
alea menghela napas nya, ia benar benar lelah, baru saja ia memaaf kan kelakuan alpin, ia berlapang dada, tapi lagi lagi alpin menyakiti nya.
alea menghela napas nya, dan kini ia bersiap siap untuk menuju proyek, kini ia sudah tidak peduli lagi, dengan alpin, dan rumah tangga nya, lebih baik ia memikir kan ke langsungan ke hidupan nya.
ale alun menuju ke bawah.
" fa, aku pergi dulu ya.. ?? " ( alea)
" ok, hati hati ya al, maaf aku engga bisa ikut, soal nya, di sini engga ada yg menghendel.. ?? " ( sifa)
awal nya sifa, ingin ikut, tapi ada pekerjaan , yg tidak mungkin ia tinggal kan.
" ok, tenang aja, aku berangkat dulu ya, assalamu'alaikum.. ?? " ( alea)
" ok,hati hati, waalaikumsalam.. ?? " ( sifa)
alea pun menuju ke mobil nya, dan menyala kan nya.
hampir, memakan waktu satu jam, alea kini sudah sampai.
ia pun masuk ke dalam, dan mencari nya, tsetelah menemukan orang yg janjian dengan nya, ia pun menemui nya.
" maaf tuan, anda menunggu lama " ( alea)
orang tersebut menoleh ke arah alea.
" ah, angga juga, saya juga baru sampai.. ?? " ( dito) ia pun berdiri, dan mempersilah kan alea, duduk.
alea pun duduk, di depan dito.
" apa mau pesen dulu, minum atau makan. " ( dito) ia menatap ke arah alea, ia begitu kagum, saat melihat wajah alea, yg tanpa make up, hanya terlihat memakai lip bam saja.
" paling minum saja tuan, kebetulan saya sudah makan. " ( alea) ia menampil kan senyum manis nya.
dito, begitu terpesona, di saat melihat senyum, alea.
" baik.. ?? "( dito) sedikit gugup, tapi ia berusaha menetral kan perasaan nya.
pelayan pun datang, dito pun sama memesan minum man saja .
__ADS_1
sambil menunggu pesan nan datang, mereka membahas pekerjaan , yg akan mereka jalani.
hampir satu jam mereka membahas nya, dan menuju ke sepakat tan, dan mereka pun resmi bekerja sama.
" semoga lancar ya tuan, dan sesuai apa yg kita harap kan. " ( alea)
" amin.. ?? jangan bilang tuan dong, pangil aja nama, saya melihat umur kita,engga beda jauh."( dito).
" terasa engga sopan, kalau aku panggil nama, gimana kalau panggil mas aja. " ( alea)
" boleh, biar tidak canggung.. ?? " ( dito)
alea hanya menampil kan senyum manis nya, dan membuat dito, lagi lagi terpesona, alea pun melihat jam, ternyata sudah menunjuk kan pukul 05 sore.
"maaf mas, kebetulan pembahasan kita sudah selesai, saya pamit duluan mas, soal ny saya mau, menjemput anak saya. " ( alea)
deg
dito pun terdiam, ia kira, kalau alea belum menikah, ternyata alea sudah menikah, dito pun sedikit kecewa.
" mas.. ?? " ( alea) ia memegang bahu dito, membuat dito tersadar dari lamunan nya.
" ah, iya al, ada apa. "( dito)
" oh iya silah kan, biar aku yg bayar.. ?? " ( dito) di saat ia melihat, alea mau mengambil uang di dalam dompet nya.
" makasih, kalau gitu aku pamit. " ( alea ) ia pun menuju ke luar,dito menatap ke arah alea.
" anday, kamu belum menikah al, aku akan berusaha mendapat kan kamu.. ?? "( dito) ia menatap ke depan.
dito merasa kan, jatuh cinta, pada pandang ngan pertama ke pada alea, tapi sebelum ia menyatakan cinta nya, ia sudah kecewa, karena alea sudah menikah.
dito pun ke luar dari cafe, dengan wajah di tekuk, awal nya dito dan alea akan mengecek lokasi, tapi karena ada suatu halangan, yg engga memungkin kan mereka ke sana, akhir nya mereka hanya membahas saja, tanpa mengecek ke lokasi.
kini alea sudah sampai di rumah mertua nya, dan di sambut oleh sang anak sisi dan ibu mertua nya.
alea pun duduk si sofa, sebelum nya ia mengecup punggung tangan sang ibu mertua.
" gimana, pekerjaan nya kak.. ?? " ( mamah alpin)
__ADS_1
" allhamdulilah mah lancar, tinggal mengecek lokasi aja. " ( alea).
" allhamdulilah,lancar selalu ya sayang. " ( mamah alpin).
" iya mah.. ?? " ( alea).
" kamu engga bareng sama suami kamu al. " ( mamah alpin)
alea hanya menggeleng kan kepala nya saja, sebagai jawab ban.
" aku kira, mas alpin sudah ke sini.. ?? "( alea)
" belum nak, kemana ya anak itu.. ?? " ( mamah alpin)
alea menghela napas nya, mamah alpin tau, dari raut wajah alea, terlihat beban yg begitu berat.
" nak, cerita kan semua nya, sisi sudah memberitahu kan semua nya, tentang ke lakuan suami kamu. " ( mamah alpin) ia mengelus bahu sang menantu.
alea pun menatap ke arah, ibu mertua nya.
" ke luar kan semua, unek unek kamu sayang.. ?? " ( mamah alpin)
" mah, boleh aku menyerah, dalam menjalin rumah tangga ini, karena aku benar benar lelah mah, jujur aku engga mau mengambil ke lutusan ini, karena aku nyaman berada di dekat mamah, dan juga sisi, aku juga sudah mencintai maa alpin, tapi cinta ku tak terbalas kan, bahkan sampai detik ini pun, mas alpin masih mencintai ke kasih nya, dia rela meninggal kan aku, demi pacar nya mah, maaf mah, bukan nya aku mengadu yg engga engga, tapi itu ke nyataan nya. " ( alea) ia menunduk kan wajah nya, air mata nya yg sesari ia tahan, akhir nya jatuh juga.
" kalau itu ke lutusan kamu, mamah akan mendukung mu nak, da satu yg mamah pinta, kalau kamu bukan lagi menantu mamah, kamu jagan melupakan mamah ya nak, sering lah bermain ke sini nak, karena mamah sudah menganggap kamu sebagai anak mamah. " ( mamah alpin) sambil membawa alea, ke dalam peluk kan nya.
alea pun menumpah kan air mata nya, di dalam dekap pan sang ibu mertua.
sisi yg melihat itu,ia ikut menangis, dan memeluk ke dua orang yg mencintai dan menyayangi nya, begitu tulus.
tapi bentar lagi, ia akan ke hilangan, satu wanita yg begitu ia sayangi.
mereka pun berpeluk kan, dengan erat, setelah beberapa menit, mereka pun mereka peluk kan nya.
" aku ikhlas mah, kalau mamah mau berpisah dengan papah, mamah orang baik, mamah berhak bahagia, walaupun hati kecil aku, ada rsa tak rela, tapi aku akan berusaha ikhlas, dengan ke putusan mamah, aku ingin mamah bahagia , tapi satu mah, walaupun mamah bukan lagi, mamah aku , di hati ini masih ada nama mamah, mamah jangan pernah melupakan aku. " ( sisi) dengan air mata nya, yg sudah jatuh ke pipi nya.
" mamah engga akan pernah melupakan kamu nak, karena mamah di dunia ini, tidak punya siapa siapa, selain kamu dan ibu.. ?? " ( alea)
" sebelum nya, kita sudah membahas nya, kalau mamah sama papah pisah, kamu masih tetap, anak mamah.. ?? " ( alea) ia memeluk sisi.
__ADS_1
mamah alpin, begitu terharu tak kalau, melihat ke dekatan sang cucu dengan ibu sambung nya.
ia begitu menyesali, atas sikap sang anak, yg lebih memilih perak, ke timbang berlian.