HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
80. makanan keramat


__ADS_3

" eh maaf Kenapa Yan..?" tanya Dedi tiba-tiba. Ryan kembali mengerutkan keningnya. benar saja dugaannya bahwa Dedi sedang melamun.


"kamu sedang melamun ded?" tanya Rian lagi mengulang ucapannya. Dedi pun berkilah.


"enggak kok, aku sedang tidak melamun.. memangnya kamu tadi menanyaiku apa..."ucap Dedi lagi.


"Oh kalau begitu nggak apa-apa... Aku pikir kamu sedang melamun tadi.."ucap Ryan lagi. setelah itu Dedi pun kembali duduk dan mulai pikirannya menerawang ke mana-mana. salah satunya Dedi teringat kembali pertemuan singkatnya dengan Nisa. dalam hati ada rasa sesal, Kenapa dia tadi tidak mengajak Nisa mengobrol dengannya.


( ah bodoh... Kenapa tadi aku tidak meminta Nisa untuk ngobrol denganku di suatu tempat... ah benar-benar sial...) batin Dedi sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. tentu saja tingkah laku Dedi tidak lepas dari penglihatan Ryan yang masih terbaring lemah di brankar rumah sakit itu.


"ded sepertinya kamu lelah...? kamu pulang aja gih istirahat..."ucap Ryan kembali membuka suaranya. melihat wajah frustasi yang ditunjukkan oleh Dedi tentu saja Rian tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. jadi alangkah baiknya menyuruh Dedi untuk pulang dan beristirahat. mendengar penuturan sahabatnya itu Dedi tidak menolak, iya tahu dia benar-benar butuh istirahat. dan barangkali di jalan ia dapat bertemu lagi dengan nisa.


"eh ya udah kalau begitu, Tapi nggak papa kan kalau aku tinggal.."ucap Dedi lagi. Iya merasa khawatir meninggalkan Rian sendirian. ya walaupun kedua orang tua Rian sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Nggak papa ded, lagi pula Mama dan papa sedang di perjalanan menuju ke rumah sakit. jadi santai saja tidak perlu khawatir. sebaiknya kamu pulang dan beristirahat saja di rumah."ucap Ryan lagi. Dedi pun menganggukkan kepalanya.


ia segera berberes-beres dan meninggalkan ruangan perawat Ryan dan sekaligus setelah berpamitan dengan Rian. Dedi sepanjang perjalanan menyusuri lorong rumah sakit itu, Iya terus mengedarkan pandangannya berharap ia dapat melihat Nisa di sana. namun Dedi sepertinya kecewa, karena orang yang berusaha ditemuinya tidak bisa ya temukan.


Dedi juga bertanya-tanya ada urusan apa Nisa di rumah sakit ini. namun Dedi tidak langsung berfikir keras mengenai keberadaan Nisa di sini. karena Dedi merasa lelah, dia pun langsung memutuskan untuk segera pulang ke kontrakan.

__ADS_1


***


di sisi lain. Vivi Dinata sudah berada di Indonesia menyusul kakaknya aska dinata. sesampainya di bandara Soekarno Hatta, Iya langsung menghubungi kakaknya Aska.


Tut


"halo Kakak di mana? aku sudah berada di bandara Soekarno Hatta..."ucap Vivi di seberang telepon. sontak saja membuat Aska terkejut. pasalnya Vivi yang tidak berani bepergian jauh sendirian kini nekat bepergian tanpa ada yang mengawasi dan mengawaninya.


"Apa kamu sudah berada di Indonesia..!!! kamu tuh ya... Ya sudah tunggu di sana biar Kakak jemput jangan kemana-mana, ingat jangan kemana-mana tetap di sana..."ulang Aska lagi. Aska pun langsung bersiap-siap untuk menjemput Vivi yang berada di bandara Soekarno Hatta.


Untung saja Aska sudah membeli rumah menetap sementara di negara ini. jadi Aska tidak perlu repot mengenai di mana adiknya akan tinggal. 15 menit perjalanan, akhirnya Aska sampai di bandara Soekarno HattaHatta. Aska melihat sang Adik sedang duduk termenung di ruang tunggu. Aska yang sudah menemukan visi itu pun langsung menemuinya.


"Iya Kak, Vivi minta maaf.. tapi nanti saja Kakak mengomelnya, Aku capek dan ingin segera beristirahat."ucap Vivi lagi kepada Aska. Aska pun seketika langsung luluh dengan ucapan sang adik. Bagaimana tidak, setelah ibunya Aska juga mencintai adiknya dan disusul dengan Nisa, yang mungkin saat ini mustahil untuk menjadi miliknya. namun tentu saja ia tidak akan menyerah. sesulit apapun, ia akan berusaha untuk mendapatkan perempuan itu.


"Ya sudah kalau begitu, ayo pulang.."ajak Aska kepada Vivi sambil mengambil alih koper di tangan sang adik. seketika Mereka pun langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah yang sudah Aska beli. Untung saja, Aska sudah membeli rumah di negara ini. jadi mereka tidak harus capek-capek menyewa rumah sebagai tempat tinggal mereka.


Aska juga sudah membeli mobil untuk alat transportasi nya, supaya, ia tidak haru menyewa jasa ojek online. selama 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman yang baru saja aska beli. mereka pun langsung masuk ke dalam rumah itu.


"kak, ini rumah siapa..? kenapa kita nyelonong masuk kedalam rumah ini.." ucap Vivi sambil mengamati miniatur yang ada di dalam rumah ini. Vivi juga tak berhenti mengagumi keindahan bangunan ini. walaupun ukuran rumah ini tidak sama dengan rumah mereka yang ada di Korea, namun cukup elegan dan menenangkan.

__ADS_1


" ini rumah kakak. kakak, baru membelinya dua Minggu yang lalu.." ucap Aska. Vivi pun seketika melongo. ia berpikir, untuk apa kakak nya bela-belain, membeli rumah di negara ini, bukankan rumah mereka bertebaran di beberapa negara maju..??


"hah..!!! untuk apa kakak membeli rumah lagi. rumah kakak kan sudah banyak, yang ada di luar negeri pun tidak pernah kakak pakai, dan juga tidak pernah mengunjungi nya. lalu, kakak dengan enteng nya membeli rumah lagi..!!??"ucap Vivi memprotes kakaknya. Vivi tidak habis pikir, entah apa yang di pikirakan oleh kakaknya ini.


"sudahlah, tidak usah banyak drama, pekerjaan Kakak Masih banyak." ucap aska lagi. kemudian ia menyeret koper sang adik dan membawanya kesalah satu kamar kosong. kamar itu, walau tidak di tempati, namun kamar itu cukup bersih. hanya tinggal memoles sedikit. sementara, Vivi yang mengekori sang kakak itu, ikut masuk kedalam kamar itu.


"kamu tidur disini. nanti kamu bersihkan saja debu-debu nya. lagi pula tidak terlalu kotor. dan, kalau kamu lapar, kamu bisa makan. dapur nya sebelah sana. kakak masih memiliki banyak pekerjaan." ucap Aska langsung meninggalkan Vivi sendiri di dalam kamar itu. Vivi juga tidak peduli. ia langsung membereskan kamarnya dan menyapu beberapa debu yang menemani di kamarnya Setelah itu, ia juga langsung membereskan barang- barang nya dan menyusun nya di dalam lemari.


''hah.... sangat melelahkan, tapi cukup menyenangkan." ucap Vivi sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. ia sejenak Melihat kearah langit langit kamar dan menutup matanya sejenak. seolah ia sedang menghayati sesuatu. tapi tiba-tiba, perutnya berbunyi tanda minta diisi. reflek, Vivi pun langsung memegang dan memeluk perutnya.


kruuukkk.... bunyi perut Vivi


"aduh... ternyata aku kelaparan..." ucap Vivi. Vivi pun dengan segera pergi menuju dapur sesuai dengan petunjuk dari kakaknya Aska. Vivi berjalan menelusuri rumah tersebut, sambil clingak-clinguk sekalian mencari keberadaan kakaknya.


"kakak kemana ya...?? masak iya bekerja... memangnya disini ia kerja apa..??" ucap Vivi bertanya kepada dirinya sendiri, sambil langkah nya terus terayun menuju dapur. setibanya Vivi di dapur, ia langsung mengarah ke arah kulkas dan membuka nya. ia ingin melihat, apa saja yang ada di lemari pendingin itu. saat Vivi buka, ternyata didalamnya hanya ada beberapa bungkus mie instan dan beberapa butir telur. Vivi pun seketika menarik nafas dalam-dalam.


"makanan keramat ini, dimana-mana, yang ketemu pasti mie dan telor. ngak ada ayam apa, ikan daging sapi..." gerutu Vivi. memang, Vivi merasa bosan dengan makanan itu, bukannya tidak mau. hanya saja, makanan sejuta umat ini juga harus di atur porsi nya.


tanpa menyentuh makanan itu, Vivi langsung berjalan menjauh dari dapur, mencari keberadaan kakaknya. Vivi kembali berjalan, menelusuri lorong rumah itu, walaupun terkesan kecil, namun untuk ukuran menengah kebawa, rumah itu sudah seperti istana.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2