
akhirnya waktu yang mendebarkan bagi Nisa dan Aditya pun tiba. di mana selesai salat isya, semua keluarga di pihak Ayah maupun pihak ibu berkumpul di sana. tak hanya keluarga, bahkan jemaah yang ada di sana pun ikut hadir. Begitu juga dengan pemimpin atau aparatur desa.
tampak suasana di kediaman Pak Juna itu benar-benar ramai dikunjungi oleh kerabat dan juga masyarakat serta jamaah masjid mereka. di sana juga, tanpa Tuan Anwar sedang menyampaikan niat baiknya kepada keluarga untuk mengkhitbah Nisa untuk anak laki-laki satu-satunya.
"Bagaimana nak nisa, Apakah kamu menerima niat baik keluarga Tuan Anwar.." ucap seorang ustaz yang dipercaya untuk membawakan acara lamaran ini.
entah kenapa Nisa yang dulunya biasa-biasa saja, tiba-tiba jantungnya berdetak sangat cepat. Iya sangat gugup menjawab pertanyaan itu, namun dalam hatinya Ia juga sangat gembira.
setelah pertanyaan dari sang ustadz, semua mata yang hadir di ruangan itu langsung tertuju kepadanya. Nisa yang menjadi pusat perhatian, Nisa yang biasa memimpin sebuah acara seminar tampil dengan penuh percaya diri dan elegan, memaparkan materi dengan jelas dan singkat. tapi tiba-tiba menjadi gugup dan menciut di acara lamaran ini.
pelan-pelan bisa menarik nafasnya untuk menormalkan detak jantung dan kegugupan yaitu. kemudian dengan pelan tapi pasti, Iya langsung menganggukkan kepalanya dan menyetujuinya.
"Iya tentu saja pak ustad, Saya bersedia.."; ucapnya dengan gugup.
ternyata tak hanya bisa yang merasa gugup dan jantung berdetak sangat cepat. bahkan Aditya pun merasakannya. setelah Nisa menerima lamaran itu, tiba-tiba rasa was-was itu hilang begitu saja. Iya langsung menatap Nisa dan tersenyum penuh arti, walaupun objek yang dilihatnya itu sedang menundukkan kepalanya.
"wes... jangan diliatin gitu, belum muhrim." tegur Nyonya Humaira kepada sang anak. sontak saja Aditya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Iya juga menggarut Garut kepalanya karena tidak tahu mau berbuat apa.
saat itu juga Nyonya Humaira maju dan memberikan seserahan kepada Nisa, dan juga menyelipkan sebuah cincin di jari manisnya. semua yang menyaksikan hal itu ikut bahagia, Begitu juga dengan ke-7 saudara-saudaranya.
Mbak nur yang tidak mau kehilangan momen lamaran adiknya, tentu saja menyusul ke desa jati bersama sang suami dan anak-anak. untuk sementara, kedai rumah makan mereka tutup.
"selamat ya dek, sudah punya calon.." ucap Mbak nur kepada Nisa sambil memeluk tubuh adiknya. ya tidak menyangka bahwa gadis kecil yang dulu sering mengikutinya kemanapun ia pergi, kini sebentar lagi akan menjadi istri orang lain.
"Iya Kak, makasih ya Kak.. bisa pikir kakak tidak akan hadir di acara lamaran ini." ucap Nisa mengeluarkan kekhawatirannya. Mbak nur melerai pelukan itu.
"mana mungkin Mbak Nggak hadir, ini adalah momen paling istimewa yang tak bisa mbak lewatkan."ucapnya lagi sambil mengusap di pisang adik yang ternyata dialiri dengan air mata.
"sudah sudah, Jangan cengeng seperti itu. nanti yang ada calon suamimu malah meledek.." kali ini Leon yang bersuara. sebenarnya dalam hati Leon juga belum mau Nisa menikah, seolah Leon itu belum puas melindungi adiknya. Iya masih ingin terus bersama dengan sang adik, tapi mau bagaimana lagi, Nisa telah menemukan jodohnya.
Leon mendekat dan memeluk tubuh adiknya itu. entah kenapa ia terlihat rapuh saat di hari bahagia adiknya. satu hal yang ia tahu, karena ia belum puas untuk memiliki adiknya. Iya masih ingin Nisa manja-manja kepadanya. namun sekarang semua itu sudah tidak mungkin.
Nisa yang merasakan pelukan hangat dari sang kakak itu membalas pelukannya. Iya juga langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. sambil tangan Gayatri mengelus-elus punggung kakaknya. Iya tahu bahwa Leon tengah bersedih, walaupun ia terlihat tegar namun dalam hatinya juga rapuh.
"selamat ya dek, kakak ikut senang. Tapi Kakak benar-benar belum merelakan mu untuk menikah, Kakak masih ingin melindungimu." ucap Leon kepada Nisa. Leon pun melerai pelukan itu dan menangkup kedua pipi Nisa dengan tangannya.
sementara di seberang sana, ada sepasang mata Yang Melihat Leon dengan tatapan tajam. Iya cemburu karena apa yang dilakukan Leon tidak bisa ia lakukan saat ini. Siapa lagi kalau bukan Aditya.
(sialan si Leon..!! Aku saja belum menyentuhnya seperti itu, Iya malah mendahuluiku. Untung saja saudaranya, kalau tidak sudah aku bejek-bejek menjadi ayam geprek.) gemas Aditya dalam hati. Iya bener-bener merasa cemburu melihat adegan di depan matanya itu. padahal Ia terus meyakinkan dirinya kalau Leon itu adalah kakaknya, jadi sudah sewajarnya sang kakak melepaskan atau berpelukan dengan adiknya. tapi entah Kenapa hatinya tetap tidak menerima.
"sudah ah sedih-sedihnya... ini kan hari bahagia..." kali ini Arthur yang bersuara.
__ADS_1
"tahu tuh si Leon, padahal tadi Iya yang melarang Mbak nur sama adik agar tidak sedih-sedihan. eh malah iya yang ikut sedih-sedihan seperti itu...!!" seru saudara mereka yang lain. mendengarkan aturan seperti itu, semua yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa.
setelah itu, kini tinggal penanggalan atau waktu kapan akan diadakannya pernikahan. kedua pihak keluarga itu menyepakati, akan melakukan pernikahan 1 bulan kemudian.
***
seminggu sebelum waktu yang ditentukan oleh kedua keluarga mengenai pernikahan Nisa dengan Aditya.
pernikahan ini akan mereka gelar di kampung jati, mengingat bahwa keluarga Nisa begitu besar, sehingga mereka memutuskan untuk membuat pesta di desa itu saja.
terlihat, mereka sedang bergotong-royong untuk membangun pentas dan pelaminan. dekorasi dekorasi mewah mulai ditata di rumah pak Juna. mereka mendirikan tenda untuk tempat makan para tamu undangan. tampak, pekerjaan itu diselingi dengan candaan dari bapak-bapak disana.
terlihat, Ibu Nita, ibu nurti dan nyonya Humaira sedang sibuk menata dan mendata apa saja yang sudah ada dan yang belum ada. baik itu daging, rempah-rempah, beras dan alat-alat masak lainnya.
"mbak, bagaimana. apakah masih ada yang kurang..??" tanya Nyonya Humaira kepada ibu nurti. nyonya Humaira berjalan mendekat setelah tadi memeriksa alat-alat dapur yang akan digunakan.
"ini, tinggal kunyit, jahe, lengkuas aja ya belum. nanti, di ambil di kebun saja. Mbak Nita punya banyak." ucap ibu nurti.
"kapan diambil mbak... saya juga mau ikut panen." ucap Nyonya humaira lagi.
"sekarang... kalau mau ikut, sana ganti baju dulu. pakai baju dinas untuk para petani." ucap ibu nurti membercandai Nyonya Humaira agar hubungan mereka semakin dekat.
"eh maaf Mbak... baju dinas untuk petani..?? itu seperti apa..??" tanya Nyonya Humaira Dengan bodohnya. ekspresi yang dikeluarkan pun langsung membuat Ibu nurti tertawa.
"hehehe... Mbak nanti tanyakan saja kepada Mbak Nita, bilang aja mau ganti baju memakai baju dinas petani." jelas ibu nurti kepada Nyonya Humaira. Nyonya Humaira meng-Garut Garut kepalanya. namun ia tidak bertanya lagi, adanya Humaira langsung buru-buru bertemu dengan ibu Nita yang saat ini tengah sibuk di halaman belakang untuk membuat tunggu bersama dengan beberapa warga lainnya.
"Mbak nit. Apakah pekerjaannya masih banyak..??" tanya Nyonya Humaira sambil berjalan mendekat ke arah Ibu Nita.
Ibu Nita yang merasa terpanggil langsung mengalihkan pandangannya ke arah Nyonya Humaira.
"ini sedikit lagi... kenapa Mbak maira..? Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu..??" tanya ibu Nita kepada Nyonya Humaira.
"enggak... cuma mau nanya, itu bahan-bahan untuk masak tinggal jahe, kunyit sama lengkuas yang belum ada. kata Mbak nurti, Mbak sama Mbak nurti akan mengambil bahan-bahan itu di kebun saja. Saya mau ikut Mbak..." ucap Nyonya Humaira kepada Ibu Nita. Ibu Nita pun tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. tapi kalau capek ngomong ya mbak... soalnya kita akan pergi agak jauh dari rumah." ucap Ibu Nita lagi. kemudian ibu Nita memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Nyonya Humaira.
"sebaiknya Mbak maira ganti baju... soalnya di sana nanti kita akan bertemu dengan lumpur dan sebagainya." ucap Ibu Nita kepada Nyonya Humaira. Nyonya humaira langsung menepuk jidatnya.
"iya aku lupa.. kata Mbak nurti, suruh minta pakaian baju dinas petani kepada mbak. baju dinas pertanian itu seperti apa sih Mbak..?? kok aku baru dengar.." tanya Nyonya Humaira kepada Ibu Nita.
Ibu Nita pun langsung menghentikan aktivitasnya dan tersenyum ke arah Nyonya Humaira. kemudian ia berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu...; ayo kita lihat baju dinas untuk kamu kenakan..." ujar Ibu Nita kepada Nyonya Humaira. tanpa banyak tanya lagi, Nyonya Humaira mengikuti langkah Ibu Nita ke sebuah ruangan yang ada di dapur. lebih tepatnya itu adalah kamar, yang digunakan untuk menyimpan beberapa perkakas atau alat-alat dapur yang tidak digunakan. di sana juga tersimpan beberapa baju-baju yang dikenakan ketika akan pergi bertani. di kamar Itu juga seseorang bisa tidur di sana karena, di kamar itu juga telah disediakan kasur.
Ibu Nita langsung mengeluarkan beberapa pakaian lama namun masih bisa dipakai. yang memilih beberapa pakaian yang cocok dikenakan oleh Nyonya Humaira. setelah mendapatkannya, Ibu Nita langsung menyerahkan kepada dunia Humaira dan mengatakan kepadanya untuk berganti pakaian.
"Ini bajunya Mbak. sebaiknya Mbak segera ganti baju saja, karena mungkin kita akan sibuk hari ini." ucap Ibu Nita sambil menyerahkan pakaian itu kepada Nyonya Humaira. Nyonya Humaira yang melihat pakaian itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Iya tahu karena mereka akan pergi ke suatu tempat yang mungkin penuh dengan kotoran. jadi untuk menjaga baju agar tidak kotor, lebih baik mereka mengenakan pakaian lama yang tidak dipakai.
***
sementara di luar, sepertinya acara ini akan diadakan sangat-sangat meriah. terlihat juga, beberapa speaker-speaker besar mulai diangsur dan ditata di depan pentas itu.
mereka semua bergotong-royong mengangkat dan menyusun speaker speaker itu. bahkan mereka sampai mencoba cek sound.
setelah itu, tak lama Nyonya Humaira, Ibu Nita dan ibu nurti telah siap akan pergi ke kebun untuk memanen jahe, kunyit dan juga lengkuas. terlihat, di tangan Ibu Nita juga sudah membawa satu parang yang akan digunakan nanti. di belakang mereka juga, mereka membawa keranjang sebagai tempat untuk jahe dan yang lainnya.
setelah meminta izin kepada para suami, akhirnya kini mereka berjalan menuju kebun jahe, kunyit dan lengkuas. mereka berjalan selama 5 menit untuk menuju perkebunan itu.
sesampainya mereka di sana, Nyonya Humaira dibuat takjub dengan pemandangan itu. terlihat perkebunan mereka benar-benar sangat memanjakan mata, hijau dan sangat sejuk.
"wah Mbak Nita.. ini benar-benar hijau dan sangat sejuk, seumur-umur aku belum pernah merasakan suasana seperti ini." tutur Nyonya Humaira. Ibu Nita dan ibu nurti terkekeh mendengar ucapan Nyonya Humaira.
"Ya sudah kalau begitu. ayo kita bergerak cepat.." ajak Ibu Nita kepada keduanya.
Setelah itu mereka mulai memanen, jahe kunyit dan lengkuas. namun tak hanya itu, mereka juga mengambil beberapa sayuran yang ada di dekat perkebunan kunyit tersebut.
karena di sana, tak hanya jahe kunyit dan lengkuas yang ditanam. di sana juga Ibu Nita dan Pak Juna menanam beberapa sayuran yang mungkin akan mustahil tumbuh tanpa ilmu yang cukup. Mereka belajar dari Nisa Bagaimana cara merawat tanaman-tanaman.
di sebelahnya juga, terdapat perkebunan strawberry yang sangat berbuah lebat. perkebunan itu di tata sedemikian rupa agar matahari tidak langsung menyinari buah itu. bahkan mereka membuat nya seperti memiliki pondok sendiri. jika mungkin tempat ini di kota, mungkin saja ini akan dijadikan tempat wisata.
setelah tanaman strawberry, di sebelahnya juga ada tanaman buah saos yang sangat enak. ternyata buah itu sudah siap panen.
"sebaiknya kita panen saja buah-buahan itu. lagi pula untuk stok stroberi, itu masih banyak di gudang penyimpanan makanan." ujar Ibu Nita.
"Mbak Nita, Apakah perkebunan ini kalian sendiri yang membuat dan merencanakan. sungguh perkebunan ini tertata sangat rapi." puji Nyonya Humaira sambil bertanya.
"bukan. perkebunan ini memang kami yang menanam, namun rancangan atau ilmu kami dapatkan dari Nisa. tanaman sayur-sayuran, dan buah-buahan ini adalah hasil karyanya dia. kami hanya disuruh untuk merawat saja." ucap Ibu Nita merendah diri. tapi memang benar, semua ide itu berasal dari Nisa.
"wah ternyata calon menantuku cukup hebat dalam hal ini ya..." puji Nyonya Humaira lagi. Nyonya Humaira benar-benar tidak menyangka, ternyata jiwa sosialita dan kepeduliannya terhadap lingkungan sangat tinggi. hanya saja Ibu Nita kebingungan Bagaimana cara menjual tanaman sayur-sayuran itu.
setelah cukup memanen semuanya, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman Pak Juna. mereka pulang dengan membawa berbagai macam tanaman. namun tentu saja yang menjadi prioritas tetap diutamakan.
***bersambung***
__ADS_1