
...🌸 Happy Reading 🌸...
Lalu bagaimana dengan Arjun? Dia mengunci diri di dalam kamar mandi. Hatinya bingung dengan perasaannya saat ini. Arjun yang tadinya cuek tak menghiraukan Inem, kini tiba - tiba saja merasakan sesuatu yang tak nyaman disaat Inem sedang bersama dengan lelaki lain. Seperti ada rasa tak rela bila ada orang lain yang mendekati ataupun menyentuhnya.
"Aghhh,,, ada apa dengan ku ini?" Gumannya sambil memukul - mukul wastafel yang ada didepannya.
Semakin memikirkan hal ini membuat Arjun semakin merasa panas saja. Beberapa kali dia membasuhkan air keran secara kasar ke wajahnya hingga air membasahi seluruh wajah, rambut hingga kebagian leher dan dadanya kemudian menatap bayangannya di cermin yang terpampang didepannya.
Sesaat kemudian, dia baru tersadar kalau ponsel yang ada didalam sakunya berbunyi. Diambilnya ponsel itu dan lalu menjawab panggilan yang masuk.
...Call on...
"📞 Sayang kamu ada dimana sih? Aku cari - cari kok nggak ada? Ditelpon juga nggak diangkat - angkat. Kamu lagi ditoilet atau dimana?" Suara dari balik telepon yang ternyata adalah suara Lashira.
Mendengar keluhan Lashira, Arjun baru teringat kalau tadi dia tengah pergi dengan Lashira.
"📞 Oh maaf,,,, tunggu, aku akan segera kesana." Jawab Arjun dan lalu menutup sambungan telepon secara sepihak.
...Call off...
"Sial,,, semua ini gara - gara wanita itu!?" Gerutunya sambil bergegas keluar.
Pas keluar dari kamar mandi, nampak lah Inem sedang berbicara lewat ponselnya dan lagi - lagi Arjun tersulut emosinya. Amarah yang tadinya sudah mulai reda, kini kembali memuncak. Beruntungnya Inem kali ini, mengingat Arjun yang harus menjemput Lashira membuat Arjun tak begitu memperhitungkan apa yang dilakukan Inem.
"Matikan ponselmu!" Hertak Arjun.
"Apaan sih?"
"Matikan sekarang atau ku banting ponselmu!" Ancam Arjun dengan tatapan yang membunuh.
Melihat mata Arjun yang penuh emosi itu. Sontak Inem memutuskan panggilannya dan disaat Arjun menengadahkan tangannya entah kenapa tanpa sadar dengan suka rela Inem meletakkan ponselnya ke telapak tangan Arjun.
__ADS_1
Setelah mendapatkan ponsel Inem, Arjun pun kemudian pergi meninggalkan Inem yang masih berdiri terpaku ditempatnya.
Sesaat kepergian Arjun, Inem tersadar dan menggerutu serta mencaci maki suaminya itu habis - habisan.
...****************...
Pagi harinya disaat Inem terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak dan membuka matanya, dia tak menemukan Arjun di tempat tidurnya. Tatanan sprei nya masih rapi sama seperti sebelum Arjun pergi.
"Tuh orang nggak ada, aihh,,, kebiasaan pasti nggak pulang lagi."
Ya,,,. memang sudah menjadi kebiasaan Arjun. Tiap kali mereka bertengkar Arjun pasti nggak akan pulang kerumah. Lalu kemana dia? Tentu saja ke apartemen dimana Lashira tinggal.
Lhah,,, terus apa yang dilakukannya disana? Apa mungkin hanya numpang tidur doang? Secara mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.
Memang benar adanya, lelaki mana yang bisa tahan nggak melakukan apapun disaat dia sedang berduaan diruangan tertutup. Bahkan yang diruangan terbuka saja ada - ada aja yang anu 🤣.
Meskipun Arjun adalah cowok tulen dan terhitung mesum bila dengan kekasihnya. Namun dia selalu berusaha untuk menjaga dan membatasi kemesuman nya itu agar tak melewati batas per anuan 🙈ðŸ¤
Pagi ini, berat rasanya bagi Inem untuk beranjak dari tempat tidurnya. Beberapa kali dia menggeliat dibalik selimut dan mengerjap - ngerjapkan kedua matanya namun rasa males masih saja menggelayutinya. Tanpa melihat, dia meraba meja yang berada tepat disampingnya untuk mencari suatu benda. Tapi kayaknya kali ini dia harus kecewa karena barang yang dicarinya nggak ketemu juga. Sesaat dia teringat bahwa benda yang dicarinya itu kini sedang berada ditangan Arjun.
"Aaa,,, Arjun c@mvr3t, awas aja kamu ya!" Gerutu Inem.
Dengan langkah gontai akhirnya Inem berjalan menuju kamar mandi. Setelah itu seperti biasa dia akan turun dan pergi kedapur untuk membantu mertuanya menyiapkan makan pagi.
Setelah semua dirasa beres, dia pun kembali naik dan mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus.
Tak disangka setelah kembali turun, dia melihat Arjun sudah menduduki kursinya diruang makan dengan penampilan yang sudah rapi lengkap dengan jasnya.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka pun berpamitan. Angga pergi ke kantor sedang Arjun mengantar Inem ke kampusnya terlebih dahulu baru ke kantor.
Didalam mobil keadaan kembali sunyi. Dengan nada berat Inem mencoba meminta ponselnya kembali, namun Arjun sama sekali tak menghiraukannya. Pandangannya fokus ke jalan raya.
__ADS_1
Tak ingin menyerah, Inem pun mencoba memintanya lagi dan lagi. Karena merasa bising, Arjun pun lalu menepikan mobilnya di bahu jalan dan menatap Inem.
"Untuk apa? Kamu sudah tak sabar ingin menelponnya? Apa kamu sudah merindukannya?" Gertak Arjun.
"Bukan begitu,,,."
"Kalau bukan lalu apa? Alasan saja. Untuk saat ini ponselmu aku yang pegang. "
"Eh nggak boleh gitu dong. Ayolah berikan ponselku!" Rengek Inem.
Rengekan Inem sama sekali tak digubris oleh Arjun. Dia kembali mengemudikan mobilnya ke jalanan.
Sesampainya di kampus, Inem langsung masuk ke kelasnya. Ternyata disana sudah ada Bimo dan Rico yang juga menantinya.
Melihat kedatangan Inem, Bimo langsung menghampiri Inem dan lalu mengiringinya sampai Inem duduk ditempatnya kemudian dia duduk berhadapan dengan Inem.
"Yank,,, cowok yang kemarin itu siapa? Kenapa dia bersikap begitu sama kamu?" Tanya Bimo.
Seperti dugaannya, Bimo pasti akan mengajukan rentetan pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya. Menanggapi hal itu Inem hanya membisu dan menghela nafas panjang.
"Yank, kok diem aja sih? Trus kenapa juga telponnya semalem tiba - tiba mati? Pas aku telpon balik malah nomor mu nggak aktif sampai sekarang. Padahal kan kamu belum jelaskan siapa cowok itu."
Tak kuasa mendengar serentetan pertanyaan dari Bimo, Inem pun lebih memilih menghindarinya dari pada menjawabnya. Pergi ke toilet adalah alasan yang menjadi pilihannya.
Di dalam toilet, buliran air mata mulai mengalir membasahi kedua pipi. Pertanyaan - pertanyaan dari Bimo terus menerus terngiang di telinganya. Otaknya bekerja sangat keras guna mempersiapkan jawaban apa yang akan diberikannya kepada Bimo yang sedari kemaren sudah penasaran.
"Maafin aku Bim,,, maaf!" Ucap Inem lirih dan terus menitikkan air matanya.
Hanya satu kata itulah yang saat ini bisa terucap dari mulutnya. Namun dia tak berani memperdengarkannya kepada Bimo. Karna itu akan mengundang rasa penasaran yang lebih pada diri Bimo.
Cukup lama Inem berada disana hingga tak terasa waktu kelas pun sudah dimulai. Namun dia males pergi ke kelas karena pasti Bimo akan menghujaninya dengan pertanyaan yang sama.
__ADS_1
Untuk menghindari hal itu, Inem memutuskan untuk pergi ke perpustakaan yang dimana tidak banyak orang disana sehingga dia bisa menenangkan dirinya. Walaupun dia tahu cara ini nggak akan menghentikan Bimo, namun dia bisa merasa sedikit tenang disana.
...🌸 Bersambung 🌸...