HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
96. menjalani hubungan walaupun tidak ingat


__ADS_3

sejenak Nisa memandang heran wajah Aditya, sebelum akhirnya ia memulai menceritakan pertemuan mereka. walaupun rasanya malas menceritakan cerita panjang itu, tapi mau bagaimana lagi. Nisa juga berharap dengan menceritakan awal pertemuan mereka, Aditya dapat mengingat Nisa kembali.


Nisa pun memulai ceritanya, Nisa memulai cerita awal pertama kali mereka bertemu di sebuah showroom motor, saat itu Nisa sedang membeli motor bersama dengan kedua orang tuanya. dan saat itu juga mereka belum saling mengenal satu sama lain, Nisa melanjutkan lagi ceritanya setelah 2 tahun kemudian mereka bertemu. saat itu mereka bertemu di kampus setelah mengikuti acara seminar kampus. saat itu Aditya langsung menyapa Nisa dan mengatakan mereka bertemu 2 tahun yang lalu di showroom motor.


semuanya bermula dari sana, Nisa juga menceritakan Bagaimana kedekatan mereka setelah itu. satu persatu Nisa menceritakan kisah mereka tanpa melewatkan satu kisah pun. sampai akhirnya Aditya kecelakaan dan hilang ingatan.


Aditya menyimak dan mengikuti setiap cerita yang nisa jabarkan. satu hal yang ia ingat, yaitu cerita pertama kalinya mereka bertemu di showroom motor waktu itu. di mana Di sana juga Aditya sampai memecat pegawainya yang bernama Sonia akibat kurangnya attitude yang baik kepada para pelanggan. memikirkan hal itu, sejenak Aditya menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan.


walaupun ia masih belum mengingat seperti apa kisah mereka, namun dalam hati ia yakin bahwa Nisa memanglah tunangannya. dari cerita itu saja, Aditya sudah paham.


"kalau begitu maafkan kakak ya Nis, kemarin-kemarin Kakak sudah menghina dan menuduhmu yang tidak tidak. walaupun Kakak masih belum mengingat seperti apa gambaran hubungan kita, Tapi Kakak yakin, kalau kita memang memiliki hubungan." ucap Aditya lagi dengan perasaan bersalah yang tiba-tiba menghinggapi hatinya.


Nisa yang mendengar penuturan Aditya itu sontak terdiam, Nisa terdiam dan mulai berpikir Apakah memang Aditya ini belum mendapatkan gambaran sedikitpun mengenai hubungan mereka. tapi Nisa bukanlah orang yang suka memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. ia akan pelan-pelan membantu ingatan Aditya untuk pulih kembali.


"Iya tidak apa-apa Kak, Kalau Nisa boleh jujur, waktu itu memang Nisa sakit hati karena kakak menuduh Nisa yang tidak tidak. dan yang bikin herannya, kakak kehilangan ingatan tapi juga kakak langsung kehilangan akal sehat. Tapi nggak papa, Nisa tidak menyalahkan kakak, Nisa juga tidak dendam, tapi kalau boleh jujur Nisa masih sangat sakit hati ketika mengingat ucapan itu kembali." tutur Nisa. Nisa memang tidak selalu pandai menyimpan rasa sakit hatinya. ada kalanya ia akan memunculkan rasa sakit hatinya itu ke permukaan dan bahkan kehadapan orangnya langsung.


jika Nisa memang sudah sakit hati, Nisa juga tidak akan berbaik hati untuk memikirkan perasaan orang lain terhadapnya mengenai ucapannya yang akan menyakiti orang itu nanti. Nisa hanya ingin berbagi, Iya juga ingin memberitahu orang tersebut bahwa ia bukanlah perempuan sempurna.


setelah itu Aditya kembali mengubah arah duduknya. awalnya arah duduk mereka yang searah, kini Aditya mengubah arah duduknya menjadi menatap ke arah Nisa. Nisa yang melihat hal itu pun mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ada apa kak Adit..??" tanya Nisa dengan heran. entah ada angin apa, Aditya malah cengengesan.


"hehehe maafkan kakak. Kakak memang belum mengingat semuanya, tapi kamu masih mau memaafkan kakak atas apa yang kakak tuduhkan tempo lalu kan..?? Kakak juga ingin menjalani hubungan kita seperti biasanya. barangkali dari sana, Kakak dapat mengingat ingatan yang sempat Kakak lupakan." ucap Aditya kepada Nisa. Nisa yang mendengar hal itu tidak bisa mengatakan tidak. tentu saja walaupun bisa merasa sakit hati, dan walaupun ia bersikap cuek kepada Aditya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa perasaan cinta untuk Aditya masih ada.


"terserah Kakak saja, jika Kakak mau menjalani hubungan ini lagi bersamaku, ayo kita jalani sama-sama. barangkali kebersamaan kita dapat mengundang ingatan yang telah Kakak lupakan." ucap Nisa lagi. Aditya menarik nafasnya dan tersenyum senang.


Aditya sempat berpikir bahwa Nisa ini orangnya pendendam, dilihat dari raut wajahnya juga sepertinya sangat sulit didekati apabila ia sudah tersakiti. namun semuanya di luar dari perkiraan Aditya. mungkin karena rasa cinta itu yang menyebabkan Nisa mau menerimanya kembali. begitu pikir Aditya.


***


di tempat lain. saat Aska selesai mengutarakan keinginannya terhadap Nisa, di mana ia mengutarakan keinginannya untuk kembali merajut asmara dengan perempuan itu, dan akhirnya berujung mendapat penolakan.


"huh andai saja aku tahu dulu akan seperti ini, Aku tidak akan mau meninggalkanmu sampai kapanpun. Tapi saat ini juga Aku telah berjanji untuk memenangkan hatimu kembali. sebelum janur kuning melengkung, Tidak ada salahnya untuk menikung." ucap Aska kepada dirinya sendiri.


"Tapi kenapa dulu aku begitu bodoh meninggalkannya tanpa kabar. seharusnya aku bisa mengatakan kepadanya untuk kembali dulu ke tanah airku. hais... kebodohanku ini membuatku rugi sendiri. bener-bener sial" rutuknya lagi.


saat Aska sedang meratapi nasibnya di atas kasur, sambil menatap langit-langit kamarnya. tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


tok tok tok suara gitu kan di pintu.

__ADS_1


"Kak Aska..!!" ternyata Vivi yang mengetuk pintunya. Aska beranjak dari tidurnya dan membukakan pintu untuk adiknya itu.


ceklek


"Ada apa Vi, apa kamu membutuhkan sesuatu..??" tanya Aska dengan penuh kasih sayang dan kelembutan kepada adiknya itu. Vivi pun tidak menjawab malahan menyelonong masuk ke dalam kamar Aska. Vivi kemudian mengambil tempat duduk di atas tempat tidur Aska. Aska pun tidak bisa berkata-kata selain mengikuti sang adik masuk ke dalam kamar.


"Kakak masih memiliki perasaan terhadap Nisa ya..??" tanya Vivi dengan tiba-tiba. Aska yang mendengar pertanyaan Vivi itu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"memangnya kenapa kalau kakak bener masih menyukainya..?? Apakah kamu akan marah..??" tanya Aska kepada adiknya. Vivi menggelengkan kepalanya. jelas saja Vivi tidak akan marah apabila kakaknya berhubungan kembali dengan Nisa. tapi yang jadi permasalahan, Apakah Nisa masih mau menerima kakaknya.


"jelas saja Vivi tidak akan marah kak, lagi pula Nisa adalah gadis yang baik. hanya saja yang menjadi pertanyaan Vivi, Apakah Nisa masih mau kembali sama kakak setelah Kakak meninggalkannya pergi tanpa memberikan kabar sedikitpun.??" tanya Vivi kepada kakaknya. mendengar penuturan sang adik Aska tak bisa untuk tidak menarik nafasnya dengan gusar.


"itulah yang menjadi kebodohan Kakak di masa lalu. kenapa dulu Kakak pergi tanpa memberikan kabar sedikitpun kepadanya. kalau ditanya Apakah Nisa masih mau kembali kepada kakak?? tentu saja jawabannya tidak. hanya saja kakak tidak mau menyerah lebih dulu, kakak harus berjuang untuk mendapatkan kepercayaannya kembali." ucap Aska kepada Vivi. Vivi yang mendengarkan penuturan sang kakak pun hanya mampu mengganggu-anggukkan kepalanya.


"Kakak benar, alangkah baiknya berjuang terlebih dahulu sebelum menyerah. setidaknya Kakak sudah membuktikan bahwa Kakak masih mencintai Nisa. Tapi satu hal yang harus Vivi tegaskan. Kalau Nisa tidak mau menerima Kakak kembali, jangan mengambil jalan pintas. ingat ya !! Kakak punya adik perempuan." ucap Vivi mengingatkan kakaknya.


jalan pintas yang dimaksud Vivi adalah, jangan sampai merusak Nisa apabila perempuan itu tidak menerima dirinya kembali. jangan sampai juga Aska memaksakan kehendaknya terhadap Nisa.


"Iya kamu tenang aja dek, walaupun Kakak sangat mencintai Nisa, Kakak juga bukan orang bodoh yang harus memaksakan kehendak kakak." tutur Aska kepada Vivi sambil mengusap-usap dan mengacak-acak rambut adiknya.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2