersenyum, lalu dia menyodorkan segelas air putih untuk Fatimah.


"Minumlah terlebih dahulu, agar tenggorokannya tidak sakit," ucap Albert.


Fatimah langsung menganggukkan kepalanya, "Ya, Al."


Fatimah pun lalu meminum air putih tersebut, lalu melanjutkan makannya kembali.


+


+


+


Selamat malam, semoga kalian sehat selalu. Satu bab lagi untuk menemani kalian sebelum bobo, aku coretkan.


Semoga kalian masih berkenan membaca, jangan lupa tinggalkan jejak. Like, vote, koment, kembang dan juga kopinya aku tunggu.


I love you sekebon toge, mmmmmmuuuuuuaaaach....

__ADS_1


__ADS_2