
...🌸 Happy reading 🌸...
Keesokan harinya, entah bagaimana mereka yang awalnya tidur saling membelakangi kini mereka tidur berdekatan. Mereka saling berhadapan dan berpelukan.
Perlahan Inem mulai terbangun, dia merasa nyaman dalam dekapan Arjun, namun dia belum tersadar akan hal itu karna dia belum membuka matanya, dia mengira sedang memeluk guling yang empuk. Saking nyamannya sehingga dia mempererat pelukannya begitu juga dengan Arjun.
Merasa ada respon Inem mulai curiga, perlahan dia membuka matanya dan betapa kagetnya dia dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
Wajah tampan yang volos dengan mata yang terpejam dan rambut yang acak - acakan tepat berada didepannya. Sungguh pemandangan yang Indah, begitulah guman Inem dalam hati sambil memandangi wajah Arjun yang masih terlelap.
Tak puas hanya memandangi dan menikmati dekapan Arjun. Kini tangan Inem perlahan mulai menyentuh wajah Arjun. Inem merasakan setiap lekuk wajah Arjun yang membuat dia semakin terpesona akan ketampanan suaminya.
"Nih cowok kulkas kalau tidur gini kok ganteng juga ya." Ucap Inem pelan.
Entah punya nyali dari mana dia sehingga kini Inem berani menurunkan tangannya dan menyentuh dengan lembut bagian bibir Arjun.
Tak disangka saat Inem mengusap kan jarinya, Arjun malah menyambar jari Inem dan lalu menggigitnya kecil.
"Au,,, kau,,, sejak kapan kamu terbangun? " Sontak Inem melepas jarinya dari mulut Arjun.
"Sejak kamu bilang aku ganteng." Jawab Arjun sembari membuka matanya dan membenarkan posisi kepalanya sehingga menghadap tepat didepan Inem.
"Dih bengek,,, singkirkan tanganmu dariku!"
"Nggak,,, kita kan mau bikinin mami cucu!"
"Hih,,, mimpi." Inem memaksa melepaskan diri dari dekapan Arjun.
Bukannya melepas, Arjun malah semakin menarik Inem dalam pelukannya hingga tak ada jarak lagi diantara mereka berdua. Mata keduanya pun saling bertemu dan nafas mulai menjadi tak beraturan. Seketika Arjun pun merasa ada sesuatu dibawah sana yang mulai berontak.
Sadar akan hal itu, sontak Arjun lantas melepaskan pelukannya dan membiarkan Inem menjauh dari tubuhnya.
"Si@l,,, menjauhlah kau dariku!" Arjun pun lalu membalikkan tubuhnya dan menarik kembali slimut nya.
"Ugghh dasar aneh."
Setelah lepas dari Arjun, Inem lalu beranjak dari tempat tidur dan melenggang santai menuju kamar mandi. Sedang Arjun hanya melirik kepergian Inem.
Disaat Inem sedang ingin memegang gagang pintu kamar mandi, tiba - tiba ada suara ketukan dari arah luar pintu kamar. Arjun memainkan matanya ke arah Inem sebagai isyarat supaya Inem membuka pintu tersebut. Menangkap isyarat dari Arjun, Inem pun menghela nafasnya kasar dan lalu pergi memenuhi perintah Arjun yang masih berbaring di atas tilam.
__ADS_1
Setelah pintu tersebut terbuka, nampak lah seorang pelayan hotel sedang berdiri tengah membawa sebuah kotak berukuran sedang dan sebuah koper besar disampingnya.
"Permisi, selamat pagi nyonya." Sapa pelayan itu ramah ambil tersenyum dan sedikit membungkuk.
"Iya selamat pagi." Sahut Inem tersenyum balik.
"Maaf mengganggu, ini ada kiriman dari nyonya Selly." Ucap pelayan tersebut sembari menyodorkan kotak yang dipegangnya berserta kopernya.
"Oh ya makasih ya mb." Inem menerima barang - barang yang diberikan pelayan tersebut yang ternyata dia seorang perempuan.
"Sama - sama nyonya, permisi!" Sang pelayan itupun tersenyum dan membungkuk lagi lalu berbalik pergi.
Setelah kepergian pelayan itu, Inem lalu menutup pintu dan masuk kembali berserta barang - barang dari Selly.
"Apa itu?" Tanya Arjun melihat barang bawaan Inem.
"Entah,,, " Jawab Inem sambil mengidikkan kedua bahunya.
"Katanya ini semua dari mami." Lanjut Inem.
"Coba buka!" Perintah Arjun. Dia beranjak dari tidurnya dan lalu duduk ditepian ranjang sambil membenahi rambutnya dengan tangannya serta menggeliat kan tubuhnya.
Sesuai perintah Arjun, Inem pun membuka kotak yang ada ditangannya dan terdapat 2 tiket pesawat di dalamnya. Inem pun menunjukan isi dari kotak itu kepada Arjun.
"He em." Jawab Inem mengganggukkan kepalanya.
"Kemana?" Tanya Arjun lagi.
Tiket itupun dibuka oleh Inem dan saat Inem mengetahui tujuan dari tiket itu, seketika Inem berteriak kegirangan sambil melompat - lompat.
Arjun yang penasaran dengan polah Inem pun lalu menghampiri Inem dan menyambar tiket yang dipegang Inem. Tak seperti reaksi Inem yang berjingkrak - jingkrak, Arjun malah melempar tiket tersebut keatas kasur dengan wajah datar tanpa ada reaksi sedikitpun.
Melihat tiketnya dilempar begitu saja, Inem lantas berjalan dan mengambil tiket tersebut.
"Kok di buang sih?" Tanya Inem sembari duduk di tepi ranjang.
Celotehan Inem tak di sahut oleh Arjun. Dia berjalan mendekati nakas dan mengambil ponselnya yang tergeletak diatasnya. Diusap nya layar ponsel tersebut. Dengan piawai Arjun mengutak - atik benda pipih itu dan lalu menempelkannya di telinganya. Tak lama menunggu terdengar suara dari sebrang telpon.
...Call on...
__ADS_1
"📞 Selamat pagi sayang."
" 📞 Apalagi ini mam?" Tanya Arjun ketus tanpa basa - basi.
"📞 Apa sih sayang? pagi -pagi dah marah - marah aja? Kurang tidur ya? " Nada menggoda lembut dari sebrang telpon yang ternyata adalah Selly.
"📞 Kemaren kamar hotel dan sekarang tiket liburan. Mam,,, kerjaan Arjun tuh banyak dikantor mam. Arjun mana bisa pergi? Apalagi ini berhari - hari." Keluh Arjun memprotes tindakan Selly yang tanpa rundingan terlebih dahulu.
"📞 Tenang sayang,,, semua itu sudah diatur. Sudahlah kalian nikmati saja honeymoon nya ya! Fokus sama pesenan mami ok!"
"📞 Haishhh mam,,, Arjun nggak bisa lepas tanggung jawab gini aja dong."
"📞 Sssttt,,, mami nggak mau ya denger alasan dari kamu lagi! Lagian sudah ada Vian disini yang mengambil alih semua pekerjaan kamu. Jadi kamu bisa tenang deh, oke! Dah ya,,, mami tutup dulu! Salam buat menantu mami yang cantik! Selamat bersenang - senang!"
...Call off...
Begitu selesai bicara, Selly langsung menutup panggilannya tanpa memberi kesempatan lagi kepada Arjun untuk mengucapkan kata - kata.
" Ugghhh si@l!" Umpat Arjun seraya mengusap kasar wajahnya dan juga menyibak rambutnya kebelakang.
Sebenarnya bukan pekerjaan yang ada dalam pikiran Arjun saat ini. Pekerjaan hanyalah alasan untuk dia tak melakukan serentetan acara yang telah disiapkan oleh ibunya. Alasan yang sebenarnya tentu saja Lashira.
"Kamu itu kenapa sih? disuruh liburan kok nggak mau?" Tanya Inem.
"Kalau kamu ingin pergi, pergi saja sendiri sana!"
"Tentu saja aku mau pergi. Jepang adalah negara yang menarik untuk dikunjungi. Baiklah,,, kalau kamu nggak mau ya udah aku pergi aja sendiri. Eh tapi ya,,, aku kan baru pertama kali ini pergi keluar negri, aiihhh aku pasti akan kebingungan nantinya. Hmmm ya sudah kalo kamu beneran nggak mau, mending nih tiket buat temen aku aja ya! Biar dia yang nemenin aku!"
Mendengar ocehan Inem yang panjang kali lebar menambah kepenatan di kepala Arjun. Apalagi saat Inem bilang mau pergi dengan temannya, Arjun sontak menoleh ke arah Inem.
"Barusan kamu bilang apa?" Tanya Arjun.
"Aku mau ajak temenku aja." Jawab Inem.
Beraninya kamu mau pergi dengan orang lain?" Ucap Arjun.
Dengan langkah cepat Arjun mendekati Inem. Dia membungkuk, wajahnya berada tepat didepan Inem dengan tangannya yang berada disisi kanan kiri mengurung Inem. Sontak Inem mencondongkan tubuhnya kebelakang ber tumpuan kedua tangannya biar tak terjatuh.
"Kamu mau pergi sama lelaki itu bukan?"
__ADS_1
Tingkah Arjun membuat Inem terkejut sekaligus ketakutan karna sorot mata Arjun kini berubah menjadi menakutkan. Sama seperti waktu dimana Arjun menyeret Inem saat bersama dengan Bimo.
...🌸 Bersambung 🌸...