HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
104. jual mahal


__ADS_3

***


selama 6 jam perjalanan, akhirnya keluarga Tuan Albert tiba di desa jati. ternyata di desa sejati ada proyek pelebaran jalan beberapa bulan yang lalu, sehingga memudahkan mobil mereka memasuki dan menapaki jalan tersebut. tak lama tibalah mereka di sebuah rumah minimalis yang cukup sedikit besar dan terlihat elegan daripada bangunan rumah pada umumnya. ternyata itu adalah rumah kedua orang tua Nisa.


sesampainya mereka di depan pintu gerbang, Nisa pun langsung turun dari mobil dan membukakan pintu gerbang sambil kakaknya max membunyikan klakson mobil menandakan bahwa mereka telah sampai di rumah.


Tin tin tin tin bunyi klakson mobil


akibat bunyi nyaring suara klakson, akhirnya Ibu Nita membukakan pintu rumah. saat itu ia tengah berada di belakang rumah membersihkan beberapa rumput liar di taman kecil Yang waktu itu Nisa sulap menjadi perkebunan.


setelah pintu gerbang dibuka, mereka semua pun langsung memasukkan mobil ke pekarangan rumah.


tampak di depan pintu, Ibu Nita sangat antusias melihat kedatangan anak-anak angkat dan keluarga barunya itu.


"sudah pada sampai..!!" ucap Ibu Nita sambil memasang senyum sumringai di wajahnya. para pemuda itu pun turun dari mobil dan menyalami serta memeluk sayang Ibu Nita.


"Iya Bu, kita sangat merindukan ibu dan bapak. Oh ya, bapak di mana Bu..?? kenapa hanya ada Ibu di rumah..??" tanya max kepada Ibu Nita. Ibu Nita pun langsung mempersilahkan mereka duduk terlebih dahulu. di meja itu juga sudah tersedia minuman dan beberapa cemilan untuk menyambut kedatangan mereka.


"bapak sedang pergi memantau pabrik skin care, letaknya tidak jauh kok dari sini. bapak hanya sebentar kemudian nanti balik lagi." ucap Ibu Nita.


"Oh ternyata ini rumah kita ya Bu.. tadi pas kami melewati jalan, kami cukup terkejut melihat suasana di desa ini. ternyata di sini masih banyak lahan yang belum terjamah oleh tangan manusia." tutur Leon kepada Ibu Nita menyampaikan kekagumannya. karena seumur-umur, Iya belum pernah merasakan udara sejuk seperti di desa ini.


"iya begitulah nak, sebenarnya lahan-lahan itu sudah ada yang punya. Hanya saja karena lahan Mereka banyak akhirnya ada beberapa lahan yang dibiarkan terbengkalai namun tetap diakui oleh pemiliknya."tutur Ibu Nita.


"ayo ayo silakan minum dulu... Bang Albert silakan diminum untuk melepaskan penat di perjalanan." ucap Ibu Nita mempersilakan Tuan Albert. tampak Tuan Albert menyandarkan tubuhnya di senderan kursi sofa yang mereka duduki saat ini. tidak bisa dipungkiri bahwa orang tua itu memang merasa kelelahan.

__ADS_1


"Iya Nita terima kasih.." ucap Tuan Albert, Tuan Albert pun langsung mengambil gelas yang berisi teh dingin dan meneguknya sampai habis. sementara sejak tadi, Nisa sudah menghilang entah ke mana. tapi tiba-tiba ia datang kembali dan bergabung bersama mereka.


"Dari mana saja dek.?" tanya Austin yang memang memperhatikan adiknya menghilang.


"Oh tadi Nisa pergi ke ruang perpustakaan sebentar."ucap Nisa kepada kakaknya. Nisa pun langsung mengambil tempat duduk di samping ibunya. kakak-kakaknya melongo mendengar jawaban Nisa.


"di rumah ini ada perpustakaan dek..??" tanya Leon dengan penasaran. Iya sedikit menyondongkan tubuhnya untuk mendengar jawaban dari sang adik.


"Iya Kak Nisa punya perpustakaan. memangnya kenapa..?? kakak ingin melihat-lihat...??" tanya Nisa kepada Leon. Leon dan yang lainnya pun tidak percaya bahwa Nisa benar-benar memiliki sebuah perpustakaan di rumah ini seperti waktu dulu menjadi Renata.


"nanti saja lah dek, Kakak mau istirahat dulu..." ucap Leon lagi kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Nisa pun tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sang ibu.


"Oh ya Bu, Ayah nanti jadi tinggal di sini, dan Nisa mau ngomong sama ibu, carikan jodoh untuk ayah agar Ayah tidak merasa bosan tinggal di sini hehehe." ucap ucap Nisa sambil melirik ayahnya. sontak saja Tuan Albert langsung melotot ke arah putrinya itu. sementara Ibu Nita ia tersenyum mendengar gurauan anaknya.


"tenang saja nak, ayahmu masih muda. nanti ibu akan carikan perempuan yang bersedia untuk menemani ayahmu di masa mudanya." tutur Ibu Nita sambil membelai lembut kepala putrinya.


"Tidak apa-apa Bang Albert, kebetulan aku juga sudah memiliki calon untuk Abang.." ucap suara yang terdengar dari luar. ternyata pak Juna telah kembali dari pabrik dan tidak sengaja mendengar candaan putrinya. mereka yang ada di ruang tamu pun langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Pak Juna yang baru saja datang.


"eh Pak udah pulang.."" ucap anak-anak muda itu. satu persatu dari mereka mulai menyalami Pak Juna dengan sopan. dan yang terakhir Pak Juna bersalaman dengan tuan Albert. setelah itu Pak Juna kembali duduk dan bergabung bersama keluarganya.


"Jadi bagaimana..?? Apakah Abang setuju jika kami menjodohkan abang hehehe..." tutur Pak Juna lagi. Tuan Albert memutar bola matanya dengan malas mendengarkan candaan orang tua Nisa yang telah Ia anggap seperti keluarganya sendiri.


"aduh.. Abang ke sini bukan untuk menikah melainkan datang bersilaturahmi kepada kalian sekaligus menghabiskan masa tua di sini. tapi.... jika seandainya memang ada jodoh juga tidak masalah hehehe... namun jangan cepat-cepat juga..." ucap Tuan Albert yang sukses mengundang gelak tawa mereka semua.


***

__ADS_1


di tempat lain, Aditya saat ini sedang uring-uringan, saat ini ia tengah berada di perusahaan dan sepertinya ia tidak bersemangat hari ini. karena sudah seminggu lamanya Aditya tidak bertemu dengan Nisa, bukan Aditya tidak ingin bertemu namun selama seminggu setelah ia kembali masuk untuk mengurusi kembali kepemimpinannya, banyak hal yang harus ia kerjakan, sehingga niat awal yang dulunya sudah ia rencanakan akhirnya ditunda.


asisten Jimmy yang melihat Aditya seolah tak bersemangat, asisten Jimmy hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Iya tahu bahwasanya sang atasan sedang merasa galau, pasalnya sudah seminggu ini ia tidak bertemu dengan kekasih hati. Jimmy pun langsung masuk ke dalam ruangan Aditya sambil membawa beberapa map biru di tangannya.


"bos sudah galau-galaunya, ini ada beberapa laporan yang harus buat periksa dan tanda tangani." ucap asisten Jimmy sambil menyodorkan map biru yang ada di tangannya itu.


Aditya menundukkan kepalanya dan kembali duduk tegak di kursi kebesarannya itu. Iya menyeret map biru yang terletak di atas mejanya itu dengan malas. Iya benar-benar terlihat sayu dan tak bersemangat.


"aduh bos, ini masih pagi. kok sudah lesu saja, semangat dong bos..." seru asisten Jimmy menyemangati Aditya. map yang dulunya sudah dibuka oleh Aditya kini ditutup kembali dengan sedikit kasar.


"ah Jim Aku benar-benar tak bersemangat hari ini, pikiranku terus melayang-layang."ucap Aditya mengeluh kepada asistennya. Jimmy memberikan senyum sinis ke arah sang atasan.


"bos pasti lagi memikirkan Nona Nisa ya..?? katanya nggak sayang, tapi kok tampangnya galau gitu sih bos..!!" seru asisten Jimmy menggoda atasannya itu. sontak saja tatapan Aditya kepada Jimmy menjadi tajam.


"ternyata kamu minta dikirim ke Antartika ya, nanti akan ku urus perpindahanmu untuk menangani perusahaan kita yang ada di sana." ucap Aditya dengan datar dan sedikit santai. pernyataan itu tentu saja membuat asisten Jimmy menjadi gelagapan.


"eh jangan gitu dong bos..!! Saya hanya bercanda jangan dianggap serius lah.."ucap asisten Jimmy kepada Aditya. Aditya tak menyautinya lagi, hari ini ia benar-benar terlihat galau karena tidak mendapat kabar.


"Jim, coba deh kamu hubungi Nisa..??" ucap Aditya menyuruh asistennya. Jimmy sontak saja melotot, Iya tak percaya ternyata atasannya masih saja jual mahal.


"aduh bos jangan jual mahal begitu.. nanti nggak laku. mending jual murah saja..." ujar asisten Jimmy sambil menaik turunkan alisnya.


"sudah lah Jim, hari ini Aku benar-benar tidak mood untuk bercanda. segera hubungi dia tanyakan sedang apa ia sekarang." ujar Aditya kembali memerintah Jimmy. Jimmy pun tak dapat mengelak lagi ia kembali merogoh sakunya dan mengambil benda pipih yang ada di dalamnya.


"yang punya pacar siapa yang nelpon siapa.." gerutu Jimmy dengan pelan, namun masih tertangkap dalam indra pendengaran Aditya. tapi karena mood-nya benar-benar tidak lagi bagus ia tidak menanggapinya.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2