
mereka bertiga langsung berjalan menuju ke arah tempat penjualan boneka itu. sesampainya mereka di sana bisa langsung mengambil boneka yang ukurannya sebesar tubuhnya. Nisa berdiri men sejajarkan tubuhnya pada boneka itu.
"yang ini Kak, boleh..??" ucap Nisa sambil mengedip-edipkan matanya ke arah kedua kakaknya. Leon dan Jack tersenyum, Leon pun langsung membayar boneka sang adik. setelah selesai membayar, kali ini bonekanya sudah berpindah tangan di bawah oleh Leon.
"Kenapa kamu sangat menyukai boneka besar ini..?? Kenapa tidak sekalian saja menikah. biar bisa memeluk orang asli, bukan boneka." ucap Jack di sela-sela perjalanan mereka. Leon tersenyum mendengar gerutuan dari Jack.
"boleh memangnya Kak, bukannya Nisa belum boleh menikah ya. kan kakak semua yang melarang Nisa untuk tidak menikah terlalu cepat." ucap Nisa kepada kedua kakaknya. Mereka pun tidak bisa menjawab hanya bisa tersenyum.
lama mereka berkeliling, ternyata mall ini sangatlah besar, Di sana juga ada rumah makan yang menyediakan makanan khas di kota x ini. Mereka pun langsung bergegas ke sana dan mencicipi makanan khas itu. cukup lama mereka berada di sana, Setelah itu mereka kembali memutuskan untuk berkeliling lagi.
"ayo keliling lagi dek, mana tahu ada cewek cantik lewat. nanti langsung dikarungin aja.." canda Leon kepada kedua saudaranya itu.
"sok gaya Kakak, bilang mau karungin cewek. lihat cewek senyum sama kakak saja udah lari ketakutan." ucap Nisa kepada kakaknya. Leon pun tidak menimpali lagi hanya tersenyum seperti menyengir kuda. Mereka pun mulai berjalan kembali, tanpa Jack sangat kerepotan membawa boneka adiknya.
( huh untung sayang, kalau nggak sayang udah aku lempar boneka ini langsung ke neraka ) batin Jack. Nisa terus menggandeng lengan kedua kakaknya tanpa melepaskan gandengan mereka. cukup lama mereka berkeliling dan tak ada yang menarik di mata mereka, akhirnya mereka kelelahan sendiri.
niatnya Mereka ingin mengelilingi sekotak x, namun baru satu gedung saja yang mereka kelilingi sudah kelelahan. tampak mereka bertiga sedang duduk lesehan di tangga lobi mall Ramayana.
"huh lelah sekali, aku pikir seharian bisa mengelilingi tempat lain yang ada di kota ini. ternyata baru satu tempat saja sudah kelelahan seperti ini.. benar-benar lemah.." ucap Leon merutuki dirinya sendiri. Nisa pun terkikik mendengar rutukkan kakaknya.
"ya jangan menyerah seperti itu dong Kak, Kan besok masih bisa jalan-jalan.." ucap Nisa kepada kakaknya.
"sebentar Kakak beli minum dulu.." kali ini jack yang bersuara. Jack pun langsung meninggalkan boneka besar itu di samping Leon. Nisa langsung menganggukkan kepalanya, sambilan jack melangkahkan kaki turun dari tangga lobi dan pergi menghampiri pedagang kaki lima yang menjual minuman.
kembali pada Leon dan Nisa yang masih duduk di tangga lobi sambil menunggu kedatangan Jack.
"Iya dek, takutnya nanti besok Kakak sudah tidak memiliki waktu luang seperti ini. Mengingat Kak max dan Kak Arthur mengurus perusahaan ayah, jadi tidak mungkin dong kakak tidak ikut membantu mereka." ucap Leon kepada Nisa. Nisa pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
__ADS_1
"Iya juga sih Kak, Tapi Kakak tenang saja. nanti kakak semua luangkan waktu beberapa hari, kita akan pergi jalan-jalan ke lembah Harau. biasanya di sana banyak destinasi yang bisa dinikmati. tidak perlu menyewa tempat, kita bikin tenda saja." ucap Nisa kepada Leon. Leon yang beranggapan bahwa itu adalah liburan langsung tersenyum riang.
"ah kamu bener dek, nanti kalau semua urusan sudah selesai, kita akan diskusikan lagi bersama dengan saudara-saudara kita. waktu Kakak masih di luar negeri, kakak benar-benar ingin menjelajah keindahan alam Indonesia ini. tapi, Kakak masih belum memiliki waktu luang. dan itu merupakan ide yang bagus." ucap Leon sambil menjentikkan jarinya di depan wajah adiknya itu. Nisa yang melihat kelakuan sang Kakak tak bisa tidak tersenyum meremeh.
"cih !! gitu aja udah senang.. makanya buruan bar-rumah tangga, biar bisa pergi liburan bersama dengan istri dan anak-anak. umur sudah mau 30 tahun, tapi belum juga dapat pendamping." sindir Nisa kepada kakaknya itu. Leon yang mendapat sindiran halus dari sang adik langsung mengetuk kepalanya dengan pelan.
tok
"aduh..!! sakit Kak, ngapain sih pakai ngetok-ngetok kepala Nisa segala.." garutu Nisa sambil mengusap kepalanya yang tadi kena ketokan sayang dari sang kakak. jack yang melihat Leon mengetok kepala sang adik pun ikut menegur.
"Kamu ngapain ngetop-ngetok kepala adik seperti itu, sakit tahu.." gerutu Jack kepada Leon sambil menyerahkan minuman yang barusan ia beli. keduanya pun langsung menerima minuman tersebut.
"Iya habis, bisa-bisanya adik menyuruh ku untuk mencari jodoh. dia nggak tahu apa, cari jodoh itu susah. bikin kesel aja.." protes Leon lagi. jack yang mendengar Nisa menyinggung tentang jodoh, langsung memicingkan matanya ke arah sang adik.
"benar begitu dek..??" tanya Jack kepada Nisa. Nisa yang ditanya pun langsung menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
"hais.. adik mikirnya jangan terlalu kejauhan, nanti kalau kejauhan capek, mending mikir yang dekat-dekat aja. seperti kasih solusi untuk membuka bisnis. hehehe..." ucap jeck sambil cengengesan kepada sang adik. Nisa yang mendengar penuturan sang kakak hanya bisa mencebikkan bibirnya.
"hai Nis,..!!" sapa Dedi kepada Nisa. Nisa dan kedua kakaknya yang mendengar ada yang menyapa langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah sumber suara. Leon yang melihat orang yang sama, ketika mereka masih di rumah sakit langsung mengerutkan keningnya.
(dia lagi..) batin Leon. sementara Jack yang belum mengetahui apa-apa hanya mampu mengerutkan keningnya melihat laki-laki asing mendekati sang adik.
"Siapa kamu..?? Dari mana kamu mengenal Nisa..??" tanya Jack dengan tatapan tajam. Dedi tersenyum kikuk, tidak dapat dipungkiri bahwa ia ketakutan melihat tatapan tajam itu.
"hai Bang, perkenalkan saya Dedi mahandika, temannya Nisa sewaktu masih SMA."ucap Dedi memperkenalkan dirinya sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman. Jack yang menghargai orang lain langsung menyambut uluran tangan dari Dedi.
"Oh begitu, lalu untuk apa kamu datang ke sini..??" suara Jack masih terkesan datar dan seperti tidak bersahabat. sementara Nisa tidak berani menyela ucapan sang kakak, biarkan ia menjadi penonton dulu.
__ADS_1
"itu Bang, Saya mau bertemu dengan Nisa. Saya ingin mengobrol sebentar dengannya. Apakah boleh..??" tanya Dedi kepada Jack dengan takut-takut cemas. Jack melihat ke arah Nisa dan Leon yang dari tadi diam tak menyahuti.
"memangnya Apa yang ingin kamu bahas Kak..??" tanya Nisa angkat bicara. Dedi pun mendudukkan tubuhnya di samping Nisa. ternyata, dari arah yang tidak jauh terlihat Aditya bersama asisten Jimmy, sedang berada di mall Ramayana itu. mereka baru saja berkeliling memantau kondisi mal tersebut. tanpa sengaja, mata Aditya mengarah ke arah mereka.
"tunggu dulu.. bukankah itu Nisa dengan saudara-saudaranya Jim..??" tanya Aditya kepada Jimmy. asisten Jimmy yang masih fokus dengan kertas yang ada di tangannya langsung mengikuti arah pandangan di mana Aditya mengarahkan pandangannya. ternyata benar, Jimmy melihat Nisa dan saudara-saudaranya di sana. namun yang jadi pertanyaan, siapa kedua laki-laki itu, dan yang satunya Kenapa duduk di samping Nisa.
"Siapa laki-laki yang duduk di samping Nisa itu jim..?? jangan bilang kalau itu laki-laki yang disinggung oleh Mama yang saat ini tengah mendekati Nisa." ucap Aditya bertanya kepada Jimmy. Jimmy yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung mengarahkan pandangannya kepada bosnya.
"mana aku tahu bos, lagi pula aku juga belum tahu siapa laki-laki yang dekat dengan Nona Nisa selain keenam saudara-saudaranya."ucap Jimmy masuk akal. Aditya yang tidak ingin menebak-nebak, Aditya pun langsung melangkahkan kakinya ke arah orang-orang itu. tampak mereka sedang terlibat obrolan kecil. saat Aditya tiba di sana, kata terakhir yang Aditya dengar adalah laki-laki tersebut mengajak Nisa berbicara dengannya.
Tampak di sana Dedi berusaha untuk mengajak Nisa mengobrol dengannya 4 mata. mereka tidak menyadari kedatangan Aditya dan Jimmy.
"apa yang akan kalian bahas..??" ujar Aditya yang sukses mengejutkan mereka semua termasuk Nisa. mereka membulatkan mata, ketika melihat Siapa yang menyauti ucapan mereka. tak ada yang berani membuka suara, pasalnya mereka semua masih dalam mode terkejut.
"Kenapa kalian semua pada diam..?? Aku sedang bertanya tadi." ujar Aditya dengan datar. Leon yang langsung tersadar dari keterkejutan nya itu, langsung berdecih. ternyata Leon masih sakit hati dengan apa yang pernah Aditya tuduhkan kepada sang adik dan keluarganya. Iya masih belum bisa memaafkan tuduhan Aditya tempo lalu. Leon yang malas melihat Aditya, Iya langsung mengajak Nisa dan saudaranya untuk meninggalkan tempat itu.
"dek, sebaiknya kita pulang saja, tampaknya suasana di sini sudah tidak asik lagi. banyak pengganggu.." ujar Leon kepada Nisa dan jack. Leon pun langsung menarik tangan sang adik, sementara Nisa tidak bisa mengatakan apa-apa hanya mengikuti kakak-kakaknya saja. Nisa menurut saja ketika tangannya ditarik oleh kakaknya.
Sebelum Nisa diseret lebih jauh, Nisa berbalik ke arah Aditya dan melambaikan tangannya, Nisa juga tersenyum ke arah Aditya. Iya mengisyaratkan dada dan sampai berjumpa lagi. setelah itu Nisa dipaksa masuk ke dalam mobil.
Aditya yang melihat respon kakak-kakaknya itu tidak bisa tidak memasang wajah sedih. Iya tahu, kakak-kakak Nisa pasti masih merasa sakit hati dengan apa yang dulu Aditya lakukan. Jimmy yang menyadari atasannya sedang melamun langsung menepuk pundak Aditya dengan pelan.
puk
"sudahlah bos, jangan bersedih. wajar mereka sakit hati, bos hanya perlu menunjukkan bahwa bos tidak sengaja melakukan hal itu. mereka semua orang baik, hanya saja mungkin mereka masih kecewa dengan apa yang bos lakukan. ayo kita pulang juga, pekerjaan kita di kantor masih banyak." ucap asisten Jimmy kepada Aditya. Aditya pun menarik dan menghembuskan nafasnya untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. rasa cemburunya tiba-tiba hilang, ketika mendapati respon Leon yang tidak bersahabat.
"Baiklah Jim, nanti kalau kerjaan kita sudah selesai tolong temani aku pergi ke rumah Nisa ya." ucap Aditya kepada asisten Jimmy.
__ADS_1
"baik bos, bos tenang saja." ucap asisten Jimmy lagi. Setelah itu mereka berdua langsung meninggalkan Ramayana dan kembali ke kantor.
***bersambung****