
"papa tadi ada urusan sebentar. jadi papa keluar, Oh iya nak. Apakah besok kamu kuliah..?"tanya Pak Anwar kepada Nisa. Nisa menggelengkan kepalanya dan menjawab.
"besok Nisa tidak ada jadwal kuliah. karena itu besok mungkin Nisa akan menghabiskan waktu di ruangan ini kembali.. memangnya kenapa pah..? papa membutuhkan sesuatu..??"tanya Nisa lagi.
"mmm... papa hanya ingin minta tolong, besok papa akan ke kantor Aditya. jadi papa minta tolong kepada mu nak untuk menjaga Aditya di sini. agar Mama memiliki teman.."ucap Tuan Anwar lagi. sementara nyonya Humaira sudah tertidur di lantai yang beralaskan tikar. sepertinya nyonya Humaira sangat kelelahan menjaga keduanya.
"oh papa tenang saja.. bisa pasti akan menemani Mama untuk menjaga kak Aditya dan Kak Jimmy. lagi pula, kakak-kakak Nisa juga pasti akan ikut membantu menjaga kak Aditya." tutur Nisa lagi. Tuan Anwar pun mengganggu anggukkan kepalanya. tiba-tiba tiga orang pemuda masuk ke dalam ruangan. yaitu, max, leon dan kardo.
"selamat malam om..."Siapa mereka kepada tuan Anwar. Tuan Anwar pun langsung membalas sapaan anak-anak muda itu. ketiganya pun langsung mengambil tempat duduk. sementara max menghampiri Nisa yang masih memeriksa dan mengobati beberapa luka yang ada di dalam tubuh Aditya dan Jimmy.
"Bagaimana kondisi mereka dek..?" tanya max kepada Nisa. akhirnya Nisa selesai mengobati keduanya.
"saat ini kondisi mereka sudah mulai stabil Kak. walaupun begitu kondisi mereka juga tetap harus dipantau." jelas Nisa kepada saudaranya itu. max pun mengganggu anggukan kepalanya.
"Oh iya dek, ini sudah malam. besok juga bapak dan ibu harus kembali pulang ke kampung. jadi bapak sama ibu meminta adik untuk tidur di rumah saja. dan jangan pulang ke kos. nanti Adik pulangnya bersama dengan Bang kardo." ucap max lagi.
"Oh iya. bisa lupa kalau bapak dan ibu sudah 3 minggu di sini. padahal janjinya dulu adalah dua minggu. pasti ibu akan mengomel kepadaku, karena melewatkan waktu kepulangan mereka."ucap Nisa dengan lucu membayangkan ekspresi sang Ibu ketika mengomelinya. melihat ekspresi lucu sang adik max malah terkekeh.
"tenang saja, ibu dan bapak tidak akan memarahimu. sebaiknya kamu langsung siap-siap dan segera kembali pulang sebelum hari semakin larut."ucap max lagi. Nisa pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia langsung bersiap-siap. setelah Nisa selesai bersiap Nisa pun langsung pamit kepada tuan Anwar untuk pulang terlebih dahulu. setelah Nisa dan kardo berpamitan. mereka langsung meninggalkan ruang rawat Aditya dan Jimmy dan pulang menuju rumah yang dibeli oleh Nisa untuk Tuan Juna dan ibu Nita.
***
selepas kepergian kardo dan Nisa. Leon langsung mendekati Tuan Anwar. Begitu juga dengan max.
" Om, Apakah Om sibuk..?? Leon ingin menyampaikan suatu hal mengenai Aditya dan masalah yang terjadi di perusahaannya." ucap Leon kepada tuan Anwar. sejenak Tuan Anwar terpaku, iya berpikir bagaimana dan apa yang ingin mereka sampaikan.
"tidak, Om tidak lelah dan juga tidak sibuk. apa yang ingin kalian sampaikan nak.. sepertinya dari raut wajahmu ini adalah masalah serius..." ucap Tuan Anwar menembak expresi yang ditunjukkan oleh Leon.
__ADS_1
"jadi begini Om. tadi kami sedang membantu penyelidikan mengenai kecelakaan Aditya. Namun kami tidak sengaja mendapatkan informasi mengenai perusahaan Aditya, bahwasanya di perusahaannya kini sedang terjadi perebutan posisi CEO di perusahaan itu. untuk lebih jelasnya Siapa yang melakukan hal tersebut, Leon dan Kak max tidak tahu. jadi Leon hanya ingin menyampaikan kepada Om untuk segera mengatasi perusahaan Aditya yang saat ini sedang kosong dari kepemimpinan."ujar Leon kembali. Tuan Anwar memang sudah tahu informasi tersebut, namun Tuan Anwar masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka bisa dan mendapatkan informasi tentang Aditya sedetail mungkin. namun Tuan Anwar tidak mempermasalahkannya, menurutnya lebih banyak orang yang membantu menyelidiki kasus ini itu lebih baik.
Di tempat lain Nisa telah sampai di rumah kedua orang tuanya. di dalam rumah terlihat kedua paruh baya itu masih setia dalam posisi duduknya yaitu sedang menonton serial sinetron yang ditayangkan alat elektronik itu.
"assalamualaikum..." ucap Nisa mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah. kedua paruh baya itu pun langsung menjawab salam dari Nisa.
"waalaikumsalam..."jawab mereka secara bersamaan. Pak Juna dan Bu Nita pun melihat kehadiran Nisa dan Putra angkat mereka kardo. Nisa mendekat ke arah kedua paruh baya itu dan menyalim tangan mereka. di ikuti oleh kardo.
" kalian sudah pulang nak. bagaimana dengan kondisi Aditya dan Jimmy..?? apakah sudah ada perkembangan..??"tanya ibu Nita kepada adik kakak itu. cardo dan Nisa pun mendudukkan tubuhnya di dekat kedua orang tua paruh baya itu.
"belum ada tanda-tanda akan siuman. tapi untuk kondisinya sudah agak lebih baik bu."ucap bisa menjawab pertanyaan kedua orang tuanya. kedua orang tua Nisa pun hanya menatap prihatin, mereka hanya bisa membantu dengan doa tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Oh iya, besok bapak dan Ibu akan berangkat ya.. nanti bapak sama ibu singgah di rumah Nisa dulu ya. soalnya rumah Nisa kata Mbak nur, dua hari yang lalu terjadi perampokan di sekitar rumah. Nisa cuma minta tolong sama bapak dan ibu untuk melihat kondisi rumah Nisa di sana."ucap Nisa kepada kedua orang tuanya. mendengar penuturan desa yang mengatakan di sekitar tempat itu terjadi perampokan, kedua paruh baya itu pun langsung terkejut.
" apa...!! Dari mana kamu tahu nak..?? Apakah perampokan itu mendapatkan korban.??"tanya Pak Juna lagi. Nisa pun menggeleng.
"Nisa kurang tahu Pak, Nisa cuma mendengar kabar dari Mbak nur mengenai perampokan saja. selebihnya belum ada kabar bahwa ada korban dari aksi perampokan itu."ucap Nisa lagi.
****
ke esok harinya.
Nisa dan cardo pun langsung mengantarkan kedua paruh baya itu di halte bis. Di mana mereka akan kembali ke kampung halaman mereka.
sebelum mereka berangkat ke halte, terlebih dahulu mereka menemui Tuan Albert di rumahnya yang berjarak tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
"permisi assalamualaikum.."Ucap pak Juna. ucapan salam Pak Juna langsung direspon oleh pemilik rumah. ternyata tuan Albert, Jack dan Arthur masih berada di dalam rumah. biasanya jam segini Tuan Albert akan dipaksa oleh kedua anak angkatnya yang menemaninya untuk berolahraga. Begitu juga dengan Pak Juna, semasa mereka di sini. Pak Juna setiap pagi akan pergi berolahraga bersama putra-putra angkatnya itu. dan yang bikin asik adalah, pak Juna sama sekali tidak merasa risih dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Pak Juna juga menganggap anak-anaknya ini sebagai sahabatnya. di mana Pak Juna akan bertukar pikiran kepada anak-anaknya ini.
" eh Pak Juna.. silakan masuk Pak.." ucap Tuan Albert melihat kedatangan Pak Juna. Pak Juna pun tersenyum melihat keramahan Tuan Albert yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.
"tidak perlu mas. saya ke sini hanya untuk pamit, hari ini kami akan pulang kampung. nanti kapan-kapan mas dan anak-anak datanglah bermain di kampung. tidak perlu khawatir kalau tidak memiliki tempat tinggal, Nisa sudah membangun rumah yang besar dan mampu menampung kita semua."Ucap pak Juna kepada tuan Albert. Raut wajah Tuan Albert pun mendadak menjadi sayu. Jujur saja, Tuan Albert bener-bener sudah sangat nyaman kepada Pak Juna. Tuan Albert juga sudah menganggap Pak Juna sebagai adiknya disatukan oleh anak mereka.
" hai kenapa kalian harus pulang kampung, Kenapa tidak menetap di sini saja. kalau kalian pulang mas tidak ada lagi teman mengobrol di rumah. apalagi anak-anak semuanya sudah pada sibuk." ucap Tuan Albert. Pak Juna pun tersenyum.
"kalau begitu mas datanglah ke desa jati saja. habiskan masa tua mas di sana. di sana juga banyak tanah-tanah yang bisa beli menganggur dan tidak diolah."Ucap pak Juna kepada tuan Albert. sejenak Tuan Albert berpikir. alangkah baiknya menghabiskan masa tua di tempat itu. ketimbang di sini ia tidak tahu harus melakukan apa, apalagi anak-anaknya sudah memiliki kesibukan masing-masing.
"ah boleh juga tuh.. nanti aku diskusikan dulu kepada Nisa.. kalau begitu kalian berhati-hatilah, kalau sudah nyampe kampung jangan lupa hubungi kami."ucapkan Albert menepuk pelan bahu pak Juna. setelah Tuan Albert mengatakan hal itu. Pak Juna pun langsung kembali masuk ke mobil. saat Tuan Albert keluar Untuk mengantarkan kepergian Pak Juna dan ibu Nita, Nisa yang melihat ayahnya pun langsung menongolkan kepalanya dari balik kaca mobil.
"Ayah Nisa pergi antar bapak sama Ibu dulu di halte ya... nanti nisa kembali lagi. Ayah mau titip apa untuk sarapan...'ucap Nisa di dalam mobil. Iya sedikit berteriak agar Tuan Albert mendengarnya. Tuan Albert yang melihat sang anak pun tersenyum. segeralah Tuan Albert langsung memesan sarapannya yaitu lontong dan mie soto.
entah kenapa, Tuan Albert sangat ketagihan terhadap dua makanan itu. namun bukan berarti Tuan Albert benar-benar tidak menginginkan makanan apapun lagi. justru semua makanan yang ada di negara ini adalah makanan favoritnya. setelah mengucapkan pesanannya kepada Nisa, mobil itu pun langsung bergerak meninggalkan pekarangan rumah tersebut. melihat mobil itu meninggalkan pekarangan rumah itu, Tuan Albert hanya mampu melambaikan tangannya dan meneteskan air matanya.
***
di dalam mobil. Pak Juna mengobrol kepada putrinya. ia mengatakan mengenai Tuan Albert yang kesepian berada di sini.
"Oh ya nak, ayahmu sangat kasihan berada di sini. sebaiknya kamu usulkan kepada ayahmu untuk menghabiskan waktu di desa. apalagi di usia yang sudah rentan seperti itu harus banyak-banyak menghirup udara segar. jika ayahmu tidak mau tinggal di rumah bersama bapak dan Ibu, karena alasan takut merepotkan. maka buatkan saja ayahmu rumah, di depan rumah kita. lagi pula tanah di depan sangat luas."ujar Pak Juna menyampaikan keinginan hatinya kepada sang anak.
Nisa yang mendengar penuturan Pak Juna itu pun diam sejenak. Ia juga memikirkan kondisi sang ayah, apalagi keberadaan mereka di sini tidak membuat atau tidak bisa menemani ayah mereka. pasti Tuan Albert akan merasa kebosanan karena tidak memiliki teman untuk bersosialisasi. sementara, jika Tuan Albert berada di desa jati bersama dengan kedua orang tua kandung Nisa, maka di sana Tuan Albert tidak sendiri. Tuan Albert bisa dengan mudah bersosialisasi dengan masyarakat setempat.
"Iya pak nanti Nisa urus, bapak tenang saja.. mau tidak mau Ayah pasti akan tinggal di sana..." ujar Nisa lagi.
mobil yang mereka tumpangi pun terus melaju membela jalan di kota x ini. selama 15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah halte antar desa maupun kota.
__ADS_1
saat mereka tiba. Pak Juna dan ibu Nita pun langsung menaiki bis yang tujuannya di kota kecil di daerah mereka.
***bersambung***