HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA

HIDUP UNTUK YANG KEDUA KALINYA
102. laporan


__ADS_3

sepeninggalan Aditya dan Jimmy, tinggallah di sana, Dedi dan sahabatnya Rian yang masih mematung melihat kepergian beberapa orang ini. pikiran Dedi mulai bercabang dan berkecamuk. Siapa Mereka pikir Dedi. Kenapa sepertinya semakin banyak saja laki-laki yang mendekati Nisa.


( siapa kedua laki-laki itu, kenapa rasanya sekarang semakin banyak saingan. kalau begini caranya, peluang ku untuk mendapatkan Nisa kembali semakin kecil. ah.. aku harus bergerak lebih cepat..) batin Dedi. Ryan yang masih setia menunggu Dedi pun langsung menepuk pundak Dedi.


"sudah, ayo kita selesaikan urusan kita, nanti saja kamu pikirkan perempuan itu. sepertinya Ia memiliki banyak pawang. tapi aku penasaran, Dari mana kamu mengenal gadis cantik itu.??" tanya Rian kepada Dedi. Dedi pun mengarahkan pandangannya ke pada sahabatnya. Dedi tidak menanggapi pertanyaan Ryan. Iya tidak ingin menceritakan apapun kepada Ryan siapa Nisa sebenarnya.


"ah sudahlah, Aku tidak ingin menjelaskannya kepadamu. ayo kita pergi.." ucap Dedi. seketika itu mereka berdua juga langsung meninggalkan Ramayana tersebut dan melanjutkan pekerjaan mereka.


***


didalam mobil, ketiga orang tersebut hanya diam dan hanya ada keheningan diantara mereka. tak ada satupun yang memulai obrolan. masing-masing dari mereka sepertinya tenggelam dalam pikiran nya sendiri. tapi, tiba-tiba Jack memecahkan keheningan.


"dek, bagaimana hubungan mu dengan Aditya, seperti, walaupun si ogeb itu hilang ingatan, namun, sikap posesifnya nya Masih terlihat." ucap Jack kepada adiknya. Nisa hanya tersenyum mendengar penuturan kakaknya itu.


"jujur saja, kakak masih sakit hati pada nya. kakak harap, jaga jarak dulu sama si ogeb itu." timpal Leon. lagi-lagi Nisa hanya bisa tersenyum.


"aduh kak, jangan panggil Kak Satya dengan sebutan ogeb lagi. nanti orangnya bener-bener jadi ogeb bagaimana..??" canda Nisa kepada kedua kakaknya. Leon dan Jack pun tersenyum simpul.


"biarkan saja, Kakak senang kalau dia benar-benar jadi Ogeb. biar rasanya tidak tanggung-tanggung kehilangan ingatan."ucap Leon lagi.


"hais anak ini, jangan dendam..."kali ini jack yang bergurau kepada Leon. Mereka pun sama-sama tertawa, sepertinya mereka sangat menikmati memberikan sedikit gunjingan kepada Aditya. sementara Aditya yang sudah kembali ke kantornya, tak henti-hentinya iya bersin.


"haccih... haccih... aduh kenapa tiba-tiba jadi flu begini." ucap Aditya sambil menggosok-gosok hidungnya dengan kasar. Iya kemudian duduk dan mengambil beberapa laporan yang terletak di meja kerjanya.


"haccih haccih..." bersinnya lagi. asisten Jimmy yang mendengar Aditya tak henti-hentinya bersin pun masuk ke dalam ruangan Aditya.


"Kenapa bos, bos flu.. mau dibelikan obat flu atau ke rumah sakit saja." ujar asisten Jimmy menawarkan pilihan.

__ADS_1


"tidak tidak, aku tidak apa-apa Jim." ucap Aditya menolak tawaran Jimmy.


ini adalah pertama kalinya Aditya dan Jimmy masuk ke kantor setelah insiden kecelakaan itu. bahkan sampai sekarang, Tuan Anwar masih berusaha untuk mencari dan menemukan akar permasalahan kecelakaan Aditya dan Jimmy. Tuan Anwar tidak sendiri menyelidiki kasus ini, namun asisten Jimmy juga ikut turun tangan menyelidiki kasus ini.


"Jim, minta tolong panggilkan asisten Arfan kemari." ucap Aditya kepada asisten Jimmy.


"baik bos tunggu sebentar.." ucap asisten Jimmy. asisten Jimmy pun langsung berlalu keluar dari ruangan sang atasan. ia pergi menemui asisten Arfan yang saat ini tengah berada di seberang ruangan Aditya.


tok tok tok


"masuk..." terdengar suara dari dalam. asisten Jimmy pun langsung masuk ke dalam ruangan asisten Arfan. Arfan yang menyadari orang masuk ke dalam ruangannya langsung mengangkat kepalanya yang saat ini tengah beralih kepada beberapa dokumen yang berserakan di meja kerjanya. asisten Arfan langsung terkejut melihat kedatangan asisten Jimmy, pasalnya asisten Arfan tidak menerima kabar kedatangan Jimmy maupun Aditya.


"eh asisten Jimmy.. maaf tuan Apakah ada yang bisa saya bantu..' ucap asisten Arfan tiba-tiba. walaupun Arfan juga merupakan seorang sekretaris untuk Aditya, tapi tingkatannya masih lebih tinggi Jimmy.


"segera ke ruangan Tuan Aditya.." ucap asisten Jimmy. Arfan mengerutkan keningnya, Apakah asisten gini repot-repot datang menemuinya hanya untuk menyuruhnya bertemu dengan sang atasan, sementara ia bisa menggunakan panggilan melalui telepon dari ruangan asistens itu.


"Baiklah Tuan Jimmy." ucap asisten Arfan dengan hormat.


"Oh iya, jangan lupa membawa beberapa berkas semenjak saya dan bos tidak datang ke kantor. bawa semuanya tanpa terkecuali." ucap asisten Jimmy sebelum meninggalkan ruangan asisten Arfan.


"baik Tuan akan segera saya laksanakan." setelah itu asisten Jimmy pun langsung meninggalkan asisten Arfan di meja kerjanya. sepeninggalan asisten Jimmy, asisten Arfan pun langsung melaksanakan apa yang telah diperintahkan kepadanya.


Iya menyiapkan beberapa berkas yang dibutuhkan oleh atasannya, tak lupa dengan laporan-laporan saat Leon memimpin sementara perusahaan Aditya. setelah asisten Arfan merasa semuanya telah terkumpul, Ia pun langsung bergegas menuju ruangan sang atasan.


tok tok tok


"masuk.." terdengar suara mempersilahkan asisten Arfan masuk ke dalam ruangan. tanpa ragu asisten Arfan pun langsung memutar knop pintu ruangan Alexander dan langsung masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"maaf tuan, ini ada beberapa laporan yang tuan butuhkan semasa tuan tidak masuk."ucap asisten Arfan sambil menyodorkan beberapa laporan kepada Aditya. Aditya pun langsung menyambut baik laporan yang diserahkan oleh asisten Arfan.


Aditya langsung membuka laporan tersebut, ternyata di dalam laporan semua kegiatan pengeluaran dan pemasukan perusahaan sudah tertata rapi di sana. tak hanya pengeluaran dan keuntungan, Di sana juga ada beberapa bukti terlampir adanya orang-orang yang menghianati perusahaannya. bahkan namanya tertera jelas di sana serta apa yang ia lakukan sehingga perusahaan mengalami kerugian. terakhir di sana, Aditya juga melihat tanda tangan dari pemegang perusahaan sementara yang dipercaya oleh Tuan Anwar. Aditya yang membaca semua laporan tersebut mengerutkan keningnya. Iya kemudian mendongkakkan wajahnya dan melihat ke arah asisten Arfan.


"Apa yang terjadi selama kami tidak ada di perusahaan. lalu Apakah kamu bisa menjelaskan mengenai semua laporan-laporan ini...??" tanya Aditya kepada asisten Arfan.


asisten Arfan pun langsung menjelaskan kepada Aditya apa yang dialami oleh perusahaannya semasa Aditya dan asisten Jimmy tidak berada di perusahaan. asisten Arfan juga menceritakan Bagaimana Tuan Anwar yang mempercayakan perusahaan kepada Leon. bahkan saat perusahaan berada dalam tambuk kepemimpinannya, Leon benar-benar menyelidiki semua karyawan dan beberapa direksi serta pemegang saham yang tergabung dalam perusahaannya.


bahkan Leon tak segan-segan mengancam para penghianat penghianat yang bertebaran di kantor Aditya. sampai akhirnya Leon melepaskan kepemimpinannya dengan tiba-tiba. asisten Arfan bercerita tanpa mengurangi atau menambah dari kisah nyata itu. Aditya dan asisten Jimmy yang mendengarkan cerita Arfan langsung ternganga tak percaya.


ternyata yang membantu menjalankan perusahaan semasa mereka dalam kondisi kritis adalah keluarga dari Nisa. dan dengan tidak tahu terima kasihnya Aditya waktu itu, dengan gamblangnya ia menuduh Nisa berbagai macam tuduhan. dan pantas saja Leon merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan Aditya. Aditya menggelengkan kepalanya tak percaya, jika Iya boleh jujur. Iya benar-benar menyesal telah melakukan hal itu, tapi untungnya Nisa adalah gadis yang baik dan berhati lembut, dengan senang hati Nisa memberikannya kesempatan untuk menjalin hubungan dengannya walaupun tanpa ingatan asmara mereka.


"Baiklah Arfan, terima kasih banyak sudah ikut andil menjalankan perusahaan walaupun tanpa ada kami di sini. sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu kembali. nanti jika memerlukan sesuatu aku akan meminta bantuanmu." ucap Aditya dengan lemah. Aditya merasa sesuatu dalam hatinya yang membuatnya tidak bertenaga setelah mendapatkan fakta yang sebenarnya tentang Leon. mungkin karena ia merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan tempo lalu.


"Ya sudah kalau begitu tuan, Saya permisi dulu." ucap asisten Arfan. setelah itu asisten Arfan langsung meninggalkan ruang kerja Aditya dan kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


sementara di meja Aditya, saat ini Aditya sedang menyandarkan kepalanya di senderan kursi, sesekali ia menarik nafas dengan gusar. Aditya juga memijit-mijit pelipisnya yang tiba-tiba merasa sakit itu.


asisten Jimmy yang paham mengenai kondisi bosnya sekarang, langsung memberikan sedikit ayoman kepada sang atasan.


"sudahlah bos, jangan terlalu dipikirkan. yang pasti semua prasangka bos terhadap Nisa dan saudara-saudaranya itu salah. sekarang bos hanya perlu melanjutkan apa yang telah dikerjakan oleh Tuan Leon, dan juga memperbaiki hubungan bos dengan keluarga itu. aku rasa mereka tidak terlalu membenci bos, hanya saja memang mereka masih kecewa terhadap bos. Jadi jangan terlalu berkecil hati." ucap asisten Jimmy. terdengar helaan nafas berat dari Aditya.


setelah mendengar Jimmy memberikan sedikit ayoman kepadanya, Aditya langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah balkon ruangannya yang ditutup dengan kaca. Aditya mengarahkan pandangannya ke depan menyapu semua gedung-gedung megah yang berdiri tegak di kota itu.


"kenapa aku sampai kehilangan akal dan pikiranku juga. seharusnya aku tak melakukan hal seperti itu kepada mereka. hais !! ini benar-benar sangat memalukan Jim." tutur Aditya. Jimmy pun hanya mampu tersenyum menanggapi keluhan atasannya itu.


(makanya bos, jangan sok kegantengan muluk... sekarang begini adanya kan,..!! Tapi nggak papa lah, tau rasa dikit bos..) batin asisten Jimmy.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2