Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 36


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Malam telah berganti pagi dan gelap kini telah berubah menjadi terang. Deras nya hujan semalaman menyisakan butiran - butiran embun sejuk dipucuk dedaunan hijau yang menambah nikmatnya karunia Yang Maha Esa.


Setelah menyelesaikan ritual paginya, Inem pun menuju kamarnya untuk bersiap pergi kekampus. Tak seperti biasanya, kali ini Inem mendapati


Arjun yang masih terlelap dibalik selimut.


"Tumben tuh kulkas masih molor aja. Biasanya jam segini kan udah ganteng. Kok ini masih nyungsep sih." Guman Inem.


Karena tak ingin Arjun marah, maka Inem membiarkan saja dia terlelap. Inem pun lalu pergi kekamar mandi dan bersiap. Disaat Inem sudah rapi dan siap turun kebawah untuk sarapan, dilihatnya Arjun masih tak bergeming dari tempat tidurnya.


Rasa penasaran pun timbul dan akhirnya Inem memutuskan untuk mendekati Arjun dan memberanikan diri untuk membangunkannya.


"Hei Arjun,,, bangun! Ini sudah siang lho. Ntar kamu terlambat."


Karna tidak ada respon, Inem pun mencoba untuk membangunkannya lagi. Kali ini Inem menyentuh lengan Arjun, dia berniat menggoncangkan tubuhnya. Namun Inem merasakan suhu panas saat menyentuh lengan Arjun.


"Eh kok panas sih? Jangan,,, jangan,,, !"


Sentuhan Inem lalu berpindah ke kening Arjun dan benar saja sesuai dugaannya, ternyata saat ini Arjun memang sedang demam. Inempun panik, dia lalu pergi kedapur untuk mengambil sebuah wadah dan handuk kecil guna mengompres Arjun agar suhu badannya kembali normal.


Saat melewati ruang makan, tentu saja sudah ada Selly dan Angga yang sedang duduk menantikan keduanya. Karna memang sudah menjadi kebiasaan untuk sarapan bersama seperti apa yang telah othor ceritakan di episode yang sebelumnya ya, tapi mohon maap karna othor lupa episode berapa 🤭


Melihat Inem yang turun hanya sendirian, Selly pun bertanya kemana keberadaan Arjun. Setelah mendengar kalau anak sulungnya demam, dia langsung menyuruh Angga untuk menghubungi dokter keluarga dan lalu pergi kedapur untuk membuat bubur. Sedangkan Inem kembali kekamar untuk merawat Arjun.


Dengan telaten Inem membasahi handuk kecil lalu memeras nya kemudian menempelkan nya ke kening Arjun. Itu dilakukannya berulang kali hingga dokter datang dan memeriksa kondisi Arjun.


Setelah memeriksa tubuh Arjun, selembar kertas yang isinya resep obat diberikan kepada Angga. Tak lupa dokter pun menjelaskan kondisi pasiennya saat ini. Setelah menyelesaikan tugasnya dokter pun pergi diiringi Angga.


Selang beberapa saat Selly pun datang sambil membawa sebuah nampan yang berisikan semangkuk bubur panas, segelas susu serta beberapa buah apel dan jeruk.


"Dokter bilang apa?" Tanya Selly sembari menaruh nampan yang dipegangnya keatas nakas yang letaknya persis disebelah tempat tidur Arjun.


"Hanya demam biasa mam."


"Haishh nih anak kenapa bisa demam kek gini sih?"


Sentuhan lembut Selly mendarat di kening Arjun. Memeriksa suhu tubuh anak sulungnya yang kini terasa panas.


"Maaf mam,,! Arjun begini gara - gara Inem." Suara Inem pelan menjelaskan kejadian semalam.


"Oh ya sudah,,, tolong rawat dia ya! Pastikan dia menghabiskan buburnya setelah bangun nanti dan jangan lupa obatnya! Tadi papi udah menyuruh supir untuk menebus obatnya."


"Iya mam." Inem mengangguk.

__ADS_1


"Oh ya,,, kamu juga jangan lupa sarapan! Jangan karna merawat Arjun kamu malah nggak makan, ntar kamu jadi ikutan sakit."


"Iya mam nanti Inem turun."


"Baiklah kalau gitu mami turun dulu ya!"


Tak berapa lama Selly keluar dari kamar, Arjun mulai membuka matanya. Perlahan bangkit dan berusaha untuk duduk bersandar. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing.


"Jangan bangun dulu, badanmu pasti lemas ya?"


Sepertinya ocehan Inem sama sekali tak digubris Arjun. Selimut yang tadinya membalut tubuhnya di singkirkan dan dia mulai menurunkan kedua kakinya dari atas tilam.


Melihat pergerakan Arjun, Inem bergegas mendekatinya. Kawatir akan terjadi sesuatu pada Arjun. Karna pemeriksaan dokter mengatakan kalau tensi darah Arjun juga rendah.


"Mau kemana? biar aku bantu ya! Kalau perlu apa - apa tinggal bilang aja ntar biar aku ambilin."


"Nggak perlu, aku bisa sendiri."


Saat Arjun berusaha berdiri sendiri, dia merasakan pusing yang teramat hingga tubuhnya hampir saja terhuyung kebelakang. Untung saja dengan cekatan Inem menangkap tubuh Arjun. Walau tubuhnya tak cukup kuat menopang namun setidaknya dia bisa menjaga tubuh Arjun tetap berdiri.


"Nah kan hampir aja,,, mau kemana sih? Biar aku bantu ya!"


"Ke toilet."


"Biar aku pergi sendiri aja." Arjun menyingkirkan tangan Inem yang melingkar di pinggangnya.


Sadar tangannya terlepas, Inem pun kembali memegangi Arjun dan memapahnya untuk berjalan.


"Akan ku bantu."


"Aku mau ke toilet."


"Iya aku tahu."


"Terus kenapa masih mau membantuku? Mau ngintip?"


"Sembarangan,,, " Pukulan kecil mendarat dikepala Arjun." Aku akan membantumu sampai depan pintu aja. Selebihnya kamu bisa sendiri kan?"


"Aku ini lagi sakit kenapa kamu malah memukulku?" Arjun mengeluhkan perbuatan Inem.


"Diam,,, atau aku akan memukulmu lebih keras lagi!"


"Kamu berani? "


"Dengan kondisimu seperti ini, apa yang bisa kamu perbuat?"

__ADS_1


"Ciihhh,, " Arjun berdecak kesal. Ingin sekali dia mendorong tubuh Inem namun apalah daya, dengan keadaannya yang sekarang ini tentu saja tak bisa menopang tubuhnya.


Setelah selesai dari kamar mandi, Inem pun membantu Arjun kembali ketempat tidurnya. Awalnya Arjun ingin membaringkan tubuhnya, namun Inem melarangnya.


"Apa lagi?"


"Makan bubur ini dulu!"


"Aku nggak nafsu makan." Sahut Arjun yang lalu membaringkan tubuhnya.


"Haish,,, kamu harus makan." Inem menarik lengan Arjun agar terduduk kembali.


"Aku bilang nggak mau ya nggak mau. Kamu denger nggak sih!?" Arjun menepis kasar tangan Inem dan membentaknya.


"Aihh keras kepala banget sih. Kalau kamu nggak menghabiskan bubur ini, maka aku akan mengganggumu terus."


Tak hilang akal, Inem pun mengancam Arjun agar mau menurut.


"Terserah." Ujar Arjun tak mengindahkan ancaman Inem. Dia kembali menjatuhkan tubuhnya keatas kasur dan membalut kan selimut hingga hanya kepalanya saja yang terlihat.


"Bener - bener kepala batu!"


...Tok,,, tok,,, tok,,,...


Tiba - tiba terdengar beberapa kali suara ketukan dari balik pintu. Setelah Inem memberikan isyarat, pelaku pengetukan pintu itupun membuka pintu dan lalu masuk kedalam menghampiri Inem yang duduk di tepi ranjang bersama Arjun yang tengah terbaring dibalik selimut.


"Belum bangun?" Tanya Selly yang ternyata dialah yang mengetuk pintu.


"Udah mam tapi cuma ke toilet aja."


"Kok buburnya belum dimakan?" Tegur Selly karna melihat bubur yang dibawanya masih utuh belum tersentuh.


"Belum mau katanya mam."


"Haishh,,, heh bocah tengik, jangan pura - pura tidur kamu. Cepetan habisin nih bubur! Atau mami akan memanggil dokter lagi dan menyuruhnya memberikanmu dua suntikan sekaligus!?"


"APA,,,, Arjun takut sama jarum suntik mam."


Selly mengangguk menanggapi pertanyaan Inem.


"Buahaha,,,, ini sungguh lucu sekali. Pantas saja tadi dokter hanya memeriksanya aja dan lalu memberikan resep obat. Ternyata,,,, ada yang takut disuntik rupanya."


Gelegar tawa Inem membuat Arjun jengkel dan kesal. Sontak dia bangun dan memberikan tatapan tajam kepada Inem.


...🌸 Bersambung 🌸...

__ADS_1


__ADS_2