
...🌸 Happy reading 🌸...
"Buahaha kamu tuh lucu banget." Vian terbahak melihat mimik Inem yang sekarang ini yang menurutnya lucu.
"Diiihhh orang marah mana ada lucunya sih? Ngaco aja kamu!"
"Eh beneran lucu lho,,, manyunnya itu lho yang bikin lucu." Jelas Vian sambil memeragakan bibir monyong Inem.
"Apaan sih... !" Inem menepuk pelan lengan Vian.
"Ciaah berani ya main tangan."
"Abisnya kamu gitu sih. Ngeledekin mulu."
"Wkwkwkwk,,, iya deh iya,,,, ! Oh ya,,, nama kamu itu kan bagus ya,,, trus napa kok jadinya dipanggil Inem sih? Kok aku jadinya teringat sama judul film jadul itu."
"Kamu nanya?" Tanya Inem.
Vian mengangguk.
"Kamu bertanya - tanya?" Ucap Inem lagi?
"Yassalam,,, ngebales nih ceritanya?" Ucap Vian sembari menghela nafas dan Inem pun tertawa.
"Ini aku tanya serius lho!" Ucap Vian lagi.
"Iya,,, iya,,,. Awalnya emang bukan Inem, cuman pas waktu SMP tuh ada temen yang nyeletuk manggil Inem. Mungkin juga dia terinspirasi sama judul film itu, jadinya keterusan deh sampe sekarang." Jelas Inem.
"Dan kamu nggak nolak dipanggil gitu?" Tanya Vian.
"Mulanya sih iya,,, tapi ya percuma aja. Ya udah ikutin alur aja. Pas aku cerita sama bunda juga bunda malah ikutan kebawa."
"Lhah bundamu malah ikutan? Kok aneh ya." Vian memasang wajah heran.
"Nggak langsung ikutan juga kali. Karna kebiasaan juga soalnya tuh orang sering banget main kerumah dan jadi teman dekatku pula jadinya bunda ngikut deh."
"Trus nama panggilan awal kamu siapa?" Tanya Vian lagi.
__ADS_1
"Seli,,, dari Shali dijadiin Seli ma bunda."
"Eh kok sama kek panggilan mami."
"Hmmm oh ya,,,, " Tiba - tiba teringat sesuatu.
"Kata bunda dulu,,, Inem dipanggil Seli itu karna bunda ingin mengenang sahabat baiknya. Dia sayang banget sama sahabatnya itu. Katanya lagi,,, bunda dah anggap dia itu sodaranya. Hmmm apa mungkin yang dimaksud bunda itu mami ya?" Inem pun mulai mengait - ngaitkan Mertuanya dengan ucapan ibunya.
"Bisa jadi sih kalo gitu. Kan emang mami bersahabat dengan bundamu."
Tak terasa sudah keduanya pun bercengkrama lama dan hidangan yang mereka pesan pun sudah ludes tak tersisa. Setelah melakukan pembayaran keduanya lantas kembali ke rumah sakit tak lupa membawa pesanan Angga.
Sesampainya didepan ruangan Selly, terlihat Arjun yang sedang duduk dikursi yang tersedia disana. Nampak sekali penampilan Arjun yang sangat kacau. Kemeja yang biasanya selalu dimasukkan kedalam celana sekarang dah keluar semua. Jasnya pun tergeletak begitu saja di kursi sebelah dan rambutnya yang berantakan semakin menunjukkan bahwa saat ini dia memang sedang tidak baik - baik saja.
Arjun duduk termenung menunduk sambil memegang sebatang rokok yang menyala. Melihat kondisi Arjun seperti ini membuat Inem bertanya dalam hatinya. Apa yang terjadi padanya saat ini? Karna pasalnya ini baru pertama kalinya Inem melihat penampilan Arjun yang semrawut begini.
"Kamu masuklah dulu dan jangan lupa suruh papi makan ya!" Ucap Inem kepada Vian dan memberikan sekantung plastik kresek yang berisikan makanan dan minuman pesanan Angga.
Vian pun menerima pemberian Inem dan lalu berjalan melewati Arjun begitu saja tanpa menoleh ataupun menyapa. Begitu juga dengan Arjun yang tak menghirauian adiknya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?" Tanya Inem.
Arjun tak menjawab pertanyaan Inem. Dia masih tetap pada posisinya semula. Tak ada suara dan tak juga ada pergerakan.
Setelah beberapa saat, pintu yang tadinya tertutup rapat kini perlahan terbuka. Sontak kedua insan yang sedang duduk pun melemparkan pandangannya kearah pintu. Dari balik pintu, ada Vian yang hanya menunjukkan sebagian badannya dan memberitahukan bahwa ibunya sudah siuman.
Arjun langsung mematikan rokoknya dan lalu bergegas masuk diikuti Inem yang berjalan dibelakangnya dan benar saja,,, Selly sudah membuka matanya namun saat dia melihat Anak sulung dan menantunya itu, Selly membuang muka tak menatap kedua orang yang kini berada di dekat tempat tidurnya.
Arjun mendekati Selly dan berusaha menggenggam tangan Selly, namun Selly menarik tangannya sehingga Arjun tak berhasil meraihnya.
"Mami kenapa? Mana yang terasa sakit mam?" Tanya Arjun.
Pertanyaan Arjun tak ditanggapi oleh Selly, dia malah mengusir Arjun dan juga Inem dari hadapannya. Selly tak ingin melihat kedua orang itu.
"Kenapa aku harus pergi mam? Apa salahku?" Tanya Arjun.
"Apa kamu bilang? Apa salahmu? Jadi kamu belum menyadari kesalahanmu?"
__ADS_1
"Emang Arjun salah apa sih mam? Apa ini gara - gara tadi pagi?"
"Sudahlah kalian berdua nggak usah peduliin mami. Kalian pergi saja dari sini! Anggap aja mami nggak ada. "
"Mami ini ngomong apa sih? Bagaimana mungkin Arjun bisa nggak peduli sama mami?"
"Kalau kalian peduli sama mami kalian pasti nggak akan melakukan hal ini, tapi apa nyatanya? Mami sangat kecewa,,, kalian udah sakitin mami. Sudahlah kalian keluar sekarang!"
Awalnya Arjun dan Inem bersikeras tetap berada di dalam ruangan tersebut. Namun Angga menggandeng keduannya keluar.
"Kalian keluarlah,,, biar mami tenang dulu!" Kata Angga.
Bersamaan keluarnya Inem dan Arjun, masuklah dokter dan perawat yang sebelumnya memang dikabari Angga atas sadarnya Selly. Lama sekali dokter itu berada di dalam ruangan. Entah apa yang terjadi di dalam Arjun dan Inem tak tahu karna tak terdengar suara apapun dari sana dan setelah lama menunggu akhirnya pintu pun terbuka dan keluarlah dokter beserta perawatnya itu. Arjun bergegas menghadang laju langkah sang dokter guna menanyakan kondisi ibunya.
"Bagaimana kondisi mami dok?"
Dokter terdiam sejenak, dia menghela nafas dan menatap Arjun yang kini tengah memasang wajah penuh dengan kecemasan.
"Katakan padaku apa yang terjadi?" Tanya Arjun lagi.
"Mami kamu kena serangan jantung." Jawab dokter.
"Serangan jantung?,,, Nggak mungkin,,, mami nggak punya riwayat penyakit itu. Selama ini mami sehat - sehat saja."
"Sebenarnya saya nggak diperbolehkan untuk membicarakan hal ini. Berhubung kamu nggak percaya ya baiklah saya akan jelaskan. Mami kamu sebenernya sudah lama mengidap penyakit jantung. Dia sering kali chek up disini dan selama saya pantau baru kali ini serangannya separah ini." Jelas dokter.
"Serangan jantung?" Guman Inem dalam hati.
Mendengar penjelasan dari dokter,
tiba - tiba tubuh Inem terasa gemetar dan kedua kakinya lemas serasa tak ada tulang yang menyangga nya. Seketika tubuh Inem pun terhuyung kebelakang dan terduduk tak berdaya. Inem menangis sesegukkan mengingat mendiang ibunya dan tak ingin ibu mertuanya itu senasib dengan almarhumah Ayu.
Dokter yang melihat keadaan Inem lantas bergegas menghampiri Inem dan menanyakan apakah Inem dalam keadaan baik? Sedang Inem hanya menganggukkan kepala. Tapi sang dokter tak percaya begitu saja karna dilihatnya Inem mengeluarkan keringat yang tak lazim. Dokter pun lantas memeriksa denyut nadi Inem dan benar saja bahwa kondisi Inem saat ini sangatlah lemah dan menyuruhnya untuk banyak - banyak beristirahat.
Dokter juga menyarankan Arjun untuk tidak berbuat hal - hal yang bisa memicu serangan jantung pada Selly.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1