
Alice kini terlihat duduk di sebuah lapangan luas yang terlihat tak berpenghuni, banyak ilalang yang tumbuh di lapangan yang sangat luas tersebut.
Dia merasa marah, sedih, malu dan juga kesal. Dia merasa sangat ingin meluapkan kemarahan dan kekesalan hatinya.
Sesekali dia terlihat mengambil batu kecil, lalu dia akan melemparkannya secara sembarangan.
Sungguh hatinya sedang terluka saat ini, mungkin Fatimah bisa mengatakan jika dia harus bersabar dan berusaha memperbaiki diri agar bisa mendapatkan jodoh yang baik untuk dirinya.
Namun, pada kenyataannya dia bukan wanita yang kuat. Sungguh hatinya begitu lemah, apa lagi dengan kenyataan jika dirinya sudah tidak sempurna lagi.
Menurut pikirannya, hanya laki-laki bodoh saja yang mau menikah dengan dirinya. Karena sudah dapat dipastikan, jika lelaki menikah dengan pujaan hatinya, selain ingin mendapatkan kebahagiaan di atas ranjang, pasti lelaki tersebut juga ingin kebahagiaan dengan cara mendapatkan keturunan dari istri tercintanya.
"Aaaaarrggh!!" teriak Alice seraya melemparkan batu kerikil ke arah sembarangan.
"Aww!!"
Samar-samar Alice mendengar suara pekikan kesakitan, wajahnya pun langsung terlihat pucat.
Baru saja dia melemparkan batu, walaupun berukuran sangat kecil, namun dia melemparkannya dengan sangat kencang.
Sudah dapat dipastikan jika kena orang lain, pasti akan terasa sangat sakit. Alice langsung bangun dari duduknya, lalu dia pun mencari asal suara tersebut.
Alice berjalan menerobos ilalang yang tingginya lebih dari dirinya, tak lama kemudian dia melihat seorang pria yang sedang mengusap-usap keningnya.
Bahkan Alice bisa melihat jika kening lelaki tersebut mengeluarkan darah, Alice yang tak enak hati pun langsung menghampiri pria tersebut.
"Ya Tuhan, maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Alice.
Pria yang sedari tadi mengusap keningnya pun langsung menghentikan aksinya, lalu dia pun menatap wajah Alice dengan intens.
Awalnya wajah pria itu terlihat dingin dan datar, namun beberapa detik kemudian pria itu pun langsung tertawa.
"Aku kira tadi aku ditimpuk oleh setan penunggu tanah kosong ini," canda pria itu.
Awalnya pria itu terlihat ingin marah, namun saat melihat wanita yang berada di hadapannya begitu terlihat ketakutan, dia pun mengurungkan niatnya.
Apa lagi saat melihat pipinya yang basah dengan mata yang sembab, sudah dapat dipastikan jika wanita tersebut sedang sangat sedih.
"Ih! Ngga lucu, Tuan. Kening anda berdarah, apa anda membawa kotak obat? Biar lukanya saya obati, takutnya nanti akan infeksi," kata Alice.
"Sebentar," ucapnya.
Pria tersebut nampak masuk ke dalam mobilnya, tak lama kemudian dia keluar dengan membawa kotak obat di tangannya. Dia pun lalu menyerahkan kotak P3K tersebut kepada Alice.
Alice pun dengan cepat menerima kotak obat tersebut dari pria itu, dia pun membuka kotak obat tersebut.
__ADS_1
Nampaklah obat yang dia butuhkan, Alice tersenyum. Lalu, dia pun meminta pria yang berada dihadapannya untuk merendah.
"Tuan, bisakah kamu membungkuk? Kamu terlalu tinggi, aku tidak bisa mengobati lukamu," kata Alice.
Pria itu nampak tersenyum hangat, lalu pria itu terlihat celingukan mencari sesuatu yang bisa diduduki. Tak lama kemudian,dia pun segera duduk di atas batu yang tak jauh dari sana.
"Sekarang kamu bisa mengobati lukaku," kata pria tersebut.
Alice terlihat membuka kotak obatnya, lalu dia pun mengambil alkohol dan membersihkan luka pria tersebut.
Setelah bersih, dia pun meneteskan betadine ke kain kassa dan menempelkannya di kening pria itu, lalu memakaikan plester.
"Sudah selesai," ucap Alice.
"Terima kasih," ucap pria tersebut seraya tersenyum hangat.
Untuk sesaat Alice terpana saat melihat senyuman pria tersebut, nampak manis dan juga tulus.
"Kenapa kamu sendirian saja di tempat seperti ini?" tanya pria tersebut.
Alice nampak tertunduk lesu, dia teringat kembali akan kesedihan yang dia lalui. Dia ingin sekali meluapkan kekesalannya, makanya dia menepikan mobilnya dan masuk ke tanah kosong tersebut.
Pria itu nampak terdiam, lalu tak lama kemudian dia tersenyum dan berkata kepada Alice.
"Jika kamu sedang bersedih, kamu boleh meluapkan rasa sakit hatimu. Kamu boleh meluapkan kegundahanmu, kamu boleh meluapkan emosi yang ada di dalam hatimu. Tapi, caranya bukan dengan pergi ke tanah kosong dan melemparkan batu secara sembarangan." Pria itu nampak tersenyum setelah mengatakan hal itu.
"Jika kamu ingin meluapkan semua rasa gundah yang ada di hatimu, berwudhu'lah. Shalat dan bercerita' lah kepada Tuhanmu, minta'lah kepadanya tentang kebaikan apa yang kamu inginkan," kata pria itu.
DEG!
Perasaan Alice terasa tercubit mendengar ucapan pria tersebut, benar kata Fatimah jika dia memang harus mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dia harus meminta yang terbaik kepada Tuhannya, agar dirinya bisa mendapatkan yang terbaik dari Tuhannya.
Walaupun dia tak yakin, jika Tuhannya akan memberikan hal yang dia inginkan. Karena dia sangat sadar, jika dia adalah seorang pendosa.
"Kenapa diam? Takut permintaan kamu tidak dikabulkan oleh Tuhanmu?" tanya pria itu.
Alice nampak menganggukkan kepalanya, pria yang ada di hadapannya benar-benar luar biasa pikirnya. Bisa menembak semua yang ada di pikiran dan juga di hatinya.
"Aku pun dulu seperti itu, aku adalah seorang pendosa. Aku sangat takut jika Tuhan tidak akan memaafkan diriku, aku sangat takut jika Tuhan tak menerima Taubatku. Namun aku salah, ternyata Tuhan adalah maha pengampun," ucap pria tersebut.
Awalnya Alice terlihat diam saja, namun setelah dia mendengarkan apa yang diucapkan oleh pria tersebut, entah kenapa dia merasa jika dia bisa mempercayai pria yang ada di depannya.
Alice nampak ikut duduk di samping pria tersebut, lalu dia pun menceritakan apa yang terjadi terhadap dirinya tanpa ada satu pun yang dia lewati.
__ADS_1
Termasuk niatnya mendekati Albert, dia ingin dinikahi karena dia takut tidak akan ada pria yang menikahinya, jika tahu kalau dirinya sudah tidak mempunyai rahim lagi.
Pria itu nampak tersenyum setelah mendengarkan cerita Alice, lalu dia pun berkata.
"Percayalah, suatu saat nanti Tuhanmu akan mengirimkan sosok pria yang baik untukmu," kata pria itu.
"Sepertinya tidak akan ada yang mau, mana ada pria yang mau menikahi wanita yang tidak bisa memberikannya keturunan?" ucap Alice.
"Jangan suka mendahului Tuhan, bisa saja pria itu menerimamu dengan sukarela. Kalau masalah anak, nanti kamu dan suami kamu bisa mengadopsinya dari panti asuhan," kata pria tersebut.
"Lalu, bagaimana kalau dia menginginkan anak yang banyak dariku, sedangkan aku tidak memiliki rahim?" tanya Alice lagi.
"Sekalian saja kamu dan suami kamu bikin panti asuhan, banyak anak-anak yang akan membuat hari-harimu lebih ceria," kata pria itu seraya terkekeh.
Untuk sesaat Alice terdiam, lalu dia menatap wajah pria yang ada di depannya dengan sangat intens.
" Apa kamu sudah menikah?" tanya Alice.
"Aku duda, aku tak bisa mempertahankan rumah tanggaku karena kelakuan burukku di masa lalu," kata pria tersebut.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu saja yang menjadi suamiku?" tanya Alice tanpa berpikir panjang.
Pria yang kini duduk di hadapan Alice langsung terdiam, lalu beberapa saat kemudian dia pun membalas tatapan mata Alice.
"Yakin mau mempunyai suami seperti aku? Aku hanya lelaki pendosa yang sedang berusaha untuk memperbaiki diri," ucap pria tersebut.
Alice lalu memindai penampilan pria yang ada di hadapannya, pria di hadapannya nampak begitu tampan dengan kemeja warna marun yang dia pakai.
Tubuhnya terlihat atletis, wajahnya terlihat berseri. Walaupun dia sempat melihat luka dan rasa bersalah di dalam sorot matanya.
"Kamu tampan, menarik dan juga kamu menyenangkan. Jika kamu mau menerima keadaanku yang penuh kekurangan ini, aku ingin menjadi istrimu," ucap Alice tanpa ragu.
"Nanti kita bikin panti asuhan, agar hari-hari kita akan terasa ramai dengan suara anak-anak," kembali Alice mengeluarkan isi hatinya.
Pria tersebut nampak terkekeh mendengar ucapan dari Alice, lalu dia pun kembali menatap wajah Alice.
"Kenapa kamu begitu yakin ingin menikah denganku? Padahal kita baru pertama kali bertemu," kata pria itu.
"Entahlah, tapi aku yakin kamu bisa menjadi imam yang baik untukku. Nikah, yu?" ajak Alice.
"Baiklah, bagaimana kalau kita berkenalan dulu selama satu bulan. Jika kamu merasa cocok denganku, aku akan segera melamar kamu ke rumah orang tua kamu?" tanya pria itu.
"Deal?" ucap Alice seraya mengulurkan tangannya.
Pria itu nampak terkekeh, lalu dia pun membalas uluran tangan Alice.
__ADS_1
"Deal!" katanya.
Mereka terlihat tersenyum, lalu tertawa. Mereka menertawakan diri mereka yang dirasa sangat lucu, karena tiba-tiba saja memutuskan hal di saat mereka belum mengenal satu sama lain.