
di Sisi lain, aska dinata sudah kembali ke Hotel Mercury. setelah keluar beberapa waktu untuk mengganjal dan mengisi perutnya. kini ia sedang membaringkan dirinya di atas tempat tidur, sambil matanya terus menerawang menatap langit-langit kamar. dan sudah pasti pemikirannya tertuju kepada gadis yang dulu mengisi hatinya.
"Nisa, andai dulu aku tidak meninggalkanmu, pasti saat ini kamu masih menjadi milikku. ah andai saja dulu aku menolak perjodohan itu. aku pasti tidak akan kehilangan kamu. tapi tenang saja, aku akan berjuang kembali untuk mendapatkan kepercayaanmu lagi."lirih Aska sambil memejamkan matanya menghayati setiap momen dan pertemuannya dengan Nisa selama masih berada di bangku sekolah menengah atas.
Aska pun langsung mengambil handphonenya, kemudian kembali menghubungi nomor yang ia ingin ketahui kabarnya saat ini. namun lagi-lagi panggilannya tidak terjawab. Aska tidak berhenti di situ, Iya mencoba berkali-kali untuk menghubungi nomor tersebut. dan akhirnya diangkat oleh sang pemilik.
"halo..." suara yang terdengar di seberang telepon sana. mendengar suara Nisa di dalam telepon itu, membuat hati Aska menjadi tak karuan. jantungnya berdetak sangat cepat dan berkali-kali ia berusaha menetralkan detak jantungnya. ia bangun dari tidur nya dan berusaha menetralkan detak jantungnya.
( aduh kenapa jadi berdetak kencang sih..) batin Aska terus mengelus-elus dadanya untuk membantu menormalkan detak jantungnya. belum ada respon dari Aska, suara di dalam telepon itu pun kembali berbunyi.
"halo, dengan siapa saya berbicara..." ulang Nisa lagi. Aska pun langsung menjawab panggilan itu. walaupun ia merasa gugup, namun ia tidak ingin kesempatan ini terlewatkan. ia harus bisa PDKT kembali.
"halo Nis ini aku Aska.." ucap Aska dengan perasaan tak menentu. terdengar Hela nafas pelan di dalam telepon itu.
Sepertinya bosan mendengarnya nama itu.
"Kamu apa kabar..? Oh iya Aku menelpon ingin mengajak kamu bertemu. Aku tahu kamu masih berada di kota x."ucap Aska to the point tanpa merasa malu dan berdosa.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya Kak... memangnya Kakak ingin membicarakan apa kepadaku. Apakah itu penting ? kalau seandainya tidak penting Kakak bisa langsung bicara di dalam telepon saja. lagi pula Nisa tidak yakin kalau aku memiliki waktu luang." ucap Nisa lagi memberikan pengertian kepada azka dinata.
"Oh tidak apa-apa Nis... lain waktu saja sampai kamu memiliki waktu luang. lagi pula mungkin Kakak akan lama di kota x ini. ada beberapa pekerjaan yang akan Kakak hendel di negara ini. jadi kakak rasa tidak perlu terburu-buru."ucap Aska lagi. sebisa mungkin Aska tidak memaksa kehendaknya terhadap Nisa. Iya berusaha untuk menahan diri, agar Nisa tidak merasa jenuh dan kesal terhadapnya.
"Baiklah Kak... kalau begitu teleponnya Nisa tutup kembali."ucap Nisa. tidak ada niat dalam hatinya untuk memaki atau mengatakan kata-kata kasar kepada Aska. menurutnya, itu tidaklah penting.
setelah ada persetujuan dari Aska, Nisa pun menutup teleponnya. Iya tidak ingin menutup telepon dengan sepihak, karena itu akan terkesan sangat sombong dan tidak sopan. dan Nisa juga tidak ingin hal itu dilakukan kepadanya. Jadi ia berusaha semaksimal mungkin untuk menghormati orang lain, agar ia juga bisa dihormati oleh orang lain.
setelah obrolan itu ditutup. Aska menarik nafasnya kembali. Ia pun kembali menatap langit-langit kamar serta pikirannya yang sudah pergi entah ke mana-mana.
( sebenarnya aku masih ingin berbicara dan mengobrol kepadamu panjang lebar. namun aku tahu, aku pernah berbuat salah dan bahkan hubungan ini kita gantung. belum ada kata putus Di Antara kita, dan aku ingin memperjelas semuanya nanti. tapi sepertinya, kamu terkesan menjauh dariku. tapi tidak apa-apa. aku akan berjuang kembali.) batin Aska.
***
di sisi lain. Nisa yang baru saja mengakhiri panggilannya dengan dengan Aska. menghela nafasnya pelan. bukannya tidak ingin memblokir nomor tersebut, namun ia tidak ingin rasa benci dan dendam menguasai hatinya. Iya juga ingin hubungan mereka baik-baik saja walaupun bukan hubungan kekasih. setidaknya mereka masih bisa berteman. Karena itulah Nisa tidak pernah mengabaikan panggilan ataupun mem blacklist nomor mereka.
setelah mengakhiri obrolan itu, Nisa menatap ponselnya lamat-lamat. entah apa yang ia pikirkan hanya Ia yang tahu. namun dari raut wajahnya, seolah ia mengatakan bahwa, untuk apa Aska menelponnya dan minta bertemu dengannya. bukankah hubungan mereka telah berakhir, ya walaupun belum ada kata putus di antara mereka.
__ADS_1
namun baginya, jika laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya selama berbulan-bulan lamanya, maka diantara mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
"kenapa para mantan ini kembali nongol satu persatu..."kesal Nisa kepada dirinya sendiri. Ia pun segera meletakkan gawai itu dan kembali fokus kepada layar monitornya. ia tidak habis pikir dengan mereka. tadi Dedi yang menghubunginya, sekarang Aska. apa jadinya kalau seandainya Aditya tau, pujaannya mulai di lirik lagi sama mantan 😆😆
awalnya ia sedang membuat beberapa rancangan produk untuk pemasaran nanti. Iya juga baru memang tahu beberapa pemasukan dan pengeluaran pabrik yang dikelola oleh ayahnya. setelah melihat pengeluaran dan pemasukan itu bisa memutuskan untuk menghubungi kedua orang tuanya yang ada di kampung jati.
Tut
"assalamualaikum nak..."suara yang terdengar di dalam telepon itu. suara itu adalah milik Ibu Nita, Nisa pun tersenyum dan membalas salam sang ibu.
"waalaikumsalam Bu... Ibu sama bapak apa kabar?"tanya Nisa kepada Ibu Nita. jujur saja Nisa merasa rindu kepada kedua orang tuanya ini.
"Alhamdulillah nak. bapak dan Ibu sehat walafiat. tapi kenapa kamu baru menelepon sekarang, Ibu sama bapak sangat merindukanmu. Ibu sama bapak mau nelpon tapi takutnya kamu sedang kuliah atau sedang sibuk mengerjakan pekerjaan kamu."ucap Ibu Nita mengeluarkan unek-uneknya. Nisa pun terkekeh mendengar Rene kan sang ibu.
"Bu, kalau seandainya bapak dan Ibu rindu telepon saja. kadang Nisa rindu tapi tidak sempat untuk menelepon, Jadi kalau waktu bapak dan Ibu senggang maka telepon saja. sesibuk apapun Nisa. Nisa pasti akan mengangkat panggilan bapak dan ibu."jelas nisa di seberang telepon.
"Oh iya Bu... Nisa hanya ingin menyampaikan, dua minggu lagi bapak dan ibu harus ke kota x. karena orang tua Nisa semasa menjadi Renata sudah ada di kota x. nanti Nisa kenalkan kepada beliau. jangan lupa kasih tahu sama bapak juga ya Bu. pokoknya Nisa tidak mau mendengar ada alasan apapun..."ucap Nisa menekankan ucapannya kepada sang ibu. Iya tahu bahwa kedua orang tuanya pasti akan sangat sulit meninggalkan pekerjaan mereka. dan benar saja terdengar helaan nafas kasar dari seberang telepon.
__ADS_1
***bersambung***