HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
76. belum cerita


__ADS_3

"Loh..!! memangnya Adek belum cerita siapa Aditya sebenarnya..?"tanya Austin lagi sambil melihat kedua paruh baya itu secara bergantian. mereka menggelengkan kepala mereka yang menandakan bahwa mereka belum mengetahui hubungan adik dan Aditya itu.


"astaga..!!" ucap Austin sambil menepuk jidatnya. Iya tidak habis pikir, Bagaimana bisa kedua orang tua angkatnya ini belum mengetahui hubungan Aditya dengan Nisa.


"aduh, maafkan Austin ya Pak, Bu. tapi sebaiknya adik saja yang menjelaskan masalah ini kepada bapak dan ibu. dan Austin juga buru-buru ingin kembali ke rumah sakit. nggak papa kan Pak Bu..?"ucap Austin lagi. kedua paruh baya itu pun tidak memaksa, karena memang tidak ada paksaan untuk anak-anaknya itu. asalkan ke-7 anak-anak mereka ini hidup dengan baik dan tidak menyusahkan orang lain.


"Iya, tidak apa-apa nak. nanti bapak akan tanyakan saja kepada adikmu. dan kalian juga jangan lupa makan dan jaga kesehatan juga. Oh iya, bapak punya beberapa pil agar kalian tetap fit walaupun merasa lelah. sebentar bapak ambilkan dulu ya..."Ucap pak Juna. Pak Juna pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar mereka dan mengambil beberapa pil obat yang diberikan oleh Nisa kepada mereka.


bukan tanpa sengaja Nisa memberikan obat-obatan itu kepada kedua orang tuanya. karena pekerjaan kedua orang tuanya sebagai petani, tentu bisa berpikir bahwa beban mereka sangat banyak dan berat. untuk memberikan vitamin dan menjaga keseimbangan tubuh kedua orang tuanya nisa pun membuat dan meracik obat-obat ini.


tak lama Pak Juna pun keluar, namun ia tidak menemukan Austin di sana. Austin masuk ke dalam kamarnya, Setelah Pak Juna bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengambil obat itu. Begitu juga dengan Austin, Iya mengambil beberapa selimut untuk mereka di sana. tak lama Austin pun keluar dari kamarnya.


"Pak, Bu. Austin pamit ya... ingat Pak Bu jangan begadang lagi siap ini langsung tidur.."ucap Austin memberikan nasehat kepada kedua orang tuanya. kedua paruh baya itu pun setuju, Pak Juna langsung memberikan pil obat itu kepada Austin.


"ini nak, obatnya jangan lupa diminum. ingat jaga kesehatan di rumah sakit udaranya tidak bagus..."Ucap pak Juna lagi. Austin pun mengambil obat yang diberikan oleh Pak Juna dan mengamati obat-obatan itu. sejenak Austin menyunggingkan senyum, tentu saja Austin mengenal obat tersebut.


"Iya Pak, kalau begitu Austin pamit ya pak..."ucap Austin. Iya menyimpan obat tersebut di dalam sakunya dan langsung menyalin tangan kedua paruh baya itu dengan takjub. setelah itu Austin langsung meninggalkan rumah dan kembali ke rumah sakit. setelah kepergian Austin, kedua paruh baya itu pun juga kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.


****

__ADS_1


saat ini Austin telah tiba di rumah sakit. Ia pun membawa beberapa tentengan di tangannya yang berisi selimut dan baju-baju tebal.


ceklek suara pintu dibuka dan Austin menemukan kepalanya. terlihat semua yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu melihat Siapa yang datang malam-malam.


"eh tin, Kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali kamu mengantar tante Humaira..."ujar max kepada adiknya itu. Austin pun berjalan mendekat ke arah mereka. Dan meletakkan plastik yang berisi selimut itu di lantai di mana mereka semua sedang duduk bersila.


"Maaf Bang Om. tadi setelah mengantar tante saya menyempatkan diri untuk pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengambil beberapa selimut untuk kita, sekaligus mengabari bapak dan ibu."ucap Austin lagi. max yang mendengar nama bapak dan ibu disebut ia segera menepuk jidatnya.


"astaga..!! aku lupa mengabari orang rumah. pasti bapak dan Ibu sangat khawatir ya kan..?"tanya max lagi kepada Austin. Austin pun hanya menganggukkan kepalanya, tanda yang diucapkan oleh max benar adanya.


"tapi sudah tidak apa-apa kok, Aku tadi sudah memberitahukan kepada bapak dan ibu bahwa kita menginap di rumah sakit. agar bapak dan Ibu tidak lagi menunggu kita..."ucap Austin lagi.


"eh.. tapi apakah Ayah Albert sudah dikabari...?"tanya Arthur tiba-tiba angkat bicara. sementara Tuan Anwar Hanya duduk dia mendengarkan obrolan kecil dari keempat pemuda itu.


"Oh, sudah, tadi kardo menghubungiku jadi sekalian aku mengatakan kepada kado mengenai hal yang menimpa Aditya. di sana juga sudah ada Ayah. jadi tidak perlu khawatir..."ucap max lagi. setelah pembicaraan sederhana itu, max mengeluarkan beberapa selimut dan memberikannya kepada saudara-saudaranya dan juga kepada tuan Anwar.


"Om sebaiknya kita istirahat. walaupun kita khawatir Om juga tidak boleh sakit.. nanti kita berjaganya dua shift Kalau setuju..."ucap max kepada tuan Anwar. Tuan Anwar pun menerima selimut yang ada di tangan max.


"tidak perlu pakai shift nak... yang ngantuk silakan tidur yang belum ngantuk ya terserah... tapi om harap kalian juga mau menjaga kesehatan kalian agar tidak jatuh sakit..."ucap Tuan Anwar memberikan wejangan kepada keempat pemuda itu. tiba-tiba Austin mengingat tentang pil obat yang diberikan oleh Pak Juna kepadanya.

__ADS_1


"Oh iya aku lupa. tadi bapak memberikan obat ini kepadaku, supaya sistem kekebalan tubuh kita tidak terganggu."ucap Austin mengambil satu pil obat itu dan menyerahkannya kepada saudara-saudaranya yang lain. mereka yang melihat pil obat itu pun langsung mengenal pil itu.


pil itu adalah pil yang dibuat oleh Nisa semasa menjadi Renata dulu. Mereka pun dengan senang hati menerima obat tersebut, karena memang obat itu diracik untuk menjaga sistem imun tubuh mereka di saat mereka kelelahan akibat pekerjaan yang tiada hentinya. Tuan Anwar pun hanya melongo melihat anak-anak muda itu mengkonsumsi pil yang warnanya biru itu.


"eh.. ini pil apa nak... Kenapa kalian makan begitu saja, seharusnya dipastikan dulu khasiatnya..."ucap Tuan Anwar yang merasa khawatir melihat anak-anak muda itu memakan obat tersebut seperti memakan permen. max pun tersenyum mendengar tanggapan dari tuan Anwar.


"Oh, om tenang saja. Ini obatnya sehat kok om.. dan Om juga harus minum. obat ini diracik oleh Nisa sebagai obat untuk menjaga sistem kekebalan tubuh kita agar tidak mudah diserang penyakit. dan yang harus Om tahu ialah, Nisa memiliki ilmu medis. dia juga akan membantu merawat Aditya dan Jimmy nanti. hanya saja saat ini ia sedang pulang untuk mempersiapkan bahan dan alat-alat yang digunakan meracik obat-obat mereka nanti Om. jadi Om tidak perlu khawatir..."ucap max memberikan pengertian kepada tuan Anwar. entah kenapa, Tuan Anwar yang mendengar penjelasan max itu percaya begitu saja. padahal dulunya Tuan Anwar adalah orang yang sulit mempercayai orang lain. tapi berbeda dengan max dan saudara-saudaranya.


barangkali Tuan Anwar merasa akrab dengan mereka dan mungkin sudah menganggap mereka seperti anak-anaknya sendiri. max pun langsung mengambil satu pil dan menyerahkannya kepada tuan Anwar. sementara Yang lain sudah pada meminumnya.


"Ini obatnya Om. om tenang saja ini tidak memiliki efek samping, jadi obat Ini aman bagi mereka yang memiliki penyakit dalam maupun luar."terang max lagi. Tuan Anwar pun langsung menerima obat tersebut dan langsung meminumnya tanpa menggunakan air minum.


Karena pada dasarnya obat tersebut tidaklah pahit. setelah itu mereka pun mulai berbincang-bincang kecil membahas beberapa masalah yang terjadi akhir-akhir ini dan juga bertukar pikiran. setelah mereka rasa lelah dan mengantuk akhirnya satu persatu dari mereka mulai mengambil posisi tidur Begitu juga dengan Pak Anwar.


namun lain halnya dengan Leon dan Austin, mereka masih terjaga dan sedang sibuk bermain game di hp mereka. saat mereka sedang sibuk bermain game, tiba-tiba ada seseorang yang pelan-pelan menyelinap masuk ke ruangan Aditya dan Jimmy.


ceklek suara pintu dibuka.


***bersambung***

__ADS_1


__ADS_2