
tempat lain. semenjak saat itu, di mana Aditya menuduh dirinya mendekati Aditya Hanya Untuk mendapatkan simpati dirinya dan kedua orang tuanya. kini, Nisa tidak lagi memikirkan hal itu, dia tenggelam dalam dunianya sendiri.
menurutnya, biarkan saja Aditya tidak mengingatnya tanpa memutuskan pertunangan mereka. toh juga, iya tidak terlalu memperdulikan itu. entah kenapa, rasa yang nisa miliki yang dulunya cinta untuk Aditya, kini berubah menjadi cuek.
iya berpikir, tidak ingin menghabiskan waktunya hanya meratapi nasibnya. namun Ia juga akan berusaha untuk membantu memulihkan kembali ingatan Aditya.
tapi tidak sekarang, entah kenapa kata-kata Aditya tempo hari Masih membekas Di hatinya. Nisa adalah tipikal perempuan yang tidak mudah melupakan ucapan apalagi hinaan yang ditujukan kepadanya.
namun ia bukan merupakan orang yang pendendam. saat ini, Nisa sedang mengikuti kuliah pagi, ia dengan cermat mendengar setiap penjelasan dari dosennya, bahkan tak tanggung-tanggung Nisa memberikan pertanyaan kepada dosennya. ia yang awalnya mengikuti kuliah dengan menstandarkan pengetahuan nya dengan teman-teman nya yang lain, kini ia mulai menunjukkan taringnya.
bahkan, Nisa yang sudah dikenal pintar oleh dosen dan kawan-kawannya, kini bertambah menjadi Lima kali lipat lebih pintar dari biasanya. setiap pertanyaan yang Nisa ajukan, selalu memiliki makna berbobot dan bahkan dosennya sendiri kewalahan mengimbangi pertanyaan dari mahasiswa nya. saat dosen selesai menjawab pertanyaan dari Nisa, dosen tersebut kembali bersuara.
"ada apa Ananda Nisa. seperti, Ananda sedang bersemangat mengikuti kuliah hari ini,..??" ucap dosen itu. mendengar penuturan dosen, semua mahasiswa yang terkumpul dalam ruangan itu pun mengarahkan pandangannya ke pada Nisa. Nisa yang mendapat pertanyaan seperti itu dari dosen nya pun tersenyum.
"maaf buk... apa Ananda melakukan kesalah..??" tanya Nisa lagi dengan sopan. Dosen itu tersenyum mendengar penuturan Nisa, ia segera menggelengkan kepalanya.
"tidak nak, justru ibu sangat salut kepada semua yang kamu tanyakan. jujur saja, ibu hampir tidak bisa menerangkan secara teori maupun praktek. ada banyak kata yang mengandung kontrafersi menurut ibu. tapi, tidak apa-apa, ibu akan berusaha lebih giat lagi, agar bisa menjadi teman debatmu." tutur dosen itu dengan bijaksana. Nisa sedikit menjadi salah tingkah, pasalnya ia tidak terlalu memperhatikan tindakan nya yang membuat orang lain kesulitan.
"maaf ya buk, jika pertanyaan saya membuat ibu kerepotan. tapi, terimakasih atas pengertian ibu." ucap Nisa dengan salah tingkah. teman-temannya yang melihat Nisa salah tingkah seperti itu, hanya bisa ikut tersenyum. setelah itu, kuliah mereka pagi ini pun berakhir.
__ADS_1
"baiklah anak-anaknya semuanya, setelah pertanyaan sengit itu, maka kita cukup kan kuliah kita pagi ini. sebelum ibu keluar, ibu ingin menyampaikan bahwa, besar harapan ibu, agar kalian bisa menjadi salah seorang yang sukses dalam bidang apapun." ucap Dosen tersebut memberikan sedikit kata motivasi untuk anak didik nya.
setelah mengatakan hal itu, dosen tersebut pun langsung meninggalkan ruangan. sepeninggalan dosen, para mahasiswa dan mahasiswi pun ikut meninggalkan ruangan. begitu juga dengan Nisa dan Dewi.
"Nis, nanti masih ada kegiatan nggak..??" tanya Dewi kepada Nisa. Nisa melihat kearah Dewi dan menggelengkan kepalanya.
"tidak ada wi, memangnya kenapa..??" tanya Nisa lagi. Dewi tersenyum tangan Dewi sedang melingkar di lengan Nisa.
" ngak papa sih, aku cuma pengen ngajak kamu ke mall. mau ngak..??" tanya Dewi lagi. Nisa berpikir sejenak mendengar penuturan Dewi. ia juga ya, dari pada ia memenung di kosan ngak menentu, lebih baik jalan-jalan. Nisa pun langsung menyetujui ajakan Dewi.
"boleh dew, sekalian jalan-jalan. aku udah lama belum menginjakkan kaki di mall." ucap Nisa. Dewi pun langsung kegirangan.
"gitu donk. kita akan pergi ke mall yang baru saja buka Minggu lalu, sebenarnya aku sudah lama ingin kesana, tapi karena tidak ada teman, makanya ngak jadi-jadi. hehehe..." ucap Dewi.
****
di rumah sakit, terlihat di salah satu ruangan rawat inap. seseorang yang sedang melamun, entah apa yang ia fikirkan, siapa lagi Kalau bukan Aditya.
entah apa yang Aditya pikiran. dan juga, semenjak Aditya menuduh Nisa , sudah dua hari semenjak Jimmy sadar dari koma nya, ia tidak lagi datang menampakkan dirinya. padahal selama seminggu Aditya tersadar, ia selalu bersemangat datang dan merawat Aditya.
__ADS_1
Aditya merasakan suasana hati yang berbeda, selama dua hari ini. entah ia merasakan sesuatu yang hilang dari hatinya. ia merasa hatinya sedang hampa. Sesekali ia merasa di dalam hatinya ada Rindu dan takut kehilangan kepada seseorang. Satya tidak sadar bahwa ketakutan yang dialaminya itu adalah milik Nisa.
( kenapa dengan ku ya. tak biasanya aku seperti ini.) batin Aditya. Aditya bertanya-tanya dalam hatinya. tanpa Aditya sadari, bahwa sedari tadi asisten Jimmy memperhatikan atasan nya melamun. Jimmy seketika angkat bicara untuk membuyarkan lamunan sang atasan.
"hm.... sedang melamun tuan..?? lagi lamunin nona Nisa ya, pasalnya nona Nisa dan saudara-saudaranya tidak lagi datang menemui tuan disini." ucap Jimmy.
Jimmy mengatakan hal itu, karena ia sudah sangat mengenali tuannya, apa lagi saat mendengar tuduhan dan hinaan yang keluar dari mulut Aditya, Jimmy seolah tak percaya, namun setelah ia tau bahwa Aditya hilang ingatan, asisten Jimmy tidak lagi mempermasalahkan nya. penuturan Jimmy membuat Aditya tersadar dari lamunannya. ia mengarahkan pandangannya kepada Jimmy.
"ck... tidak usah sok tau. siapa juga yang memikirkan perempuan itu..." ucap Aditya berkilah. Jimmy pun tersenyum mendengar penuturan Aditya. Yang sepertinya berusaha menghindar dari pertanyaannya itu.
" dit... kalau seandainya kamu ingat, perjuangan kamu mendapatkan Nisa, kamu pasti akan gila. aku sendiri yang menjadi saksi perjalanan kamu untuk memenangkan hati Nisa." tutur Jimmy tanpa mengarahkan pandangannya pada Aditya. mendengar penuturan Jimmy, Aditya masih berusaha mengelak.
" masak sih.. tapi aku tidak mengingat mereka sama sekali..!!" ucapnya dengan dingin. ia juga tidak mengarah pandangannya pada asistennya itu.
"sekarang gini deh dit.. kamu percaya dengan ingatan mu sendiri, atau percaya dengan ucapan kami. karena, kamu tau sendiri bahwa kamu kehilangan memori kehidupan yang kamu jalanin beberapa tahun ini, sementara kami, kami tidak kehilangan ingatan, kami juga menyaksikan hidup mu seperti apa, dan aku, aku adalah orang kepercayaanmu. jadi kamu pilih yang mana..?? pilih percaya dengan ingatan mu, atau dengan ucapan kami." ucap Jimmy. Jimmy berharap, Aditya tidak melakukan kesalahan dengan mengabaikan Nisa sebagai tunangannya.
karena, Nisa bukanlah tipikal cewek yang mudah di dapatkan. dari sudut pandang Jimmy saja, ia sudah tau, bahwa gadis yang bernama Nisa ada seorang gadis yang memiliki sifat cuek dan tidak mau tau, apa bila ia sudah sakit hati. apalagi, seperti kata-kata Aditya dua hari yang lalu, cukup membuat orang yang mendengar nya sakit hati.
buktinya, setelah dua hari itu, Nisa tak lagi datang berkunjung untuk menjenguk mereka. nyonya Humaira dan Tuan Anwar juga seperti mulai acuh dengan Aditya.
__ADS_1
" sudahlah... aku tidak ingin membahas nya. jika memang aku mencintai dia dan aku memiliki hubungan dengan nya, pasti ia tidak akan mempermasalahkan masalah seperti ini." ucap Aditya. ia langsung menarik selimut nya dan tidur memunggungi asisten Jimmy. asisten Jimmy yang melihat sifat Aditya seperti itu, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya.
***bersambung***