
...🌸 Happy reading 🌸...
Saat ini tiga hari telah berlalu dari hari pemakaman Ayu. Selama itu pula Bimo dengan setia menemani Inem, bahkan dia rela tidak pergi ke kampus selama itu. Begitu juga dengan Selly dan Arjun. Mereka berdua masih saja stay dirumah Inem, namun tidak dengan Angga. Dia kembali ke Jakarta terlebih dahulu karena urusan pekerjaan.
Para pelayat masih saja datang silih berganti. Dari pagi sampai malam rumah tak hentinya kedatangan tamu.
"Sudah malam, aku pulang dulu ya! Kamu istirahatlah! Jangan tidur terlalu larut. Jaga kesehatanmu!" Pamit Bimo.
"Iya,,, hati - hati dijalan ya! Kamu juga, nanti sesampainya dirumah langsung istirahat!"
"Iya sayangku,,, aku pulang ya! emuach,,,"
Kecupan ringan dari Bimo mendarat di kening Inem. Lalu lelaki itupun pergi berlalu.
Inem memandang kepergian Bimo. Sesaat Inem merasa tenang dan bahagia atas perlakuan Bimo barusan. Namun kalau diingat pernikahannya dengan Arjun, Inem kembali murung.
"Inem sayang,,, kemarilah mami mau bicara sama kamu." Panggil Selly.
Inem pun datang menghampiri Selly yang tengah duduk sendirian di kursi yang tertata rapi tak jauh dari tempat Inem berdiri.
"Ada apa tante?" Inem duduk disebelah Selly.
"Haishh,,, kamu ini. Sekarang ini kan kamu sudah menjadi istri Arjun, jadi jangan panggil tante lagi dong. Panggil mami ya!" Pinta Selly.
"Oh ya,,, istri. Inilah statusku saat ini. Walaupun kami menikah hanya secara agama. Namun pernikahan itu sah dan inilah aku yang sekarang. Aku adalah seorang istri." Batin Inem.
"Hei,,, kok malah melamun sih?"
"Eh iya tan maaf,,, ooops mami."
"Hmmm ya sudah mungkin kamu memang lagi lelah. Istirahatlah besok kita akan balik ke Jakarta." Ucap Selly.
__ADS_1
"Hah apa tan? Eh maaf mami. Apa maksudnya dengan kita? " Tanya Inem.
"Kamu kan sudah menikah dengan Arjun, jadi otomatis kamu harus ikut pulang dengan kami. Maaf ya kalau kami tidak bisa lama - lama disini. Arjun harus kembali ke perusahaan jadi kita harus segera pulang." Jelas Selly.
"Tapi mam,,, aku mau disini."
"Mana bisa begitu, kamu kan sekarang jadi tanggung jawab kami, jadi kamu harus ikut."
"Trus bagaimana dengan yang disini mam? kuliahku juga."
"Yang disini serahkan saja semua sama mbok Nah. Untuk kuliahmu, kamu kan bisa kuliah disana. Biar nanti Arjun yang urus semua." Kata Selly.
Inem terdiam membisu. Ingin rasanya dia membantah, tapi apakah daya. Dengan statusnya yang sekarang ini membuat dia tak bisa berbuat apa - apa.
"Ya sudah,,, pergilah kekamar dan Beristirahatlah. Oh ya,,, sebaiknya kamu jaga sikap dengan Bimo. Ingat,,, kamu bukan lagi gadis singgel. Alangkah baiknya kalau kamu mengatakan hal ini kepadanya." Selly menepuk pelan pundak Inem dan lalu pergi.
"Huuuh,,, mengatakannya?. Apakah aku bisa?" Ucap Inem dalam batinnya.
Ucap mbok Nah yang baru saja datang dan lalu duduk disamping Inem.
"Tapi mbok, aku takut,,, aku bingung bagaimana caranya ngomong ke Bimo. Ini pasti akan menyakitinya."
"Lebih baik tahu sedari sekarang daripada tahu dikemudian hari non. Itu akan lebih menyakitkan bagi den Bimo."
"Entahlah mbok, aku bingung, aku nggak tahu harus bersikap bagaimana. "
"Yang sabar ya non. Non Inem harus bisa. "
"Iya mbok makasih ya atas nasehatnya! Aku mau kekamar dulu ya mbok. Aku ingin istirahat. "
Berat rasanya kaki Inem untuk melangkah. Hatinya kembali galau meratapi nasib yang tak terduga ini. Disisi lain hatinya masih mengharapkan kebahagiaan bersama cinta pertamanya. Namun apakah itu mungkin? karna kebenarannya sekarang ini dia sudah terikat dengan seseorang yang baru saja dikenalnya.
__ADS_1
Ceklek,,,,
Pintu kamar terbuka pelan dari atau luar. Nampak didalam ada seorang laki - laki sedang berbaring diatas tempat tidurnya. Memakai bantal dan juga gulingnya.
"Hei apa yang kamu lakukan disini? " Tanya Inem.
Arjun tak bergeming, dia malah semakin erat memeluk guling.
"Arjun bangun!"
"Aku capek, biarkan aku tidur! " Jawab Arjun tanpa membuka matanya.
"Kalau mau tidur diluar aja. Kenapa kamu malah tidur disini? " Inem menarik paksa guling dari pelukan Arjun sehingga membuat Arjun terpaksa membuka matanya.
"Haishh,,,, sudah beberapa hari ini aku tidur di sofa depan. Rasanya sungguh tidak nyaman. Aku nggak mau lagi."
"Kalau kamu tidur disini, terus aku tidur dimana? "
"Tidur aja diluar! "
"Enak aja, ini kan kamar aku masa aku tidur diluar."
"Kalau kamu nggak mau tidur diluar, ya sudah sih tidur aja barengan. Tinggal tidur doang ribet amat. "
Arjun kembali memejamkan kedua matanya.
"WHAT,,, tidur bareng? Oh NO,,,,,!!! Ogah banget tidur sama kamu, ntar kamu malah macem - macem sama aku. Mending aku tidur di luar aja deh. " Inem melempar guling yang direbutnya tadi tepat ke arah Arjun.
"Terserah! " Jawab Arjun singkat.
Akhirnya Inem melenggang kearah pintu sambil menggerutu. Arjun melirik sekilas dan lalu melanjutkan tidurnya tanpa menghiraukan Inem yang sedang kesal karenanya.
__ADS_1
...🌸Bersambung 🌸...