Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 72


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Masih dihari yang sama namun ditempat yang berbeda. Sebuah mobil berhenti diparkiran vila pribadi yang megah ditepian pantai. Villa beserta pemandangan disekitarnya membuat salah satu penumpang mobil itu tertegun kagum karna keindahannya. Mungkin karna baru pertama kali ini dia melihat secara langsung pemandangan seperti ini. Bangunan Villa yang besar bernuansa gaya eropa dengan halaman yang sangat luas serta tanaman - tanaman hias bagus yang tak dijumpainya ditempat - tempat umum. Hal ini membuat hatinya bertanya - tanya kenapa sang pengemudi mengajaknya ditempat seperti ini. Tak hanya itu, otaknya pun berfikiran yang tidak - tidak tentang niat pengemudi tersebut dan disaat pengemudi itu hendak keluar, dia lantas memberanikan diri memegang lengannya dan menatap nya dengan penuh tanya.


"Kenapa kita kesini?" Suara pelan tanya penumpang itu yang ternyata adalah Mutia.


Pengemudi itu mengurungkan geraknya dan kembali duduk sambil melempar senyum kepada Mutia.


"Liburan." Jawabnya singkat dan santai.


"Liburan?" Ucap Mutia mengulang pertanyaan Vian.


Ternyata yang mengajak Mutia adalah Vian. adik dari Arjun.


"He em,,, ini kan hari minggu, kita akan bersenang - senang disini." Jawab Vian santai.


Jawaban Vian membuat otak Mutia semakin berkelayapan sehingga dia merasakan tubuhnya panas dingin dan berkeringat di sekujur tubuhnya. Sedang Vian hanya tertawa geli melihat raut wajah Mutia yang terlihat panik seakan dia hendak masuk dalam kandang buaya.


"Kamu kenapa mukanya gitu amat sih?" Tanya Vian sembari tertawa kecil.


Mutia tak mendengar ucapan Vian. Dia malah terpaku dalam khayalan nya tentang Vian dan hal itu membuat Vian smakin tertawa geli melihatnya.


"Heh Mutia,,, kamu ini kenapa sih?" Vian menegur Mutia.


Tepukan tangan Vian dibahu Mutia membuat Mutia tersadar akan lamunannya dan sontak bersikap gelagapan.


"Kamu mikirin apa sih? Tenang aja,,, aku nggak bakalan macem - macem sama kamu." Ucap Vian yang membuat Mutia bisa menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


"Janji!" Ucap Mutia.


"Iya janji,,, paling juga semacem doang." Celoteh Vian menanggapi Mutia yang wajahnya masih nampak tegang.


"Apa kamu bilang? dasar kau,,, awas aja kalo kamu berani macam - macam ma aku!" Ucap Mutia sembari memukuli lengan baju Vian.


"Iya,,, iya,,, percaya aja deh ma aku!" Vian menghentikan aksi Mutia dengan cara memegang kedua tangan Mutia dan disaat itulah Mutia merasa ada yang aneh pada dirinya saat Vian menatap wajahnya dan menggenggam kedua tangannya. Perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya terhadap lelaki manapun. Perasaan yang muncul begitu saja tanpa terdeteksi sebelumnya. Tak hanya itu, jantungnya pun terasa berdegup lebih kencang dari normalnya.


"Oh Tuhan,,, perasaan macam apa ini?" Gumamnya dalam hati.


...Tok,,, tok,,, tok,,,...


Tiba - tiba terdengar suara ketukan yang membuyarkan lamunan Mutia dan saat Mutia menoleh ternyata Vian sudah berada di luar mobil dan mengetuk pelan kaca mobil disisi Mutia serta memberikan isyarat kepada Mutia untuk keluar dari mobil untuk ikut bersamanya. Bak kucing peliharaan yang patuh pada tuannya, perlahan Mutia pun membuka pintu mobil dan keluar menghampiri Vian. Lalu merekapun berjalan beriringan menuju vila besar itu.


Sesaat setelah menjauhi mobil, Vian menyadari bahwasannya ada yang memperhatikan nya dari dalam vila. Seketika Vian menghentikan langkahnya. Dia menarik tangan Mutia agar mendekat padanya. Dipandangnya gadis itu dengan lekat dan lalu menyibak helaian rambut yang menutupi sebagian wajah ayu Mutia sambil perlahan membisikkan sebuah kalimat.


"Aku mohon selama kita berada disini ikuti aja alur dari permainanku, ok!" Bisik Vian.


Disisi lain, dari kejauhan seseorang merasa dongkol melihat perlakuan Vian yang lembut terhadap Mutia. Dengan kasar dia menyibak gorden hingga menutupi seluruh jendela dan lalu duduk ditepian kasur. Diraihnya sebuah bantal yang tertata rapi diatas tilam dan lalu memukulinya secara brutal. Tak hanya itu, setelah puas melampiaskan kekesalan nya kepada bantal tersebut kemudian bantal itupun dilemparkannya begitu saja kesegala arah hingga terkulai lemas tak berdaya.


( Duh,,, malang bener si nasib tuh bantal sampai terkulai gitu. Kalian gitu juga nggak sih kalo lagi sebel? 🤣🤣 )


...Tok,,, tok,,, tok,,,...


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Perlahan orang tersebut mengatur nafasnya yang tadi tersengal - sengal dan setelah tenang dia lalu menyuruh sang pengetuk pintu itu masuk.


"Permisi nona, tuan muda Vian sudah datang dan sekarang sedang berada diruang tamu!" Ucap asisten.

__ADS_1


"Ya,,, sebentar lagi aku turun!" Ucapnya tanpa meluhat kearah asistennya.


"Baik nona,,, permisi!" Asisten itu membungkuk dan lalu pergi meninggalkan ruangan.


Sang nona lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja rias. Dia membungkuk didepan cermin dengan kedua tangannya menempel di permukaan meja rias. Dipandangnya wajahnya dengan lekat, nampak beberapa garis kerut di dahinya dan rambut sedikit berantakan yang membuatnya terlihat menakutkan seperti nenek sihir yang sedang membaca mantra didepan boneka voodoo.


"Sepertinya ini tak semudah seperti apa yang aku bayangkan, tapi aku tak akan menyerah begitu saja. Lihat saja secepatnya aku akan menyingkirkan gadis si@lan itu!" Gumannya sembari mengepal tangannya dan menatap tajam ke arah cermin.


Nona itupun lalu bergegas berbenah diri dan lalu turun menemui Vian dan Mutia. Menuruni tangga dengan anggun seanggun gaun yang membalut tubuh indahnya dan tersenyum dengan cantik secantik perhiasan yang dikenakannya. Jangankan lelaki, Mutia saja terpesona melihat penampilannya. Kedua matanya saja sampai tak berkedip memandangnya.


"Selamat datang di villa pribadiku, makasih ya sudah datang memenuhi undanganku." Sapa Fanny ramah.


"Makasih juga sudah mengundang kami." Sahut Vian sembari menggenggam jemari Mutia.


Sekilas Fanny melirik dan tersenyum ketus menanggapi ulah Vian. Namun dia tak ingin menampakkan sisi buruknya didepan pria yang dia suka.


"Apa kabar nona Mutia? Bagaimana perjalanannya tadi?" Basa - basi Fanny.


"Baik, perjalannya sungguh menyenangkan. Pemandangan nya bagus dan udaranya pun segar." Jawab Mutia.


"Tentu saja, ini kan kawasan elite. Nggak semua orang bisa memiliki properti disini. Hanya orang - orang tertentu saja." Sahut Fanny menyombongkan diri.


"Cuihhh sombong sekali nih orang." Batin Mutia.


"Berarti kita juga termasuk orang yang istimewa ya sayang? Karna kita dapat kehormatan diundang kesini." Sahut Vian yang melempar pandang ke arah Mutia.


"Pasti hanya orang - orang tertentu kan yang bisa kesini, bukan begitu Fanny?" Ucap Vian lagi yang kini beralih memandang Fanny.

__ADS_1


Reaksi Fanny hanyalah melempar senyum palsu karna awalnya dia hanya mengundang Vian sendirian bukan bersama Mutia. Kali ini kayaknya Fanny harus merasakan kekecewaan lagi.


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2