
assalamualaikum para pembacanya author, author mengucapkan terima kasih karena sudah setia menunggu cerita dari author. hehehe 😁😁
author kembali update, jangan lupa komen kalau ada kesalahan dalam penulisan. 🙏
selamat membaca ❤️❤️📷📷
***
kini, mereka telah sampai di kediaman tuan Albert tepat pada pukul satu dini hari. Nisa pun langsung membunyikan bel rumah.
teng tong, teng tong, teng tong.. bunyi suara bel itu.
max, Leon dan cardo yang masih terjaga pun mengerutkan keningnya. siapa yang datang malam-malam seperti ini, pikir mereka. mereka bingung, karena Nisa juga tidak memberikan kabar kalau ia akan ke sana. sementara kakaknya Austin, Arthur dan Jack berada di rumah kedua orang tua kandung Nisa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah tuan Albert.
"Siapa yang bertamu malam-malam..??" tanya max kepada kedua saudaranya. Leon dan cardo pun menggelengkan kepala.
ting tong ting tong ting tong suara bel lagi-lagi dipencet dari luar.
akhirnya, ketiga bersaudara itu pun bangkit dari duduk mereka dan sama-sama keluar melihat Siapa yang datang bertamu malam-malam begini.
cek lek
tampaklah ketiga bersaudara itu memasang wajah sangar. Nisa melihat ketiga kakaknya keluar pun langsung tersenyum.
"assalamualaikum kakak-kakak Nisa yang ganteng.."ucap Nisa kepada ketiga kakaknya. ketiganya pun terkejut melihat Nisa bersama dengan Aditya dan Jimmy.
__ADS_1
"dek, Kenapa pulang malam-malam. kamu tahu perempuan itu tidak boleh pulang malam-malam, apalagi pergi sama laki-laki. terus nggak ngasih kabar juga kalau mau ke sini." omel Leon. sebenarnya ia terkejut melihat kedatangan Aditya dan Jimmy. Leon juga masih terngiang-ngiang dengan cerita max yang menuduh adiknya macam-macam. bisa dikatakan Leon masih merasa sakit hati terhadap Aditya. tapi mau bagaimana lagi, ia harus menyembunyikan rasa sakit hatinya itu.
"ayo masuk, ngapain Masih berdiri di luar. udara di sini dingin dan tidak baik bagi kesehatan. lain kali jangan pulang malam-malam." ucap cardo menarik tangan Nisa masuk ke dalam rumah. Aditya yang melihat laki-laki lain memegang tangan Nisa, seolah sikap posesifnya timbul lagi.
( ck ngapain pegang-pegang tangan segala..) batin Aditya sambil memasang ekspresi yang sulit diartikan. Jimmy yang menyadari tatapan bosnya itu pun membisikkan sesuatu.
"jangan cemburu bos, mereka adalah para pawang Nisa. apalagi para tuan muda ini sudah mendengar bos menghina adik mereka, tentu saja mereka akan sangat ekstra menjaganya. jadi jangan utamakan rasa cemburu tapi bos harus bisa meluluhkan hati mereka juga." bisik Jimmy di telinga Aditya.
gluk
Aditya yang mendengarkan aturan asistennya itu sedikit grogi, ia bersusah payah menelan ludahnya yang tercekal di tenggorokan. apalagi melihat tatapan Leon yang seperti sangat menusuk dan tidak menginginkan kehadirannya.
"maafkan para tuan muda, kami tadi hanya mengantarkan Nona Nisa pulang. nona nisa tidak kemana-mana, tadi siang bersama dengan kami di rumah Nyonya Humaira." jelas asisten Jimmy kepada ketiga pawang Nisa.
"Oh ya sudah kalau begitu. terima kasih kalian sudah mengantarkan adik kami pulang, sebaiknya para tuan-tuan silakan kembali." ucap max kepada Jimmy.
"Maaf para tuan muda, kami akan segera pulang." ucap asisten Jimmy lagi. asisten gini langsung menyeret bosnya kembali ke mobil setelah berpamitan kepada Nisa dan ketiga kakaknya. sesampainya mereka di dalam mobil, Aditya malah memprotes kepada Jimmy.
"kamu apa-apaan sih Jim, padahal aku masih ingin masuk dan mengobrol dengan mereka." ucap Aditya kepada Jimmy. Jimmy menarik nafasnya dengan pelan, iya harus extra sabar menghadapi mood bosnya yang tiba-tiba berubah-ubah.
"bos, bukannya tidak boleh bertamu. memangnya bos tidak memperhatikan raut wajah saudara-saudara dari nona Nisa, tatapan mata mereka seolah-olah ingin menguliti kita. lagi pula ini kan sudah malam, dan sudah Tidak sepantasnya lagi untuk bertamu. sudahlah bos, nanti saja bertamunya. sebaiknya kita pulang terlebih dahulu sebelum Nyonya Humaira marah-marah kepada kita." tutur Jimmy lagi.
"huf... Ya sudahlah, ayo jalan." ucap Aditya dengan pasrah. akhirnya Aditya hanya bisa pasrah.
***
__ADS_1
di dalam rumah tuan Albert. semuanya pada duduk dan melakukan sidang terhadap Nisa adik mereka. ketiga Kakak Nisa pun melipat tangan mereka di atas dada sambil menatap intens objek yang menjadi tujuan mereka.
"Dari mana saja..?? Kenapa kamu pulang sangat malam sekali..?? tidak tahukah kalian bahwa saat ini sedang marak-maraknya di beritakan tentang pembegalan." tanya max selaku kakak tertua.
"hehehe Kan Nisa sudah cerita tadi Kak, Kalau Nisa baru pulang dari rumah tante Humaira. dan mengenai pembegalan, Nisa tidak tahu kalau ternyata sedang marak-maraknya mengenai berita ini. pantas saja, di jalan kami dicekal oleh 9 orang yang membawa pentungan dan beberapa benda tajam. tapi mereka bukan apa-apa di depan Nisa, Iya Nisa patahkan saja tulang-tulang mereka." ucap Nisa dengan santai. mendengar penuturan Nisa yang sangat santai itu membuat ketiga kakaknya langsung melotot tidak percaya. ternyata kemampuan bela dirinya tidak hilang sama sekali.
"terus kamu tidak apa-apa kan..??" tanya kardo tiba-tiba. kardo langsung berdiri dan memeriksa tubuh adiknya itu. Nisa pun memutar bola matanya malas, walaupun ia tidak menyukai sifat kakak-kakaknya yang terlalu mengkhawatirkannya itu, namun Ia sangat senang karena mendapatkan keluarga yang sangat memperhatikannya dan juga sangat menyayanginya.
"aduh Kakak tampanku, Nisa tidak apa-apa sama sekali. memangnya siapa yang berani menyakiti Nisa, kak Jimmy dan Kak Aditya saja ketakutan melihatku." ucap Nisa dengan sombong.
"aduh !!kumat lagi nih narsisnya.." ucap Leon sambil menepuk pelan jidatnya. Nisa pun hanya mampu tersenyum seperti nyengir kuda mendengar penuturan saudaranya Leon.
"Ya sudah sana istirahat. ini sudah malam, ingat ini yang terakhir kalinya Kamu berjalan malam tanpa perlindungan dari kami." tutur kardo menasehati adiknya itu.
"Iya Kak, Kenapa kak kardo tiba-tiba menjadi cerewet melebihi Kak Leon dan Kak Austin." ucap Nisa dengan malas. Leon yang mendengar namanya di singgung pun langsung membulatkan matanya.
"enak saja bilang kakak cerewet, lagi pula Kakak cerewetkan demi kebaikan kamu juga." protes Leon tidak terima. Nisa pun kembali terkekeh lagi.
"iya iya kak, Nisa minta maaf. kalau begitu Nisa masuk dulu ya, Kakak bertiga juga jangan lupa beristirahat. pekerjaannya besok saja dilanjutkan." ucap Nisa. Nisa tahu bahwa ketiga kakaknya ini sedang merencanakan untuk membuka proyek baru, beberapa proyek juga sudah berhasil mereka jalankan di kota ini. Nisa pun langsung berdiri dari duduknya dan langsung beralih masuk ke dalam kamarnya.
Begitu juga dengan ketiga saudaranya itu, setelah Nisa sudah tidak terlihat lagi, mereka semua langsung kembali ke kamar mereka. sementara Tuan Albert sudah lebih dulu mengistirahatkan tubuhnya.
sesampainya Nisa di dalam kamar, karena ia belum membersihkan dirinya. ia memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu agar tidurnya menjadi nyenyak.
"sebaiknya aku mandi dulu sebelum tidur. dari tadi siang aku belum mandi. badanku sudah bau acem..." ucap Nissa sambil menghirup aroma tubuhnya sendiri.
__ADS_1
setelah itu Nisa langsung beralih masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. karena sudah sangat malam, Nisa tidak berlama-lama berada di kamar mandi. setelah selesai Nisa langsung bersiap-siap untuk tidur.
***bersambung***