
saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tamu. tampak mereka sedang bercakap-cakap dan saling tertawa satu sama lain. tiba-tiba, Aditya keluar dari kamarnya dan menuju tempat dimana ada kedua orang tuanya dan Nisa disana. sementara Jimmy sudah lebih dulu kembali ke apartemen nya untuk menjemput beberapa barang yang ia perlukan, karena nyonya Humaira dan Tuan Anwar memintanya untuk tinggal dirumah mereka untuk sementara waktu. mengingat Jimmy juga baru sembuh.
Aditya mengamati kedua orang tuanya dan Nisa dari jarak jauh sebelum akhirnya ia mendekat. saat Aditya datang, nyonya Humaira dan Tuan Anwar menghentikan obrolan mereka, dan mengarahkan pandangannya kepada Aditya, begitu juga dengan Nisa. tapi karena melihat Aditya tidak mengambil tempat duduk, nyonya Humaira pun bertanya.
"ada apa dit..??" tanya nyonya Humaira. Aditya tidak menjawab. ia malah menatap kearah Nisa dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"aku ingin berbicara dengan mu sebentar.." ucap Aditya datar. kedua orang tua Aditya ternganga, namun cukup membuat mereka senang. Nisa pun menjadi heran, ia juga berharap ini adalah awal yang baik.
"ingin berbicara apa kak..??" tanya Nisa kepada Aditya. Aditya tidak menjawab, ia hanya berlalu pergi. Nisa yang melihat Aditya pergi begitu saja, Menjadi penasaran.
(kenapa sih ni anak..) batin Nisa. ia jengkel Melihat kelakuan Aditya sekarang. seolah ia bukan Aditya yang dulu mengejar cintanya.. Nisa mengarahkan pandangannya kearah kedua orang tua Aditya. disana kedua paru baya itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
Nisa menarik nafasnya dalam, sebelum akhirnya menyusul Aditya yang sudah lebih dulu masuk pergi. mendahului nya.
sepeninggalan Nisa, kedua paru baya itu bertanya-tanya.
"pa, ada apa ya.. mudah-mudahan ini adalah kabar baik. mama tidak sabar melihat mereka akur dan baikan kembali." ucap nyonya Humaira. tuan Anwar tersenyum.
"sepertinya, mama sangat senang melihat Aditya dan Nisa bersama..??" seru tuan Anwar. nyonya Humaira yang mendengar penuturan suaminya pun menoleh kearah nya dan tersenyuman.
" tentu saja pa, mama sangat menyukai gadis itu. dari tutur kata dan perawakannya sangat dewasa. mama ingin menantu seperti itu." ucap nyonya Humaira lagi. tuan Anwar pun paham, ia juga menginginkan seorang menantu yang bisa diandalkan dan juga tidak merepotkan.
"mama benar, papa juga setuju dengan pemikiran mama," ucap tuan Anwar.
__ADS_1
***
Nisa pun berjalan kearah taman belakang, dimana Aditya saat ini berada dan sedang menunggunya. Nisa berjalan lebih dekat kearah Aditya yang saat ini sedang membelakangi nya.
"ada apa.. apakah ada sesuatu..??" tanya Nisa kepada Aditya. Aditya yang mendengar penuturan dari Nisa pun segera mengalihkan pandangannya kearah gadis itu. sejenak, tatapan mata mereka bertemu. Aditya menatap lekat wajah itu, saat ia menatap jauh kedalam, ia mendapat kan getaran hangat di hatinya.
( apakah benar kita memiliki hubungan..??) tanya Aditya dalam hatinya. Nisa menatap Aditya dengan heran, pasalnya bukan nya menjawab pertanyaan, malah menjadi bengong. karena tak kunjung ada jawaban, Nisa kembali bertanya.
"kak..!!" panggil Nisa lagi. Aditya pun langsung tersentak, ia terkejut dari lamunannya. ia merasa malu, karena menatap Nisa dengan begitu lekat. ia berdehem untuk menormalkan detak jantung nya serta rasa malunya.
"hm... maaf.." Ucapnya. mendengar kata maaf, Nisa kembali menjadi heran. ia bertanya-tanya, apakah Aditya telah mengingatnya..??
"maaf..?? maaf untuk apa kak..??" tanya Nisa, ia masih merasa tidak mengerti dan juga tidak merasa puas dengan ucapan Aditya. bukannya menjawab pertanyaan nya, Aditya malah mengucapkan kata maaf.
Nisa Duduk disamping Aditya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh Aditya kepadanya. sementara Aditya berusaha untuk berpikir, apakah ia akan mengenyampingkan urusan kecurigaan nya itu dan bertanya dengan baik-baik mengenai hubungan mereka. karena jujur saja, dalam hatinya, ia merasakan ketakutan jika gadis ini meninggalkan nya.
"hm... Nisa, em... kamu kan tau aku sedang hilang ingatan. jadi, aku ingin mendengar langsung dari mulut kamu, kalau kamu dan aku itu benaran sudah bertunangan." ucap Aditya Tiba-tiba. entah kenapa, Nisa yang mendengar penuturan seperti itu menjadi marah. artinya, Aditya sama sekali tidak percaya dengan ucapan orang tuanya mengenai hubungan mereka.
"oh.. jadi kak Adit ngak percaya dengan apa yang disampaikan oleh kedua orang tua kakak begitu..?? kalau saja omongan orang tua kakak sendiri ngak percaya, bagaimana kakak bisa mempercayai orang lain." ucap Nisa, entah kenapa, ucapan seperti itu keluar begitu saja dari mulut nya. mungkin karena efek kesal dan marah kali ya...
Aditya yang mendengar penuturan Nisa itu pun sontak terdiam. memang benar apa yang disampaikan oleh Nisa, bagaimana ia akan percaya ucapan orang lain, sementara ucapan kedua orang tuanya saja ia ragukan. tapi, apa salahnya Aditya mendengar langsung penuturan dari Nisa.
"ya.. ngak gitu juga, lagi pula aku belum mendengar pengakuan dari kamu, bahwa kita benaran telah bertunangan. apa itu salah..??" tanya Aditya lagi. ia bertanya tanpa mengarahkan pandangannya ke arah Nisa. Aditya hanya memandang lurus ke depan.
__ADS_1
"iya tidak salah, tapi aku malas menjawab pertanyaan kakak jika kakak sendiri tidak percaya. malas menjelaskan semuanya, toh juga kakak ngak ingat." kilah Nisa. entah kenapa, Nisa mulai mengeluarkan sifat egoisnya. tiba-tiba ia kembali menormalkan perasaannya. kata-kata itu memang reflek, keluar begitu saja dari mulut nya.
Aditya kembali terdiam. saat ini, pandangannya sudah mengarah ke arah Nisa yang saat ini sedang memasang wajah jutek dan kesal. entah dorongan dari mana, Aditya langsung mengecup pipi Nisa yang berekspresi kesal seperti itu.
cup
Nisa langsung membulatkan matanya. buru-buru Nisa menoleh kearah Aditya, ternyata Aditya belum menarik wajahnya menjauh. sejenak Nisa tertegun dan menatap wajah itu dengan heran dan kebingungan.
cup
lagi-lagi Aditya mendarat kan kecupan, kali ini, Aditya mengecup bibir ranum milik Nisa. sontak saja Nisa menutup mulutnya dengan telapak tangan nya sambil matanya melotot. wajah mereka saling memandang dengan jarak yang sangat dekat. Aditya mengukir senyum di bibirnya, sambil menatap wajah Nisa.
"kak Adit, kamu._" ucap Nisa tidak percaya, sambil tangannya terus berada di mulutnya.
"maaf.." ucap Aditya, Aditya sedikit menarik wajahnya menjauh dari Nisa. namun tatapannya tetap pada satu titik itu.
"sekarang, jelaskan hubungan kita. aku ingin mendengar nya langsung dari mulut mu. jelaskan, dimana kita bertemu pertama kali, dan akhirnya berakhir dengan bertunangan." ucap Aditya. mendengar penuturan Aditya, Nisa menarik nafasnya dengan pelan.
Yang benar saja !! ia harus menceritakan semua kisah awal pertemuan mereka. Jika memang seperti itu, akan sangat panjang ceritanya.
"Kakak yakin mau mendengarkan ceritaku dari awal sampai akhir..??" tanya Nisa lagi. walaupun jantungnya sedang berdetak tak karuan akibat mendapatkan kecupan singkat dari Aditya itu, namun Ia tetap berusaha untuk menampilkan ekspresi biasa saja. Nisa yang dulunya tidak pernah mendapatkan kecupan tentu saja menjadi salah tingkah. karena semenjak berpacaran dengan Aska dinata, Nisa sama sekali tidak mengizinkan Aska untuk mengecup pipinya.
***bersambung***
__ADS_1