
...๐ธ Happy Reading ๐ธ...
Jauh di negeri sebrang, tepatnya di sebuah negara kepulauan yang terletak di barat laut Samudra Pasifik. Negara ini dikenal dengan julukan โNegeri Matahari Terbit. Di samping itu, negara ini dikenal memiliki pemandangan bunganya yang indah hingga dijuluki Negeri Sakura. Julukan ini datang karena bunga khas yang dimilikinya, yaitu bunga Sakura, bunga yang banyak bermekaran selama musim semi yaitu sekitar akhir bulan Maret hingga bukan Juni.
Itulah mengapa Selly mengirim kedua pasangan sejoli yaitu Inem dan Arjun untuk mengunjungi negara ini. Selain ini adalah bulan yang tepat untuk menikmati indahnya semi bunga sakura, tapi juga negara inilah yang ingin sekali Inem kunjungi. Selly ingat betul saat mereka berbincang waktu itu. Dengan antusias Inem bercerita tentang kegemaran nya dan negara mana yang disukai dan ingin dikunjunginya.
Sore hari yang cerah, setelah lama merengek, akhirnya Arjun pun menuruti apa yang menjadi kemauan Inem dan keduanya pun lalu pergi ke sebuah taman bunga sakura yang terkenal di Jepang yaitu taman Shinjuku Gyoen.
Taman Shinjuku Gyoen terletak di dalam kota dan memiliki area yang cukup luas serta dilingkupi suasana yang nyaman untuk melakukan hanami. Di area dalam taman terdapat 65 jenis pohon sakura dengan jumlah sekitar 1.100 batang pohon. Saat musim gugur, pengunjung bisa menikmati pemandangan pepohonan yang daunnya berubah menjadi kuning kemerahan. Taman ini seolah-olah menjadi oasis di tengah kota besar.
Hanami sendiri artinya adalah tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Perayaan hanami merupakan satu dari beberapa perayaan tahunan di negara Jepang yang diselenggarakan pada musim semi. Musim bunga sakura mekar atau cherry blossom di Jepang adalah fenomena alam yang sangat indah. l
Kebahagiaan Inem terpancar jelas di wajahnya. Tak ingin kehilangan moment tersebut, diapun mengambil potret dirinya dengan berbagai gaya dan latar belakang pohon sakura yang sedang berkembang. Inem juga berpindah - pindah tempat mencari background yang berbeda-beda.
Setelah puas berselfie ria, Inem lantas bermain dengan kelopak bunga yang berserakan ditanah. Dipungut nya bunga - bunga tersebut dan lalu melemparkannya keatas dan membiarkannya berjatuhan menimpa dirinya sambil tersenyum riang.
Sedangkan Arjun hanya duduk diatas tikar bersandar kan pohon menikmati hembusan angin sepoy sambil melihat tingkah Inem yang menurutnya seperti anak - anak saja. Namun tak disangka hal seperti itu malah membuat Arjun merasa nyaman dan ada kebahagian tersendiri yang timbul dihatinya. Saking asiknya memperhatikan Inem tak terasa berkembang pula senyum di paras nya yang semakin menambah kegantengannya.
Setelah asik bermain - main, Inem lantas menghampiri Arjun. Inem berniat mengajaknya selfie bersama, namun Arjun dengan tegas menolaknya. Arjun malah bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Inem yang masih duduk di tanah yang beralaskan tikar. Dengan tergesa-gesa Inem mengambil tasnya dan menyusul Arjun yang sudah melangkah jauh darinya.
"Kok malah pergi sih? Mau kemana? Aku kan masih mau disini." Kata Inem yang kemudian berjalan beriringan dengan Arjun.
"Makan!" Jawab Arjun singkat.
"Asik,,, tau aja kalau aku udah laper."
Keduanya pun pergi ke sebuah tempat makan yang terletak di sekitar taman itu. Sebuah tempat makan yang cukup dikenal dengan hidangan yang enak. Sesampainya disana Arjun memesan beberapa hidangan yang asing sekali bagi Inem, namun itu sudah biasa bagi Arjun karna dia sudah sering kali ke negara ini.
Setelah menghabiskan semua makanannya, merekapun kembali ke penginapan. Sebenarnya Inem masih ingin jalan - jalan. Kan mumpung disana ya?, tapi Arjun bersikeras untuk kembali dan beristirahat. Tak tahan mendengar rengekan Inem yang minta untuk Jalan-jalan lagi, Arjun mempercepat langkahnya Hingga Inem pun kualahan dan tertinggal jauh.
Merasa tak lagi mendengar kicauan dari Inem maka Arjun pun menghentikan langkahnya. Dia berbalik namun tak mendapatkan Inem dalam pandangannya. Hal itu membuat Arjun kesal karna dia harus balik lagi dan mencari Inem. Tau sendiri kan bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Inem maka dia harus menerima hukuman dari ibunya.
Setelah berjalan cukup jauh, Arjun mendapati Inem duduk dipinggir jalan sendirian. Arjun mendengus kesal dan bergegas menghapirinya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu ingin aku kena marah mami?" Omel Arjun.
"Aku capek, kamu sih jalannya cepet banget."
"Alasan saja, ayo cepat jalan!" Perintah Arjun tanpa menghiraukan apa yang dirasakan Inem saat ini. dia berbalik arah dan melanjutkan langkahnya.
"Arjun tunggu, kita istirahat dulu ya!" Pinta Inem yang mengikutinya, namun Arjun sama sekali tak bergeming. Dia tetep saja berjalan.
"Arjun,,, auw,,, !" Inem terjatuh dan hal itu membuat lututnya lecet dan merasa sakit.
Mendengar rintihan Inem, Arjun lalu berhenti dan menoleh. Dilihatnya Inem sedang duduk dijalanan sambi memegangi lututnya yang terluka.
"Haishhh merepotkan saja." Gerutu Arjun sembari menghampiri Inem. "Kenapa lagi?" Tanya Arjun.
"Aku jatuh, nih lihat lututku jadi sakit gini!" Jawab Inem sembari meniup kututnya.
"Dih drama banget sih, luka kecil gitu aja diributin."
"Enak aja kecil, meskipun ini luka kecil tapi tetep aja sakit tau!" Jawab Inem ngegas.
"Ya nggak juga lah setidaknya tunggu sampai gak terasa sakit lagi!"
"Trus sampai kapan?"
Inem terdiam tak menjawab, dia lebih fokus meniup lukanya tinimbang meladeni ocehan Arjun yang hanya akan membuatnya naik pitam.
Sikap cuek Inem menambah kekesalanya, dia memutar bola matanya dan menghela nafas panjang untuk meredam amarahnya. Tak ingin menjadi tontonan karna bertengkar ditempat umum, akhirnya dia pun lebih memilih menurunkan sedikit egonya. Dia berjongkok membelakangi Inem.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Inem.
"Cepat naik sebelum aku berubah pikiran!"
"Maksudmu,,, kamu mau gendong aku?"
__ADS_1
"Naik atau aku tinggal?"
"Serius nih?"
"Kalau nggak mau ya udah." Ucap Arjun yang hendak bangkit dari posisinya.
"Tunggu,,, aku mau kok."
Dengan perasaan malu, perlahan Inem nemplok dipunggung suaminya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Arjun. Arjun pun bangkit dan menyusuri sepanjang jalan sambil menggendong Inem di punggungnya.
Entah kenapa saat Inem berada di dekat Arjun, jantungnya selalu berdetak sangat kencang dan tak beraturan. Tak hanya itu, dia juga merasakan ada perasaan nyaman bila bersama Arjun. Mungkin karna dia sudah terbiasa dengan keberadaan Arjun atau mungkin sudah ada rasa cinta pada dirinya. Namun Inem tak mau tergesa-gesa dalam menyimpulkan perasaannya apalagi sikap Arjun selama ini yang selalu membuatnya jengkel. Membuat Inem membuang jauh perasaannya itu.
Sesampainya ditempat penginapan, Arjun mendudukan Inem dikursi dan lalu berlutut di hadapannya. Saat dia hendak menyibak rok Inem, dengan sigap Inem memegang roknya dengan erat.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Inem.
"Dasar otak mesum, aku cuma mau ngobatin lukamu. Aku nggak mau ya dimarahin mami hanya gara - gara luka kecilmu ini."
"Dih kamu tuh yang otak mesum,,, biar aku obatin sendiri lukaku."
"Dasar bawel, bisa nurut nggak sih?"
Arjun menyingkirkan tangan Inem dan lalu dengan paksa menyibak rok yang menutupi lukanya. Dengan hati - hati Arjun membersihkan luka dan mengoleskan obat yang tadi dibelinya saat menuju pulang ke luka Inem. Sedang Inem hanya terdiam memperhatikan Arjun sambil sesekali meringid menahan sakit.
...๐ธ Bersambung ๐ธ...
Ahai reader ku tercinta, Terima kasih banyak atas suport dan dukungan nya. Jangan lupa dukung terus ya!
like
komen
vote
__ADS_1
gift jika berkenan ๐
Semoga terhibur dengan goresan tinta Inem, ๐ค๐