HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
103. bertemu rival


__ADS_3

seminggu telah berlalu, Aditya juga masih berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Nisa dan keluarganya.


hari ini adalah hari keberangkatan Tuan Albert ke kampung jati. ia akan pindah dan menetap di sana. ia ingin menghabiskan masa tuanya dengan menikmati udara yang sejuk segar di daerah pedesaan yang tidak ramai dengan hiruk pikuk kendaraan atau suara-suara yang lain.


biasanya desa merupakan tempat ternyaman bagi setiap orang, apalagi desanya masih dijaga dengan hukum adat istiadat dan menjaga serta memberdayakan sumber daya alam.


ketujuh bersaudara itu juga tidak mungkin membiarkan Tuan Alexander pergi bersama adiknya saja. mereka memutuskan akan mengantar sang ayah angkat sampai ke tempat tujuannya. tanpa keluarga kecil itu sedang bersiap-siap dan memasukkan barang-barang yang diperlukan Tuan Alexander ke dalam mobil.


keluarga itu merental satu buah mobil pick up, sementara dua buah mobil Avanza adalah milik mereka yang sudah mereka beli beberapa hari yang lalu.


"Apakah semuanya sudah dimasukkan ke dalam mobil.?" tanya max kepada adik-adiknya.


"sudah semuanya Kak.." ucap Austin kepada max.


"kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita berangkat. takutnya nanti kemalaman." ucap max kepada saudara-saudaranya. Mereka pun langsung menaiki mobil masing-masing. di mana Nisa dan Tuan Alexander semobil dengan kakaknya max dan Leon. Setelah semuanya telah memasuki mobil masing-masing, Mereka pun langsung melajukan mobilnya menuju desa jati. mereka akan melewati perjalanan selama kurang lebih 6 jam karena menggunakan kendaraan pribadi.


***


di tempat lain, seminggu setelah pertemuan Dedi dengan Nisa. Dedi terus saja kepikiran mengenai hal yang terjadi di depan matanya waktu itu. Iya menyaksikan, begitu banyak laki-laki yang berada di sekitar Nisa. ia tidak habis pikir, ternyata perempuan yang mengejar mengejarnya dulu semasa SMA, ternyata sangat populer di kalangan laki-laki. dan kalau dilihat dari tampang dan segi pendapatan, sepertinya mereka-mereka itu adalah laki-laki yang mapan.


memikirkan hal itu, sukses membuat Dedi menarik nafasnya dalam-dalam. tentu saja ada rasa sesal di hatinya yang tiba-tiba datang begitu saja. saat ini ia tengah berbaring di atas kasurnya, matanya memandang langit-langit kamar sambil pikirannya terus melayang kemana-mana.


"huh !! kenapa rasanya untuk mendapatkan cinta Nisa sudah sangat mustahil. kalau dilihat secara fisik, mereka lebih tampan dan gagah dariku. kalau dilihat secara materi, sepertinya mereka lebih dariku. Kalau saja dulu aku tidak mengacuhkannya mungkin kini ia masih menjadi milikku. ah memang ya penyesalan selalu datang di belakang. Kenapa penyesalan itu tidak mau datang di awal, giliran dia sudah ada yang punya baru menyesal. dasar bodoh.." gumam Dedi merutuki kebodohannya sendiri. Dedi pun membangunkan tubuhnya secara kasar.


"arrggg...." teriaknya sambil meremas kuat rambutnya itu.


"bodoh !! bodoh !! bodoh !!" rutuknya pada dirinya sendiri.


untuk menghilangkan pikirannya yang tertuju kepada Nisa, Dedi pun memutuskan untuk pergi berolahraga agar pikirannya sedikit teralihkan.

__ADS_1


"sebaiknya aku nge-gym dulu, aku harus membentuk otot-otot perutku agar nisa tertarik padaku, hehe..." ucapnya kepada dirinya sendiri disertai dengan senyum semrik di bibirnya. setelah itu Dedi pun mulai bersiap-siap dan berangkat.


sesampainya Dedi tempatnya nge-gym, Dedi pun langsung bersiap-siap untuk memulai olahraganya. Dedi pun mulai mengangkat beban bawah ke atas atas ke bawah. cukup lama Dedi melakukan olahraga di tempat itu. Iya berniat agar pikirannya sedikit teralihkan. setelah Dedi merasa cukup, Ia pun menghentikan aktivitasnya sejenak.


saat ia menghentikan aktivitasnya, ia mengambil botol air minum yang sudah ia bawa dari kontrakannya. saat ia akan minum, tiba-tiba matanya menangkap sosok laki-laki yang sangat ia kenali. ternyata laki-laki itu juga menangkap sosoknya. terjadilah aduh pandang diantara mereka. ternyata jarak mereka tidak terlalu jauh. Aska yang melihat Dedi di sana pun langsung menghampirinya.


"hai ded. kamu di sini juga, Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini..??" tanya Aska kepada Dedi sambil mengulurkan tangannya menyalami si mantan ketos itu. Dedi pun langsung menerima uluran tangan dari Aska, walaupun rasanya ia tidak rela.


"hai juga, tentu saja aku di sini, bukankah siapapun boleh berada di tempat ini. kalau bertanya soal kabar, seperti yang kamu lihat, aku sehat dan baik-baik saja." ucap Dedi dengan nada suara yang sedikit tidak bersahabat. namun Aska tidak peduli sama sekali. walaupun mereka tidak merasa akrab, mereka tetap duduk berdampingan.


"Oh iya, Aku dengar kamu kembali ke tanah airmu semenjak selesai acara kelulusan, tapi kenapa aku mendapatimu masih berada di kota x..?" tanya Dedi kepada Aska. Aska pun tersenyum mendapati pertanyaan ketus itu.


"memangnya kenapa ded, kamu nggak suka aku berada di sini..?? lagi pula kan memang tidak ada yang melarang ke manapun kita pergi." ucap Aska kepada Dedi. Dedi menatap jengah orang yang tengah menjadi rivalnya dalam memperebutkan cinta seorang gadis.


"jangan bilang kamu ke sini karena ingin bertemu dengan Nisa..?? kalau memang iya, simpan saja bualan mu itu. karena saat ini Nisa sudah tidak mudah didekati." ucap Dedi lagi tanpa menatap Aska. Dedi yang menebak kehadiran Aska dan alasan, mengapa dia berada di kota x ini langsung membuat Aska tersenyum.


"tentu saja aku memperhatikannya, bahkan aku sangat ingin mendapatkannya kembali." ucap Dedi. pengakuan Dedi sontak saja membuat Aska tidak merasa nyaman, ternyata saingannya memang sangat banyak.


"Kalau begitu mari bersaing secara sehat." tutur Aska lagi.


"oke siapa takut..!!" balas Dedi. mereka berdua saling melemparkan tatapan tajam. setelah percakapan singkat mereka itu, mereka berdua pun kembali berolahraga.


***


hari ini dedy tengah mengajar di sekolah swasta di kota x. terlihat pak guru muda ini sangat serius menerangkan pelajaran kepada anak-anak didiknya.


"baiklah, Apakah sampai di sini ada yang ingin bertanya..??" tanya Dedi kepada murid didiknya itu, sambil matanya terus mengedarkan melihat satu persatu dari mereka.


"tidak Pak..!!" jawab mereka serentak.

__ADS_1


"kalau begitu pertemuan hari ini kita cukupkan sampai di sini. kita akan sambung minggu depan lagi." ucap Dedi kepada semua murid-muridnya. setelah itu Dedi mana Masih semua buku bawaannya dan keluar dari ruangan kelas.


setelah Dedi keluar dari ruangan bertepatan dengan berbunyinya bel tanda istirahat, Dedi pun melangkahkan kakinya menuju kantor guru. di sana terlihat banyak guru-guru yang baru selesai mengajar berkumpul di kantor tersebut. tampak sahabatnya Ryan juga menyusul masuk ke dalam kantor.


"Hay dad, di mana ngajarnya lancar..??"tanya Rian kepada Dedi sambil meletakkan tasnya di mejanya.


"lancar-lancar saja.. Bagaimana denganmu..?" tanya Dedi balik kepada sahabatnya Rian.


"sama, aku juga lancar-lancar saja." ucapkan lagi. Mereka pun terlibat obrolan obrolan ringan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke kantin mengisi perut mereka yang sudah mendemo minta diisi. sesampainya mereka di kantin, mereka langsung memesan makanan. saat mereka sedang makan, tiba-tiba Rian angkat bicara.


"ded.. semenjak kita berteman, aku belum pernah sekali melihat kamu menggandeng seorang cewek. kamu masih luruskan..??" tanya Rian kepada Dedi sambil memicingkan matanya. mendengar pertanyaan yang seperti itu membuat Dedi yang sedang lahap memakan makanannya itu jadi terbatuk-batuk.


"huk..huk..huk.." batuknya. Dedi pun langsung mengambil segelas air dan meneguk air itu sampai habis. setelah itu ia mengarahkan pandangannya kepada sahabatnya Ryan.


"maksud kamu apa nanya seperti itu..??" tanya Dedi sambil menatap tajam sahabatnya itu. Rian pun jadi salah tingkah dan tersenyum cengengesan.


"hehehe,, maaf maaf. Aku Hanya penasaran saja melihatmu tidak pernah menggandeng seorang cewek pun. padahal di belakang banyak loh yang ngantri.." ucap Ryan kepada Dedi. Dedi menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"ngantri-ngantri, ngantri apaan emangnya mau beli sembako.." gerutu Dedi dengan muka kesalnya. Ryan yang melihat muka kesal Dedi pun tersenyum ceKiki kan.


"Iya gimana, banyak loh cewek-cewek teman-teman kita yang nanyain kamu sama aku, sampai-sampai aku kewalahan menangani perempuan-perempuan itu. kalau seandainya kamu memiliki gandengan, kan nggak mungkin cewek-cewek di sana pada antri." ucap Ryan lagi sambil fokus ke makanannya.


"Ya mau gimana lagi, Aku sedang menunggu seseorang. jadi belum bisa buka hati untuk yang lain." ucapnya. Ryan yang mendengarkan penuturan seperti itu menjadi lebih kepo.


"siapa...??" tanya Rian sambil membelalakkan matanya kepada Dedi. ia menunggu jawaban dari sang sahabat.


"kamu nggak perlu tahu siapa.., yang penting jangan katakan hal seperti itu lagi. ngantri-ngantri emangnya aku apaan.." ucap Dedi sambil menggerutu. setelah mereka selesai makan dan membayar makanan, Mereka pun langsung meninggalkan tempat itu.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2