
Hari Jumat pun tiba, adalah waktunya untuk melakukan ijab qobul terhadap kedua pengantin itu. semua orang berada di masjid dan menyaksikan ijab qobul Yang akan diucapkan oleh Aditya.
"Aditya Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Nisa Saputri binti Juna Prakoso dengan mas kawin uang sebesar 1 miliar rupiah dan cincin emas sebesar 15 gram dibayar tunai." ucap sang penghulu. penghulu itu pun langsung menghentakkan tangannya memberikan kode kepada Aditya.
"Saya terima nikahnya, Nisa Saputri binti Juna Prakoso dengan mas kawin uang sebesar 1 miliar rupiah dan cincin emas sebesar 15 gram dibayar tunai." jawab Aditya dengan lancar tanpa terkendala apapun.
saat itu yang menjadi wali nikah bagi Nisa adalah sang penghulu, karena Nisa memiliki dua Ayah tentu saja tidak mungkin ia memilih salah satunya. Pak Juna dan Tuan Albert juga menyerahkan itu kepada penghulu saja.
"bagaimana para saksi... sah..?" tanya sang penghulu. semua yang ada di sana pun langsung menjawab serentak.
" saaaahhh......!!" ucap mereka dengan penuh semangat. seketika ruangan itu menjadi hening. tanpa wajah gembira di wajah kedua orang tua mereka. Aditya dan Nisa melakukan tukar cincin, dan juga penyerahan mahar kepada Nisa.
Setelah semua itu selesai, kini semuanya mulai menuju tempat resepsi. orang-orang yang ada di sana pun sangat antusias merayakan hari bahagia Nisa dengan Aditya. orang-orang yang ada di desa itu juga sangat senang, karena pesta yang diselenggarakan ini dilangsungkan selama 7 hari 7 malam. artinya, pentas dan organ ini telah berlangsung sebelum akad dan mungkin akan berlangsung sesudah akad.
***
esok pagi pun menyingsing. tampak kedua pengantin baru itu bangun dari tidurnya. saat mereka terbangun dan membuka mata, mereka tidak sengaja sama-sama memandang satu sama lain. begitu dalam dan cukup berarti.
saat pandang pandangan itu, Aditya mengangkat sebelah tangannya dan membelai wajah Nisa yang tentu saja baru bangun tidur itu. Iya juga melempar senyum manis ke arah sang istri.
"sayang, akhirnya kamu menjadi istriku. aku sangat bahagia..." ucap Aditya sambil terus mengusap pipi Nisa. Nisa yang pipinya diusap oleh Aditya merasa keenakan, Iya menutup matanya dan merasakan elusan lembut di pipinya itu.
Aditya yang melihat respon sang istri langsung mendekatkan wajahnya, ketika sudah dekat tinggal 5 cm lagi, dengan secepat kilat Aditya langsung menenggelamkan satu kecupan di bibir sang istri.
cup
kecupan itu langsung membuat Nisa membuka matanya lebar-lebar. Iya cukup terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh sang suami.
"kak... kam_" ucapannya terpotong akibat Aditya kembali mengulang aktivitasnya.
__ADS_1
"kenapa sayang... lagi pula kita sudah boleh melakukannya kan.. Aku sudah lama menunggu waktu ini tiba... masa iya, setelah halal masih belum boleh cium..." ucap Aditya mengerucutkan bibirnya. saat itu juga Aditya langsung bangkit dan menyerang bibir Nisa, Nisa yang mendapatkan serangan mendadak itu tidak dapat bereaksi dan hanya menikmati saja.
tapi karena situasi dan kondisi tidak terlalu mendukung, kegiatan itu pun hanya sampai di sana saja tanpa ada kegiatan lanjut. 😁
***
setelah aktivitas pagi mereka di kamar sebagai sepasang suami istri. kini setelah bersih-bersih, mereka memutuskan untuk turun ke bawah. ternyata, semua orang telah berkumpul di sana.
saat mereka tiba. semua mata langsung mengarah ke arah sepasang suami istri baru itu. apalagi saudara-saudara Nisa, nampak dari sorot mata mereka tatapan menggoda untuk keduanya.
"cie.. pengantin baru sudah turun nih.. hem hem.. sebentar lagi kita mungkin akan mendapatkan keponakan yang cantik dan lucu.." ujar Leon tanpa filter. lagi pula di sana tidak ada anak kecil. semua yang ada di sana terkekeh mendengar candaan Leon.
sementara untuk kedua pengantin baru itu, pipi mereka malah memerah karena malu mendengar godaan tersebut.
"kakak apa-apaan sih... Kalau ngomong itu di filter Kak." tegur Nisa kepada Leon.
"apaan sih Kak. tolong ya jangan ngomong yang aneh-aneh di sini.. malu ada papa Mama, ayah sama ibu, ada bapak sama ibu juga." ucap Nisa memperingati saudara-saudara dan suaminya.
"Iya Iya dek... maaf..." ucap mereka serentak.
sementara Tuan Albert dan orang tua lainnya hanya terkekeh mendengar candaan mereka. sebagai seorang yang pernah mengalami fase itu, tentu saja mereka paham Kalau Nisa tengah malu mengenai godaan-godaan kakak-kakaknya itu.
"Ya sudah duduk sarapan dek..." ucap Ibu nita sambil menyerahkan beberapa lembar roti kepada Aditya. Nisa yang melihat itu tidak menyentuh apa-apa. Iya hanya mengambil susu saja sebagai sarapan paginya.
seperti biasa, di pagi hari ini saya tidak akan mengisi perutnya dengan makanan. karena perutnya tidak terbiasa, Ia hanya akan meminum susu sereal atau yang lainnya.
melihat Nisa tak menyentuh apapun kecuali minuman, Aditya pun langsung bertanya kepada sang istri.
"sayang, kamu tidak sarapan..??" tanya Aditya kepada Nisa.
__ADS_1
"sarapan kok Kak, ini lagi minum susu.." ucap Nisa sambil memperlihatkan susu sereal itu.
"jangan khawatir nak Aditya, Nisa memang sudah terbiasa seperti itu. Ibu tidak pernah menegurnya karena dari dulu lebih parah ketimbang ini. saat ia masih sekolah SMA dan SMP, kehidupan dulu kan tidak seperti ini. iya berangkat sekolah tanpa memakan dan meminum apapun. saat dia sudah beranjak SMA, Iya baru mulai membawa bekal dan meminum susu saja. mungkin karena mengingat jalan kaki, dengan jarak tempuh 2 km ke sekolahnya, dan juga harus berjalan dengan cepat, Nisa khawatir ia akan mengalami sakit perut karena makanan dipaksa turun ke bawah perut. Jadi Ibu tidak pernah memaksa daripada nanti Nisa sakit perut.." jelas Ibu Nita kepada menantunya itu..
"lalu apa bedanya bu. Iya juga akan sakit kalau tidak sarapan." protes Aditya lagi.
"kamu tenang saja nak, palingan jam 09.00 atau jam 10-an Iya sudah makan." ucap Ibu Nita lagi. semua yang ada di sana Hanya berdiam diri dan menjadi pendengar saja.
"aku sarapan kok, tapi aku pengen makannya nasi goreng. karena nggak ada nasi goreng, Ya udah minum susu dulu. kan pagi-pagi nggak boleh makan berat.. Iya kan sayang..." ucap Nisa mengelus punggung sang suami. Aditya pun langsung memutar bola matanya malas.
" jangan dibiasakan lagi sayang, itu penyakit.." ujar Aditya dengan lembut kepada Nisa.
Setelah itu mereka semua larut dalam keheningan. hanya suara kunyahan dan sendok yang beradu dengan piring.
***
sekitar seminggu mereka berada di desa jati. akhirnya Aditya dan Nisa memutuskan untuk pulang ke kota x. sebelumnya, Tuan Anwar dan nyonya Humaira serta saudara-saudara Nisa yang lain telah kembali ke kota x. Karena perusahaan yang baru mereka bangun perlu mendapat bimbingan dan tidak bisa ditinggal terlalu lama.
"ayah ibu, Pak Bu. kita pulang dulu ya. ayah sama ibu baik-baik di sini jaga kesehatan." ucap Nisa dan Aditya berpamitan kepada kedua pasang paruh baya itu.
"tentu saja nak. kalian juga jaga diri di sana, bersikaplah dewasa dalam menghadapi masalah. nak Adit, Ayah dan bapak titip Nisa kepadamu ya." Ucap pak Juna kepada Aditya. Aditya pun mengganggu kan kepalanya.
"Iya Pak, aku akan menjaga Nisa segenap jiwa dan ragaku." ucap Aditya meyakinkan kedua pasang mertuanya itu.
"Ya sudah kalau begitu, berhati-hatilah di jalan." setelah mengatakan hal itu. bisa dan Aditya langsung meninggalkan desa jati dan kembali ke kota x.
***tamat***
assalamualaikum teman-teman. Alhamdulillah akhirnya cerita ini berakhir. Namun sepertinya kehidupan mereka marit masih terus berlanjut. mulai dari kisah Nisa dan Aditya, Dedi mahandika, dan juga kisah seorang askadinata. yang akan dirangkum dalam cerita ini juga. lalu bagaimana nanti kisah mereka, tunggu saja cerita selanjutnya hehehe...😁🙏
__ADS_1