
" Kakak di mana sekarang? Kenapa Kakak tidak mengatakan kepadaku kalau kakak akan ke Indonesia. kalau seandainya Kakak memberitahu kepergianmu kepadaku Aku mau ikut." ucap Vivi sambil merengek seperti anak kecil.
biasalah, dia kan merupakan adik atau anak yang dimanjakan oleh keluarganya. namun walaupun begitu, dia bukan anak yang sombong dan menghina orang lain.
walaupun Vivi memiliki sifat manja kepada kakak dan kedua orang tuanya, Iya tetap masih memiliki tata krama dan sopan santun kepada sesama manusia apalagi kepada orang yang lebih tua darinya.
"memangnya Apa alasannya kamu mau ikut ke Indonesia? Apakah kamu memiliki urusan di sini?" tanya Aska masih dengan suara pelan.
"ih kakak tentu saja aku ingin jalan-jalan. apalagi sekitar 5 tahun yang lalu ketika kita berada di Indonesia kita sama sekali tidak pergi jalan-jalan. aku ingin menikmati beberapa destinasi wisata yang ada di negara itu." terang Vivi kepada Aska.
"hanya itu? kalau begitu alasan itu tidak diterima, sudahlah kakak ingin keluar sebentar." ucap Aska langsung mematikan panggilan teleponnya itu.
setelah dimatikan Aska langsung menyimpan teleponnya kembali ke dalam saku dan melanjutkan niatnya untuk pergi mencari makanan di luar.
***
Apakah kalian masih ingat dengan Dedi mahandika? ya Dedi mahandika adalah seorang ketua OSIS di sekolah SMA negeri sipsel. saat ini ia sudah menyandang gelar sarjana pendidikan.
Iya kuliah mengambil jurusan keguruan. dan saat ini ia juga berada di kota x, Iya bekerja di salah satu sekolah swasta yang ada di kota itu.
5 jam melakukan pekerjaan proses belajar mengajar Akhirnya ia kembali pulang ke rumah kontrakannya.
tak lama Ia pun sampai di rumah kontrakan yang cukup lumayan bagus. sesampainya di rumah Dedi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. kemudian ia langsung mengambil benda pipi yang ia miliki. Iya membuka aplikasi sosial media, kemudian ia beralih membuka akun Nisa Saputri.
__ADS_1
Di sana ia menemukan foto Nisa saat ia masih duduk di bangku SMA dan sampai sekarang. Dedi menatap lekat-lekat gambar yang bisa pajang di aplikasi sosial medianya. tanpa sadar Dedi pun membelai foto itu dengan tangannya.
"hai cantik. Apa kabarmu sekarang, aku tadi menchet kamu, namun kamu tidak pernah membalas pesanku. apa kamu masih sangat membenciku. tapi asal kamu tahu, Aku benar-benar menyesal saat ini. dan aku sangat menginginkanmu untuk menjadi pendampingku." ucap Dedi sambil membelai-belai foto itu. Iya pun tersenyum.
" aku yakin, aku pasti akan mendapatkan kamu kembali. dan kamu tunggu saja, aku pasti akan datang meminangmu kepada kedua orang."ucapnya lagi dengan bangga.
Ia tidak tahu, bahwasanya perempuan yang ia impikan itu merupakan seorang miliarder wanita termuda di negara itu. setelah ia rasa cukup menghayalkan hubungannya dengan Nisa, Iya pun langsung beralih keluar dari kontrakan untuk membeli makanan.
"ah sebaiknya Aku cari makanan dulu. perutku sudah keroncongan minta diisi."ucap Dedi sambil meninggalkan rumah kontrakannya keluar mencari makanan.
Ia pun langsung melajukan motornya. saat ia sedang melihat-lihat menu makanan, tiba-tiba ia melihat sosok yang sangat ia kenali. Siapa lagi kalau bukan aska dinata, lelaki yang menjadi saingan cintanya saat itu.
namun, terakhir ia mendengar kabar bahwa Aska pergi ke negara asalnya tanpa mengatakan apapun kepada Nisa. Iya yakin, tindakan seperti itu pasti akan membuat Nisa tidak lagi mencintai dan mempercayainya, bahkan akan meninggalkannya.
dan kembali ia membulatkan matanya. ternyata dugaannya bener itu adalah aska dinata. lelaki yang menjadi saingan cintanya semasa berada di SMA.
( sedang apa Aska di sini? bukankah ia sudah kembali ke negara asalnya? lalu apa yang ia lakukan di sini, jangan bilang iya ke sini ingin bertemu dengan Nisa kembali. jangan sampai itu terjadi, sebaiknya aku selidiki saja nanti.) batin Dedi sesekali melirik Aska yang sedang fokus menghabiskan makanannya.
tak lama kini giliran Dedi yang membayar belanjaannya. ia membungkus beberapa makanan untuk dibawa pulang, setelah membayar makanan itu ia pun langsung memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakannya.
sesampainya di rumah kontrakan, Dedi meletakkan makanan yang ia beli itu. saat ia sedang di perjalanan kembali ke kontrakannya. kepalanya selalu saja dipenuhi dengan berbagai pertanyaan mengenai keberadaan Aska di kota x ini.
Iya terus menebak-nebak apa yang akan Aska lakukan di negaranya. Iya juga terus menguatkan dan meyakinkan diri bahwa pasti akan ke sini karena memiliki urusan lain bukan karena ingin bertemu dengan nisa dan mengajak atau melamarnya.
__ADS_1
"huf.. sudahlah tidak usah dipikirkan. tapi harus tetap waspada, sebaiknya aku terus mendekatkan diri kepada Nisa. dan saat ini sebaiknya aku telepon dulu."ucap Dedi melupakan makanan yang ia beli tadi dan beralih mengambil gawainya serta mencari kontak Nisa dan langsung menghubunginya.
dua kali handphonenya berdering dan untuk yang ketiga kalinya panggilan itu diangkat. namun, yang terdengar bukanlah suara Nisa melainkan suara laki-laki. mendengar itu Dedi jadi terkejut.
"halo.." Ucap orang ditelepon itu. Iya yang mengangkat telepon itu ialah max. max sebenarnya tidak ingin mengangkat panggilan tersebut, namun setelah ia katakan kepada Nisa. Nisa yang sedang sibuk berkutat di dapur mengizinkan sang kakak untuk mengangkat panggilan tersebut.
apalagi nomor yang masuk adalah nomor yang tidak terdaftar di kontak teleponnya. saat max mengangkat dan menyapa orang tersebut. max tidak mendengar jawaban dari seberang sana. Ia pun kembali mengulang ucapannya.
"halo siapa di sana..?"tanya max lagi. namun kali ini jawabannya direspon.
"hm Iya halo... Maaf ini dengan siapa ya? Apakah benar ini nomor telepon Nisa ?"tanya Dedi di seberang telepon sana. max mengerutkan keningnya.
"Iya benar ini nomor telepon Nisa. Kalau boleh tahu saya berbicara dengan siapa?"tanya max lagi. iya berpikir Siapa lagi laki-laki yang mencari adiknya ini.
"em... Maaf sebelumnya jika saya balik bertanya. Kalau boleh tahu anda siapanya Nisa.?"tanya Dedi di seberang telepon. terkesan tidak sopan memang, namun Dedi hanya ingin memastikan agar ia tidak salah kaprah.
"Oh saya max kakaknya Nisa."jawab max sedikit datar. karena max merasa kecewa orang yang ditanya malah balik bertanya kepadanya. seolah max tidak suka dengan tindakan tersebut.
Dedi yang mendengar pengakuan tersebut mengerutkan keningnya. iya berpikir, sejak kapan Nisa memiliki kakak laki-laki. bukankah Nisa hanya memiliki kakak perempuan saja. apalagi namanya max.
( sejak kapan Nisa memiliki kakak laki-laki yang bernama max. jika seandainya ia punya, bisa memiliki kakak ipar tapi namanya Andi bukan max.) batin Dedi dengan penuh bertanya-tanya di dalam hatinya.
***bersambung***
__ADS_1