HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
107. telah ingat sepenuhnya


__ADS_3

Aditya dan Jimmy yang sudah dipersilakan duduk oleh tuan rumah, langsung mengambil posisi. sementara Arthur, Iya masuk ke dapur untuk membuatkan minuman kepada kedua tamu itu.


"Ada apa tuan berdua ke sini..??" kali ini yang bertanya adalah max. max mengarahkan pandangannya ke arah Jimmy dan Aditya. asisten Jimmy yang mengerti pun langsung mengikut Aditya. kemudian memberi kode untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Aditya yang mengerti pun langsung menganggukkan kepalanya.


"hem hem... maaf tuan-tuan, sebelumnya terima kasih sudah mengizinkan kami masuk. saya ke sini berniat ingin meminta maaf atas apa yang sudah saya lakukan semasa Saya kehilangan ingatan. terlebih lagi kepada Nisa dan Tuan Leon. saya juga berterima kasih banyak kepada kakak-kakak atau tuan-tuan, sudah membantu perusahaan pada saat saya dalam fase tidak sadarkan diri." ucap Aditya kepada semuanya. Leon dan Aditya bisa dikatakan seumuran.


"ternyata kamu bisa meminta maaf juga ya..!" sindir Leon kepada Aditya.


"aku pikir, setelah kamu mendapatkan ingatan kamu kembali, kamu tetap akan menjadi orang lain dan tetap merendahkan adikku. kalau aku boleh jujur ya, aku benar-benar marah dan sakit hati melihat perlakuanmu ketika kehilangan ingatan. justru aku berdoa, supaya kamu terus hilang ingatan agar adikku tidak menjalin hubungan lagi dengan kamu." ucap Leon dengan datar.


Aditya yang mengerti akan kesalahannya tidak menjawab, Begitu juga dengan yang lain. mereka memberikan kesempatan kepada Leon untuk mengeluarkan unek-uneknya agar sakit hatinya kepada Aditya berkurang. karena di antara mereka semua, leon lah yang paling merasa kesal dan sakit hati kepada Aditya.


"Saya minta maaf Leon.. Saya tahu saya salah, tapi mohon jangan jauhkan saya dengan Nisa." ucap Aditya dengan tegas. Leon pun menarik nafasnya dalam-dalam, dalam hatinya memang tidak ada niat untuk menjauhkan mereka. apalagi Aditya dan Nisa sama-sama mencintai. Iya hanya berusaha mengeluarkan kekesalannya saja.


"anda tenang saja Tuan amnesia, Saya tidak melarang anda untuk menjalin hubungan dengan adik saya. Saya hanya mengeluarkan rasa kesal dan sakit hati saya kepadamu. itu saja.." ucap Leon lagi tanpa mengandung emosi di dalamnya.


bisa yang mendengar panggilan yang diselipkan oleh sang kakak kepada Aditya, hanya mampu menahan tawanya agar tidak meledak.


sementara Aditya yang mendengarkan penuturan Leon langsung menarik nafas lega. Begitu juga dengan Jimmy, padahal bukan Iya yang menghadapi kakak-kakak Nisa, tapi kenapa malah dia yang merasa tegang.


( gila !! kenapa aku yang merasa tegang ya.. walaupun mereka tidak terlihat mengeluarkan emosi, tapi dari tatapan saja sudah dapat membuat orang bergidik ngeri. iii... untung si bos masih dikasih kesempatan..) batin asisten Jimmy. saat mereka semua terdiam, asisten Jimmy mengamati wajah mereka satu persatu, itulah kenapa, asisten Jimmy merasa seolah akan dikuliti.


***


Hari berganti, bulan dan tahun pun berganti. ada saat dimana Aditya hampir kehilangan Nisa dalam hidupnya karena terlalu egois. dah akhirnya, kini Aditya benar-benar telah mengingat kembali siapa Nisa sepenuhnya. ternyata, Nisa adalah orang yang berarti dalam hidupnya


Aditya dan Nisa kini berada di rumah kedua orang tua Aditya. Nisa juga sedang membantu Nyonya Humaira menyiapkan makan malam untuk mereka.

__ADS_1


ya karena paksaan dari Nyonya Humaira dan Tuan Anwar, tentunya ditambah keinginan dari Aditya. akhirnya Nisa menurut dan akan melewatkan makan malam di rumah Aditya bersama dengan kedua orang tuanya.


di satu sisi, Aditya benar-benar memandangi Nisa tanpa berkedip sedikitpun. matanya terus mengikuti dan mengamati apa yang bisa lakukan di sana bersama sang mama.


"hampir saja Aku kehilanganmu. Untung saja aku tidak terlambat.."gumam Aditya dengan pelan. namun tentu saja masih terdengar nyaring di telinga Tuan Anwar.


"apa... kenapa dit..??" tanya Tuan Anwar kepada Aditya. Aditya langsung gelagapan, Bagaimana mungkin dia tidak menyadari kehadiran sang ayah di sana.


"Kenapa papa berada di sini..??" ucap Aditya melontarkan pertanyaan bodoh kepada tuan Anwar.


"tentu saja papa di sini..!! memangnya papa akan kemana lagi...!!" seru Tuan Anwar kepada Aditya. Aditya pun langsung memasang wajah kesalnya.


"kenapa..?? malu ya.. karena tidak sengaja ketangkap matanya tidak berhenti menatap bidadari yang tak sengaja turun dari kayangan itu... aduh aduh... biasa aja keles pangeran..." goda Tuan Anwar kepada Putra semata wayangnya itu. Aditya yang mendengarkan bahasa gaul dari ayahnya tambah berdecak tidak suka.


"ih..!!! papa apa-apaan sih.. ingat umur pah..." ucap Aditya sambil menyindir sang ayah. Tuan Anwar yang mendengar sindiran anaknya itu pun hanya melemparkan senyum saja. Jujur saja dulu waktu masih muda ia juga pernah merasakan hal yang sama.


"papa, Aditya minum dulu... ini mama sudah buatkan teh..." ucap Nyonya Humaira sambil meletakkan teh yang ada di atas nampan itu ke atas meja.


"makasih ma..." ucap mereka serentak. setelah itu Nyonya Humaira langsung meninggalkan Aditya dan suaminya, Iya kembali ke dapur dan membantu Nisa menata makanan di atas meja. setelah makanan itu selesai ditata, Nisa pun memanggil kedua laki-laki berbeda usia itu.


"Kak Aditya, om.. ayo makan..." ucap Nisa kepada keduanya. Aditya yang namanya dipanggil langsung buru-buru berdiri dan berjalan ke arah Nisa.


Nisa dan Tuan Anwar yang melihat gelagat dari Aditya itu hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tuan Anwar menggeleng-gelengkan kepalanya karena benar-benar cukup heran melihat perubahan sikap dari putranya itu, yang tiba-tiba berubah menjadi bucin akut seperti ini. beda halnya dengan Nisa, Iya menggeleng tidak percaya melihat Aditya yang begitu semangat bersama dengan dirinya.


"Kakak kok jalannya ke arah aku sih..!! sono jalan arah meja...!!" tegur Nisa ketika Aditya telah berada di hadapannya. sementara Nyonya Humaira yang mendengar protes dari mulut Nisa hanya mampu tersenyum melihat kelakuan kedua anak muda itu.


"Iya tujuan Kakak kan memang kamu... tentu harus jalan ke arah kamu dong..!!" seru Aditya kepada Nisa.

__ADS_1


"sudah sudah, ayo sini duduk tidak usah berdebat seperti itu. Aditya, Kamu duduk diantara papa dan Mama saja.." ucap Nyonya Humaira. sementara Nisa sendiri juga sudah mengambil posisi duduk diantara Tuan Anwar dan nyonya Humaira. mendengar ucapan dari sang ibu, Aditya langsung memprotes tidak terima.


"tidak bisa gitu dong ma.. Mama yang seharusnya duduk di samping papa, dan aku harus duduk di samping Nisa agar ia tidak kemana-mana." ucap Aditya abstrud. nisa yang mendengarkan Aditya berbicara seperti itu membulatkan matanya.


"memangnya Kakak pikir aku ini apa..!! aku kan bukan ayam atau bebek yang tidak bisa duduk tenang saat makan.." protes nisa tidak terima.


"Iya bisa saja kan Buk... mana tahu ada lalat lewat, terus Ibu langsung diciumnya sama lalat itu. dan tentu saja aku tidak terima.." ucap Aditya kepada Nisa. Tuan Anwar dan nyonya Humaira tersenyum mendengar candaan Aditya. beda halnya dengan bisa yang hanya mengerucutkan bibirnya.


"lalat... memangnya Kakak pikir aku ini sampah... kamu ada-ada aja kak. kalau Kakak mau duduk di samping aku, ya duduk aja nggak usah banyak drama.." ucap Nisa lagi.


Aditya tersenyum mendengar penuturan Nisa, Iya menghalus kepala Nisa yang berbalut dengan hijab pashmina itu, kemudian dengan refleks ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nisa yang tentu saja langsung mendapat larangan dari tuan Anwar dan nyonya Humaira.


"heh...!!! mau apa kamu hah..!! sembarangan yium-yium anak orang..!! halalin dulu baru boleh dicium..!!" ucap Nyonya Humaira. tangan Nyonya Humaira sudah memegang kepala Aditya agar tidak bersentuhan dengan wajah Nisa, sementara Tuan Anwar menarik leher baju dari Aditya.


pemandangan yang seperti itu sontak mengundang gelak tawa dari Nisa. Begitu juga dengan kedua paruh baya itu.


"hahaha.. tau ih...!!! kalau mau cium-ciuman, halalin dulu Kak jangan main nyosor aja." ucap Nisa sambil membantu Nyonya humaira mendorong wajah Aditya untuk menjauh. sementara Aditya sudah memasang wajah cemberut.


"Ya sudah kalau begitu, nanti siap ini, pa, ma. besok kita akan ke kampung jati untuk melamar Nisa. lagi pula hubungan kami sudah sangat lama, aku akan menghalalkan Nisa untukku sendiri." ucap Aditya dengan percaya diri kepada kedua orang tuanya.


Nisa yang mendengar keinginan dari Aditya langsung tersenyum. jujur saja dalam hatinya ia sangat merasa senang, ternyata usahanya selama ini berbaik sangka kepada Aditya tidak sia-sia. walaupun begitu, Iya tetap memasang wajah acuh Tak acuh nya itu.


beda halnya dengan Nyonya Humaira dan Tuan Anwar, ketika mendengar penuturan dari Aditya, membuat mereka Langsung tersenyum sumringai dan bersorak bahagia.


"Apakah kamu serius nak..?? kamu sudah memikirkannya matang-matang kan..??" tanya Nyonya Humaira kepada putranya itu.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2