HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
88. kecewanya seorang kakak


__ADS_3

Nyonya Humaira yang mengerti dengan nada bicara dan bahasa formal yang dikeluarkan oleh Nisa pun menganggukkan kepalanya mengerti. bahwa Nisa saat ini tengah kecewa dengan perlakuan dan tuduhan putranya yang dilayangkan kepadanya.


"Baiklah nak. tenangkan dirimu dulu, Mama pasti akan mencoba berbicara kepada Aditya pelan-pelan."ucap nyonya Humaira. nyonya Humaira pun mengusap lembut kepala nisa dan memeluknya.


"terima kasih Tante.."ucap Nisa lagi. Mereka pun langsung melerai pelukan itu. tanpa banyak bicara lagi, Nisa langsung meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kosannya. Ia memutuskan untuk kembali ke kosannya agar ayah dan kakak-kakaknya tidak melihat kesedihan dan kekecewaannya.


sementara nyonya Humaira yang melihat Nisa menjauh dari tempat itu menjadi sedih. Bagaimana tidak, nyonya Humaira benar-benar nyaman berada di dekat Nisa. nyonya Humaira juga sangat menyukai Nisa menjadi menantunya. menurutnya perempuan seperti Nisa ini tidak memiliki banyak drama atau rahasia. dari sudut pandangnya saja ia sudah tahu, bahwa gadis ini memiliki hati yang luas seluas samudra, serta memiliki rasa kasih sayang yang berlimpah ruah untuk keluarganya.


nyonya Humaira juga takut, jika seandainya Nisa benar-benar marah dan kecewa dan memutuskan untuk meninggalkan putranya ini. maka pupuslah sudah harapannya untuk memiliki menantu sebaik dan secantik Nisa. setelah Nisa sudah tidak terlihat, nyonya Humaira pun kembali masuk ke dalam ruang rawat anaknya.


***


Nyonya Humaira pun langsung masuk ke ruangan rawat sang anak. ternyata di sana masih ada dan para dokter masih setia merawat dan memeriksa keduanya.


Aditya yang melihat ibunya kembali dengan tatapan sedih, membuat Aditya bertanya-tanya. hal Apa yang membuat nyonya Humaira bersedih seperti itu. nyonya Humaira berjalan mendekat ke arah keduanya dan ke arah para dokter dan perawat yang masih ada di sana.


"Bagaimana kondisi asisten Jimmy dok..??"tanya nyonya Humaira tanpa menatap ke arah Aditya. seolah nyonya Humaira ingin menyembunyikan kekecewaannya kepada sang putra.


( kenapa Mama menghindari tatapannya kepadaku. apa Mama kecewa dengan perlakuanku kepada perempuan itu. cih..!!begini saja sudah terlihat, bahwa perempuan itu licik.) batin Aditya.


Entah kenapa, perasaan Aditya yang awalnya terbangun merasakan perasaan yang tak biasa kepada Nisa, hilang begitu saja. mungkin karena Aditya tidak suka memiliki perasaan kepada orang asing. Aditya mencoba untuk mengubur perasaan yang sempat muncul ke permukaan itu.


"kondisi Tuan Jimmy sudah membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."tutur dokter itu.


"Apakah asisten Jimmy tidak mengalami amnesia juga..??" tanya nyonya Humaira. dan tentu saja sukses menyindir Aditya yang saat ini memang berperilaku seenaknya kepada Nisa akibat kehilangan ingatan.


"tidak nyonya, Tuan Jimmy tidak mengalami gejala hilang ingatan. dan kondisinya sudah baik-baik saja. hanya perlu perawatan intens di rumah sakit."tutur dokter itu. nyonya Humaira pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah dokter terima kasih atas penuturannya." ucap nyonya Humaira lagi. setelah para dokter itu mengucapkan sama-sama Mereka pun langsung meninggalkan ruang rawat Aditya dan Jimmy. setelah tenaga kesehatan itu meninggalkan ruangan mereka. nyonya Humaira pun mendekat ke arah Jimmy yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"bagaimana keadaanmu nak? Apakah ada yang sakit..??" tanya nyonya Humaira dengan penuh perhatian. Jimmy pun memaksakan untuk tersenyum mendapatkan perhatian dari nyonya Humaira.


dan tentu saja Jimmy tidak merasa terkejut mendapatkan perhatian itu. karena nyonya Humaira memang sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.


"Alhamdulillah mah, aku sudah tidak apa-apa.." jawab asisten Jimmy dengan pelan dan lirih. hampir saja suaranya tidak kedengaran. namun tiba-tiba, max dan Leon datang menjenguk mereka.


Ceklek.. suara pintu dibuka. terlihatlah max dan Leon memasuki ruangan dan diikuti oleh Tuan Anwar. mereka bertiga pun jalan mendekat ke arah nyonya Humaira dan kedua pasien itu. mereka mendekat dengan senyum di bibir mereka.


Leon dan max tidak berusaha akrab dengan Aditya. karena selama seminggu max menemani Nisa menjenguk Aditya kerap kali Aditya selalu mengucapkan kata-kata kasar dan tuduhan kepada adik mereka sehingga membuat max benar-benar marah dan jengah. namun max berusaha untuk menahan agar tidak menggebuki tubuh Aditya karena menghina adik mereka.


max masih menghormati nyonya Humaira dan Tuan Anwar. max juga sudah menceritakan masalah ini kepada Leon dan saudara-saudara mereka yang lain agar tidak terlalu merasa akrab dengan Aditya karena Aditya sama sekali tidak mengenali mereka semua.


max tidak ingin Aditya menuduh semuanya karena ia tidak mengingat mereka. cukup sudah mereka datang menjenguk hanya sekedar mengetahui kabar saja dan tidak perlu merasa akrab begitu.


Tuan Anwar juga merasa kecewa dengan perubahan sikap sang anak. Tuan Anwar dan nyonya Humaira juga berkali-kali mengatakan kepada Aditya bahwa Nisa adalah tunangannya. hanya saja mereka kurang bukti untuk membuktikan kepada Aditya.


"hai Jim... selamat kamu sudah melewati masa kritis mu. cepatlah sembuh agar kami bisa terlepas dari urusan perusahaan atasanmu." ucap Leon. entah kenapa Leon berbicara ketus seperti itu, mungkin hatinya merasa sakit mendapat kenyataan bahwa Aditya benar-benar bersikap terbalik kepada adiknya setelah hilang ingatan. apalagi mendapat tuduhan yang bertubi-tubi seperti itu.


Jimmy yang tidak tahu apa-apa pun hanya memberikan senyum. namun tentu saja Jimmy mengenali mereka semua dengan baik. hanya saja Jimmy tidak tahu apa yang terjadi ketika dia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Leon dan max pun tidak menyapa Aditya. karena percuma saja, Aditya pasti akan menuduh mereka mencari muka kepada kedua orang tuanya. kedua lelaki ini pun tidak ingin merendahkan dan menjatuhkan harga diri mereka kepada orang yang hilang ingatan ini. cukup sudah mereka berhubungan baik dengan kedua orang tuanya tanpa harus memperdulikan Aditya. Tapi tentu saja Aditya tidak merasa puas, Iya kembali angkat suara.


"ngapain kalian ke sini lagi.. aku sudah mengusir Adik kalian, jadi jangan coba-coba untuk bersikap manis kepada kedua orang tuaku. aku tahu apa yang kalian pikirkan.." tuduh Aditya lagi. Jimmy juga mendengar tuduhan itu mengerutkan keningnya.


Iya tidak mengerti kenapa Aditya berbicara seperti itu, padahal mereka adalah keluarga dari nona nisa yang tentu saja perempuan yang saat ini melulah lantakkan hatinya. Jimmy juga ingin protes, namun ia masih belum kuasa untuk membuka mulut membela keduanya.

__ADS_1


Leon yang mendengar langsung penuturan Aditya itu benar-benar sakit hati. ternyata benar apa yang diceritakan oleh max. Leon pun tersenyum getir, belum pernah ada orang yang merendahkan mereka. Leon juga tidak peduli, Apakah Aditya hilang ingatan atau semacamnya. yang pasti ia akan segera mengatakan kepada Nisa untuk tidak lagi dekat-dekat kepada Aditya.


"tenang saja Tuan Aditya, ini adalah terakhir kali kami datang menjengukmu." tutur Leon tak kalah ketus. Tuan Anwar dan nyonya Humaira yang mendengar penuturan Leon yang dingin dan ketus itu merasa tidak nyaman dalam hati.


Begitu juga dengan Aditya. entah kenapa mendengar nada kecewa yang keluar dari mulut Leon itu mampu membuat hatinya mencolos dan seperti merasa sakit, saat awal pertama memarahi Nisa dan menuduhnya yang tidak-tidak. Leon pun langsung beralih kepada tuan Anwar.


"Tuan aku sudah tidak bisa menjalankan perusahaan Aditya lagi. dan besok aku tidak akan masuk ke perusahaannya. aku juga akan memberitahu hal ini kepada Arfan. jadi besok Tuan lah yang bertanggung jawab." tutur Leon lagi.


"tapi tuan tidak perlu khawatir. aku sudah membantu selama dua bulan ini untuk mengeluarkan para penghianat yang ada di perusahaan Tuan Aditya. dan aku rasa tugasku telah selesai. walaupun kepemimpinanku sangat singkat, Tapi Aku mengucapkan terima kasih karena Tuan sudah mempercayaiku untuk menjalankan perusahaan Aditya." tutur Leon lagi. Tuan Anwar menundukkan kepalanya. Tuan Anwar paham dengan penuturan atau kata-kata yang mengandung rasa kecewa itu.


"Baiklah nak.. terima kasih karena sudah membantu om.." Tuan Anwar hanya mampu mengucapkan hal itu. Jujur saja tak hanya keluarga Nisa yang kecewa mendapatkan perlakuan anaknya ini. Iya pun juga kecewa, boleh saja orang mengalami hilang ingatan. namun tidak harus menyudutkan dan menuduh orang lain yang tidak tidak.


Aditya yang mendengar pembicaraan ayahnya dengan kedua pemuda itu pun hanya diam. ia mencoba mencerna ucapan demi ucapan yang mereka katakan. terlebih lagi hatinya sedang bergejolak, entah kenapa ia merasa tidak enak menuduh keluarga Nisa seperti itu. namun dengan egoisnya ia malah menepis pemikiran seperti itu.


"Om juga mengucapkan maaf, karena sudah merepotkan kalian selama ini. tapi om sangat bersyukur bisa mengenal kalian." tutur Tuan Anwar lagi. sementara nyonya Humaira hanya diam saja. entah kenapa matanya mulai mengembun dan meneteskan embun itu. hatinya benar-benar sakit dan kecewa karena perlakuan putranya ini.


"Iya Om tidak apa-apa. tapi jika Om membutuhkan sesuatu, Om juga bisa menghubungi kami untuk meminta tolong. kalau begitu urusan kami di sini sudah selesai. kami pamit pulang dulu ya Om.."kali ini max yang menjawab. karena sepertinya Leon sedang berusaha menata hatinya yang sedang menggebu-gebu dan menahan emosinya agar tidak pecah.


"Iya nak, kalian berhati-hatilah.." ucap Tuan Anwar dan nyonya Humaira. tanpa melirik ke arah Aditya kedua pemuda itu pun langsung meninggalkan ruang rawat Aditya. Aditya yang melihat dan memandangi mereka sedari tadi entah kenapa hatinya benar-benar sakit rasanya ia ingin menangis. ia mencoba untuk menata perasaannya yang tidak karuan ini. Iya juga bingung kenapa ia harus merasakan perasaan ini setelah melihat kekecewaan yang tercetak di wajah orang-orang yang ada di sekitarnya ini.


Iya tidak mengerti, Apakah Iya benar melakukan kesalahan. Aditya mencoba untuk menarik nafasnya dan menormalkan kembali detak jantungnya yang sudah tidak teratur. kemudian menormalkan rasa takut yang tiba-tiba menyerang perasaannya.


setelah kedua pemuda itu sudah tidak terlihat. kedua orang tua Aditya pun mengambil tempat duduk di samping Jimmy dan Aditya. Tuan Anwar Hanya duduk bermenung tidak tahu harus melakukan apa.


Ia sangat senang dengan keberadaan anak-anak muda yang sangat berkompeten ini. namun mereka kembali menjadi asing ketika putranya tidak mengingat dan menuduh mereka secara sembarangan. Aditya yang penasaran melihat rasa kecewa ayahnya pun kembali angkat suara.


"pah, Kenapa papa bersedih seperti itu?? sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan sampai papa harus sekecewa ini." tanya Aditya lagi. Tuan Anwar sebenarnya ingin marah, ia ingin mengatakan kepada anaknya. Apakah kamu sudah puas menyakiti hati mereka ?. Apakah kamu tidak punya hati menuduh mereka seperti itu.? Apakah hanya karena hilang ingatan semua akal pikiranmu hilang juga..!!??

__ADS_1


ingin sekali Tuan Anwar berteriak seperti itu di depan mata Aditya. namun Tuan Anwar tidak kuasa, Ia hanya beristighfar dalam hatinya dan berdoa agar ingatan anaknya kembali pulih.


"papa tidak apa-apa..!!" jawab Tuan Anwar dengan dingin dan juga ketus.


__ADS_2