
masih di tempat yang sama, di dalam kamar Aska terlibat sepasang kakak beradik itu sedang membahas sesuatu, terlihat sang Kakak sedang menjahili adiknya dengan mengacak-acak rambut sang adik.
"his jangan mengacak-acak rambut aku seperti itu Kak. kakak tidak tahu saja, aku sudah sangat kesulitan menata rambutku ini." ucap Vivi dengan ketus. Aska pun tersenyum mendengarkan gerutu adiknya.
"kalau begitu beristirahatlah, ini sudah malam." ucap Aska lagi kepada Vivi.
"bentar dulu kak, Vivi masih mau bertanya dan mengobrol kepada kakak. Oh iya kak, kalau seandainya Nisa sudah tidak mau kakak lagi, apa yang akan Kakak lakukan." tanya Vivi lagi.
Aska mengerutkan keningnya. tentu saja jika Nisa sudah tidak menginginkannya lagi, Iya bisa apa selain harus merelakan kebahagiaan perempuan itu. lagi pulang rasa cinta itu memang tidak harus dipaksakan.
"kakak tidak tahu, karena kakak juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. yang pasti kakak tidak akan memaksakan kehendak kepada Nisa." ucap Aska lagi, menjawab pertanyaan sang adik. Vivi yang mendapatkan jawaban seperti itu, hanya mampu memanyunkan bibirnya.
"sudah sana, nanti kita mengobrol lagi. ini sudah malam dan kita harus istirahat." ucap Aska lagi kepada adiknya. Vivi hanya bisa pasrah.
setelah itu, dengan perasaan tidak rela, Vivi pun langsung keluar dari kamar kakaknya dan meninggalkan Aska sendirian. sepeninggalan Vivi lagi-lagi Aska menarik nafasnya dengan dalam. iya benar-benar harus meyakinkan diri untuk membuktikan kepada Nisa bahwa hatinya masih dihuni oleh gadis itu.
"huf... kenapa jadi begini ya..?? andai waktu bisa diputar kembali. aku ingin kembali ke masa itu, dan memperbaiki kesalahanku. huf.." ujar Aska dengan lirih. setelah itu, ia langsung membuang tubuhnya ke atas tempat tidur, matanya kembali menerawang langit-langit kamarnya, sebelum akhirnya ia terlelap.
***
di tempat lain. saat ini, Nisa sedang perjalanan pulang. akibat membahas banyak hal bersama Aditya, sampai akhirnya ia pulang kemalaman, Nisa di antar oleh Aditya dan asisten nya, Jimmy. sebenarnya, ia dipaksa menginap oleh nyonya Humaira dan Tuan Anwar.
namun, ia tetap memaksakan pulang. karena Aditya sudah berbaikan dengan Nisa, ia juga langsung berinisiatif untuk mengantar Nisa pulang. karena sudah sangat malam, tidak mungkin Nisa pulang ke kosan, karena pagarnya pasti sudah di kunci, tujuan nya adalah rumah ayahnya.
di perjalanan, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara, sehingga membuat suasana menjadi hening.
(kenapa pada diam-diam bae.. katanya sudah pada baikan, tapi kok diam-diam aja sih.. ih.. sibos kagak seru nii..) batin Jimmy. entah kenapa, ia geram sendiri kepada sepasang kekasih yang ada di belakang nya ini.
saat mereka mobil mereka sedang melaju, Tiba-tiba ada yang menghadang jalan mereka, yang menyebabkan mobil yang mereka tompangi itu berhenti mendadak. Aditya dan Nisa yang sedari tadi melamun langsung terkejut.
__ADS_1
"ada apa jim..??" tanya Aditya kepada asisten nya. Jimmy menatap beberapa orang yang menghadang mobil mereka, orang orang itu membawa pentungan di tangan mereka.
"seperti nya begal bos.." ucap Jimmy dengan pelan. Nisa memutar bola matanya malas, kenapa tempat ini rawan sekali dengan para begal. apakah sampah masyarakat ini tidak punya pekerjaan lain apa..??
"bukan sepertinya lagi kak jim, didepan kita itu memang para begal." ucap Nisa santai. ucapan santai itu membuat Aditya dan Jimmy menoleh kearahnya.
buk..
"cepat keluar..!!" teriak salah satu dari para begal itu sambil mementung mobil mereka. tampaknya, para begal itu masih seumur anak SMA. Jimmy menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya keluar.
"bos dan nona tunggu disini, biar saya yang keluar." ucap Jimmy. Nisa yang berada dalam mobil sudah waspada sejak tadi, ia juga tidak ingin Jimmy dan Aditya berkelahi. kerena mereka baru saja keluar dari rumah sakit.
diluar, tampak Jimmy sedang bernegosiasi dengan para sampah masyarakat itu.
"maaf, ada apa..??" tanya Jimmy basa-basi. ia memandangi satu persatu wajah para begal itu, ia tidak takut sama sekali. terhitung, para begal itu sebanyak sembilan orang, semuanya membawa pentungan dan benda tajam di tangan mereka.
"heh... sombong sekali, hajar aja dan ambil uangnya." ucap salah satu dari mereka. Nisa dan Aditya yang mendengar pun membulatkan matanya, bukan nya mereka khawatir, tapi Jimmy baru saja keluar dari rumah sakit. Aditya pun reflek ingin keluar, namun ditahan oleh Nisa.
glek..
"aku mau bantuin Jimmy." ucapnya pelan.
"jangan kemana-mana, tetap didalam mobil. awas kalau kakak keluar." ancam Nisa. sontak saja, jantung Aditya berpacu. sementara diluar, Jimmy sudah berhadapan dan di serang oleh orang-orang itu. tanpa menunggu lama, Nisa pun langsung keluar membantu Jimmy.
salah Satu pukulan akan mendarat di punggung Jimmy tapi langsung di tahan oleh Nisa.
"kak Jimmy hati-hati, kakak baru sembuh." ucap Nisa saat itu, Jimmy pun langsung terkejut.
"iya nona, nona juga hati-hati." ucap jimmy masih melakukan perlawanan. Nisa yang turun tangan, langsung melakukan aksinya. ia paling malas berlama-lama. Nisa pun langsung mematahkan, tulang-tulang para perusuh itu.
__ADS_1
krek krek krek
suara patah tulang akibat ulah dari Nisa, suara itu terdengar sangat mengerikan di telinga mereka. bahkan Jimmy yang melihat langsung pertarungan Nisa itu membuatnya mematung, pasalnya Nisa sangat mudah mematahkan tulang-tulang para begal itu. Aditya juga ternganga melihat aksi itu, dengan susah payah ia menelan salivanya.
(aduh.. ngeri juga ni si calon istri. wah..!! aku jadi ngak berani macam-macam ni, bisa-bisa langsung di pelintir.) batin Aditya yang menyaksikan pertarungan itu. begitu juga dengan asisten Jimmy.
(walah.. si calon nyonya ternyata bukan kaleng kaleng. kebayang kalau si bos macam-macam, pasti langsung melayang di buatnya.) batin Jimmy, ia benar-benar melongo melihat aksi dari kekasih bosnya itu. saat Jimmy sedang melongo, satu tepukan mendarat di pundaknya. sontak Jimmy langsung terkejut dari lamunannya.
"ayam melongo..!!" ucapnya dengan terkejut. Jimmy langsung melotot kan matanya.
"ya ampun nona, bikin kaget aja..." ucap Jimmy sambil memegangi dadanya yang berdetak. Nisa pun tersenyum.
"ayo Kak, bengong aja dari tadi." ucap Nisa. Jimmy menganggukan kepalanya, terlihat di jalanan itu, semua para begal sedang bergelimang di jalan seperti cacing sagu yang meliuk-liuk.
"lalu bagaimana dengan mereka..??" tanya Jimmy kepada Nisa. Nisa pun mengalihkan pandangannya.
"biar ajalah kak, ayo pulang.." ucap Nisa lagi. setelah itu, Jimmy pun tidak peduli lagi. mereka kembali masuk kedalam mobil di mana disana ada Aditya yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
"kalian tidak apa-apa kan..??" tanya Aditya dengan khawatir. ia melihat keduanya secara bergantian.
"kami ngak papa bos, ngak lihat tadi si nona membanting mereka satu persatu dan mematahkan tulang-tulang mereka dengan mudah." ucap Jimmy dengan bangga. kali ini, asisten Jimmy sangat mengidolakan Nisa.
( wah.. nona bos,aku padamu..) bantin Jimmy sambil tersenyum kearah Nisa. Aditya yang melihat senyum Jimmy itupun langsung menyaut.
"eh..!! mata, mata dijaga ya.. jangan jelalatan. itu sudah ada yang punya." protes Aditya kepada asisten nya. sontak Jimmy langsung mengalihkan pandangannya.
"apa sih bos..!! masak liat aja kagak boleh.." gerutu asisten Jimmy. Nisa langsung tersenyuman melihat kekonyolan atasan dengan bawahan.
"sudah, ayo jalan. kita udah sangat kemalaman.." ucap Nisa menengahi. akhirnya kedua lelaki itu menghentikan perdebatan mereka.
__ADS_1
***bersambung***