
Walaupun Mereka menginginkan Aditya dan Nisa segera menikah, Namun kedua orang tua ini tentu tidak mau egois. mereka tidak ingin Aditya menikah karena tuntutan mereka, karena itu Nyonya Humaira ingin memastikan sendiri kepada anaknya itu.
"tentu saja ma. kapan sih Aditya pernah bohong sama mama dan papa.." ucap Aditya. Tuan Anwar melihat raut wajah sang anak, tampaknya Aditya benar-benar serius dengan ucapannya. sekilas Tuan Anwar melihat ke arah Nisa yang kini tengah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. tampak ekspresi sang gadis biasa-biasa saja.
"nak Nisa. Bagaimana denganmu?? Apakah kamu juga bersedia atau sudah siap untuk meresmikan hubungan kalian nak..?? biar nanti, papa sama Mama bisa menjadwalkan datang ke desa jati untuk meminangmu kepada kedua orang tuamu." ucap Tuan Anwar dengan antusias. Begitu juga dengan Nyonya Humaira dan Aditya, mereka berdua juga menunggu jawaban dari Nisa. walaupun Aditya tidak saya antusias kedua orang tuanya, namun dalam hatinya sudah dag dig dug tak karuan menunggu jawaban dari Nisa.
"tentu saja Om, aku akan sangat senang jika Kak Aditya benar-benar serius menjalani hubungan ini. dan aku rasa juga, bapak sama Ibu tidak akan keberatan Begitu juga dengan ayah." ucap Nisa kepada tuan Anwar. sontak saja mereka semua jadi lega dan tersenyum bahagia.
"Baiklah kalau begitu nak. kami pasti 'akan datang dan sudah diputuskan." putus Tuan Anwar lagi. setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka, semuanya melanjutkan makan malam dan larut dalam pikiran masing-masing.
***
akhirnya dengan persetujuan Nisa dan saudara-saudaranya. kini mereka telah berada di desa jati bersama dengan keluarga Aditya. sebelum mereka berangkat ke desa jati, terlebih dahulu Nisa telah mengabari kedua orang tuanya dan ayahnya di sana. dan akhirnya di sinilah mereka sekarang.
"assalamualaikum Pak Juna, Bu Nita, Tuan Albert..." Sapa tuan Anwar kepada keluarga ini.
Pak Juna, Ibu Nita dan Tuan Albert pun menyambut kedatangan mereka. dan mempersilahkan mereka semua untuk duduk. sementara Nisa telah berlari ke dapur untuk membuatkan minuman serta cemilan untuk mereka semua.
"ayo ayo... silakan duduk.." Ucap pak Juna mempersilakan keluarga dari Aditya.
semuanya pun langsung mengambil posisi masing-masing. sementara Aditya sedang celingak-celinguk melihat ke kanan ke kiri, ia sedang mencari keberadaan Nisa. Ibu Nita yang mengerti dengan sikap Aditya langsung bersuara.
"nak Adit cari Nisa ya... nisanya sedang di dapur.. Iya pasti sedang membuat minuman dan juga makanan untuk dihidangkan." ucap Bu Nita kepada Aditya.
mendengar penuturan Ibu Nita, Adit hanya mampu menggaruk-garut kepalanya saja, Jujur saja ia merasa malu karena ketangkap basah sedang mencari keberadaan Nisa. sementara yang lain hanya tertawa melihat tingkah Aditya seperti itu.
tak lama, Nisa datang dengan membawa nampan yang berisi dengan gelas dan 1 cerek minuman, disusul dengan Leon yang membawa cemilan di atas nampan.
__ADS_1
Nisa dan Leon menyusun minuman dan makanan itu di atas meja dengan telaten. beginilah pekerjaan Nisa yang selalu dibantu oleh saudara angkatnya itu.
"silakan diminum dan dinikmati om, tante, kak.." ucap Nisa kepada mereka semua. setelah itu bisa kembali ke dapur untuk menyimpan nampan itu kembali.
***
saat suasana hening karena mereka sedang larut dalam pemikiran masing-masing, namun tidak dengan Tuan Anwar dan Tuan Albert serta Pak Juna. mereka sedang terlibat obrolan-obrolan kecil yang hanya bapak-bapak saja yang tahu.
namun tiba-tiba, Tuan Anwar masuk kepada poin utamanya datang ke rumah Pak Juna dan ibu Nita.
"ehem ehem.. Jadi bagaimana Pak Juna, Tuan Albert. kami datang ke sini membawa niat baik, Kami ingin mengkhitbah Nisa untuk Aditya.." ucap tuan Anwar kepada kedua lelaki itu.
"tentu saja Tuan Anwar, saya sebagai ayah dari Nisa sudah mendiskusikan ini kepada keluarga, lamaran akan kita langsungkan nanti setelah salat isya."ucap Pak Juna kepada tuan Anwar. dan dibalas oleh anggukan kepala dari tuan Albert.
dan perlu diketahui, bahwa saat ini Tuan Albert sudah tidak sendiri. ia telah menikah dengan perempuan atau yang sudah menjanda di tempat itu, mungkin mereka memutuskan menikah bukan karena ingin mendapatkan keturunan, namun untuk mengisi kekosongan satu sama lain.
"bagaimana Bang, jika Abang mau saya akan menjodohkan Abang dengan mbak nurti, Mbak nurti adalah seorang janda yang ditinggal meninggal oleh sang suami. Ia hanya memiliki satu anak, dan anaknya kini berada jauh darinya. bahkan sudah bertahun-tahun lamanya, sang anak tidak pernah pulang untuk menjenguk dirinya. Kalau dibilang umur, ya umur Abang dengannya palingan beda 6 atau 7 tahun."Ucap pak Juna kepada tuan Albert.
Tuan Albert paham, Iya juga masih sehat dan tidak terlalu tua-tua amat, Iya juga tidak mungkin hidup sendiri di sebuah rumah yang dibangun oleh anak-anaknya itu. apalagi rumah itu cukup lumayan besar untuk ia tinggali sendiri.
"Baiklah kalau begitu, atur saja di mana bagusnya. tapi jangan katakan kepada anak-anak dulu, Aku tidak mau anak-anak malah menggodaku.." ucap tuan Albert kepada Pak Juna. ucapan tuan Albert tentu saja mengundang gelak tawa dari Pak Juna.
Pak Juna cukup tahu apa yang dikhawatirkan oleh Tuan Albert. Iya tidak ingin anak-anaknya tahu agar Tuan Albert tidak digoda oleh anak-anak angkatnya itu.
"Baiklah Bang. semuanya akan saya atur nanti.." Ucap pak Juna lagi. Tuan Albert pun langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
***
__ADS_1
akhirnya. setelah itu, tak lama pernikahan mereka pun dilangsungkan dengan sederhana. yang penting pernikahan itu sah di mata agama dan sah di mata hukum. Kini nurti sudah menjadi istri sah dari tuan Albert.
awalnya Tuan Albert merasa sedih dengan keputusannya. namun ia sudah terlanjur menyetujuinya, Iya tidak mungkin mempermainkan seorang perempuan karena mengingat Ia juga memiliki seorang anak perempuan.
alasan Tuan Albert merasa sedih dan gamang, tentu saja dalam hatinya masih ada cinta untuk mendiang istrinya. namun jika dipikir-pikir lagi, Tidak ada salahnya jika Tuan Albert menikah.. lagi pula, anak-anaknya juga mendukung keputusan itu, ya walaupun tak satu anak pun yang dikabari.
flash of
"Hem hem... tau nggak. ada yang menikah tapi nggak ngabarin, jahat banget kan. masak sama anak-anak sendiri tidak dikabari..." ujar max tiba-tiba. padahal max itu adalah seorang laki-laki yang tidak terlalu banyak bicara, Iya lebih banyak bekerja atau bertindak saja ketimbang banyak omong.
mendengar penuturan max, semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Tuan Albert. di mana Di samping Ibu Nita, ada ibu nurti yang sedang bersamanya.
"Iya tuh...!! Ayah tega banget, masak nikah nggak bilang-bilang. kan kita juga ingin ya merayakan hari bahagia untuk ayah..." kali ini Nisa yang memperjelas ucapan max. semua yang ada di sana terkekeh pelan. sementara Ibu Nita dan ibu nurti hanya tersenyum lembut saja. dan untuk Tuan Albert, Ia hanya mampu menggaruk-garut kepalanya yang tak gatal itu.
"Ya mau bagaimana lagi... Ayah takut memberikan kabar kepada kalian. bisa-bisa kalian terus meledek Ayah sampai pagi dan pagi lagi.." ucap Tuan Albert yang sukses mengundang gelak tawa semuanya.
"hahaha..." tawa di ruangan itu pun pecah. tampak suasana di sana begitu ramai, mereka saling menggoda dan melempar candaan satu sama lain seperti tidak ada batasan. namun suasana itu begitu hangat.
"Ya sudah kalau begitu. sambil menunggu waktu, ada baiknya, Nyonya Humaira, Tuan Anwar dan Aditya serta kalian semua beristirahat. Begitu juga dengan adik, Ibu lihat kamu sudah sangat kelelahan sekali." ucap Ibu Nita sambil mengelus-elus kepala si bungsu Siapa lagi kalau bukan Nisa.
"baik bu, kami mengerti..." ucap mereka serentak.
untuk Tuan Anwar dan nyonya Humaira, mereka dipersilakan istirahat di rumah Pak Juna dan ibu Nita. sementara untuk pemuda-pemuda termasuk Aditya, akan beristirahat di kediaman Tuan Albert. sementara Nisa sendiri akan menginap di kamarnya sendiri.
tanpa menunggu lama, mereka semua pun beranjak meninggalkan ruang perkumpulan itu dan menuju peristirahatan masing-masing. Tuan Albert, langsung memberikan wejangan kepada anak-anak angkatnya itu agar memilih saja kamar mereka. sementara Tuan Anwar dan ibu nurti akan tetap berada di kediaman Pak Juna yang tak jauh dari kediamannya.
satu hal yang diketahui, semenjak Tuan Albert tinggal di desa jati dan menikah. hubungannya dengan Pak Juna semakin cocok, Di mana mereka mulai menempatkan posisi sebagai saudara kandung. tak tanggung-tanggung Tuan Albert juga ikut membantu memantau pabrik skin care anaknya. tentu saja itu semua atas persetujuan dari Pak Juna.
__ADS_1
***bersambung***