
...🌸 Happy reading 🌸...
Jeduaaarrrr
Bak disambar petir disiang bolong. Selly terperanjak mendengar kesaksian Arjun yang tanpa filter tersebut. Seketika pandangannya beralih ke arah gadis yang sedari tadi terkatuk diam berdiri di sampingnya yang saat ini tengah tertunduk tak berani melempar pandang ke arah Selly.
"Apa itu benar?" Tanya Selly kepada Inem namun suara Selly lebih pelan dibandingkan saat menegur Arjun.
Dengan takut Inem mengangguk pelan menanggapi pertanyaan ibu mertuanya tanpa mengubah posisi pandangannya. Sepertinya mulut Inem terkunci rapat sehingga tak bisa berucap. Terlihat bibirnya bergetar tipis, tubuhnya lemas dan penuh dengan keringat dingin.
"Apa - apaan kalian ini?! Bisa - bisanya kalian punya pacar? Haist,,, aku nggak habis pikir sama kalian!"
Selly semakin dibuat syok akibat ulah keduanya. Tiba - tiba dia merasa pening dan berat dikepalanya, pandangannya pun terasa gelap dan akhirnya tumbang hilang kesadaran.
Melihat ibunya hilang keseimbangan, Arjun lalu bergegas mendekati ibunya dan menangkap tubuhnya. Perlahan dibaringkan nya tubuh ibunya tersebut disofa dan berusaha menyadarkannya.
Sama halnya Arjun, Inempun panik dia berlari ke kamarnya guna mengambil minyak kayu putih dan lalu mengibas - ngibaskan didekat hidung mertuanya yang tengah tak sadar diri.
Tak lama kemudian Selly mulai bergerak dan mengerjapkan kedua matanya. Setelah matanya terbuka rasa pening terasa masih melekat dikepalanya. Selly pun memejamkan kedua matanya kembali dan memijat pelan kedua pelipisnya sambil mengatur nafasnya.
Inem pun tak tinggal diam, niat hati ingin membuat nyaman mertuanya dengan cara mengambil alih memijat pelipis mertuanya itu namun tangan Inem ditepis oleh mertuanya. Tak ingin menyerah Inem lalu mengambil segelas air putih kemudian memberikannya kepada Selly dan lagi - lagi Selly menolak perhatian Inem. Rupanya Selly sangat kecewa dengan anak dan menantunya.
Rasa bersalah menyelimuti hati keduanya. Namun mereka telah siap untuk menghadapi kedua orang tuanya. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk keduanya mengutarakan lagi apa yang menjadi keinginannya. Terutama Arjun yang selalu saja didesak Lashira untuk segera melangsungkan pernikahan.
Setelah lama beristirahat, Selly beranjak dari berbaring dan duduk. Dia membenahi penampilannya dan juga meminum air yang ada dimeja yang memang disediakan untuknya. Melihat keadaan Selly yang sudah membaik Arjun pun tak menyia - nyiakan kesempatan ini untuk membahas lebih serius tentang hubungannya dengan Lashira. Arjun juga mengutarakan niatnya untuk sesegera mungkin menikahi kekasihnya.
Lagi - lagi Selly syok mendengar apa yang diucapkan anak sulungnya itu. Namun kali ini Selly menjaga agar tubuhnya tetap stabil dan menerima peryataan Arjun. Dia tak ingin terlihat lemah didepan putranya.
__ADS_1
Lama Selly terdiam dan suasana ruangan itu pun menjadi hening. Ketiganya larut dalam pemikirannya masing - masing. Hingga akhirnya Selly mulai angkat bicara.
"Sampai kapan pun mami nggak akan merestui hubunganmu dengan wanita itu dan kamu Inem,,, segera putuskan lelaki itu dan kalian mulailah lagi untuk hidup bersama!"
"Tapi mam,,, aku dan Bimo itu,,,, "
"Mami nggak mau mendengar alasan apapun dari kalian. Kalau tidak,,, maka mami sendiri yang akan bertindak."
Setelah berkata, Selly lalu beranjak pergi meninggalkan rumah Arjun dan Inem tanpa memberitahukan apa maksud kedatangannya tadi.
Sesaat Arjun dan Inem saling pandang dan kemudian membuntuti Selly sampai pintu depan tanpa berani berucap lagi dan setelah kepergian Selly mereka berdua pun lagi - lagi saling beradu mata.
"Apa lihat - lihat,,,? Mau ku colok tuh mata?!" Ucap Inem dengan nada ganasnya.
"Dihhh,,, brengs3k semua ini gara - gara kamu!" Arjun pun menanggapi Inem dengan nada yang tak enak pula.
"Dasar si @lan malah ngatain aku brengs3k pula, heh kamu ngapain tadi nggak bilang kalau mami datang ha? Coba kalau kamu bilang, kan nggak bakalan ketauan b3go!" Arjun menarik paksa lengan Inem sehingga Inem pun menghentikan langkahnya dan berbalik pandangan kearah Arjun.
"Apa kamu bilang? Aku b3g0? Kamu tuh yang b3g0,,, kan tadi aku dah kasih kode ke kamu. Kamunya aja yang nggak pinter, nggak nangkep kode dari aku. Apa itu namanya kalau bukan b3g0?"
"Mana ada kamu ngasih kode? Kamu pasti sengaja kan biar ketauan mami?!"
"Dihhh sembarangan. Tadi itu yang aku kedip - kedip gini itu kan kode elah. Dasar t0l0l nggak ngerti malah ngatain orang." Ucap Inem sembari memperagakan lagi kode yang tadi diberikannya.
"Kamu tuh yang t0l0l,,, mana ada kode kayak gitu. Orang lain pun juga nggak bakalan paham tauuuu."
"Auk ah gelap,,,, !" Inem melenggang meninggalkan Arjun yang tak ada hentinya nerocos nggak jelas.
__ADS_1
Diruang makan, Inem sedang mengoleskan selai kesukaannya diatas selembar roti tawar. Walaupun Lashira masak banyak pagi tadi dan terlihat menggugah selera, namun Inem sama sekali tak mau menyentuhnya. Dia lebih memilih roti untuk mengisi perutnya.
"Kamu ini,,, kalau ada orang ngomong tuh jangan main kabur aja gitu dong, nggak ngehargai banget sih!" Arjun berdiri di sebelah Inem sambil terus mengomeli Inem yang tengah sibuk dengan roti dan selainya.
Lama kelamaan Inem pun merasa jengkel dengan semua ocehan Arjun dan untuk menghentikannya, dengan cepat secepat kilat Inem memasukkan sepotong rati yang tadi dipegangnya itu ke mulut Arjun. Seketika Arjun berhenti ngomel - ngomel. Dia membulatkan kedua matanya dan lalu memuntahkan roti tersebut ke lantai.
"Kau ini,,,! Kamu mau cari gara - gara sama aku ya!?" Bentak Arjun.
Inem tak gentar dengan bentakkan Arjun dan malah dia menyuapkan rotinya lagi kepada Arjun.
"Daripada kamu ngomel - ngomel nggak jelas dan buang - buang tenaga gitu mending kamu makan tuh masakan CALON ISTRIMU itu! Kan sayang kalau dianggurin ntar dilalerin lho!" Ucap Inem sembari memakan sisa roti yang ada ditangannya dan menegaskan kata calon istri karna merasa sangat dongkol. Kemudian dia pergi keluar rumah.
"Eoeee jangan pergi! Kita kan belum selesai ngomong!?" Teriak Arjun.
Inem tak mengindahkan teriakan Arjun dan dengan santainya dia melenggang menuju arah pintu utama.
Arjun kesal sekali dengan tingkah Inem, dia kembali duduk di kursinya dan memandangi piringnya yang masih ada makanan yang belum habis disantap nya dan kemudian mendorong piringnya dengan kasar hingga makanannya pun berceceran di meja makan.
...☘️🎍☘️...
Di kampus, Mutia sedang duduk termenung sendiri di sebuah bangku panjang yang letaknya tak jauh dari kelasnya. Kepalanya tertunduk kebawah memandangi kedua kaki nya yang berayun - ayun.
Di tengah lamunannya Mutia merasa ada yang menepuk salah satu bahunya dan berteriak mengagetkan nya hingga membuatnya terkejut terperanjak sampai ponsel yang dipegangnya terlepas dari genggamannya dan terjatuh kelantai.
...🌸 Bersambung 🌸...
Hmmm siapa yang usil sama Mutia sampe Mutia kaget gitu?
__ADS_1
Yuk tulis jawabanmu di kolom komentar 😉