Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 67


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Setelah melakukan perjalanan yang tergolong mencekam karena semua penghuni mobil terdiam membisu sama sekali tak ada yang membuka suara, kini akhirnya sampailah mereka disalah satu toserba besar dikota itu. Arjun pun lalu memarkirkan kendaraannya ditempat yang telah tersedia.


Setelah mobil Arjun terparkir dengan rapi, Bimo pun lalu keluar terlebih dahulu guna membukakan pintu mobil untuk kekasihnya yang duduk dikursi depan sebelah pengemudi. Melihat perlakuan Bimo kepada Inem, Arjun hanya memicingkan matanya dan mengangkat sedikit salah satu sudut bibirnya.


Sesampainya di dalam market, dengan angkuhnya Arjun berjalan terlebih dahulu tanpa menghiraukan keduanya dan Inem sudah terbiasa dengan sikap Arjun yang seperti itu. Inem pun lalu mengambil troli disalah satu sudut market tersebut. Tak ingin kekasihnya kerepotan, Bimo lantas mengambil alih dan mendorong troli yang diambil Inem.


Dengan teliti dan cekatan Inem mengambil barang - barang kebutuhan rumahnya juga kebutuhan pribadinya. Begitu juga dengan Arjun, sedangkan Bimo dengan setia hanya mengikuti langkah kaki Inem.


Tiba disalah satu rak, Inem kesulitan mengambil barang yang diinginkannya. Hal itu dikarenakan letak barang tersebut terlalu tinggi buat Inem. Namun dengan sigap Bimo mengambilkan nya untuk Inem.


"Makasih ya!" Ucap Inem dengan nada lembut dan senyum manis mengembang menghiasi wajah ayunya.


"Sama - sama sayang. Kalau perlu apa - apa lagi bilang aja ya! Aku pasti akan bantuin." Sahut Bimo sembari mengusap lembut pipi Inem.


"Ehem,,, ehem!" Arjun berdehem melihat sikap Bimo dan lagi - lagi Arjun hanya melirik sinis menanggapi keduanya.


Sebenarnya Bimo sudah mengetahui maksud deheman Arjun. Namun Bimo malah sengaja menunjukkan perhatiannya dan kemesraan dengan Inem dihadapan Arjun. Semakin Arjun kesal maka Bimo akan semakin merasa senang.


Dua jam telah berlalu, troli belanjaan yang didorong Bimo kini sudah penuh dengan barang belanjaan. Mereka pun lalu pergi mengantri di kasir. Selama menanti antrian, Inem dan Bimo masih saja bersenda gurau dengan riang. Nampak wajah bahagia diantara keduanya dan pemandangan itu sungguh menyesakkan bagi Arjun. Diapun lalu pergi menjauh dan lebih memilih menunggunya ditempat yang agak jauh.


Beberapa saat kemudian Inem dan Bimo pun keluar dari market sambil membawa banyak barang belanjaan. Saking lamanya mereka berbelanja membuat perut Inem dilanda rasa lapar yang melilit. Dia pun lalu meminta untuk membeli makanan terlebih dahulu di sebuah tempat makan di toserba tersebut. Awalnya Arjun menolak keras kamauan Inem, itu karena dia sudah muak dengan Bimo. Yang ada di otaknya sekarang hanyalah ingin segera sampai rumah dan mengusir Bimo pergi. Dia bahkan merampas barang bawaan Bimo dan mengajak Inem untuk segera pulang. Namun Inem merengek bersikekeh ingin makan terlebih dahulu sebelum pulang.

__ADS_1


"Kamu kalau mau pulang ya pulang aja gih! Biar Inem sama aku!" Ucap Bimo kesal.


Mendengar ucapan Bimo membuat Arjun juga merasa kesal. Dia meletakkan barang yang direbutnya dari Bimo tadi dengan kasar di lantai dan lalu mendekati Inem.


"Pulang sekarang atau aku akan menyeret mu dengan kasar dan tanggung sendiri apa yang akan aku lakukan dirumah!" Gertak Arjun dengan suara setengah berbisik ditelinga Inem.


Setelah mengucapkan hal itu, Arjun lalu melenggang pergi menuju pintu keluar tanpa memperdulikan Inem dan juga Bimo. Mendengar ancaman Arjun seketika membuat bulu kuduk Inem berkidik. Pikirannya langsung memutar memori dimana saat Arjun mengerjainya disofa waktu itu dan tak ingin ada masalah lagi apalagi mengingat mereka sedang di tempat keramaian, maka Inem pun hanya mengikuti saja apa yang menjadi kehendak Arjun.


"Kita pulang saja!" Ucap Inem agak panik.


"Tapi yank,,, katanya kamu laper!"


"Nafsu makan ku tiba - tiba saja sudah hilang, ayo kita pulang saja! Aku tak ingin mengusik singa yang sedang tidur." Ucap Inem lagi sembari berjalan membuntuti Arjun.


Dengan senang hati Bimo mengiyakan permintaan Inem dan lalu mereka pun langsung masuk menuju dapur sedang Arjun hanya bisa memutar bola matanya saja dan mendengus kesal. Arjun pun lalu pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi sambil mengutak - atik ponselnya.


Samar - Samar terdengar suara riang Inem dan Bimo di ruang keluarga, walaupun TV menyala, namun suaranya tak bisa menutupi canda tawa dua orang yang berada dibelakang.


Telinga Arjun merasa terusik dengan suara keduanya hingga akhirnya dia pun penasaran dengan apa yang dilakukan kedua orang itu hingga menghasilkan suara yang sangat bising baginya. Arjun pun lalu mengendap - ngendap menajamkan kedua matanya dan telinganya untuk mengintip keduanya. Nampak keduanya sedang memasak bersama sambil bersenda gurau. Sungguh pemandangan yang indah namun tidak untuk Arjun. Entah kenapa dia merasa dadanya sesak dan tidak terima akan kedekatan keduanya. Ingin sekali dia melabrak dan mengusir Bimo. Namun dia berusaha untuk menahan emosinya karna tak ingin dia menjadi olok - olokan keduanya. Dia pun lantas kembali ke tempatnya dan menambah volume TV nya.


Walaupun sekarang acara TV sangatlah menarik, namun nampaknya Arjun tak fokus dengan apa yang ada di hadapannya. Rupanya pikirannya sedang berkeliaran kedimensi lain.


"Si@l,,, kenapa aku segelisah ini sih sama mereka. Shira juga,,, kenapa dia harus pergi dihari libur. Haiss aku jadi nganggur gini." Guman Arjun dalam hati.

__ADS_1


Ternyata wanita yang menjadi pujaan Arjun saat ini sedang ada keperluan yang tidak bisa ditunda lagi sehingga tak bisa menemani Arjun dihari liburnya dan membuat Arjun tak bersemangat hari ini apalagi ditambah kehadiran Bimo.


Satu jam kemudian Inem datang dan memanggilnya untuk makan bersama. Dengan langkah berat Arjun mengikutinya dari belakang. Sebenarnya dia malas sekali beranjak dari tempatnya sekarang, namun karna rasa lapar yang sudah menguasai perutnya dia pun akhirnya pergi juga.


Kini ketiganya sudah berkumpul diruang makan. Di atas meja pun sudah tersaji dengan rapi beberapa makanan berat dan juga makanan ringan serta tiga buah gelas besar yang berisikan air bening. Dengan cekatan Inem mengambilkan makanan buat Arjun. Setelah memberikannya, dia kini mengambilkan untuk Bimo dan saat ingin memberikan piring yang penuh dengan makanan kepada Bimo, Arjun berdehem tanpa mengalihkan pandangannya ke piring yang ada didepannya.


"Ehem,,, ehem,,, suamimu tuh aku, jadi kamu cukup melayani ku saja!" Ucap Arjun sinis.


Kesal sudah pasti itulah yang dirasakan Bimo setelah sesaat mendengar perkataan Arjun. Tapi bukan Bimo namanya kalau hanya berdiam diri saja. Tanpa basa basi dia menyahut saja piring yang dipegang Inem yang tadinya memang diperuntukkan untuknya.


"Makasih ya yank!" Ucap Bimo sambil tersenyum namun lirikan matanya mengarah ke Arjun.


"He em,,, makanlah yang banyak ya!" Sahut Inem.


"Pastinya dong yank. Aku mana bisa menolak masakanmu ini." Oceh Bimo.


"Sekali lagi kamu panggil begitu, maka aku tak segan mengusir mu!" Gertak Arjun.


"Emangnya kenapa sih? Dia kan pacar ku, wajar dong kalau aku panggil yank. Kok kamu sewot sih!" Ujar Bimo.


"Heh kodok buluk,,,, bagaimanapun juga dia tuh istri ku. Jadi kamu nggak ada hak panggil dia begitu!" Suara Arjun meninggi, dia juga menggebrak meja makan hingga suaranya membuat orang yang ada disana terkejut.


...🌸 Bersambung 🌸...

__ADS_1


__ADS_2