
...🌸 Happy reading 🌸...
Dikantor Inem disambut oleh Kelvin. Tentu saja itu atas perintah Selly. Selly memberi perintah kepada Kelvin untuk mengurus kedatangan Inem. Dari mulai menyiapkan tempat kerja hingga semua yang diperlukan Inem selama bekerja nantinya semua itu sudah diatur oleh Selly. Kelvin mengawal kedatangan Arjun dan Inem dari pintu masuk kantor hingga akhirnya sampai di depan ruangan Arjun, Kelvin lantas menunjukkan meja kerja Inem yang letaknya berada tepat didepan ruangan Arjun.
"Ini tempat kerjamu dan kalau butuh sesuatu jangan sungkan - sungkan minta bantuan kepada ku. Ruangan ku. ada disebelah sana!" Kelvin menunjuk ke sebuah ruangan yang letaknya berada disebelah ruangan Arjun.
"Iya baiklah dan mohon maaf bila aku selama kerja disini nantinya mungkin akan selalu merepotkan mu. Jawab Inem.
"Hehehe tak apa, itu memang sudah menjadi tugasku!" Sahut Kelvin.
Setelah menunjukkan tempat Inem bekerja dan memberi tahu Inem tentang pekerjaannya hati ini, Kelvin lantas membuntuti Arjun yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam ruangannya.
"Ini serius tuh istrimu kerja disini?" Tanya Kelvin.
"Cuman sementara aja." Sahut Arjun sembari membuka - buka berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
"Hmmm kalau seterusnya juga nggak apa - apa sih." Guman Kelvin. Kalau itu terjadi mungkin hanya Kelvin yang merasa sangat senang dan diuntungkan. Karna dengan begitu kesempatan Lashira untuk bersama dengan Arjun sedikit sekali.
"Kamu bicara apa barusan?" Tanya Arjun yang tak mendengar jelas ucapan Kelvin karna Kelvin bersuara pelan.
"Nggak,,, nggak apa - apa. Aku mau keruangan ku saja." Ucap Kelvin.
"Tunggu!"
"Ada apa?" Tanya Kelvin.
"Berikan ini kepada Inem. Suruh dia kerjakan semua ini dan harus selesai hari ini juga!" Arjun memberikan setumpuk berkas kepada Kelvin.
"Hah semuanya?" Tanya Kelvin tercengang karna saking banyaknya berkas yang harus dikerjakan Inem.
"Hmmm."
"Apa ini nggak kebanyakan? Mana mungkin ini bisa selesai satu hari Jun?"
"Berikan saja atau kamu mau kamu saja yang ngerjainnya?"
"Gila,,, aku sendiri kan banyak kerjaanku Jun!"
"Ya sudah kalau begitu berikan aja! Jangan kebanyakan protes kamu!"
"Baiklah baik,,,, !"
__ADS_1
Kelvin pun lalu pergi sambil membawa perintah dari atasannya.
...☘️🎍☘️...
Tik tok,,, tik tok,,, tik tok,,,
Suara jam dinding berdetak tiada henti, mengiringi lajunya jarum yang selalu bergerak di tiap detik, menit dan juga jamnya. Semua penghuni ruangan tidak ada yang tidak sibuk begitu juga dengan Inem. Dia tak menyangka pekerjaannya akan sebanyak ini dihari pertama bekerja. Entah ini memang seperti ini atau mungkin dia sedang dikerjain Arjun yang sekarang menjadi atasannya. Yang jelas dari pagi tadi dia belum istirahat sama sekali hingga saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"Gila,,, ini kapan kelarnya sih,,, ? Kalau tiap hari begini lama - lama aku bisa tewas duduk." Gerutu Inem setelah melihat masih ada beberapa tumpukan berkas di mejanya padahal dia sudah mengerjakan beberapa dan itupun membutuhkan waktu yang lama.
Untuk mengurangi rasa capeknya, Inem menggeliat dan merenggangkan tubuhnya. Hingga dia merasa sedikit nyaman. Diambilnya ponsel dari dalam sakunya dan saat menatap layarnya nampak beberapa pesan dan juga telpon yang tak terjawab dan saat dibuka ternyata sebagian pesan itu dikirim oleh Bimo.
"Aihhh banyak sekali pesan Bimo. Ini kalau tak dibalas bisa - bisa dia nekad nih, tapi kalau aku balas,,, aku mau ngomong apa? Secara aku sudah berjanji dengan mami kalau aku tak akan berhubungan sama Bimo lagi. Ughhh ini gimana coba,,,, ?" Guman Inem sembari memandangi layar ponselnya yang tak lagi menyala.
"Ehem,,,, !"
Tiba - tiba terdengar suara deheman seseorang yang seketika membuyarkan lamunan Inem.
"Tuh HP akan tetep gitu aja nggak bakalan berubah walau kau pelototin terus Nem." Celoteh Vian.
"Hih,,, kamu ini, siapa tahu dari sini nasibku bisa berubah." sahut Inem.
"Jadi beruang kutub aaarrrgggg." Inem memeragakan beruang yang hendak menerkam mangsanya.
"Hahaha,,, sepertinya karakter itu nggak cocok deh sama kamu, tapi kalau kamu ngotot tak apalah aku rela kok jadi mangsamu."
"Hmmm ntar ku cabik - cabik tubuhmu dan ku makan habis sekali lahab."
"Iya,,, iya,,, ayo kita buktikan seberapa banyak kamu bisa menghabiskan makan siangmu?" Ajak Vian.
"Eh,,, udah saatnya makan siang ya? Pantas saja perutku terasa lapar." Ucap Inem sembari memegang perutnya yang kempes.
"Seharusnya sih sebentar lagi. Ayo,,, ku ajak ke tempat makan yang enak disekitaran sini."
"Dengan senang hati." Inem tersenyum menyambut ajakan adik ipar nya.
Inem pun bersiap untuk pergi. Dia memebereakan berkas dan lalu mengambil tas serta ponselnya. Namun sewaktu dia hendak jalan, Arjun muncul dari balik pintu ruangannya.
"Mau kemana?" Tanya Arjun yang melihat Inem sudah siap pergi dengan tas yang sudah berada di gendongannya.
"Makan siang." Jawab Inem.
__ADS_1
"Siapa yang mengijinkamu pergi makan siang?"
"Bukankah sudah waktunya? Apa aku harus minta ijin padamu dulu untuk makan siang?"
"Tentu saja,,, kamu kan sekretaris ku. Jadi kamu harus mendapat ijin ku dulu sebelum melakukan sesuatu." Jawab Arjun ketus.
"Ayolah bang,,, kan cuma makan siang ini lho. Biarin aja napa sih?" Ucap Vian.
"Ini bukan urusanmu. Kalau kamu mau makan, sana makan sendiri aja! Ajak aja tuh sekretaris mu sendiri jangan ajak orangku!" Arjun lebih mempertegas lagi ucapannya.
"Hilih cuma ngajak makan aja nggak boleh,,, dasar pelit.!
"Inem masuk keruangan ku sekarang!" Kata Arjun dengan nada yang tegas.
"Aiihhh perintah boss tak boleh ditolak. Ya sudah kamu makan sendiri aja ya! Kita makannya lain kali aja! Daripada ntar tuh beruang kutub ngamok kan jadi tambah runyam ntar urusannya."
"Nggak usah hiraukan dia! Yuk lah kita pergi makan aja!" Bujuk Vian.
"Kamu ini ya,,, dadi uwong kok yo ngeyel, ngene iki njur aku kudu kepiye iki jal?" Inem menjadi geregtan karna Vian masih saja mengajaknya.
("Kamu ini ya,,, jadi orang kok ngeyel, kalau begini lantas aku harus gimana coba?")
"Artinya apaan Nem?" Tanya Vian yang nggak ngerti bahasa Inem.
"Liat aja dibawah ini ya!" Jari Inem menunjuk kebawah sebatas perut seolah - olah ada teks terjemahan seperti di film - film.
"Kalau masih nggak ngert juga, tanya tuh sama goggle! Dia kan tau semuanya. Dah ah aku mau masuk dulu,,, takut beruang kutub ngamuk." Lanjut kata Inem yang lalu berbalik jalan masuk kedalam ruangan Arjun.
"Hiihhh,,, tuh anak makin lama makin bikin aku geregetan aja." Ucap Vian gemas.
Didalam ruangan terlihat Arjun sedang serius dengan berkas yang ada ditangannya dan tanpa menoleh, dia menyuruh Inem untuk duduk di kursi depan mejanya. Inem pun hanya menurut saja perintah dari atasannya itu dan menunggu perintah apa lagi yang akan diberikan Arjun. Namun cukup lama dia duduk dia tak mendapat perintah juga. Arjun hanya terdiam dan masih tetap fokus dengan kerjaannya.
"Nih orang maunya apa sih? Masa dari tadi aku cuma duduk doang disini lihatin dia kerja. Kalau emang nggak ada kerjaan ya udah kenapa nggak biarin aja aku makan sama Vian tadi. Malah nyuruh aku anteng kek gini. Kurang kerjaan banget ini sih. Hmmm jangan - jangan nih beruang kutub sengaja nih. Dia sengaja ngerjain aku biar kelaparan disini. Ughhh awas saja jika itu benar,,, aku akan membalasmu dan itu pasti!" Gerutu Inem dalam hati.
Suara Inem memang tak terdengar namun raut wajahnya saat ini tak bisa menyembunyikan rasa kekesalannya dihati dan itu terlihat jelas boleh Arjun walaupun Arjun melihatnya hanya dengan melirik sekilas.
"Hahaha,,, sukurin, kesel kan kamu? Siapa suruh main - main sama Arjun. Sekarang terimalah akibatnya. Tadi kamu bisa bisa senyum senang sama Vian, tapi lihatlah sekarang,,, aku tahu kamu pasti kesel banget kan hahaha!" Batin Arjun.
Rupanya Arjun memang sedang balas dendam kepada Inem. Karna melihat Inem dan Vian bercanda didalam mobil selama perjalanan tadi pagi.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1