
Aditya benar-benar memasang wajah masam, ketika mendengar ibunya, nyonya Humaira mengatakan bahwa Nisa telah memiliki tambatan Hati yang baru. bahkan dengan gamblangnya nyonya Humaira menceritakan hal ini dengan Tuan Anwar disertai dengan ekspresi bahagia. Aditya yang melihat ekspresi nyonya Humaira itu serasa menjadi tidak suka.
"Mama juga berhasil mendapatkan fotonya. ini coba papa lihat.." nyonya Humaira langsung mengeluarkan hp-nya, dan memperlihatkannya kepada tuan Anwar. di sana adalah foto Nisa bersama dengan seorang laki-laki, mereka sedang berbicara. entah apa yang mereka bicarakan.
Tuan Anwar memperhatikan foto itu dengan seksama. Iya sebenarnya kecewa melihat Nisa memiliki pengganti yang lain, Namun karena tuan Anwar melihat mata nyonya Humaira mengedip-edip kepadanya. Tuan Anwar jadi mengerti. Tuan Anwar langsung memasang wajah sumringai. Tuan Anwar tahu, bahwa nyonya Humaira sedang memancing ingatan dan perasaan putranya itu. mengetahui hal itu, Tuan Anwar pun ikut menambah bumbu-bumbu kepura-puraan nyonya Humaira.
"wah !! kamu bener mah, cowoknya juga tak kalah ganteng dengan Aditya. tapi kalau papa perhatikan, lebih gantengan laki-laki ini ketimbang Aditya. ya tidak apalah mereka cocok." ucap Tuan Anwar tak kalah hebatnya memanas-manasi Aditya. Tuan Anwar juga tidak kalah antusias mengenai hal itu.
Aditya yang mendengar ayahnya membanding-bandingkan dirinya dengan laki-laki lain, bahkan mengatakan lebih cocok laki-laki yang ada di foto tersebut ketimbang dirinya, tanpa sadar Aditya mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik selimut. dia emosi, benar-benar emosi. namun ia tidak bisa melampiaskannya kepada kedua orang tuanya. walau bagaimanapun, Saya sakit hati apapun ia, Aditya masih menganggap kedua orang tuanya. apalagi kedua orang tuanya sangat menyayangi dirinya.
tanpa mengatakan sepatah kata pun, Aditya langsung turun dari brankar dan keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa dan ekspresi wajah masam serta kesal. nyonya Humaira yang melihat Aditya keluar seperti itu langsung bertanya.
"mau ke mana dit..?? sebentar, tunggu sebentar. " ucap nyonya Humaira. seketika Aditya berhenti dan berdiri di sana namun ia tak menoleh ke arah sang mama. hatinya benar-benar buruk hari ini. ketiga orang yang menyaksikan ekspresi buruk Aditya, memasang senyum sinis. Aditya memasang wajah kesal dan marah karena mendengar Nisa sudah memiliki pengganti dirinya. namun ketiga orang tersebut malah tersenyum sinis kepada Aditya.
"cepatlah ma, aku sudah tidak ingin tinggal di rumah sakit lagi." ucap Aditya seperti anak yang sedang ngambek karena tidak dapat mainan.
"Iya nak Mama tahu. tapi tunggu dulu Mama telepon Nisa dulu agar dia ke sini." ucap nyonya Humaira. Aditya tak lagi membantah, ada rasa marah dalam hatinya namun juga Ia menginginkan kehadiran Nisa di sampingnya. mendengar nama Nisa disebut, Aditya tersenyum tipis setipis-tipisnya sehingga tidak ada yang menyadari.
__ADS_1
"kalau begitu cepatlah Mama menghubunginya..!!" ucapnya dengan ketus dan ekspresi malas. padahal dalam hatinya ia sedang bersorak riang, perempuan yang sudah tidak datang menjenguknya selama dua minggu ini, entah kenapa ia sangat ingin melihat wajah gadis tersebut. Iya juga merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. ada rasa rindu yang menghinggapi hatinya.
(aku kenapa..? kenapa rasanya jantungku berdetak sangat cepat..?? aku juga seolah merasa sangat merindukannya.) batin Aditya. Iya langsung membalikkan tubuhnya dan kembali menghampiri brankarnya, Iya juga langsung membaringkan tubuhnya di sana. ia berusaha menormalkan detak jantungnya ketika mendengar nama Nisa disebut.
(apa apaan sih ini..) batin Aditya lagi merasa tidak nyaman. ketiga orang tersebut langsung tersenyum senang melihat tingkah laku Aditya yang tiba-tiba saja berubah. setelah itu nyonya Humaira langsung menghubungi Nisa.
Tut
"assalamualaikum tante.." siapa Nisa di seberang telepon sana. nyonya Humaira mendadak memasang wajah cemas dan khawatir, Iya takut Nisa tidak akan mau menuruti permintaannya. apalagi dengan terang-terangan ia mendengar bahwa Nisa akan sangat sulit berbalik kepada orang yang telah menyakitinya.
"Kamu di mana sayang..?? hari ini Aditya akan keluar dari rumah sakit. tidakkah kamu mau datang untuk menjenguknya..? sekaligus mengantarkan Aditya bersama-sama pulang ke rumah." ucap nyonya Humaira.
" mm.. Bagaimana ya Tante.. aku takut saja, jika aku datang ke sana, Kak Aditya pasti akan menghinaku lagi dan menuduhku macam-macam." ucap Nisa yang sukses membuat nyonya Humaira menjadi sedih. namun nyonya Humaira tidak ingin berhenti di situ.
"tidak apa-apa nak, di sini ada mama sama papa juga. lagi pula, jika Aditya memang tidak menginginkan kamu berada di sampingnya lagi. alangkah baiknya kalian juga mengakhiri pertunangan kalian ini. dan Mama minta kalian bicarakan baik-baik." ucap nyonya Humaira sambil melirik ke arah Aditya yang saat ini sedang merebahkan tubuhnya.
Aditya yang mendengar mamanya menyinggung mengenai pemutusan pertunangan mereka, lagi-lagi hati Aditya bergejolak. ada rasa yang menolak menerima dan mendengar kata-kata itu. Aditya langsung terbangun dengan kasar dari tidurnya, kemudian menatap mamanya dengan intens.
__ADS_1
"Baiklah tante. aku akan ke sana."ucap bisa lagi. setelah itu panggilan pun Mereka akhiri.
saat nyonya Humaira mengakhiri panggilan tersebut, ia mengarahkan pandangannya ke arah sang Putra yang saat ini tengah memandangnya dengan tatapan intens. nyonya Humaira yang melihat ekspresi sang anak pun langsung bertanya.
"Kenapa nak..?? Kenapa kamu memandangi Mama seperti itu..?? Apakah ada yang salah dengan Mama..??" tanya nyonya Humaira secara bertubi-tubi kepada Aditya. Aditya menarik nafasnya dengan gusar. hatinya benar-benar kacau. Iya tidak mengerti mengapa ia sangat gusar seperti ini, Iya juga berpikir, apakah iya dan Nisa memang memiliki hubungan yang spesial. dan sepertinya iya, karena Aditya juga tidak membantah bahwa hatinya benar-benar berdetak dan juga merasa sakit dan kesal apabila mereka menyinggung mengenai perpisahan.
"kenapa Mama menyinggung tentang pembatalan pertunangan.??" tanya Aditya tanpa sadar. Iya juga memasang ekspresi kesal di wajahnya. nyonya Humaira yang merasakan pertanyaan anaknya seolah ada rasa tidak terima, nyonya Humaira bersorak dalam hati. Iya bertekad akan terus memanas-manasi anaknya sampai ia benar-benar yakin kepada hatinya dan mengingat Nisa.
"tidak ada, memangnya kenapa. bukankah kamu menolak Nisa menjadi tunanganmu. padahal kalian sudah bertunangan lama. Tapi karena kamu hilang ingatan, kamu juga langsung kehilangan akal dengan menghina dan menuduhnya seperti itu. Mama, papa Dan juga Jimmy sudah memperingatkanmu, juga sudah memperlihatkan bukti-bukti bahwa Nisa adalah tunanganmu. namun kamu selalu menyelah dan membantah apa yang kami sampaikan kepadamu. lalu kenapa kamu harus merasa kesal kalau mama menyinggung tentang masalah pemutusan pertunangan kalian." ucap nyonya Humaira panjang lebar. seketika Aditya menjadi bungkam. tapi tak lama ia berbicara lagi.
"Iya Aditya tahu. tapi mama tidak harus mengatakan pemutusan pertunangan kami. seharusnya Mama membantu Adit untuk mengingat perempuan itu kembali." protesnya lagi. nyonya Humaira menarik nafasnya pelan-pelan.
"Mama sudah berusaha untuk mengingatkanmu. bahkan tak hanya Mama yang mengingatkanmu, papa dan juga Jimmy ikut mengingatkan kamu. namun apa yang kamu katakan, kamu tetap saja beranggapan bahwa Nisa hanyalah perempuan yang berusaha mencari perhatianmu dan mama papa. lalu di mana salahnya.?" ucap nyonya Humairah merasa geram dengan anaknya.
Tuan Anwar yang mendengar perdebatan kecil istri dan anaknya itu ikut menengahi.
"sudah lah ma, dit. sekarang begini saja. untukmu Aditya, papa ingin bertanya. Apakah benar dalam hatimu tidak ada getaran atau rasa apapun kepada Nisa ?. Apakah kamu benar-benar membenci dia, Jika benar seperti itu maka tidak ada salahnya kalian juga memutuskan pertunangan kalian ini. karena memang tak ada artinya jika dilanjutkan." ucap Tuan Anwar.
__ADS_1
mereka yang menyaksikan bantahan yang keluar dari mulut Aditya terus berusaha untuk membuat Aditya semakin takut kehilangan Nisa. pasalnya, Aditya sangat mencintai Nisa, dan sangat takut kehilangan perempuan ini. Karena itulah, kedua orang tua ini sepakat untuk mengatakan hal itu. sementara Jimmy, Iya Hanya duduk mendengarkan perdebatan keluarga kecil ini sambil menahan tawa dalam hatinya melihat ekspresi atasan dengan kedua orang tuanya, yang menurutnya sangat lucu.
***bersambung***