
assalamualaikum teman-teman, akhirnya part novel yang berjudul hidup untuk yang kedua kalinya kita lanjutkan kembali. Maaf ya untuk teman-teman yang sudah menunggu lama, tapi terima kasih loh sudah antusias untuk menunggu cerita dari author. ❤️❤️
***
saat ini di rumah besar Nisa di desa jati, keenam anak angkat Tuan Albert dan Pak Juna sedang sibuk mengemasi barang-barang Tuan Albert di rumah barunya. tampak rumah itu memang tidak terlalu besar dari rumah Nisa di desa ini, namun halaman yang luas dan ditumbuhi beberapa tanaman sayuran memberikan kesan segar di lingkungan itu.
jarak rumah orang tua Nisa dan Tuan Albert hanya sekitar 20 meter saja, sangat dekat dan tidak jauh. saat mereka tengah mengemasi barang-barang yang tadi mereka bawa, tiba-tiba handphone bisa berbunyi nyaring. Nisa langsung merogoh sakunya dan mengambil benda pipi itu, serta melihat Siapa yang telah mengganggu aktivitasnya. ternyata di sana tertera nama asisten Jimmy.
"kak Jimmy, Kenapa tiba-tiba ia menghubungiku." ucapnya dengan pelan dan juga dipenuhi dengan perasaan heran. tak menunggu waktu yang lama Nisa pun langsung mengangkat panggilan itu.
Tut
"halo Kak, ada yang bisa Nisa bantu..??" tanya Nisa kepada asisten Jimmy. tanpa Nisa sedikit menunggu lama respon dari asisten Jimmy itu.
"eh tidak apa-apa dek, mmm maksudnya nona," ulang Jimmy lagi karena melihat Aditya melotot kepadanya.
"Oh iya, Kakak cuma mau tanya, sedang di manakah Nona sekarang. kami rencana ingin berkunjung ke rumah nona." ucap Jimmy sudah tidak memperdulikan Aditya yang komat-kamit ingin menyampaikan sesuatu kepada Jimmy.
"oh sayang sekali Kak, saat ini Nisa dan keluarga sudah tiba di desa jati, dan mungkin besok baru kembali." tutur Nisa kepada asisten Jimmy.
"Oh begitu, Ya sudah dek Nggak papa.. nanti kalau adik dan keluarga telah kembali Kakak nanti akan ke sana." ucap asisten Jimmy tanpa mengucapkan kata kami.
"Iya Kak, kalau begitu Nisa akhiri panggilannya ya. soalnya saat ini Nisa tengah sibuk membantu bapak dan ibu." tutur Nisa lagi. setelah mendapatkan persetujuan dari asisten Jimmy, Nisa pun langsung mengakhiri panggilan nya itu.
***
di kantor Aditya, tampak di sana Aditya benar-benar geram dengan perlakuan asistennya itu. pasalnya dari tadi Aditya meminta asistennya untuk melakukan panggilan lewat speaker, namun Jimmy sepertinya acuh dan tidak peduli. bahkan Aditya berkali-kali memberikan kode kepada asisten Jimmy namun berkali-kali juga asisten Jimmy tidak pernah menghiraukannya. setelah panggilan itu berakhir, Aditya langsung menatap kesal atasannya itu.
"sudah bos, saya sudah selesai melakukan panggilan kepada Nona Nisa, sayangnya Nona Nisa tidak berada di tempat." ucap asisten Jimmy tanpa merasa bersalah sedikitpun. justru dalam hati ia menertawakan atasannya itu.
(jangan kesel lah bos, aku tidak salah hehehe) batin asisten Jimmy.
"kamu tuh ya..!! dari tadi aku memberikan kode kepadamu untuk membesarkan suaranya. tapi dengan sengajanya kamu mengabaikan kode dariku. mulai berani kamu sekarang ya..!?" seru Aditya merasa geram dengan perlakuan asistennya.
__ADS_1
"Maaf bos, saya nggak tahu kalau bos ingin mendengar suara Nona Nisa juga. bos kan hanya menyuruh saya untuk menghubungi calon istri bos, dan itu sudah saya lakukan." ucap asisten Jimmy kepada Aditya. Aditya pun tidak berkilah lagi, ya benar-benar kesal dengan asistennya ini.
"ya udah..!! terus ia bilang apa..??"tanya Aditya dengan nada ketus. asisten Jimmy lagi-lagi mengulum senyum.
"jangan ketus seperti itulah bos.. hilang gantengnya nanti.." ucap Jimmy dengan berpose gemulai seperti bencong. Aditya menggigil melihat tingkah asistennya seperti itu.
"ih... apaan sih.. jangan seperti itu ya, jijik...iw...." tanpa sadar Aditya juga mengikuti gaya bicara seperti itu.
"eh !! kok aku ikut-ikutan sih..."ucap Aditya tersadar dengan tingkah lakunya tadi. asisten Jimmy pun langsung tertawa terbahak-bahak melihat bosnya yang ternyata tidak sadar mengikuti tingkahnya tadi.
"hahaha... aduh bos, untung si calon Nyonya bos tidak ada di sini. coba kalau si calon Nyonya berada di dekat bos, bisa rusak nama baik bos... hahaha..." ucap asisten Jimmy sambil tertawa. Aditya pun menggaruk keningnya yang tidak gatal itu. refleks saja tingkat seperti itu keluar begitu saja.
"ini semua gara-gara kamu jim... sudah sana lanjut kerja, jangan senang menertawakan kesengsaraan orang lain.. sana sana..." ucap Aditya sambil mengusir asistennya itu. asisten Jimmy masih terus tertawa sampai perutnya terasa sakit.
"aduh bos, maaf ya bos.." ucap asisten Jimmy. setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Aditya yang tiba-tiba memasang wajah malu karena tingkah spontannya itu.
(aduh kenapa bisa keluar begitu saja ya... untung nggak ada yang lihat, kalau nggak bisa rusak Citra saya ini..) ucap Aditya kepada dirinya sendiri. setelah itu ia langsung melanjutkan pekerjaannya.
***
"Pak, Bu. hari ini kami akan kembali ke kota x. kami titip ayah ya.." ucap max kepada kedua orang tua angkat mereka.
"Baiklah nak, kalian hati-hati di jalan. jangan lupa kalau sudah sampai segera kasih kabar." tutur Ibu Nita.
"Iya ibu sama bapak dan ayah tenang saja. kami pasti akan memberikan kabar." ujar Leon.
"dan jangan lupa ya Pak, Bu. carikan jodoh untuk ayah di sini." timpal Jack sambil mengedipkan matanya ke arah Ibu Nita dan Pak Juna. mendengar penuturan itu, Tuan Albert langsung menepuk pelan punggung Putra angkatnya itu.
"sudah sudah... segera cepat kalian kembali ke kota x.." ucapkan Albert kepada anak-anaknya.
"Ayah ngusir kita..??" tanya Nisa tiba-tiba. Tuan Albert langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Nisa paham, pasti kakak-kakaknya itu menggoda ayah mereka.
"memangnya kakak-kakak Nisa ngomong apa sama ayah..??" tanya nisa kepada ayahnya.
__ADS_1
"eh nggak papa..?? anak kecil tidak boleh ikut campur." ucap Tuan Albert. Nisa menghembuskan nafasnya. ya paling malas disebut anak kecil.
"ayah, Nisa bukan anak kecil lagi. memangnya Ayah tidak lihat kalau Nisa sudah memiliki calon suami." ucap Nisa membercandai ayahnya itu. Tuan Albert memutar bola matanya malas.
"ah belum tentu juga jadi. si tuan amnesia itu kan nggak ingat siapa kamu. udah sana pulang pulang.." ucap Tuan Albert mengibas-mibaskan tangannya mengusir anak-anaknya. karena kalau dibiarkan lama-lama anak-anaknya itu makin menjadi-jadi.
"eh si Ayah benar-benar ya, udah nggak sayang kita lagi..?!" ucap Leon dengan ekspresi bercanda. ia membuang mukanya sambil melipat kedua tangannya. Tuan Albert terkekeh melihat kelakuan Leon.
"nggak usah merajuk seperti itu pada Ayah, tidak akan mempan."ucap Tuan Albert tak kalah ketus seperti Leon yang bercanda. Pak Juna tersenyum melihat keharmonisan ayah dan anak angkat itu.
"sudah sudah, jangan goda Ayah kalian lagi. sebaiknya kalian segera berangkat agar tidak kemalaman di jalan."tutur Pak Juna kepada ketujuh anak-anaknya itu.
mereka semua pun mulai menyalami tangan tua-tua itu, mereka juga berpamitan dan Setelah itu mereka langsung berangkat meninggalkan desa jati kembali ke kota x.
"dek kita akan kembali ke kota x, Apakah kita tidak melewati desa lesi. kakak ingin berkenalan dengan kakak kandungmu Mbak nur." ucap max kepada Nisa. Nisa mengangkat kepalanya dan melihat kakaknya.
"lewat, kalau mau lewat ke sana. soalnya kalau kita berputar, perjalanan yang kita tempuh biasanya hanya 5 jam akan bertambah 2 jam kalau lewat desa lesi. tapi kalau kakak semuanya ingin bertemu juga tidak masalah." tutur Nisa lagi.
"tidak apa, lebih cepat kita berkenalan lebih baik."kali ini Arthur yang bersuara. mereka semua pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan penuturan Arthur.
"Ya sudah kalau begitu, kita lewat desa lesi saja."tutur Nisa lagi menyetujui usul keenam kakaknya itu.
Setelah itu mereka mulai melajukan mobil menuju desa lesi terlebih dahulu, jarak yang mereka tempuh ke desa itu sekitar 2 jam. setelah 2 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di desa lesi.
"Oh iya kak, sebaiknya kita menginap saja. Nisa juga punya rumah di sini. nanti besok saja kembalinya, lagi pulang Nisa tidak ingin kita kemalaman di jalan."tutur Nisa kepada keenam saudaranya. padahal waktu itu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi ketika mereka sampai di desa lesi.
"nggak papa lah Kak, sekalian kita jalan-jalan mengelilingi desa ini. di sini banyak pariwisata, kita juga bisa menaiki speed boat di wisata yang ada di tempat ini."tutur Nisa lagi. keenam bersaudara itu tertarik mendengar menaiki speed boat di tempat wisata. pasalnya orang-orang bule ini memang tertarik dengan pantai dan ombak yang tinggi, Hanya saja karena di negara mereka tidak memadai untuk melakukan surfing atau semacamnya, Jadi mereka tidak bisa melakukannya Di sana.
"Baiklah kalau begitu, Kakak setuju." ucap Austin dan Arthur dengan riang gembira. ternyata Tak Hanya mereka berdua, justru keempatnya juga ikut menimpali.
"Iya nggak papa, sekali-sekali kita merasakan udara sejuk dan pensiun dengan otak-otak yang terus berpikir." ucap Leon mempercandai saudara-saudaranya. mereka semua pun setuju akhirnya mereka pergi ke rumah Nisa terlebih dahulu yang ada di sana sebelum mereka pergi ke rumah kakak kandung Nisa.
***bersambung***
__ADS_1