
...🌸 Happy Reading 🌸...
Setelah dipikir - pikir Bimo pun menyadari adanya kejanggalan pada hubungan keduanya dan diapun menyetujui ide Rico untuk menyelidiki lelaki yang bersama Inem.
"Tapi bagaimana caranya? sedangkan namanya saja kita tak tahu dan fotonya juga nggak ada."
"Dih itu sih gampang Bim. Kita tanya aja sama semut, dia pasti tahu. Secara mereka kan selalu barengan."
"Hmmm bener juga ya. Okelah kita mulai penyelidikan ini dari Mutia. Kamu telpon dia sekarang gih!" Sahut Bimo bersemangat.
"Lhah kok aku sih? Kenapa nggak kamu aja?"
"Isshhh kan kamu yang punya ide, jadi kamu dong yang mesti telpon dia."
"No,,, no,,, no,,, ogah, Males banget aku!" Rico menolak keras menghubungi Mutia. Dia membanting tubuhnya diatas kasur lalu memeluk guling memposisikan tubuhnya membelakangi Bimo.
"Lhah kok malah tidur sih?"
"Bodo ah." Sahut Rico kesal.
"Dih,,, aku kan nggak punya nomor ponselnya Mutia, gimana mau nelpon dia?"
"Ya udah kalau gitu nggak usah telpon. Tunggu besok aja kita tanya pas di kampus!" Jawab Rico tanpa mengubah posisinya tidurnya.
"Haish,,, kau ini." Bimo pun menyerah membujuk Rico. Kini dia ikut mengistirahatkan tubuhnya yang sudah letih akibat kegiatannya seharian ini.
...****************...
Siang harinya di Dirgantara Group. Putra kedua dari Angga Dirgantara sedang disibukkan dengan sekumpulan berkas di ruang kerja kakaknya. Sesekali pandangannya beralih ke layar lap top yang ada didepannya dan tangannya yang dengan mahir mengoperasikan nya. Saking sibuknya sampai - sampai dia tidak mendengar ada suara ketukan dari luar pintu.
Berkali - kali orang itu mengetuk pintu namun Vian tak menghiraukannya sama sekali. Hingga akhirnya pintu itupun terbuka dari arah luar dan masuklah seorang wanita dengan dandanan yang casual namun terlihat elegan. Di bahunya kirinya tergantung tas dengan merk terkenal sedang tangan kanannya menenteng sebuah keranjang piknik.
"Segitu sibuknya kah kamu sehingga kamu tak menghiraukan kedatangan mami mu ini?" Ucap Selly kesal.
Ya,,, wanita yang barusan melewati pintu masuk itu adalah Selly. Dia meletakkan keranjang pikniknya diatas meja depan sofa dan lalu datang mendekati Vian yang masih sibuk saja dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Maaf mam, Vian nggak mengira mami akan datang kesini." Sahut Vian yang beranjak dari duduknya saat melihat ternyata Selly yang masuk dan segera menyalami tangan ibunya itu seraya mencium punggung tangan dan kedua pipi Selly.
"Kamu nggak nyangka apa kamu nggak denger ketukan pintu?"
"Hehehe,,, iya itu juga termasuk mam." Jawab Vian sambil nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sepertinya aku hidup diantara robot pekerja keras dengan full batre deh. Awalnya suamiku dan sekarang kedua putraku pun mengikuti jejak yang sama dengannya." Ucap Selly seraya berjalan menuju sofa dan lalu duduk disana diikuti Vian yang lalu duduk di sampingnya.
"Ishh mami, kan buah tak jatuh dari pohonnya mam." Lagi - lagi Vian mengembangkan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Ughh dasar, dah mulai pinter ngomong kamu ya!" Tarikan kecil mendarst di salah satu telinga Vian yang membuat Vian meringis dan mengaduh minta ampun dari ibunya.
"Ampun mam ampun!" Rengek Vian layaknya anak kecil yang terkena hukuman.
"Aduh mam,,, kok Vian dijewer sih, sakit lah mam. Ntar telinga Vian bisa panjang sebelah mam." vian mengaduh sesaat setelah Selly melepaskan tangannya dari telinga Vian. Vian pun lalu mengusap pelan telinganya.
"Diih,,, mana ada panjang sebelah. Ada - ada aja kamu."
"Sebenarnya mami kesini mau ngapain sih mam? Kalau cuman mau nyiksa Vian mending mami pulang aja deh! Vian lagi banyak kerjaan disini!" Celoteh Vian yang kesal karna habis kena jewer ibunya.
plakk,,,
"Dasar anak nakal, seperti itukah kamu bersikap kepada ibumu?" Selly melemparkan tatapan tajam kepada anak keduanya tersebut sehingga membuat Vian bergidik seperti sedang melihat sosok makhluk astral yang menyeramkan.
"Kok Vian malah digetok sih mam? Vian kan cuma bercanda elah."
"Biarin, siapa suruh mengusir mami?: Kini Selly memalingkan mukanya dengan kedua tangan bersedekah serta kaki kanannya menyilang bertumpu kaki kirinya.
"Iya,,, iya,,, Vian minta maaf deh! tapi Vian beneran lagi banyak kerjaan ini mam."
Tiba - tiba terdengar lagi sebuah ketukan dipintu yang sama dan tanpa pendapat Vian, Selly langsung menyuruh masuk orang yang ada dibalik pintu tersebut.
Setelah Selly mengucapkan kata masuk, lalu pintu itupun terbuka dan masuklah seorang wanita muda yang cantik. Dia memakai dress berwarna nude dengan kombinasi warna pink. Kakinya yang jenjang nampak semakin indah dengan sepatu hak tinggi yang menempel ditelapak kakinya serta tas branded yang menghiasi tangannya menambah anggunnya penampilan gadis tersebut. Dia juga memoles make up tipis diwajahnya dengan warna lipstik yang nude namun terlihat nampak segar menambah kesan ayu di paras gadis berambut panjang yang kerli dibagian bawahnya.
"Selamat siang tante." Sapa lembut gadis itu dengan senyum yang ramah.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga." Selly menyambutnya dan mereka pun saling cium pipi kanan pipi kiri.
"Maaf tante tadi ada keperluan sedikit makanya agak terlambat."
"Iya nggak apa - apa kok. Oh ya ini kenalin putra tante yang tante ceritain itu!" Ucap Selly sembari menepuk pelan bahu Vian.
"Hai,,, aku Fanny." Ucap hadir itu lagi. Dia mengulurkan tangannya ke Vian dan tak lupa melempar senyum.
"Vian." Sambut Vian, dia berdiri dan lalu menerima uluran tangan Fanny.
Keduanya pun saling berjabat tangan dan lalu duduk. Sesekali mereka saling curi pandang. Hal itu membuat Selly tersenyum karna mungkin tujuannya kali ini akan berhasil lagi. Begitu pikirnya.
"Fanny ini anaknya temennya mami, dia juga masih kuliah ama kayak kamu, sambil kuliah Fanny ini juga ikut membantu papahnya di perusahaan nya. Dia smart dan juga cantik ya?" Ucap Selly mencairkan suasana karna sedari tadi keduanya tak banyak bicara.
"Ah tante bisa aja. Jangan memuji ku seperti itu, aku kan nggak sepintar itu." Sahut Fanny tersipu malu. Pipinya seketika memerah, diapun tertunduk namun dia juga sekilas melirik Vian.
"Tante bukan memuji tapi emang kenyataan begitu bukan? Ya sudah ayo kita makan siang dulu, tante udah bawa makan siang buat kita." Selly membongkar bekal bawaannya dan lalu menatanya dimeja dibantu oleh Fanny.
"Kalian lagi pada bahas apa sih? keliatannya asik sekali sampai lupa sama papi." Celoteh Angga yang baru saja datang dan lalu ikut duduk.
"Eh papi sudah datang pap. Tepat pada waktunya pap. Yuk makan!" Sahut Selly.
"Met siang om." Sapa Fanny kepada Angga tak lupa bersalaman dan mencium punggung tangan Angga.
"Siang juga Fanny, gimana kabarmu dan juga orang tuamu?"
"Alhamdulillah baik om."
"Anaknya gak ditanya pap?" Celoteh Vian.
"Kamu ngapain juga ditanya kan tiap hari ketemu." Sahut Angga.
"Dih,,, papi segitunya ma anak sendiri." Gerutu Vian.
"Sudah,,, sudah,,, ayo kita makan dulu!" Titah Selly.
__ADS_1
Setelah semua tertata rapi mereka berempat pun menikmati bekal siang bersama - sama.
...🌸 Bersambung 🌸...