
"Kapan kami bisa ke rumah. kami hanya perlu mendapat persetujuan darimu karena kami sudah lebih dari siap." ucap Aditya lagi.
Nisa kembali berpikir sejenak. iya harus memikirkan masalah keluarganya terlebih dahulu. apalagi ia harus mengurus kepulangan sang ayah dari negaranya terdahulu.
"Kak, Tante, Om. Untuk masalah ini biarkan Nisa bicarakan dulu kepada kedua orang tua Nisa. soalnya Nisa juga masih memiliki beberapa urusan yang harus segera Nisa selesaikan, setelah itu baru Nisa putuskan kapan kak Satya om dan tante bisa datang ke rumah. nanti Nisa ceritakan alasannya kepada Kak Aditya saja."ucap Nisa lagi memberikan pengertian sambil beralih menatap ke arah Aditya.
mereka mendengar penuturan itu pun mengangguk dan cukup mengerti saja, tentu untuk semua kegiatan membutuhkan proses dan persetujuan terlebih dahulu. untuk itu kedua orang tua Aditya juga tidak mau terburu-buru agar tidak terkesan memaksa hehehe.
"Baiklah kalau begitu. papa dan Mama ikut kalian saja asalkan jangan berlama-lama karena papa dan mama sudah tidak sabar ingin menggendong cucu dari kalian."ucap pak Anwar kepada mereka yang sukses membuat Nisa menjadi malu. melihat Nisa memerah malu Aditya langsung menegur ayahnya.
"papa jangan begitu, papa membuat calon istriku malu."ucap Aditya dan lagi-lagi Nisa bertambah malu.
melihat hal itu pun mereka semua tertawa bahagia, setelah itu acara makan-makan pun berlangsung walaupun Aditya dan Nisa sudah makan terlebih dahulu, karena mereka telah makan mereka lebih menghabiskan waktu berbincang-bincang berdua dan melupakan orang tua dan saudara-saudaranya yang ada di tempat itu, sementara keluarga yang hadir di situ pun sibuk memakan makanannya dan tenggelam dalam urusannya masing-masing.
sebelum waktu menunjukkan jam 10.00 malam.
Aditya dan keluarganya pun langsung membubarkan diri. sebelum Aditya pulang ke rumah terlebih dahulu ia mengantarkan Nisa pulang ke kosannya. tak berselang lama mereka pun sudah sampai di depan kosan Lisa. setelah Nisa pamit Aditya pun langsung meninggalkan tempat itu.
***
saat Nisa tiba di kosan waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. karena belum merasa mengantuk ia kembali bermain dengan benda pipih pemilik sejuta umat.
Ia membuka beberapa aplikasi penjualan mulai dari penjualan rumah baju kosmetik dan lain sebagainya. Nisa kembali membuka situs penjualan online mengenai rumah yang ada di kota x. dengan teliti Nisa mulai mencari-cari rumah yang cocok untuk ia beli.
tak lama ia menemukan sebuah rumah yang dijual dengan seharga 150 m. Nisa mulai menelisik bagian-bagian rumah itu Karena di sana sudah disisa disisipkan beberapa gambar tentang kondisi rumah.
di situ tidak hanya rumahnya saja yang dijual namun paket lengkap tanah dan rumahnya itulah yang membuat Nisa menjadi tertarik untuk membelinya.
setelah Nisa merasa cukup nyaman dengan rumah itu. ia langsung menghubungi admin nya dan mengurus perihal tentang rumah tersebut.
***
__ADS_1
di tempat lain. kelompok black Joker dan Albert Bramasta. sedang bersiap-siap untuk pergi ke Indonesia. dimana mereka akan bertemu dengan perempuan yang saat ini menjadi penyemangat mereka siapa lagi kalau bukan Nisa.
saat ini, mereka sudah menuju bandara. dengan penuh susah payah, akhirnya mereka dapat menghindar dari orang orang suruhan tuan volcan. saat ini, mereka sudah melakukan penerbangan.
"syukurlah. untung kita dapat menghindar dari mereka." ucap Lion dalam pesawat sambil memejamkan matanya di sandaran kursi pesawat. sama dengan yang lain, mereka juga merasa lega, karena berhasil keluar dari negara itu.
dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan akhirnya mereka menginjakkan kaki di Indonesia, tepatnya di kota x.
setelah mereka sampai. mereka langsung menghubungi Nisa memberitahu kepada mereka kalau sudah berada di kota x. ternyata setelah mereka sudah di luar, Mereka melihat Nisa bersama dengan seorang laki-laki datang menjemput mereka di bandara.
Nisa yang melihat tujuh orang keluar dengan salah seorang paruh baya di antara mereka langsung melambaikan tangannya kepada mereka. dan Untung saja mereka mengerti arti lambaian itu mereka segera mendekat ke arah Nisa. saat mereka sudah mendekat Nisa langsung berhamburan memeluk ayahnya.
"Ayah.. aku sangat merindukanmu."ucap Nissa sambil memeluk erat sang ayah. Begitu juga dengan Tuan Albert Bramasta ia memeluk Nisa tak kalah erat.
"Ayah juga sangat merindukanmu. Ayah juga tidak menyangka bahwa akhirnya Ayah bertemu denganmu walaupun dengan raga yang berbeda."ucapnya lagi sambil dipenuhi rasa haru dan air mata.
setelah Nisa memeluk Tuan Albert ia beralih memeluk keenam pemuda yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Namun ternyata yang lain tidak mau ketinggalan. mereka langsung menimpali dan sama-sama memeluk satu sama lain. mereka juga mengatakan bahwa mereka sangat merindukannya. saat itu terjadilah suasana harus mengharukan.
sementara laki-laki itu menatap keenam pemuda itu dengan tatapan iri dan cemburu. Siapa lagi kalau bukan Aditya. melihat suasana seperti yang tidak akan ada ujungnya Aditya pun langsung inisiatif membuka suaranya.
"hm.. Nisa sebaiknya kita segera pergi, aku yakin ayah dan ke-6 saudaramu ini pasti sudah kelaparan dan merasa lelah."ucap Aditya dengan wajah cemburu yang tidak bisa disembunyikan.
Nisa pun melepaskan pelukannya dan kembali mengarahkan pandangannya kepada sosok Aditya yang berdiri di samping ayahnya. mendengar teguran Aditya kepadanya dengan disertai raut wajah cemburu serta kesal, Nisa mengukir senyum di bibirnya kemudian berjalan ke arahnya.
"ayah, Kak max, Lion Kak Austin Kak Jack Kak Arthur dan Kak kardo. perkenalkan ini adalah Kak Aditya tunanganku. "ucap bisa memperkenalkan Aditya kepada keluarganya sebagai tunangannya.
"dan Kak Aditya perkenalkan mereka adalah keluargaku dan juga keluargaku yang berada di desa jati."ucap Nisa memperkenalkan keluarganya.
Mereka pun saling salaman dan memperkenalkan diri masing-masing. Setelah itu mereka langsung meninggalkan bandara dan pergi mencari rumah makan untuk mengisi perut mereka sebelum akhirnya kembali ke rumah yang sudah Nisa beli terlebih dahulu.
__ADS_1
"sebaiknya kita pergi cari rumah makan dan makan terlebih dahulu"usul Aditya kepada mereka semua. Mereka pun setuju dan meninggalkan tempat itu. tak lama mereka pun sampai di sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas Padang.
Aditya pun memesan beberapa menu makanan untuk dihidangkan. tak lama makanan yang mereka pesan pun datang dan tertata rapi di meja makan mereka. Setelah itu mereka semua makan dengan diam sambil menikmati hidangan itu. rasanya hidangan itu baru di mulut mereka dan rasanya sangat membuat ketagihan.
"wah..!! makanan ini sangat enak. Aku tidak pernah mau makan ini sebelumnya..!!"ucap Lion yang masih bertingkah seperti anak kecil. namun, jika ia sudah dalam mode serius dan menjalankan misi dia akan lebih menjadi orang dewasa dan bahkan lebih dari orang-orang dewasa itu.
"kamu bener nak, Ayah pun sangat menyukai hidangan ini dan baru pertama kalinya Ayah merasakan makanan yang begitu menggugah selera."ucap Tuan Albert.
"nanti boleh kita bungkus ya dek makanannya."usul max kepada Nisa. Nisa pun menanggapinya dengan senyuman.
"pasti Kak, kita akan membungkus dan membawa pulang untuk makan siang kita nanti."ucap desa kepada mereka semua.
Mereka pun kembali melanjutkan makan sambil berbincang-bincang ringan, tak lama mereka pun selesai makan dan langsung pergi menuju perumahan yang sudah Nisa sediakan. karena Aditya belum mengetahui Nisa telah membeli rumah baru Aditya pun bertanya mengenai arah dan tujuan mereka.
"sayang kita akan kemana. kenapa Kakak tidak tahu dengan jalan ini."ucap Aditya. bukan ia tidak tahu karena memang Aditya membangun beberapa rumah untuk dijual di daerah itu.
"jalan aja dulu Kak nanti kakak tahu sendiri."ucap Nisa lagi.
Aditya pun hanya mengikut dan kembali melajukan mobilnya menyusuri jalan asing tersebut. tak lama mereka pun sampai di salah satu perumahan elit yang memang tanah dan rumahnya itu sudah terjual. Aditya sedikit terkejut melihat mereka berhenti di tempat itu.
"Kenapa kita berhenti di sini.?'tanya Aditya kepada Nisa. sementara yang lain pun menjadi bingung. melihat wajah bingung di antara mereka semua akhirnya Nisa kembali membuka suaranya.
"Nisa seminggu yang lalu membeli rumah dan tanah itu seharga 150 miliar."ucap Nisa tanpa beban. mereka semua pun terkejut tak terkecuali dengan Aditya. karena ia sama sekali tidak tahu Nisa membeli rumah di tempat showroom penjualan rumah miliknya.
"jadi kamu yang sudah membeli rumah ini? lalu kenapa tidak bilang kepadaku terlebih dahulu."ucap Aditya dengan terkejut.
"loh memangnya kenapa Kak. kan Nisa menyiapkan rumah ini untuk keluarga Nisa yang datang dari luar negeri."ucap Nisa lagi.
"aduh bukan itu maksud kakak Nisa. tapi rumah yang kamu beli ini kamu membelinya di tempat showroom penjualan rumah milik kakak. kalau seandainya kakak tahu kamu membeli rumah untuk keluarga kakak pasti akan memberikannya kepadamu secara cuma-cuma."ucap Aditya mengutarakan niatnya. Nisa pun mengerutkan keningnya.
"Oh jadi showroom ini milik kakak ya. iya juga ya Kalau seandainya Nisa tahu showroom penjualan rumah itu punya kakak aku pasti hanya tinggal meminta saja hehehe."canda Nisa kepada Aditya. mereka semua pun ikut terkekeh mendengar candaannya.
__ADS_1
***bersambung***