HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
66. kita tidak dekat


__ADS_3

saat ini, max sedang menerima telpon dari orang yang tidak di kenalnya.


"Oh begitu... Apakah nisanya ada Bang ? Saya ingin bicara dengannya."ucap Dedi mengutarakan maksudnya menghubungi Nisa. max mengerutkan keningnya. bertanya, siapa lelaki ini?.


max sedikit melirik ke arah sang adik yang masih sibuk berkutat di dapur. max pun memutuskan untuk tidak mengganggu sang adik dahulu.


"mohon maaf sebelumnya. Tapi saat ini adik saya sedang sibuk, nanti akan saya sampaikan Kalau anda menelpon. tapi mohon maaf siapakah nama anda?"tanya max lagi.


Max bertanya dengan suara datarnya.


"Oh maaf Bang. perkenalkan nama saya Dedi mahandika, temannya Nisa. tolong Abang sampaikan kepadanya, jika sudah tidak sibuk untuk menghubungi saya kembali."ucap Dedi lagi. ia merinding mendengar suara datar itu. seolah, itu adalah peringatan yang mengatakan, jangan coba mengganggu atau mendekati adikku. kalau masih sayang nyawa. begitu kira-kira 🤭🤭


"baiklah, nanti akan saya sampaikan. kalau begitu panggilannya saya tutup..."max pun langsung menutup panggilan setelah mendapat persetujuan dari seberang atau lawan bicaranya.


setelah panggilannya ditutup. Dedi pun merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memikirkan laki-laki yang menjadi dan mengaku Kakak Nisa di telepon tadi. Dedi memijit kepalanya pelan, suara laki-laki itu membuat perasaannya tidak nyaman dan seolah-olah hancur porak-poranda.


Ia takut, kalau seandainya Nisa tidak sendirian lagi. dan takut memiliki banyak saingan. sudah cukup rasanya, Aska menjadi saingan nya, jangan sampai ada yang lain lagi.


"huf...sejak kapan nisa punya kakak laki-laki? tapi ya sudahlah nanti aku hubungi lagi." ucap Dedi. Setelah lama berpikir Ia pun bangkit dan membuka makanan yang ia beli tadi. karena terlalu lama memikirkan Nisa ia hampir melupakan makanannya.


"aku hampir saja melupakan makan malam ku. huf.... coba saja dulu aku tidak jual mahal. pasti saat ini, aku masih menjadi prioritas nya. huf... nyesal gue..hah...!!" ucap Dedi menarik nafasnya dengan kasar.


setelah itu, Dedi pun makan dengan lahap, tak lama setelah Dedi makan dan mandi serta bersih-bersih. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tertidur.

__ADS_1


"sebaiknya aku tidur. dan selamat malam Nisa. muach...😘😘" ucap Dedi sambil mencium foto Nisa yang ada di hpnya. ia pun langsung terlelap.


***


setelah menutup panggilan itu max kembali meletakkan handphone sang adik. Ia pun langsung beranjak menemui Nisa yang sedang sibuk di dapur.


"dek, ada yang bisa Kakak bantu?"tanya max kepada Nisa. sebenarnya Nisa sudah ada yang bantu, yaitu kedua kakaknya Leon dan Arthur. biasalah merekalah yang paling antusias membantu Nisa di dapur waktu masih menjadi Renata.


"tidak ada Kak, sebentar lagi pekerjaan Nisa juga akan selesai. Oh ya Siapa yang menelpon tadi Kak?"tanya Nisa penasaran. max menggaruk-garut kepalanya.


"Kakak kurang tahu juga sih. tapi ia menyebut namaNya Dedi mahandika, dia bilang dia adalah teman kamu."ucap max santai. mendengar nama tersebut nisa sedikit menghentikan aktivitasnya. iya berpikir Kenapa dan ada urusan apa Dedi menelponnya.


"oh..."ujar Nisa. max pun menjadi heran kepada sang adik. Kenapa responnya Hanya seperti itu.


"memangnya Kakak menginginkan respon Nisa seperti apa.?"tanya Nisa lagi.


"memangnya kamu tidak penasaran apa yang ia sampaikan..?"tanya mix kepada Anisa.


walaupun Dedi tidak menyampaikan apapun kepadanya, max tetap mengatakan hal itu. tujuan max adalah melihat bagaimana respon adiknya nanti.


"sudahlah Kak dia tidak terlalu penting dalam hidup nisa. lagi pula dia kan hanya teman, kita juga tidak terlalu dekat. Jadi untuk apa terlalu kepo terhadapnya."ucap Nisa santai.


mendengar jawaban sang adik max pun hanya mengganggu anggukkan kepalanya tanda mengerti. max tidak bertanya lagi, namun max mengira laki-laki itu pasti menyukai adiknya.

__ADS_1


dan tentu saja dalam hati max akan menyeleksi siapapun yang dekat dengan adiknya. walaupun hanya teman saja, karena kalau dibilang kekasih, Nisa sudah memiliki kekasih.


pekerjaan nisa di dapur pun selesai. setelah selesai, iya dan beberapa kakaknya menata menu makanan di atas meja sedemikian rupa. setelah itu Nisa kembali memanggil keluarganya yang lain yang masih bercakap-cakap di ruang tamu.


Namun ternyata di ruang tamu sudah ada Aditya di sana. saat Nisa keluar memanggil mereka, Ia pun terkejut melihat Aditya duduk bergabung dan mengobrol bersama ayah dan beberapa kakaknya yang lain.


"Kak Adit. Kakak kok di sini, Kenapa nggak kasih tahu Nisa kalau mau ke sini lagi?"tanya Nisa kepada Aditya yang sudah menatapnya. Aditya pun menatap wajah Nisa lama-lama. saat ia masih di kantor, wajah inilah


yang selalu muncul di dalam kepalanya. karena itu membuat Aditya tidak fokus mengerjakan pekerjaannya dan setelah selesai ia bergegas langsung kembali ke rumah Ayah Nisa.


"loh memangnya kenapa? Kakak nggak boleh di sini ya..?"tanya Aditya sedikit bergurau. Nisa pun jalan mendekat ke arah mereka semua.


"Ya nggak gitu juga sih Kak.. Ya udah yuk Ayah Kakak, kita makan Nisa sudah selesai masak. Kak max sama yang lainnya sudah menunggu di dalam."ucap Nisa mengajak mereka semua untuk makan tak terkecuali Aditya.


Mereka pun semua beranjak dari duduk dan berjalan menuju meja makan di mana Di sana sudah ada max Arthur dan Lion. sesampainya mereka di meja makan, Tuan Albert benar-benar dibuat takjub dengan masakan-masakan khas Indonesia itu.


"wah ini sangat enak sekali pasti. tak menunggu lama nanti ayah yakin Ayah pasti akan menjadi gemuk."ucap Tuan Albert sambil mengambil posisi duduknya di dekat sang Putri. Nisa dan anak yang lainnya pun terkekeh. Aditya langsung menimpali ucapan sang calon mertua.


"tidak apa-apa yah. lagi pula Ayah sudah tidak berdaging, jadi Ayah harus dirawat dan dikasih makan yang enak-enak agar cepat tumbuhnya lagi ya."ucap Aditya tanpa merasa berdosa. Tuan Albert pun langsung memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. kakak-kakak angkat Nisa pun yang mendengar candaan Aditya itu terkekeh dan menahan tawanya agar tidak keluar.


"aduh... Kenapa kalian semua ini suka sekali meledek ayah. Tapi nggak papa lah kalau gemuk, toh juga makanannya enak-enak.."ucap Tuan Albert langsung memasang senyum sumringai kepada semua anak-anaknya. melihat tingkah laku Tuan Albert itu semua yang ada di sana pun sudah tidak sanggup menahan tawanya.


"hahaha... Ayah lucu sekali sih... Ya sudah kalau ngobrol terus kapan makannya. ayo makan-makan..."ucap max lagi. Mereka pun menghentikan obrolan mereka dan langsung menyantap makanan yang tersedia dan tersusun rapi di atas meja.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2