HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
51. ajakan Aditya


__ADS_3

"Eh Untuk apa kamu menanyakan hal itu?" Tanya Nisa kepada Aska di seberang telepon. Terdengar Aska menghembuskan nafasnya kasar.


"Nis Aku tahu, kamu marah padaku, karena waktu itu aku pergi tanpa pamit padamu. Aku sungguh minta maaf. Aku menelpon hanya ingin mengabarimu bahwa dalam waktu dekat ini aku akan ke Indonesia untuk bertemu denganmu."ucap Aska lagi.


"Untuk apa kamu ingin bertemu denganku ? bukankah sekarang kamu sudah menjelaskan dan kamu sudah meminta maaf. Aku juga sudah tidak ingin mengharapkan kamu lagi. Aku sudah melupakan kamu, jadi tidak perlu kamu pikirkan lagi. Kalau seandainya kamu cuma ingin membahas hal itu, lebih baik aku tutup teleponnya. banyak hal yang harus aku kerjakan."ucap Nisa. Iya masih tahu etika dan tata krama ia tidak menutup teleponnya dengan sembarangan.


"Baiklah, aku minta maaf sudah mengganggu waktumu, namun aku akan tetap ke Indonesia dalam waktu dekat ini untuk bertemu denganmu. Kalau begitu aku akhiri panggilan ini, sehat-sehat di sana ya.. sampai jumpa lagi."ucap Aska setelah mengatakan hal itu Nisa pun langsung menutup teleponnya.


"Gila !! ngapain dia masih menelponku !! dan mengatakan hal itu, dia pikir aku masih memikirkan hal itu, hais.... kurang kerjaan saja.."ucap Nisa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah percakapan singkatnya kepada Aska, Nisa pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan langsung menyelam ke alam mimpi.


***


Esok paginya pun menyingsing. seperti biasa Nisa akan berangkat kuliah. Iya mengikuti kuliah pagi ini dengan seksama. tak lama kuliah Mereka pun selesai. Namun, dengan tiba-tiba Ia mendapat panggilan dari pimpinan kampus.


"Nisa jangan pulang dulu ya."ucap K-prodi mereka.


"Kenapa Bu ada yang bisa Nisa bantu?"ucap Nisa dengan segala hormat.


"Iya.. pimpinan kampus ingin bertemu denganmu. namun, saat ini beliau masih dalam perjalanan menuju kampus. jadi ibu harapkan tinggal sebentar lagi di kampus sambil menunggu pimpinan datang." Ucapkan K-prodi lagi.


"Oh.. baiklah Bu kalau begitu.."ucap Nisa.


Nisa pun mencari tempat duduk dan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi tunggu di depan pintu rektorat. Tak lama akhirnya Nisa pun dipanggil masuk ke dalam menemui pimpinan kampus.


"Selamat siang pak.."ucap Nisa dan langsung disambut oleh pimpinan kampus itu.


Nisa tidak mengerti, kenapa pimpinan kampus sangat bersemangat bertemu dengannya. namun Nisa hanya menurut saja dan tidak banyak bertanya. Ibaratnya Nisa mencari aman agar tidak ada masalah lain. Nisa pun langsung dipersilakan duduk oleh pimpinan kampus tersebut.


"Maafkan bapak Nisa, mengganggu waktu kamu sebentar." Ucap sang pimpinan.

__ADS_1


"Iya Pak tidak apa-apa....." Ucap Nisa lagi. Di sana juga terdapat beberapa dosen mendampingi mereka.


"Begini, tadi bapak mendapatkan undangan untuk menghadiri seminar di luar kota x. dalam undangan tersebut mereka meminta kamu untuk mengisi acara seminar itu bertemakan tentang pengusaha muda atau cara memulai usaha. Jadi bapak bertemu denganmu untuk membicarakan hal ini."ucap sang pimpinan.


Penuturan itu sontak membuat Nisa tidak percaya dan terkejut. Untuk menghadiri sebuah seminar itu merupakan di luar ekspektasi dan pemikirannya.


Mengingat dia itu hanyalah seorang mahasiswa baru.


Mereka pun mulai membicarakan hal itu, perihal mengenai undangan mengisi beberapa kegiatan seminar di luar kota x.


Nisa tidak bisa menolak dan tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ia hanya mengiyakan saja. Setelah pembicaraan yang cukup menguras tenaga itu, akhirnya Nisa pun kembali ke kosannya.


"Huh ternyata ini cukup melelahkan, Kenapa juga aku yang harus mengisi seminar itu hanya karena aku pernah menghadiri seminar di luar negeri. Huh tapi tidak apalah hitung-hitung sebagai menambah ilmu.."ucap Nisa berpositif thinking.


Setelah itu, Nisa kembali membersihkan tubuhnya dan memasak untuk makan malamnya, saat Nisa hidup mandiri dia tidak pernah membeli makanan dari luar jika tidak mendesak.


Iya lebih memilih memasak makanannya sendiri dan berbelanja sendiri.


Setelah itu Nisa masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak lama Ia pun keluar kembali dan memulai ritual makan malamnya, setelah selesai ia kembali membuka laptop dan mulai bekerja.


Seperti biasa, ia akan selalu memantau kemajuan pabrik skin care-nya Begitu juga dengan pemasukannya.


Setelah Nisa rasa cukup untuk bekerja di depan layar monitor, Iya pun langsung membereskan meja tersebut dan langsung membuang dirinya secara kasar di atas tempat tidur. Tak lama Ia pun langsung terlelap..


***


Jam 06.00 subuh, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Lagi-lagi nomor yang masuk ialah nomor yang tidak dikenal. namun berbeda dengan nomor yang kemarin. Nisa pun menjadi ragu untuk mengangkatnya namun akhirnya ia angkat juga.


"Halo... dengan siapa saya berbicara??"tanya Nisa di dalam telepon itu. Tak lama terdengar suara di seberang telepon.


"Iya Bu, anda berbicara dengan saya Aditya Pratama.."ucap Aditya membalas ucapan formal dari Nisa. Mendengar ucapan formal dan kaku itu Nisa pun sedikit terkekeh.

__ADS_1


"Oh bapak toh... Saya kira siapa? Kenapa Pak Ada yang bisa saya bantu?"ucap Nisa. Aditya pun ikut terkekeh.


"Iya Bu, saya mau tanya, Apakah hari ini Ibu ada kegiatan?"tanya Aditya Nisa yang dipanggil ibu sama Aditya pun menjadi sedikit risih dan tidak nyaman.


"Hehehe... Pak tolong jangan panggil saya ibu dong, Kan saya belum punya anak.."ucap Nisa sedikit cengengesan.


"Oh maaf kalau begitu. Kalau begitu, Ibu juga jangan memanggil saya bapak.."ucapan linglung itu membuat Nisa mengerutkan keningnya.


"Eh.. maksudnya bagaimana Pak,? tentu saja saya harus menghormati bapak sebagai dosen saya.."ucap Nisa kembali ia merasa tidak mengerti dengan permintaan itu. Entahlah Nisa mengerti atau pura-pura tidak mengerti hehehe.😁😁


"Baiklah baiklah, Saya tidak melarang kamu memanggil dengan sebutan bapak jika seandainya kita berada di lingkungan kampus. namun kalau kita sudah berada di luar lingkungan kampus, maka tolong panggilan bapak itu sudah tidak berlaku lagi, boleh panggil Kak, Bang, mas, atau sayang juga boleh..."ucap Aditya dengan memelankan suaranya di akhir kalimat.


Karena handphone cukup dekat di telinga, sepelan apapun, kata-kata itu pun tetap terdengar di telinganya. Nisa sedikit menyunggingkan senyum dari bibirnya.


"Oh begitu ya pak. Terus bagusnya saya panggil apa Kakak aja atau abang..."ucap Nisa lagi.


"Kalau Nisa nanya aku ? aku maunya Nisa memanggil saya itu dengan sebutan sayang mau tidak..?"ucap Aditya kembali.


"Ya nggak lah Pak, saya kan bukan pacar bapak. Saya panggilnya Kakak aja ya kalau sedang berada di luar kampus..."ucap Nisa lagi.


"Baiklah terserah kamu saja. Oh ya Kakak menelpon ingin bertanya, apakah hari ini kamu ada waktu entah itu siang sore atau malam. ?" tanya Aska kepada Nisa.


Nisa menjadi heran mendengar pertanyaan itu. dalam hatinya sih ia tidak ada rasa takut, Apa yang perlu ia takutkan ? bela diri, Ia pandai ?hanya saja pertanyaan ambigu itu tentu saja mengundang kecurigaan.


"Memangnya kenapa Pak ? Ada yang bisa saya bantu eh maksud saya Kak..?"ucap Nisa lagi meralat kata-katanya. Aditya pun terkekeh.


"Tidak aku hanya ingin mengajak kamu jalan-jalan, Jika kamu mau dan tidak keberatan.." ucap Aditya to the point.


Nisa berpikir sejenak. banyak hal yang ia pikirkan, jika seandainya ia pergi jalan bersama dosennya sendiri. orang-orang pasti akan mengira, Kalau Nisa adalah pacarnya dan tentu saja itu tidak baik untuk citranya sendiri.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2