
...🌸 Happy Reading 🌸...
Disaat Inem tengah asik mengitari ruangan untuk melihat dekorasi kamar, disaat itu pula ponselnya berdering. Inem pun mengambil ponselnya yang berada didalam tas kecil yang terletak dinakas.
Setelah melihat siapa yang menelpon, Inem pun lalu menggeser tombol hijau yang tertera di layar ponsel.
...Call on...
"📞 Assalamu'alaikum mam." Sapa Inem dan ternyata yang melakukan panggilan tersebut adalah Selly.
"📞 Waalaikumsalam,,, gimana sayang, suka sama kamar pilihan mami?" Sahut Selly dari sebrang telepon.
"📞 Suka banget mam, makasih banyak ya! Jadi ngerepotin mami sama papi aja nih."
"📞 Mami sama papi nggak repot kok sayang, kami malah senang. Syukurlah kalau kamu senang. Oh ya Arjun mana?"
"📞 Arjun lagi ada dikamar mandi mam. Mau Inem panggilin mam?"
"📞 Hmm nggak usah deh. Salam aja buat dia. Tolong ingetin dia jangan lupa sama pesenan mami ya!"
"📞 Iya mam nanti Inem ingetin."
"📞 Ya sudah selamat beristirahat ya sayang. Selamat menikmati malam yang indah ini."
"📞 Makasih mam selamat beristirahat juga."
...Call off...
Setelah menutup telponnya, Inem melihat ada banyak notif panggilan dan juga pesan dari Bimo. Satu persatu pesan tersebut dibacanya. Isi pesan tersebut menanyakan keberadaan Inem dimana? Kenapa nggak masuk kampus, kenapa chat nggak dibalas, kenapa telpon nggak diangkat. Begitulah isi dari pesan - pesan Bimo.
Tak ingin Bimo cemas terhadapnya, Inem menggunakan kesempatan mumpung Arjun didalam kamar mandi untuk menelpon balik Bimo dan memberikan kabar bahwa dia baik - baik saja dan sekarang sedang berada ditempat saudaranya. Setidaknya jawaban itu bisa membuat Bimo sedikit tenang dan tak berfikiran yang aneh - aneh tentangnya.
Begitu sayangnya Inem kepada Bimo dan begitu tak rela nya dia kehilangan Bimo. Sehingga memaksa dia untuk tak berkata jujur kepada Bimo.
Meskipun Inem sadar dengan statusnya saat ini, entah kenapa Inem masih saja percaya bahwa dia masih bisa berkesempatan untuk merajut masa depannya bersama dengan Bimo. Mungkin karna sikap Arjun yang tak bisa menerima kehadirannya dan juga yang masih berhubungan dengan Lashira membuat Inem berfikiran dia masih berhak bahagia juga bersama kekasihnya.
Sementara itu didalam kamar mandi Arjun juga tak kalah sibuknya dengan benda pipih yang menyala. Rupanya dia sedang mencoba menghubungi kekasihnya. Berkali - kali dia melakukan panggilan dan banyak chat yang dikirimnya namun tak satupun yang terkirim karna ternyata Lashira menonaktifkan ponselnya.
__ADS_1
Resah dan gelisah menyelimuti perasaan Arjun. Bagaimana mau menjelaskan kalau ponselnya saja dimatikan. Begitulah gerutunya. Akhirnya diapun putus asa dan memutuskan untuk membersihkan dirinya. Berusaha menenangkan pikirannya dengan berendam di air hangat dan menikmati wanginya lilin aroma terapi yang tersedia disana.
Setelah cukup tenang, Arjun pun menyelesaikan ritual mandinya dan lalu keluar dengan tubuh berbalut kimono berwarna putih bersih.
Saat dia keluar, dilihatnya Inem sedang disibukkan dengan baju pestanya. Ternyata Inem lagi kerpotan membuka resliting bajunya yang terletak dibagian belakang. Melihat tingkah Inem yang menurutnya lucu itu, tanpa dia sadari ternyata senyum kecil terlihat jelas diwajah Arjun. Arjun pun melangkah mendekati Inem dan tanpa disuruh dia langsung memegang kepala resliting itu dan menurunkannya.
Merasakan ada sentuhan, tentu saja membuat Inem terkejut dan reflek ingin menjauh dari Arjun. Namun Arjun menahan tubuh Inem supaya tetap ditempat.
"Arjun,,, apa yang kamu lakukan? " Tanya Inem.
"Kamu nanya?" Jawab Arjun balik bertanya.
"Menurutmu?" Tanya Inem lagi.
"Tentu saja membuka bajumu. Gitu aja kok nanya." Jawab Arjun sembari membuka resliting baju Inem.
Baru juga sedikit Arjun menurunkan kepala resliting baju Inem. Inem berteriak lagi menghentikan aksi Arjun.
"Stop jangan,,, aku bisa melakukannya sendiri."
Membenarkan ucapan Arjun barusan, lantas Inem pun hanya bisa membungkam dan berdiri kaku seperti patung boneka yang dipajang dipertokoan. Dia menggigit kecil bibir bawahnya sembari menutup mata karna menahan malu dan takut. Malu karna baru pertama kali ini ada seorang pria yang membantunya membuka pakaiannya dan takut kalau - kalau Arjun akan nekad berbuat yang macam - macam kepadanya.
Kembali Arjun menurunkan kepala resliting itu dan saat setengah jalan dia melihat ada benda serupa tali yang ada pengait nya berada tepat ditengah punggung Inem membuat Arjun kualahan menelan salivanya. Seketika dia menghentikan gerakan tangannya dan matanya fokus ke arah benda tersebut dan kini tubuhnya pun ikut mematung karna pikirannya tengah ber traveloka ketempat yang tak terjangkau.
Tak merasakan gerakan Arjun lagi, Inem pun membuka matanya dan menoleh ke Arjun.
"Kenapa? Udah belum?" Tanya Inem.
Mendengar pertanyaan Inem lantas membuat Arjun tersadar dari lamunannya.
"Eh iya bentar,,, ini resliting nya nyangkut." Jawab Arjun asal - asalan dan terbata. Lalu diapun kembali menarik dengan pelan resliting baju itu sampai mentok kebawah.
"Sudah." Ucap Arjun melepaskan tangannya.
"Makasih ya." Inem berjalan menuju kamar mandi sambil memegangi bajunya yang dibagian dada biar tidak melorot 😅
Setelah beberapa saat Inem pun keluar dari kamar mandi. Seperti halnya Arjun, Inem juga keluar dengan mengenakan handuk kimono.
__ADS_1
"Arjun." Panggil Inem dengan suara pelan.
Arjun yang sedang duduk bersandar diatas kasur dan sedang memainkan ponselnya itu pun menoleh.
"Ada apa?"
"Sepertinya kita melupakan sesuatu."
"Apa?"
"Kita kesini kan nggak bawa baju. Trus gimana aku bisa ganti baju."
"Hilih baju doang, kirain apa." Jawab Arjun santai dan kembali fokus ke ponsel yang ada ditangannya.
"Baju doang katamu. Masa iya tidur dengan pake handuk begini?"
"Ya udah nggak usah pake baju aja. Gitu aja diributin."
"Apa? Maksudmu aku tidur telanjang gitu? Dih,,, ogah." Jawab Inem setengah berteriak seraya tangan bersedekap dan membuang muka. Tentu saja Inem menolak keras ucapan Arjun dan Arjun hanya tersenyum kecil menyikapi tingkah Inem.
"Eh tunggu,,, bukankah kamu tadi juga nggak bawa baju ya, trus kok kamu itu dah pake baju nganti aja sih?" Tanya Inem memperhatikan penampilan Arjun yang sudah memakai setelan baju tidur. Diapun mendekati Arjun yang masih saja sibuk dengan benda berbentuk kotak dan pipih miliknya.
"Haishhh kamu ini berisik sekali. Tuh mami dah kirim baju. Barusan ada pelayan kesini nganterin." Kata Arjun sambil melirik arah baju itu.
Inem pun berjalan mendekati tempat yang dimaksud oleh Arjun dan benar saja, disebalah sampanye ada sebuah nampan yang diatasnya ada sebuah baju yang dilipat rapi. Dia lalu mengambilnya dan pergi kekamar mandi.
Didalam kamar mandi, saat Inem hendak memakai baju tersebut betapa kagetnya dia setelah melihat jenis baju apa yang dipegangnya itu. Ternyata baju yang dikirim Selly adalah sebuah baju minim bahan dengan warna rose gold glosy. Inem pun melebarkan kedua matanya sambil membolak - balikan baju tersebut.
(Tentu tahu dong ya baju apa yang othor maksud ðŸ¤, selamat membayangkan 😅)
"Ini serius mami kasih baju yang begini? Bajunya kok aneh banget ya? Aih,, masa iya aku harus pake ini?" Batin Inem dan lalu membayangkan dirinya sendiri memakai baju tersebut.
"Aaa,,, nggak,,, nggak,,, aku nggak mau." Teriak Inem sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Isshh ini pasti akal - akalannya Arjun. Ughhh,,, awas aja kamu Jun!"
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1