
Setelah Tuan Anwar kembali dari perusahaan. Tuan Anwar pun langsung kembali ke rumah sakit untuk menemani istrinya menjaga Aditya dan Jimmy. namun yang membahagiakan ialah, Aditya sudah sadarkan diri, sementara Jimmy masih belum sadar, dan masih setia dengan tidur panjangnya. namun walaupun Aditya sudah sadar dari komanya, Iya melupakan pertemuan nya dulu dengan Nisa bahkan ia juga melupakan memori memori yang ia alami beberapa tahun yang lalu.
Iya hanya mengingat Jimmy, kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang lain. sementara dalam ingatannya tidak ada Nisa dan keluarganya, dan tentu saja membuat nyonya Humaira menjadi sedih.
ceklek suara pintu dibuka. tampaklah Tuan Anwar masuk ke dalam ruangan itu. nyonya Humaira melihat kedatangan suaminya dan mengukir senyum.
"assalamualaikum.. Maaf ma papa lama di perusahaan Aditya." ucap Tuan Anwar. kemudian Tuan Anwar menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu. tatapan mereka nampak sayu, yang membuat Tuan Anwar bertanya-tanya.
"Ada apa dengan tatapan kalian. Kenapa begitu sayu dan tidak bersemangat..?"tanya Tuan Anwar dengan sejuta rasa penasaran. nyonya Humaira tersenyum.
"pah, Alhamdulillah Aditya sudah sadar dari komanya.."ucap nyonya Humaira dan sukses membuat Tuan Anwar menjadi senang.
"tapi..." ucap Tuan Humaira mengambang. wajah Tuan Anwar yang tadinya terlihat bahagia kini kembali mengerutkan keningnya.
"tapi kenapa ma..??"tanya Tuan Anwar lagi. Tuan Anwar berjalan mendekat ke arah sang istri dan melihat Aditya masih tertidur.
"tapi ia melupakan Nisa dan keluarganya."ucap nyonya Humaira lagi. sontak membuat Tuan Anwar menjadi shock.
"Tapi menurut analisa Nisa dan dokter, Aditya amnesia tidak akan lama apabila kita membantu nya mengingat masa lalunya yang baru-baru ini. Aditya juga tidak menunjukkan penolakan dan merasa asing dengan Nisa dan max. hanya saja, Aditya menunjukkan sikap yang ver saja."tutur nyonya Humaira lagi.
Tuan Anwar pun kembali bernafas lega. Iya pikir ingatan Aditya tidak akan kembali selamanya, kalau begitu dia akan gagal memiliki menantu seperti Nisa. tapi tiba-tiba, Tuan Anwar mengarahkan pandangannya ke arah dua bersaudara itu.
"sabar ya sayang, papa dan Mama juga akan membantu Aditya untuk mengingat kalian kembali."ucap tuan Anwar dengan sayang. tiba-tiba Aditya terbangun dari tidurnya.
"pah, papa sudah pulang.."ucap Aditya dengan suara lemahnya. Tuan Anwar pun tersenyum senang.
"Iya papa sudah pulang. tapi papa denger kamu melupakan calon menantu papa. Apakah benar begitu..?"tanya Tuan Anwar.
"memangnya siapa calon menantu papa. sejauh ini aku bahkan belum dekat dengan seorang perempuan manapun. Bagaimana mungkin papa memiliki calon menantu."ucap Aditya lagi. Tuan Anwar pun mendelik tidak percaya.
Tuan Anwar masih mencoba memancing ingatan Aditya. Tuan Anwar masih belum percaya bahwa Aditya merupakan calon menantunya itu.
"lihatlah perempuan yang duduk di sana, Iya adalah calon menantuku."ucap Tuan Anwar menunjuk ke arah Nisa dan max. Aditya pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Tuan Anwar. namun tatapan Aditya datar dan sulit diartikan.
"papa jangan sembarangan bicara, Aku sama sekali tidak mengenali perempuan dan laki-laki itu. papa sama Mama jangan membohongiku.."ucap Aditya lagi. Nisa yang mendengar penuturan Aditya itu pun menatap sayu ke arah Aditya.
__ADS_1
Nisa sedih, Kenapa Aditya tidak mengingatnya sama sekali. Apakah hatinya tidak bergetar melihat tatapan dan sorot matanya. max yang melihat kesedihan sang adik pun mengusap pelan punggung adiknya.
"jangan bersedih seperti itu, Iya hanya tidak mengingatmu saja. lagi pula amnesianya tidak permanen. percayalah Aditya pasti akan mengingatmu kembali.."ucap max menguatkan hati adiknya.
Begitu juga dengan nyonya Humaira. melihat kesedihan yang tercetak di wajah Nisa, nyonya Humaira pun mendekat ke arahnya.
"Iya nak jangan bersedih begitu. Mama yakin Aditya pasti akan segera mengingatmu."ucap nyonya Humaira.
Nisa yang mendengar penghiburan orang-orang terdekatnya pun mengukir senyum. entah kenapa Nisa menjadi sensitif seperti ini. padahal Ia tidak pernah merasakan perasaan yang berlebihan.
( Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. tapi kenapa aku merasa sedih ketika Aditya melupakanku. ??") batin Nisa.
setelah drama sadarnya Aditya dari komanya, Nisa tidak berhenti di situ. walaupun Aditya tidak mengenalinya sebagai tunangannya. namun tidak menyurutkan keinginan nisa untuk merawat Aditya.
tak hanya nisa, keluarga besar Nisa pun kerap kali datang mengunjunginya dan menanyai kabarnya kepada kedua orang tuanya. mereka juga mengetahui mengenai kehilangan ingatan Aditya mengenai Nisa dan keluarga mereka.
tapi kerap kali Aditya merasa risih ketika Nisa datang menjenguk dan merawatnya. namun ketika dia mengeluarkan kata-kata kasar dan melihat wajah sedih Nisa, hatinya selalu mencolos dan sakit. seperti sekarang ini.
"kamu ini siapa sih..!! Kenapa setiap hari kamu selalu datang dan menemuiku. jangan bilang kamu sedang mencari cara untuk mendekatiku dan mendekati kedua orang tuaku. ingat ya aku tidak pernah mengenalmu dan sampai kapanpun aku tidak akan luluh terhadapmu."ucap Aditya dengan spontan. tentu saja ucapan itu sukses membuat hati Nisa tercabik-cabik. namun ia masih mencoba untuk bersabar.
Nisa yang mendengar penuturan pedas itu setiap hari hanya mampu tersenyum dan tidak menimpali.
"Mama please deh.. jangan terus menjodoh-jodohkanku dengan perempuan yang tidak aku kenal. aku tahu Mama menginginkan aku menikah. tapi bukankah sudah aku katakan, kalau aku tidak menginginkan perempuan manapun kecuali perempuan yang aku sukai."ucap Aditya. kali ini ucapannya benar-benar membuat nyonya Humaira tidak dapat melakukan apapun.
"sudahlah tante tidak apa-apa. kita pelan-pelan saja.."ucap Nisa kembali. walaupun sebenarnya dalam hatinya telah hancur mendengar penuturan Aditya. Namun karena ia merasa yakin dalam hatinya nisa pun tidak memasukkan ucapan Aditya di dalam hati. Iya masih mencoba untuk bersabar menghadapi sikap dingin dan ketus Aditya saat hilang ingatan.
Nisa juga mengganti panggilannya kepada nyonya Humaira. yang mana dulunya ia memanggil nyonya Humaira dengan sebutan mama, Namun karena mendapat protes dari Aditya kini ia kembali memanggil kedua orang tua Aditya dengan sebutan om dan tante.
"sudahlah tidak usah drama di depanku. mulai besok kamu tidak usah datang untuk merawatku lagi. karena aku tidak membutuhkanmu.."ucap Aditya. lagi-lagi hati Nisa kembali sakit dan mencolos.
Nisa bisa saja meninggalkan Aditya, mengingat Nisa adalah perempuan yang cuek dan tidak mau ambil pusing mengenai urusan percintaan. namun, Nisa mencoba untuk bertahan karena Aditya sedang tidak mengingat dirinya. beda halnya jika Aditya mengingatnya namun berkata ketus kepadanya. Namun kita juga tidak tahu kapan Nisa akan tahan dengan sikap Aditya seperti ini.
"Aditya jangan seperti itu. saat kamu tidak sadarkan diri, dialah yang menjaga dan merawatmu. "ucap nyonya Humaira. tentu saja nyonya Humaira tidak terima apabila calon menantu idamannya ini diusir oleh anaknya sendiri.
"mah, Aditya minta jangan tertipu dengan kebaikan perempuan yang tidak kita kenal. bisa saja perempuan ini hanya berpura-pura baik untuk menarik simpati kita."tuduh Aditya lagi.
__ADS_1
Nisa yang mendengarkan ucapan pedas dari Aditya itu pun menarik nafasnya dalam. hatinya benar-benar sakit, selama seminggu ia bolak-balik ke rumah sakit untuk melihat kondisi Aditya dan merangsang ingatannya, ternyata belum menunjukkan tanda-tanda Aditya akan mengingat dirinya.
nyonya Humaira yang melihat Nisa memasang raut wajah kecewa dengan ucapan Aditya pun mendekat ke arah Nisa.
"Mama mohon jangan dengarkan penuturan Aditya. dia hanya tidak mengingatmu saja.."ucap nyonya Humaira. Nisa pun mengganggu kan kepalanya. selama seminggu merawat Aditya ia benar-benar harus memupuk kesabaran untuk menghadapi sikap dingin yang ditunjukkan oleh Aditya kepadanya.
sementara di satu brankar yang berbeda, Jimmy masih setia dalam tidur panjangnya. namun tiba-tiba tangannya bergerak menandakan bahwa Jimmy akan tersadar.
melihat Jimmy akan tersadar, Aditya langsung menekan tombol untuk memanggil para dokter memeriksa asistennya. sementara Nisa sudah lebih dulu mendiagnosa Jimmy. Aditya yang melihat Nisa beralih dan memeriksa asistennya itu pun menjadi marah.
"berhenti di sana..!! jangan coba-coba kamu menyentuhnya..!! jangan kamu pikir aku tidak bisa menembak isi hatimu, kamu pasti sengaja memberikan perhatian kepada jimmy agar aku luluh terhadapmu."tuduh Aditya lagi.
Nisa yang mendengar tuduhan itu pun tidak menghiraukannya. baginya ia harus memeriksa keadaan Jimmy terlebih dahulu. nyonya Humaira juga yang mendengar penuturan Aditya pun kembali menasehati Aditya. namun Aditya hanya acuh Tak acuh dan tak mau mendengarkan nasehat ibunya.
tak lama tim dokter pun datang. mereka langsung bergabung kepada Nisa yang sudah selesai mendiagnosa keadaan Jimmy.
"Bagaimana dokter Nisa..??"tanya salah satu dokter itu. saat Nisa ikut andil memeriksa kedua pasien ini. para perawat dan dokter di sana pun sepakat untuk memanggil Nisa dengan sebutan dokter. karena keahlian Nisa menurut mereka lebih tinggi daripada mereka. Nisa tidak harus menggunakan teleskop untuk memeriksa pasien, Iya cukup memegang denyut nadi mereka saja ia sudah bisa menembak apa yang terjadi dengan mereka.
"pasien sudah melewati masa kritisnya. dan sebentar lagi pasien akan sadar. namun cobalah dokter untuk memeriksanya kembali, aku takut mungkin ada kesalahan dalam mendiagnosa."tutur Nisa dengan lembut dan sopan. dokter itu pun tersenyum.
"tidak perlu dokter, kami percaya dengan kemampuan dokter.."ucap salah satu dokter di sana. Aditya yang mendengar percakapan kecil mereka itu pun tidak terima.
"dokter segera periksa asisten saya. jangan percayakan kesehatan dan diagnosa kepada orang yang tidak dikenal.. atau dokter akan angkat kaki dari rumah sakit ini..!!" ancam Aditya. dokter dan perawat yang mendengar ancaman Aditya pun menjadi takut. sejenak dokter tersebut mengarahkan pandangannya ke arah Nisa dan Nisa langsung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Tuan Aditya, maafkan kami.."para dokter itu pun kembali mendiagnosa Jimmy yang ternyata sudah membuka matanya.
sementara Nisa yang hanya memiliki sedikit stok kesabaran pun mulai jengah dengan tuduhan demi tuduhan yang dilemparkan Aditya kepadanya. tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, Nisa langsung menyambar tasnya dan keluar dari ruangan itu.
mungkin Jika saja Aditya tidak hilang ingatan, Nisa pasti akan membalas ucapan pedas itu berkali-kali lipat. tapi Nisa paham, akhirnya Ia memutuskan untuk pulang saja karena kehadirannya tidak diharapkan.
nyonya Humaira yang melihat Nisa keluar tanpa pamit itu pun mengejar Nisa. Iya tidak ingin nisa menjadi marah dan meninggalkan putranya ini.
" Nisa...!!" panggil nyonya Humaira. Nisa yang sudah agak jauh dari pintu ruangan tersebut pun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya melihat ke arah nyonya Humaira. nyonya Humaira pun menghampiri Nisa dan menenangkan hatinya.
"Kamu mau ke mana nak..?? maafkan Aditya ya.. memang seperti inilah sifatnya. Mama mohon jangan membencinya.." ucap nyonya Humaira memohon kepada Nisa. Nisa pun menarik nafasnya dalam-dalam, Jujur saja hatinya benar-benar sakit dan tak karuan. ia ingin menepis semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. agar hatinya kembali baik, namun Nisa bukanlah orang yang mudah melupakan perlakuan buruk itu.
__ADS_1
"maafkan saya tante. mungkin besok saya tidak akan ke sini lagi, Saya butuh waktu untuk menenangkan diri. Saya juga tidak akan memaksa Aditya untuk meneruskan pertunangan kami. Jujur saja tante, saya benar-benar kecewa. tapi, ketika mengingat Kak Aditya hilang ingatan saya tidak bisa marah. "ucap Nisa dengan bahasa formalnya.
***bersambung***