Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 91


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Inem kembali merebahkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan handuk. Namun beberapa saat kemudian......


...Kruyuk,,, kruyuk,,,...


Terdengar suara dari perut Inem. Rupanya tuh perut sedang protes minta diisi. Wajar saja protes, karna sedari sore Inem belum makan apa - apa. Inem kembali bangkit dari tempatnya sekarang, dia mondar - mandir kebingungan antara keluar atau menahan lapar. Sungguh pilihan yang sulit baginya. Berkali - kali dia mondar mandir tak jelas dan beberapa kali pula perutnya bersuara. Akhirnya karna tak tahan lagi dia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Perlahan Inem membuka pintu dan hanya mengeluarkan kepalanya saja. Dia melihat ke penjuru ruangan berjaga - jaga kalau ada Arjun maka Inem akan kembali ke dalam kamar mandi. Setelah memeriksa setiap sudut kamar tak nampak pun Arjun disana. Kesempatan ini tentu tak disia - siakan nya, Inem lantas keluar dari kamar mandi dengan berjalan perlahan bak pencuri yang sedang mengendap - endap dan dia bernafas lega saat benar - benar tak menemuka Arjun didalam kamar. Dia lantas mengambil ponselnya dan lalu buru - buru keluar kamar.


Sesampainya di ruang makan dia lantas mencari makanan untuk mengisi perutnya. Dia membuka tudung saji yang ada diatas meja makan. Didalamnya ada beberapa makanan yang nampak menggugah seleranya. Tanpa menunggu lama dia lalu mengambil piring dan lalu mengisinya dengan nasi kemudian duduk menikmati hidangan.


Disaat Inem sedang asik makan, tiba - tiba ada Vian melintas. Nampaknya Vian baru saja pulang dan saat hendak masuk kamar dia melihat Inem sendirian sedang melahap makan malam. Vian menatap Inem yang belum menyadari keberadaannya. Dilihatnya jam di dinding yang saat ini menunjukkan pukul sebelas malam lebih. Vian heran kenapa gadis yang dilihatnya ini baru makan selarut ini. Akhirnya dia lalu menghampiri Inem.


"Ehmm,,, ehmmm,,,, "


Deheman Vian membuat Inem seketika menghentikan kegiatannya dan lalu mengalihkan pandangannya kepada yang punya suara.


"Ini sudah larut, kanapa baru makan?" Tanya Vian yang sekarang ini sudah duduk berhadapan dengan Inem.


"Eh Vian,,, kamu belum tidur?" Tanya Inem balik.


"Kau ini,,, bukannya menjawab malah balik nanya. Aku baru saja pulang."


"Kamu baru pulang? Hmmm aku tahu, kamu pasti habis jalan sama si semut ya?" Tanya Inem sembari tersenyum menggoda.


"Semut? Siapa yang kamu maksud semut?"


"Mutia elah,,, aku kalau manggil dia tuh semut. Iya kan kamu habis jalan sama dia? Ayo dong cerita sudah sejauh mana hubungan kalian?" Tanya Inem kepo.


"Oh Mutia, kami tak ada hubungan apa - apa." Jawab Vian.


"Hah nggak ada apa - apa gimana maksudnya? Kalau nggak ada hubungan ngapain kalian jalan bareng?"


"Hanya untuk mengobrol aja nggak lebih."

__ADS_1


"Teman ngobrol,,, ? Kok aku nggak percaya ya. Masak cuman teman ngobrol sih?"


"Kalau dah dibilang cuman teman ngobrol ya teman ngobrol. Lagian ngapain sih segitu ingin tahunya? Kepo,,, ! Lhah kamu sendiri ngapain malem - malem gini baru makan?"


"Ya suka - suka aku lah mau makan kapan aja,,, kok kamu kepo,,, ?"


"Hilih,,, terserah lah." Ucap Vian kesal lalu bangkit dari duduknya dan kemudian pergi meninggal kan Inem yang masih sibuk dengan sendok dan piringnya.


Setelah menyelesaikan makannya, Inem lantas pergi ke ruang keluarga. Dia menyalakan TV dan lalu duduk sambil memainkan ponselnya. Tak disangka ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan juga pesan tertulis yang tertinggal. Saat dicek semua itu berasal dari satu sumber yang tak lain adalah Bimo. Inem tak ingin membuka pesan Bimo karna sekalinya Bimo tau kalau Inem sedang online pasti Bimo akan menelponya saat itu juga dan Inem tak mau itu karna kalau ketahuan oleh seseorang di rumah itu pasti Inem akan kena marah lagi. Jadi Inem lebih memilih untuk meletakkan ponselnya di atas meja dan fokus menonton TV.


Tak terasa malam semakin larut saja. Karna sepi jadi Inem memutuskan untuk tidur saja disofa panjang dan empuk diruang keluarga. Inem berfikir akan bangun pagi - pagi buta untuk pindah ke kamar Arjun. Inem juga sudah menyiapkan alasan kalau - kalau nanti ada yang melihatnya tidur didepan TV.


"Ya aku akan bilang akun ketiduran aja saat menonton film. Ini alasan yang masuk akal kan?" Guman Inem.


Inem pun lalu bersiap untuk tidur dan untuk melancarkan rencananya dia membiarkan TV nya menyala begitu saja. Namun baru juga sebentar dia merebahkan tubuhnya, tiba - tiba ada yang mengganggunya. Inem merasakan ada sentuhan di kakinya. Sontak dia menarik kakinya keatas, namun tak berapa lama sentuhan itu kembali dirasakannya. Inem bangkit kemudian mencari tahu apa yang baru saja mengganggunya, namun dia tak mendapati sesuatu yang mencurigakan ataupun seseorang selain dirinya. Melihat tak ada pergerakan membuat bulu kuduk nya seketika merinding dan berfikir kalau yang mengganggunya adalah makhluk yang tak kasat mata. Diambilnya bantal dan dipeluk nya dengan erat sembari melempar pandang ke se penjuru ruangan yang gelap. Dan disaat dia ketakutan tiba - tiba sesorang muncul dari balik kursi panjang yang menjadi tempat tidur Inem barusan.


"Baaaa,,,,,!?" Suara Vian menggelegar mengajukan Inem yang sedang ketakutan.


Kaget bukan kepalang,,, Vian berhasil menakuti Inem sampai berteriak. Namun Vian berhasil membungkam mulut Inem sebelum teriakannya itu membangunkan semua orang yang berada dirumah itu.


"Iya ampun,,, ampun ya,,, ! Sudah hentikan atau semua akan terbangun karna kita berisik!"


"Ughhh siapa suruh nakutin aku. Ku pikir kamu genderuwo tau,,,, hampir aja aku lari." Ucap Inem kesal.


"Sorry,,, sorry,,, habisnya kamu ngapain disini? Merem pula,,, jangan bilang kamu berencana tidur disini?"


"E,,, itu,,, anu,,, " Suara Inem terbata tak bisa mengeluarkan kata - kata.


"Haishhh,,, sudah kuduga. Mana mungkin kamu mau tidur sama abangku."


Inem menunduk dan mengangguk pelan.


"Ya sudah kamu tidur di kamarku sana! Biar aku yang tidur disini."

__ADS_1


"Eh nggak,,, kamu nggak perlu gitu. Nggak apa - apa kok kalau aku tidur disini. Asal kamu nggak nakutin aku lagi kayak tadi."


"Hust,,, mana boleh aku membiarkan gadis tidur disini sendirian."


"Boleh aja lah,,, emang siapa yang nggak nge bolehin? "


"Aku lah,,, siapa lagi." Ucap Vian.


"Haishh kau ini. Lagian kamu ngapain sih dah malem gini bukannya tidur malah keluar?" Tanya Ibem mengalihkan pembicaraan.


"Aku haus,,, aku berniat ambil minum tadi. Pas lihat kesini kok TV masih menyala trus aku cek ternyata ada kamu tidur disofa ya udah aku jailin aja hehehe." Jawab Vian cengengesan.


"Heleh,,, seneng ya dah jailin orang? Kurang kerjaan tau nggak. Udah ambil minum belum?"


"Belum." Vian menggeleng.


"Buruan ambil minum gih trus masuk kamar tidur!" Perintah Inem terdengar seperti ibu sedang memberi perintah kepada anaknya.


"Dah ilang hausnya dan aku sekarang mau tidur." Vian ikut berbaring di sofa yang ada disebelah sofa yang diduduki Inem.


"Eh,,, eh,,, kok malah tidur disini sih? Masuk kamar sana." Perintah Inem lagi, dia bingung kenapa Vian malah memilih tidur disofa seperti dia.


"Kamu yang masuk kekamar atau kita tidur berdua disini dan biarkan mami sama papi tau." Ancam Vian.


"Haishhh,,,,, Kau ini."


"Udah sana cepetan tidur! Lagian aku nggak suka tidur di kamarmu itu. Apaan tuh kamar ijo - ijo semua, dah kayak nyi Roro kidul aja kamu semuanya serba ijo. Eh jangan - jangan kamu titisan nya ya? Kamu kan dari Jogja kan?" Vian kembali ke posisi duduk.


"Husttt ngaco kamu nggak ada hubungannya dengan itu tau. Aku memang suka ijo tapi bukan itu alasannya."


"Trus apaan dong?"


"Helleh,,, ngomong kalau sama kamu tuh nggak ada habis nya. Mending aku tidur aja deh." Inem berkata sambil berlalu menuju kamar.

__ADS_1


Sedang Vian tetap berada diruang tamu. Dia kembali berbaring dan tersenyum memandangi punggung Inem yang semakin lama semakin menjauh darinya. Tak lama kemudian Inem kembali membawa selimut untuk diserahkan kepada Vian dan tanpa disadarinya sepasang mata menyaksikan serah terima tersebut. Rasa geregetan muncul saat dia melihat kedua orang yang berada di ruang keluarga itu saling melempar senyum. Tatapan tajam tersorot mengawal Inem sampai masuk ke dalam kamar yang seharusnya ditempati Vian.


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2