HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
77. mengejar orang yang tidak dikenal


__ADS_3

Leon dan Austin pun segera mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu. terlihat kepala seseorang menongolkan kepalanya dari balik pintu. Iya memakai topi dan masker serta pakaian serba hitam. melihat Leon dan Austin yang masih terjaga, orang tersebut pun langsung gelagapan dan meninggalkan ruangan itu. melihat respon yang seperti itu tentu saja Leon dan Austin tidak mau tinggal diam. mereka segera menyenggol max yang membuat max itu terbangun dan membuka matanya.


sementara Leon sudah berlari terlebih dahulu mengejar orang tersebut, setelah itu disusul dengan Austin. Austin tidak mungkin membiarkan saudaranya mengejar orang itu sendirian. max yang tersintak dari tidurnya itu, menatap heran kepada Leon dan Austin yang keluar dari ruangan seperti tergesa-gesa. max belum menyadari keadaan genting itu, Iya sedang berusaha mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.


***


terlihat di lorong rumah sakit, Leon dan Austin sedang berusaha mengejar orang tersebut. mata mereka yang dahulunya mengantuk kini kembali melek. sayangnya orang yang mereka kejar itu menghilang dari kejaran mereka.


"sialan !! Siapa orang itu..."ucap Austin dengan nafas yang masih ngos-ngosan akibat berlari terlalu panjang. Austin dan Lion kembali menata nafas mereka yang masih berpacu.


"sudahlah Kak, sebaiknya kita kembali dulu."ucap Leon kepada Austin. Austin pun setuju, mereka berdua segera menghentikan pengejaran dan kembali ke kamar di mana Aditya dan Jimmy dirawat. sesampainya mereka di dalam ruangan itu, terlihat max sudah bangun dan segar. Iya sudah mencuci wajahnya agar kesadarannya kembali sepenuhnya. melihat kedua saudaranya itu kembali max pun bertanya.


"ada apa ? apa yang terjadi..?"tanya max dengan raut wajah penasaran. Tuan Anwar dan Arthur yang mendengar suara pelan itu mereka pun langsung terbangun.


"tidak tahu Bang, tapi tadi ada seorang laki-laki yang masuk ke ruangan ini. namun ketika ia melihat kami, ia langsung melarikan diri. karena itu kami mengejarnya tadi, Tapi sayangnya kami malah kehilangan jejaknya."jelas Austin kepada max. sementara Leon mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan menyandarkan kepalanya.


mendengar penuturan tersebut Tuan Anwar benar-benar tercengang. ternyata benar, bahwa nyawa anaknya sedang diincar. tapi yang menjadi pertanyaannya, Siapa yang sedang berusaha mengincar nyawa anaknya ini..? memikirkan hal itu Tuan Anwar benar-benar marah dalam hatinya.


( sialan Siapa yang sedang bermain-main denganku.) batin Tuan Anwar dengan geramnya. Tuan Anwar pun segera bangkit dan bergabung duduk bersama Leon yang masih menyandarkan kepalanya sambil menutup mata. Tuan Anwar memasang wajah marah cemas dan khawatir. Austin yang melihat perubahan Tuan Anwar itu segera berucap.

__ADS_1


"om tenang saja, Jika ada yang berani macam-macam, kami juga tidak akan tinggal diam. tapi om, Apakah Om tahu siapa orang yang merencanakan kejahatan untuk Aditya.?"tanya Austin lagi. sementara yang lain pun hanya diam dan menyimak Begitu juga dengan Leon yang sudah membuka matanya. Tuan Anwar pun bernafas kayu dan lesu.


"Om tidak tahu siapa yang sedang bermain-main dengan nyawa Aditya. se tau om, orang-orang yang berada di sekitar Satya semuanya berperilaku baik dan tidak ada yang mencurigakan."ungkap Tuan Anwar lagi. mendengar penuturan Tuan Anwar seperti itu, max langsung menggelengkan kepalanya.


tiba-tiba, max langsung teringat dengan kisah Renata yang sangat menyayangi keluarga pamannya itu. ditambah lagi, sang paman dan keluarganya sangat baik terhadap mereka. ternyata ujung-ujungnya, semua itu adalah rencana mereka agar mendapatkan harta dan perusahaan milik keluarga Bramasta.


"Om jangan berpikir seperti itu. walaupun semuanya terlihat baik-baik, tapi om tidak boleh menurunkan kewaspadaan. mengenai masalah ini, kami juga sudah berpengalaman. kadangkala orang yang berbuat baik itu adalah orang yang berusaha menutup perbuatan jahatnya demi mencapai tujuannya. jadi menurut saya Om, jangan terlalu mempercayai orang-orang sekitar kecuali tante Humaira. karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi.."jelas max.


mereka yang mendengar penuturan max itu pun menganggukkan kepalanya setuju. tentu saja mereka setuju, karena mereka sudah mengetahui kisah Renata dahulu. di mana keluarga tuan volkan yang sangat menyayangi Renata itu ternyata memiliki niat terselubung.


"Iya Om, Saya juga setuju. Tidak ada salahnya kita waspada terlebih dahulu."ucap Arthur lagi yang dari tadi hanya diam dan menyimak ucapan mereka. Tuan Anwar yang mendengar penuturan anak-anak muda itu mengangguk paham. Iya juga mengerti, apalagi Aditya merupakan seorang pengusaha sukses di usianya yang masih muda ini. ditambah lagi tentu saja anaknya memiliki banyak rival.


"Iya Om sebaiknya begitu."ucap Mereka lagi. Setelah itu mereka pun langsung duduk kembali dan tenggelam di pemikiran mereka masing-masing.


***


ke esok harinya seperti biasa, nisa akan berangkat kuliah. Iya juga berencana setelah selesai kuliah ia akan ke rumah sakit terlebih dahulu melihat kondisi Aditya dan asisten Jimmy.


'Nisa dan Dewi pun berjalan menuju ruangan mereka. tak lama mereka telah tiba di ruangan, Mereka pun langsung mengambil tempat duduk masing-masing tak lama dosen mereka masuk dan memulai perkuliahan. 2 jam mengikuti perkuliahan dosen akhirnya perkuliahan itu pun selesai.

__ADS_1


"Nis, kamu lapar nggak? atau kamu langsung pulang aja atau bagaimana.?"tanya Dewi. karena hari ini mereka hanya memiliki satu mata kuliah. sementara yang satunya lagi dosanya tidak hadir karena mengalami sakit.


"Maaf Wi, aku langsung pulang saja. soalnya aku harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk teman yang mengalami kecelakaan."ucap bisa menjelaskan kepada Dewi.


"Oh ya, nggak apa-apa Nis santai aja... aku masih ada beberapa urusan, jadi aku tidak langsung pulang.. kamu hati-hati ya..."ucap Dewi. Nisa dan Dewi pun segera berpisah di dalam kelas. Dewi pergi menuju perpustakaan sementara Nisa pergi menuju rumah sakit menjenguk Satya yang masih belum ada kabar tanda-tanda kesadaran mereka. Nisa pun langsung menaiki motornya dan bergegas pergi ke rumah sakit.


sesampainya Nisa di rumah sakit, ternyata di sana sudah banyak orang. nisa melihat di sana ada Tuan Albert, Pak Juna dan ibu Nita serta saudara-saudaranya yang lain yang mungkin sedang menjenguk dan melihat kondisi Aditya dan. tanpa menunggu lama, Nisa pun berjalan menghampiri mereka semua.


"assalamualaikum..."ucap nisa mengucapkan salam kepada mereka semua. mendengar orang mengucapkan salam, sontak mereka semua langsung mengarahkan pandangan kepada Nisa.


"eh nak, kamu tidak kuliah..?"tanya ibu Nita melihat keberadaan Nisa di sini.


"sudah Bu, bahkan Nisa baru dari kampus."ucap Nisa kepada Ibu Nita. Ibu Nita pun langsung mengambil tangan Nisa dan menyuruhnya duduk di sampingnya. Nisa menangkap raut wajah sang Ibu sepertinya ada hal yang ingin ditanyakan.


"Ada apa Bu..? sepertinya Ibu ingin menanyakan sesuatu.."tebak Nisa melihat raut wajah sang ibu. Ibu Nita pun langsung tersenyum, ya dugaan sang Putri memang benar. Ibu Nita ingin menanyakan perihal hubungan Nisa dengan Aditya.


"Iya nak, kamu benar sekali. Ibu penasaran hubunganmu dengan nak Aditya. kamu belum menceritakan apa-apa kepada kami."mendengar ucapan itu Nisa pun tersenyum. Iya Nisa benar-benar lupa mengatakan hal ini kepada kedua orang tuanya. bukan karena tidak menganggap keberadaan kedua orang tuanya ini, hanya saja Nisa benar-benar dibuat pusing oleh beberapa hal yang timbul secara bersamaan.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2