Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 68


__ADS_3

...🌸 Happy reading 🌸...


"Heh kodok buluk,,,, bagaimanapun juga dia tuh istri ku. Jadi kamu nggak ada hak panggil dia begitu!" Suara Arjun meninggi, dia berdiri dan juga menggebrak meja makan hingga suaranya membuat orang yang ada disana terkejut.


Tak tahan dengan sikap Arjun, Inem lantas berdiri sambil membawa piring makannya dan juga gelas minumnya.


"Mau kemana yank?" Tanya Bimo yang menyadari Inem hendak beranjak dari tempatnya duduk.


"Minggat,,, wegah aku ngrungokke wong do tukaran koyok ra nduwe gawean wae." Inem pun berlalu menuju ruang keluarga dan melanjutkan makannya disana.


( Minggat,,, males aku dengerin orang pada bertengkar kayak nggak punya kerjaan aja. )


Kepergian Inem disusul oleh Bimo yang juga membawa makanan dan minumnya. Tak mau kalah dengan Bimo, Arjun pun juga mengikuti langkah istrinya menuju ruang keluarga walaupun dia tak tahu arti apa yang diucapkan Inemnkarna yang ada dipikirannya saat itu hanyalah tak akan membiarkan Inem dan Bimo berduaan saja.


"Haisttt,,, kalian ngapain ngikutin aku sih?" Tanya Ibem sejenak menghentikan langkah nya karena melihat keduanya yang membuntuti nya.


"Kan mau makan bareng yank." Jawab Bimo seolah tak melakukan kesalahan.


Mendengarnya, Inem punn lantas berbalik arah kembali ke meja makan dan meletakan barang bawaannya secara kasar di atas meja.


"Jika kalian ribut lagi, maka aku akan obrak - abrik nih meja makan terserah kalian mau kelaparan apa nggak!" Gertak Inem.


Lalu ketiganya pun makan dengan tenang walaupun diantara kedua pemuda itu saling lirik dan menahan amarah.


Setelah acara makan selesai Bimo pun dengan terpaksa pamit untuk pulang dan saat itulah seketika Arjun langsung merasa tenang.


Keesokan harinya, seperti biasanya Inem dan Arjun melakukan aktivitas mereka masing - masing. Setelah melakukan semua ritual paginya, kini Arjun pun siap mengantar Inem ke kampus seperti dihari yang sudah - sudah. Namun diluar dugaan, disaat Arjun dan Inem keluar rumah disana sudah ada Bimo yang sudah standby diatas motor kesayangan nya.


"Ngapain tuh orang kesini pagi - pagi gini?" Tanya Arjun sewot.


"Tentu saja untuk ku. Karna mulai hari ini dia yang akan menjemput dan mengantarku kekampus." Jawab Inem santai.


Tanpa menghiraukan Arjun, Inem lalu berjalan menghampiri kekasihnya. Bimo yang melihat Inem datang langsung mengumbar senyum kegirangan. Dia lantas memberikan helm untuk dikenakan Inem. Namun saat Inem hendak naik ke boncengan motor, tiba - tiba tangannya ditarik Arjun sehingga tak jadi naik.

__ADS_1


"Heh mulai berani sekarang kamu ya!" Ucap Arjun kepada Inem.


"Dan kamu,,, enyah lah kau dari sini dan jangan kesini lagi!" Arjun berkata kepada Bimo sambil menuding kan jari telunjuknya kearah Bimo.


"Kamu apaan sih Jun? Main ngusir orang seenaknya aja. Kan terserah aku mau pergi sama siapa pun. Bukankah baik buat kamu ya, jadi kamu nggak usah repot - repot anter jemput aku lagi. Kan kamu jadi bebas tuh sama calon istri mu yang baru." Ucap Inem ketus.


"Ok jika itu emang maumu,,,, !" Sahut Arjun karna kesal dengan ocehan Inem. Dilepaskannya tangan Inem dengan kasar dan berlalu begitu saja menuju mobilnya.


Sedangkan Inem, dia pergi ke kampus bersama Bimo.


Semenjak kejadian itu, hubungan diantara Arjun dan Inem semakin hambar. Inem semakin bersikap cuek terhadap Arjun dan semakin berani mengumbar hubungannya dengan Bimo. Bimo pun mulai terbiasa menginjakkan kakinya dirumah Inem. Tak hanya Bimo, Lashira pun kerap kali berkunjung ke rumah tersebut. Tak heran jika keduanya saling pamer kemesraan.


...>🍀🎍🍀<...


Beberapa minggu telah berlalu. Inem dan Bimo semakin dekat saja. Sebagian banyak waktu mereka habiskan bersama. Hal itu membuat sahabatnya yang bernama Mutia menjadi khawatir akan hubungan Inem kedepannya. Sebenarnya Mutia tak ingin ikut campur akan kehidupan Inem, namun karna tak ingin sahabatnya itu terlarut dalam suatu hubungan yang menurutnya salah ini maka dia pun memberanikan diri masuk dalam urusan yang terbilang pribadi itu walaupun hanya sekedar mengingatkan.


Ada rasa takut saat Mutia ingin mendekati Inem yang sedang duduk sendirian di taman kampus siang itu. Dia tak ingin ada kesalah pahaman diantara mereka ketika Mutia mencoba untuk menyinggung hal pribadi Inem. Setiap kali mau melangkah, kakinya terasa sangat berat sehingga diapun menarik langkahnya kembali. Namun disaat dia hendak berbalik, keinginannya untuk menasehati sahabatnya itu mencuat lagi. Ini benar - benar membuatnya dilema.


Dari kejauhan Rico memperhatikan gelagat yang aneh pada Mutia. Karna penasaran akhirnya diapun menghampiri dan mengejutkannya. Rico menepuk bahu Mutia sambil berteriak. Hal itu cukup sukses membuat Mutia terkejut dan spontan mengeluarkan umpatan yang ditujukan untuk Rico. Sedangkan Rico hanya tertawa terbahak melihat kekacauan pada diri Mutia.


"Hahaha iya,,, iya,,, Lagian kamu ngapain sih aneh gitu?"


"Aneh apanya? Nggak ada yang aneh kok."


"Kamu ngapain bengong disini sendirian? Dah kayak dungong kepanasan tau nggak sih hahaha." Ledek Rico.


...Bugh,,,...


Sebuah pukulan mendarat dengan mulus tepat dikepala Rico.


"Aduh,,, kira - kira dong, sakit tau!" Omel Rico.


"Siapa suruh ngeledek orang." Sahut Mutia ketus.

__ADS_1


"Dari tadi aku perhatiin kamu kok ngeliatin Inem terus kenapa? Kalian lagi marahan ya?"


"Hust,,, ngawur, mau ku getok lagi kah?"


"Hiksss,,, kejamnya. Trus ngapain dong? Ngapa nggak samperin aja?"


"Eh kamu nyadar nggak sih, akhir - akhir ini Inem sama Bimo deket banget?"


"Hmmm iya sih,,, tuh aku kena imbasnya sekarangnakunpulang pergi ke kampus sendirian nggak dibonceng lagi ama Bimo." Keluh Rico sambil memanyunkan bibirnya.


"Sokkor,,, hahaha." Mutia terbahak mendengar keluhan dan bentuk wajah Rico.


"Aiihh kamu malah balas ngeledek aku." Bibir Rico semakin maju.


"Hahaha,,,habisnya muka. kamin lucu banget tuh kalo kayak gitu." Mutia masih tertawa.


"Eh itu emangnya nggak apa - apa ya kalau mereka berdua deket gitu? Bagaimana dengan suami Inem ya?" Lanjut tanya Mutia.


"Aihh kok tanya saya,,, noh mending tanyain dia noh!" Sahut Rico.


"Nah itu dia yang sedari tadi bikin aku galau. Aku mau tanya tapi takut."


"Ya udah kalo gitu nggak usah tanya!"


"Tapi kan aku penasaran. Selain itu aku nggak mau salah langkah."


"Haist,,, kamu ini sungguh membingungkan. Kalo mau tanya ya nanya aja, tapi kalo nggak mau ya jangan penasaran gitu aja ribet amat sih."


"Emang kamu nggak penasaran co?"


"Hmmm,,,. ya penasaran juga sih." Jawab Rico sambil memegangi dagunya dan tangan satunya bersedekap didada.


"Helleh,,, dah lah yukmkamu temenin aku kalo gitu!" Ajak Mutia.

__ADS_1


Mutia menarik paksa Rico dan mendekati Inem yang sedang duduk sendirian. Rico pun terpaksa mengikuti ajakan Mutia.


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2