
...🌸 Happy Reading 🌸...
Perlahan Inem pun membuka matanya dan melihat kalau hari sudah mulai terang. Inem menggeliat dan disaat itulah jas Arjun yang menutupi tubuh bagian atas terjatuh ke pangkuannya. Inem pun lalu memegang jas tersebut dan termenung.
"Ini kan,,,, " Ucap Inem pelan.
Menyadari bahwa jas itu adalah kepunyaan Arjun, Inem lantas menoleh kearah sampingnya dan mendapati Arjun yang masih tertidur dengan kepala yang bersandar dikepala Inem. Inem pun terkejut dan sontak menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Arjun. Seketika itu pula tubuh Arjun terjatuh karna penopangnya yang secara tiba - tiba bergerak sehingga mengakibatkan kepalanya terbentur kursi yang terbuat dari bahan besi yang keras dan membuat Arjun terpaksa terbangun dari tidur lelapnya. Sontak Arjun mengaduh kesakitan, dia duduk sambil memegangi kepalanya yang baru saja terkena sentuhan bangku.
Arjun menatap Inem meminta penjelasan kenapa dia bisa terjatuh, sedang sebelumnya dia sudah merasa nyaman dengan posisi tidurnya. Namun Inem mengelak dan seolah - olah tak tau apa - apa. Inem mengatakan kalau suaminya itu terjatuh karna ulahnya sendiri yang tidurnya tak mau anteng.
Tentu saja Arjun tak percaya begitu saja dengan keterangan Inem barusan, apalagi gelagat Inem yang sangat mencurigakan baginya. Hal itu menambah keyakinan pada Arjun kalau dia telah menjadi korban keusilan gadis yang kini duduk disebelahnya. Terlihat jelas olehnya Inem tengah menyembunyikan tawa dalam diamnya.
"Kamu udah gila ya?" Tanya Arjun sinis.
"Eh,,, kok kamu ngatain aku gitu sih?"
"Liat tuh penampilanmu! Berantakan,,, dah gitu senyum - senyum sendiri nggak jelas pula. Kan sama tuh kek orgil." Celoteh Arjun yang melihat tawa Inem walau sudah memalingkan mukanya.
Dikatain seperti itu, Inem lantas memandangi bayangan dirinya di sebuah kaca jendela yang terletak tak jauh darinya. Memang benar apa yang Arjun katakan. Layaknya orang yang bangun tidur, mukanya pasti kusut dan juga rambut yang berantakan tak beraturan.
Tak ingin terlihat kacau, Inem lantas membalikkan tubuhnya dan bergegas merapikan baju dan rambutnya dengan jemari tangannya yang digerakan layaknya sebuah sisir. Setelah dirasa sudah rapi, Inem pun berbalik ke posisi duduknya semula.
Melihat tingkah Inem, membuat Arjun mengangkat sedikit sebelah ujung bibirnya yang tipis itu dan saat Inem berbalik dia melihat jas nya tergeletak dipangkuan gadis yang menurutnya aneh tersebut.
Tanpa berucap, Arjun langsung mengangkat salah satu tangannya guna mengambil barang miliknya yang semalem di fungsikan sebagai selimut. Namun karna salah mengira, Inem pun menepis tangan Arjun dan memberikan tatapan tajam setajam lidah mertua kepada Arjun.
(Entah mertuanya siapa itu ya,,, kok bisa setajam itu 🤣🤣🤣)
"Kamu mau ngapain ha?! Dasar cowok mesum." Ucap Inem yang melotot dan menaruh kedua telapak tangannya menangkup menutupi tempat yang hendak disentuh Arjun.
"Apa,,, ? Kamu tuh yang pikirannya mesum. Dasar wanita aneh." Ujar Arjun yang tak Terima dikatai mesum oleh istrinya sendiri.
"Lhah itu tadi tangannya gitu mau ngapain hayo,, ?!" Inem semakin melebarkan kedua kelopak matanya sehingga matanya nampak lebih bulat dan retinanya seperti mau lepas dari tempatnya.
"Bener - bener cewek aneh,,, aku cuma mau ambil jas ku." Jelas Arjun sembari menyambar jasnya begitu saja.
__ADS_1
"Heran aku sama mami, kok bisa ya aku dinikahkan sama nih cewek aneh?" Gerutu Arjun.
Setelah mengambil paksa jasnya, Arjun lalu berdiri dan lalu berjalan menuju pintu masuk ruang inap dimana ibunya dirawat.
"Sial,,, harusnya aku kan yang bilang begitu ughhh dasar cowok aneh, mesum." Ucap Inem kesal.
Saking kesalnya, Inem sampai mengerutkan dahinya dan mengepal kedua telapak tangannya serta menghentak - hentakkan kedua kakinya ke lantai sembari menggerutu dan setelah puas melampiaskan kekesalannya, Inem pun lalu ikut masuk kedalam ruangan.
Didalam ruangan nampak Selly yang tengah tertidur di bangsal lengkap dengan dua selang yang menempel di tubuhnya. Ada juga Angga sedang duduk sambil tertidur disamping tempat tidur Selly.
Melihat kedua orang tuanya itu, Arjun merasa iba dan sedih. Diambilnya selimut yang tergeletak di sofa dan lalu diselimutkannya ke tubuh Angga yang saat ini posisinya menelangkup menghadap Selly.
Perlahan Angga membuka matanya dan melihat ke arah Arjun.
"Eh kamu Jun." Sapa Angga.
"Papi kok tidur disini sih? Papi pasti capek ya? Papi pulang aja istirahat dirumah, biar Arjun yang gantiin jagain mami!" Ucap Arjun pelan.
"Nggak,,, papi mau disini aja, nemenin mami sampai mami sembuh." Angga pun bersikeras tetap berada ditempatnya.
"Siapa yang mengijinkan kalian masuk kesini?" Ucap Selly yang sudah membuka matanya dan melihat ada Arjun dan Inem.
"Mami gimana keadannya?" Tanya Inem.
"Sudah kubilang, kalian nggak usah peduliin mami lagi! Sudah sana pergi urusin saja tuh pacar - pacar kalian!" Ucap Selly.
"Mam,,, sampai kapan mami mau begini? Kenapa mami selalu saja memaksakan kehendak mami? Setidaknya hargai perasaan kami mam!" Kata Arjun.
"Pap,,, papi lihat sendiri kan? Kalau begini mami mendingan mati aja deh pap, mami bingung karna nggak bisa menjaga amanah almarhumah sahabat kita hikzzz,,, hikzzz,,, " Selly menangis sesegukan dipelukan Angga.
"Mami jangan bilang begitu,,, kalau mami pergi trus papi gimana? Appi nggak mau sendirian mam." Angga pun bersedih dan mengusap kepala Selly.
Melihat kedua mertuanya Inem pun terbawa suasana. Dia jadi teringat akan ucapan mendiang ibunya untuk menyayangi Selly dan Angga seperti orang tuanya sendiri.
Perlahan Inem lalu menghampiri Selly dan menggenggam tangan Selly.
__ADS_1
"Mami jangan bilang seperti itu! Mami harus sehat dan berumur panjang!" Ucapnya.
"Buat apa berumur panjang kalau mami tak bisa menjaga wasiat dari bundamu? Apa kamu ingin mami merasa bersalah seumur hidup mami? Apakah ini caramu membalas dendam karna sudah memaksamu untuk hidup bersama anak mami? Dan akhirnya mami akan meninggal dengan luka hati dan bersalah?"
"Bukan,,, bukan begitu maksud Inem mam. Inem sama sekali tak punya niat seperti itu. Inem sayang sama mami dan sudah menganggap mami orang tua sendiri. Jadi kumohon mami jangan berfikiran seperti itu. Inem nggak mau kehilangan sosok ibu lagi." Ucap Inem dengan beruraikan air mata.
"Bohong,,, kamu bicara seperti itu hanya untuk menghibur ku kan? Kamu nggak serius mengucapkan itu semua kan?" Ucap Selly sembari menepis genggaman Inem.
"Inem serius mam,,, Inem berkata sungguh - sungguh!" Ucap Inem yang semakin deras kucuran air matanya.
"Benarkah?"
"He em." Inem mengangguk pelan sembari menatap ibu mertuanya.
"Tapi mami meragukanmu."
"Percayalah mam,,, Inem beneran serius."
"Kalau begitu buktikan!" Pinta Selly kepada Inem.
"Jangan pernah tinggalin keluarga ini!"
"Kalian sudah ku anggap keluarga ku sendiri, mana mungkin Inem bisa meninggalkan mami. Inem akan selalu menjadi putri mami."
"Janji?"
"Janji." Dan lagi - lagi Inem menggangguk.
"Janji kamu akan tetap disisi Arjun dan meninggalkan pacarmu itu?" Ucap Selly.
Mendengar ucapan Selly, Inem pun terdiam. Dia nggak menyangka Selly akan mengucapkan apa yang tak ingin didengarnya apalagi harus mengikat janji. Begitu juga dengan Arjun. Apakah ini akan menjadi akhir dari kisah cintanya dengan wanita yang sekian lama telah ditunggunya? Lalu akankah perjuangannya dalam penantian akan berujung sia - sia? Dan akhirnya dia akan hidup dengan orang yang tak dicintainya selama disisa hidupnya.
Begitulah yang sekarang ini tengah memenuhi benak Arjun. Tentu saja dia tidak menginginkan akhir yang seperti itu. Namun mengingat apa yang dikatakan dokter semalam membuatnya berfikir berulang kali. Manakah yang akan dipilihnya,,, Lashira atau ibunya sendiri.
...🌸 BERSAMBUNG 🌸...
__ADS_1