HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
46. S2 bertemu dengan pemilik showroom


__ADS_3

saat mereka sedang berjalan menuju kantin tiba-tiba mereka berpapasan dengan para senior mereka yaitu Ridwan dan satu temannya Aldo.


"halo adik Abang kalian mau ke mana nih?"sapanya kepada Dewi dan Nisa.


"mau ke kantin Kak mau makan siang soalnya lapar"ucap Dewi dengan ketus.


"ketus amat dek jawabnya,, Ya udah bareng yuk.."ucap Aldo kepada Dewi.


Nisa dan Dewi pun setuju mereka langsung berjalan menuju kantin. sesampainya mereka di kantin mereka langsung memesan nasi goreng dan yang lainnya.


tak lama pesanan mereka pun datang, Mereka pun kembali hening dan makan dengan nikmat. tak lama proses makan memakan itu pun selesai mereka duduk dan beristirahat sejenak.


"Kak Kakak berdua ini jomblo ya ?"tanya Dewi dengan santainya Aldo dan Ridwan pun saling memandang satu sama lain.


"hahaha... memangnya kenapa Wi kamu mau jadi pacar abang gitu..??"ucap Ridwan dengan bercanda.


"ih.. nggak deh orang lain aja nggak mau sama Kakak masak Dewi mau.." ucap Dewi dengan nada manjanya sementara Nisa hanya diam dan mengotak-atik handphonenya saja. untuk saat ini ia malas berurusan dengan para senior atau lainnya.


"eh Buk.. diam aja dari tadi..?"tanya Ridwan kepada Nisa Nisa pun mengalihkan pandangannya dari handphone kemudian memberikan senyum kepada seniornya itu.


"Iya Kak Lagi malas ngomong nih.."ucap Nisa apa adanya.


saat mereka sedang bercakap-cakap tiba-tiba masuk pesan grup dari dosen mereka. Ia menyampaikan bahwa siang ini tidak ada kuliah namun digantikan dengan kuliah umum diwajibkan semua mahasiswa-mahasiswi baik baru maupun lama mengikuti kuliah umum tersebut. setelah informasi tersebut tak lama Mereka pun langsung memasuki ruang yang khusus dijadikan untuk kuliah umum.


***


mahasiswa dan mahasiswi mulai duduk untuk mengikuti kuliah umum ini. narasumbernya berasal dari luar kampus mereka.


ia mulai memperkenalkan diri dan mulai mempresentasikan beberapa materi dan motivasi mengenai tata pola dan ruang.


selesai menyampaikan materinya para mahasiswa dan mahasiswi mulai mengajukan beberapa pertanyaan yang menurut mereka masih belum memahaminya.


sementara Nisa, yang bener-bener sedang malas untuk membuka mulutnya dan bersuara. Ia hanya menunduk dan menscroll hp-nya, membaca beberapa berita saja dan tidak terlalu memperdulikan sesi tanya jawab ini.


memang di awal presentasi atau penyajian data, Nisa mendengarkannya dengan seksama. setelah sesi tanya jawab karena ia tidak tertarik untuk bertanya Nisa memilih untuk berdiam diri saja.


sautan demi sahutan pertanyaan serta jawaban terdengar di ruangan itu maka terjadilah pola diskusi yang teratur.


tiba-tiba Dewi memperhatikan Nisa yang sedang memegang hp-nya dan membaca beberapa berita. Dewi pun menyikut lengan Nisa.

__ADS_1


"Nis, lo nggak bertanya lumayan tuh bisa bertatapan langsung dengan narasumbernya masih muda dan juga ganteng"ucap Dewi dengan humblenya kepada Nisa.


"enggak lah, lo aja yang nanya gua mah nggak tertarik.." ucap Nisa dengan pelan agar tidak terdengar suaranya di mana-mana.


"yaelah nyesel lu nanti... coba deh angkat kepala kamu dan lihat ke arah narasumbernya ganteng banget."ucap Dewi memasang ekspresi gemasnya dan mengarahkan pandangannya kepada sang narasumber. karena Nisa tidak terpancing sama sekali Dewi kembali bersuara.


"eh nis, kok loh diam aja sih.. kamu ini normal atau gimana sih ? Nggak tahu lihat yang ganteng ya?"pertanyaan Dewi sontak membuat Nisa membulatkan matanya.


"enak aja lu sekate-kate, hanya karena gue nggak ngeliatin tu narasumber kamu jadi berkesimpulan kalau aku ini nggak normal, nggak enak aja kalau ngomong."ucap Nisa Manoel sedikit kepala temannya itu.


Dewi pun memegang jidatnya yang kena pukulan sayang dari sang teman.


"ya mana tahu kan.."ucapnya sambil mengelus-elus kepalanya itu. tak lama proses tanya jawab itu pun selesai dan selesailah acara kuliah umum itu.


setelah acara kuliah umum selesai semua mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruangan tersebut.


setelah itu, Nisa dan Dewi pun mulai berjalan pulang ke kosan masing-masing. Nisa berjalan dengan memperhatikan hpnya, karena kerap kali hp-nya itu terus bersuara menandakan berbagai pesan masuk.


Ia pun berjalan tanpa memperhatikan langkahnya tiba-tiba ia menabrak sesuatu.


bruk... suara Nisa menabrak sesuatu. sementara hp-nya jatuh terpelanting ke lantai.


Nisa pun beralih mengambil hp-nya yang terjatuh. sementara orang yang ditabraknya tadi itu mendengar suaranya langsung mengalihkan pandangannya dan menghadap Nisa. maka bertemulah tatapan dan wajah mereka.


"aduh Maaf Pak saya benar-benar tidak sengaja, maafkan saya pak tadi saya sedang melihat handphone saya, jadi saya tidak melihat bapak berada di sini, saya salah maaf ya pak.."ucap Nisa mengungkapkannya panjang lebar dan mengakui kesalahannya.


tapi ternyata orang yang ia tabrak itu malah memperhatikan wajahnya dengan seksama tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


karena ucapannya tidak direspon. Nisa mengangkat tangannya dan melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah orang tersebut.


"Pak.. bapak nggak papa..?"tanya Nisa sontak orang tersebut langsung tersadar dan merasa malu. Nisa pun mengulang pertanyaannya.


"saya nggak papa maaf.."ucapnya kaku.


sebenarnya, laki-laki itu sedang mengamati wajah Nisa. Ia berpikir seolah pernah bertemu dengan perempuan tersebut.


setelah ia mengamati wajah itu lebih lama, maka akhirnya ia terpikir perempuan tersebut adalah seorang siswa SMA yang dulu datang ke showroom penjualan motornya dan adu mulut dengan salah satu karyawannya.


orang tersebut pun masih ingat Bagaimana aura yang ia keluarkan sangat mengintimidasi sehingga membuat ia sedikit gugup untuk menghadapinya.

__ADS_1


"eh kok bapak yang meminta maaf.. kan yang salah saya Pak.."ucap Nisa tidak mengerti. orang tersebut pun hanya tersenyum canggung dan menggaruk-garuk sedikit kepalanya yang tidak gatal.


"kamu Nisa Saputri kan..?"tanya orang tersebut to the point. Nisa membelalakkan matanya Ia berpikir Siapa orang ini Kenapa ia bisa mengetahui dan mengenali nya.


"eh bapak kenal dengan saya?"tanya Nisa kembali. dan benar saja dugaan orang tersebut tidak salah.


"tentu saja Nona, kita pernah bertemu di showroom penjualan motor dan saat itu Nona sedang menegur salah satu karyawan saya yang saat ini sudah saya pecat."Ucap orang itu.


Nisa pun terkejut ia mengingat-ingat kembali pada saat ia dan kedua orang tuanya membeli motor waktu itu.


"Oh iya iya saya sudah tahu Pak... sekali lagi saya minta maaf ya Pak karena sudah menyebabkan kekacauan mungkin di showroom bapak. dan saya juga hari ini tidak sengaja menabrak bapak saya benar-benar minta maaf saya tidak sengaja"ucap Nisa lagi. orang itu pun tersenyum.


"Oh ya perkenalkan saya Aditya Pratama."ucap Aditya memperkenalkan dirinya. Nisa pun menerima uluran tangan Pak Aditya itu.


"Oh ya Kamu tinggal di mana...?"tanya Pak Aditya sok akrab. Nisa sedikit jengah dengan percakapan itu karena menurutnya Pak Aditya adalah orang yang asing baginya.


"Saya tinggal di kosan sekitar sini pak, kalau begitu saya pulang dulu ya pak"ucap Nisa langsung dengan tujuannya.


Nisa pun melangkahkan kakinya untuk segera menjauh dari Pak Aditya tapi tiba-tiba Pak Aditya memanggilnya kembali.


"Nisa tunggu sebentar.."Nisa pun berhenti dan Pak Aditya pun langsung berlari kecil untuk menghampirinya.


Nisa menoleh mengarahkan pandangannya kepada Pak Aditya yang sedang berlari kecil untuk menghampirinya.


"Ada apa lagi Pak,? apakah masih ada yang perlu saya bantu?"tanya Nisa kembali.


"boleh saya minta nomor telepon kamu?"tanya Aditya tanpa basa-basi karena sepertinya Nisa mulai jengah mengobrol dengannya.


"untuk Apa Pak, apakah ada keperluan lain..?" ucap Nisa.


Aditya pun sedikit menggaruk tengkuknya sebenarnya ia malu mengutarakan keinginannya secara spontanitas itu. tapi mau gimana lagi ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk meminta nomor telepon Nisa.


"oh sebenarnya sih tidak apa-apa, tapi kebetulan saya dalam satu semester ini akan mengajar di sini nanti. jadi saya membutuhkan salah seorang mahasiswa untuk mendampingi saya untuk beberapa waktu sekalian untuk bertukar informasi"Ucap pak Aditya sedikit gugup di hadapan Nisa.


tanpa banyak tanya lagi karena Nisa sedang malas meladeni siapapun. akhirnya ia memberikan saja nomor teleponnya kepada Pak Aditya. mereka berdua saling tukaran nomor telepon.


"kalau begitu terima kasih Nisa nanti kalau saya butuh sesuatu saya boleh minta tolong sama kamu ya."Ucap pak Aditya dan langsung mendapat persetujuan dari Nisa setelah acara tukaran telepon itu selesai mereka berdua sama-sama meninggalkan tempat tersebut.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2