
Saat ini Nisa sedang berada di kosannya. setelah pulang kuliah, Iya dan Dewi sejenak singgah Di dalam perpus mengerjakan pekerjaan dan tugas-tugas mereka. Setelah itu mereka sama-sama kembali di kosan masing-masing. saat Nisa sedang rebahan tiba-tiba handphonenya berbunyi. di sana tertera nama panggilan dari saudara angkatnya Austin. Nisa pun segera mengangkat panggilan itu.
"halo.." ucap nisa.
"halo dek, kamu di mana sekarang? Apa kamu bisa ke rumah sakit hari ini.!!" ucap Austin di seberang telepon. mendengar kata rumah sakit Nisa pun segera membulatkan matanya dan beranjak dari rebahannya menjadi duduk.
"Kakak Siapa yang sakit?"tanya Nisa dengan sedikit berteriak, karena shock mendengar kata rumah sakit. jantungnya berdetak tidak karuan.
"Aditya baru saja mengalami kecelakaan."ucap Austin kembali. mendengar Aditya yang kecelakaan sontak Nisa khawatir dan menitikkan air matanya. Jujur saja Nisa sempat takut kalau yang sakit itu adalah Ayah Albert atau bapak dan ibunya.
"Baiklah Kak, Nisa akan segera ke sana." ucap Nisa lagi. Mereka pun segera mengakhiri panggilan itu. setelah itu Nisa segera bersiap-siap dengan tergesa-gesa. setelah mendapat alamat rumah sakitnya, Nisa pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit itu.
***
saat ini, Nisa sudah berada di rumah sakit itu. Iya langsung menelpon kakaknya Austin mengabari bahwa ia sudah sampai di rumah sakit. dengan petunjuk dari Austin Nisa pun segera berlari menghampiri ruangan di mana Satya dirawat.
sesampainya di sana, Nisa melihat kedua orang tua Satya dan kedua saudara Nisa sedang menunggu di ruangan itu. Nisa pun segera mendekat.
"Kak, om, tante... apa yang terjadi dengan Kak Aditya.?"tanya Nisa dengan perasaan cemas dan khawatir.
melihat kedatangan Nisa, tante Humaira pun langsung memeluk Nisa, seolah ia ingin mencurahkan semua rasa takut dan cemasnya. Nisa yang mendapat perlakuan itu pun membalas pelukan tante Humaira dan mengelus pelan pundak sang tante.
"tenang ya Tan. niSa yakin, Kak Aditya baik-baik saja."ucap Nisa menenangkan tante Humaira itu. Mereka pun berdua langsung duduk berdampingan. Karena penasaran Nisa pun kembali bertanya.
"Kak.. sebenarnya apa yang terjadi dengan Kak Aditya.?? Kenapa tiba-tiba kak Aditya jadi kecelakaan seperti ini. aku tahu Kak Aditya orangnya selalu berhati-hati dalam berkendara serta dalam tindakan. tapi kenapa tiba-tiba saja kak Aditya langsung mengalami kecelakaan seperti ini."tanya Nisa dengan penasaran kepada kedua kakaknya yang berada di sana Austin dan max. max yang mendengar pertanyaan sang adik itu pun segera mengalihkan pandangannya kepada Nisa. Iya sejenak menarik nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Kakak juga tidak tahu dek. setahu kakak kami membuat janji ketemuan, karena katanya iya ingin menyampaikan sesuatu kepada kakak mengenai permasalahan yang terjadi di perusahaannya. di sana Kakak tidak pergi sendiri, melainkan Kakak pergi bersama Arthur. Kakak dan Arthur pun sampai lebih dulu ke tempat janjian.
kami pun langsung memesan minuman sebagai teman untuk kami menunggu Aditya. biasanya Aditya hanya akan telat 10 menit paling lama. namun selama 30 menit kami menunggu di tempat itu, Aditya tidak kunjung datang. akhirnya kami berinisiatif untuk menghubunginya.
ternyata handphonenya tersambung namun yang mengangkat bukanlah Aditya, melainkan seorang bapak-bapak yang tiba-tiba lewat dan melihat Aditya kecelakaan tanpa ada yang menolong di sana.
bapak itu pun segera memberitahu kami dan alamatnya. dengan segera Kakak dengan Arthur langsung menuju lokasi. sekarang Arthur masih menyelidiki kejadian yang menimpa Aditya bersama dengan Lion dan kardo dan dibantu oleh beberapa pihak kepolisian."jelas max kepada Nisa.
kedua orang tua Aditya pun yang belum mengetahui kronologi kejadian kecelakaan itu pun menyimak cerita max dengan seksama. sementara Austin hanya diam membisu dan menundukkan kepalanya saja. di sana juga tak hanya Aditya yang mengalami kecelakaan, namun juga bersama dengan asistennya Jimmy yang selalu mengikuti kemanapun Aditya pergi. mendengar cerita tersebut tante Humaira pun kembali menangis histeris.
"Ya Allah... kenapa ini terjadi kepada anakku. tolong selamatkanlah dia, aku tidak sanggup kalau putraku harus pergi meninggalkanku."ucapkan teh Humaira mengeluarkan rasa takut dan kekhawatirannya itu.
"tante tenanglah. nisa yakin Kak Aditya akan baik-baik saja."ucap Nisa kembali menyenangkan wanita paruh baya itu. Sementara Pak Anwar hanya dia menundukkan kepalanya seolah tidak tahu harus melakukan apa. tiba-tiba dokter keluar dari ruangan itu. melihat dokter itu keluar nisa dan max pun segera menghampiri dokter itu, disusul oleh Pak Anwar dan tante Humaira.
"Bagaimana keadaan Aditya dokter?"tanya max duluan. dokter itu sedikit memasang wajah sayu. kemudian menggelengkan kepalanya.
mendengar itu lagi-lagi tante Humaira menangis sejadi-jadinya dan tiba-tiba pingsan. melihat tante Humaira pingsan segeralah Austin dan Pak Anwar mengangkut tubuh tante Humaira. Nisa dan max pun bernafas gusar.
"dokter apa boleh kami menjenguknya."tanya Nisa tiba-tiba. Nisa yang paham dengan dunia medis pun ingin melihat secara langsung tentang kondisi Aditya dan Jimmy.
"tentu saja boleh. tapi setelah pasien dipindahkan di ruang rawatnya."ucap dokter Ferdi lagi. tak lama Satya pun langsung dipindahkan di ruang rawat di mana di ruangan itu hanya ada dirinya dan asistennya Jimmy.
setelah itu, Nisa dan max pun segera memasuki ruangan tersebut. saat mereka masuk, bisa benar-benar dibuat tercengang dengan kondisi mereka berdua. Nisa ingin menangis namun ia berusaha untuk menahan tangisnya agar tidak keluar.
nisa pun langsung mendekat ke arah Aditya. segeralah bisa mulai mengamati wajah Aditya dari atas sampai bawah. max yang paham pun hanya diam dan melihat tindakan sang adik.
__ADS_1
"bagaimana dek ? apa menurutmu Aditya masih bisa sembuh?"tanya max tiba-tiba. bisa kembali bernafas kasar lagi.
"bisa Kak. hanya saja sepertinya butuh proses yang lama. "jelas nisa lagi. Iya juga beralih kepada Jimmy. dan mengamati wajah itu seperti yang ia lakukan kepada Aditya. ternyata kondisi mereka berdua tidak jauh berbeda. saat mereka sedang mengamati kedua orang itu, tiba-tiba tante Humaira, Pak Anwar dan Austin segera masuk ke ruangan itu.
ceklek suara pintu dibuka.
max dan Nisa pun mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. terlihatlah ketiga orang itu memasuki ruangan tersebut.
tante Humaira yang melihat Putra satu-satunya yang ia banggakan itu terbujur tidak berdaya, Iya menjadi menangis kembali. hati ibu yang mana sih yang tega melihat buah hatinya menderita seperti itu. tante Humaira pun mendekat ke arah Jimmy dan Aditya.
"putraku. bangunlah kalian, jangan seperti ini ibu mohon."ucap Tante Humaira. tante Humaira merundukkan kepalanya dan segera saja air matanya itu mengalir seperti mata air.
"tante tenang saja. Kak Adit bisa sembuh, hanya saja semuanya butuh proses tante."ucap Nisa kembali menenangkan tante Humaira itu. mendengar ucapan Nisa tante Humaira mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Nisa.
seolah matanya menyiratkan pertanyaan, benarkah putraku bisa sembuh ? Apakah kamu tidak akan meninggalkannya Jika ia tidak sembuh ?. kira kira, seperti itulah pertanyaan yang ada di kepala tante humairoh. Nisa yang melihat sorot mata seperti itu mengukir senyum untuk tante Humaira.
"tante tenang saja, percayalah semuanya akan baik-baik saja.."ucap Nisa lagi.
"Baiklah tante percaya kepadamu nak. jangan tinggalkan dia apabila terjadi sesuatu kepadanya. "tutur tante Humaira. semua yang ada di sana pun menundukkan kepalanya sedi. saat mereka sedang berkabung tiba-tiba handphone max berbunyi. panggilan itu berasal dari Arthur. max pun segera menjauh dan mengangkat panggilan itu.
"halo Bang. Bagaimana kondisi di sana..?"tanya Arthur kepada max. walaupun Arthur tidak melihat max max tetap menggelengkan kepalanya.
"di sini tidak baik-baik saja. sepertinya kondisi mereka sangat parah."jelas ma. mendengar penjelasan itu terdengar helaan nafas berat dari Arthur.
"Bang Saya belum menemukan bukti apapun. namun satu hal yang sudah kami pastikan, bahwa kecelakaan ini sudah di sabotase. beberapa mesin mobil itu tidak sehat dan remnya sudah diputuskan. Aku menelpon karena aku merasa khawatir. Abang terus pantau saja di sana, Aku tutup teleponnya dulu ya Bang."ucap Arthur ternyata ia menelpon karena merasa khawatir mengenai kondisi Aditya dan Jimmy.
__ADS_1
***bersambung***