
...🌸 Happy reading 🌸...
Sore ini setelah menerima telepon dari Selly, Arjun langsung bergegas pulang. Diruang keluarga dia menjumpai Selly sedang duduk berdua bersama dengan Angga. Dilihatnya wajah keduanya nampak serius. Arjun tau betul kalau kedua orang tuanya sudah seperti itu pasti ada hal penting yang akan mereka sampaikan padanya. Apalagi tadi Selly menyuruhnya untuk sesegera mungkin pulang kerumah.
Dengan langkah pelan Arjun mendekati kedua orang tuanya. Setelah mengucapkan salam, diapun lalu mencium secara bergantian punggung tangan keduanya.
Tak seperti biasanya, kali ini Selly terdiam cuek tak menyambut sapaan Arjun. Hal itu membuat Arjun merasa tak nyaman dan penasaran akan sikap Selly terhadapnya. Diapun lalu duduk disebelah Selly yang berhadapan dengan Angga.
"Kenapa aku di suruh pulang sekarang mam? Apa ada hal penting?" Tanya Arjun.
"Papi aja deh yang ngomong!" Sahut Selly ketus tanpa melihat Arjun sama sekali. Kedua tangannya bersedekap dan kakinya disilangkan dipangkuan kaki yang satunya.
"Dengar ya Arjun! Kami sudah sepakat akan mengadakan resepsi dan juga mencatatkan pernikahanmu secara hukum. Kemungkinan besar acara akan dilaksanakan 3 bulan lagi. Semua sudah kami atur, kalian cukup mempersiapkan diri dan mencatat siapa saja orang yang akan kalian undang."
Pernyataan Angga yang secara mendadak ini sungguh mengejutkan Arjun. Bagaimana bisa orang tuanya meminta hal itu lagi sedangkan dulu sudah pernah diambil keputusan untuk menundanya terlebih dahulu sampai waktu yang telah ditentukan. Tapi sekarang tiba - tiba saja mereka mengungkitnya kembali.
"Apa? Arjun nggak salah denger nih pap? Bukankah kita sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya? Lalu kanapa mami dan papi mengambil keputusan itu tanpa persetujuan kami?"
"Papi dan mami sudah memikirkan ini baik - baik dan tidak ada penolakan lagi dalam bentuk apapun." Ucap Angga tegas.
"Mam,,, tolong mengerti aku dan beri aku sedikit waktu lagi!"
"Waktu,,, waktu untuk apa Arjun? Waktu agar kamu bisa bebas berduaan dengan wanita lain begitu maksud kamu? Ingat Arjun,,, kamu sudah menikah, nggak sepantasnya kamu bermesraan dengan wanita selain istrimu. Sungguh memalukan."
__ADS_1
Sepertinya Selly sudah tidak bisa lagi meredam amarahnya. Dia berbicara dengan nada yang agak tinggi kepada anak sulungnya yang kini sedang berusaha memohon pengertian kepadanya.
"Apa maksud mami?" Arjun tak mengerti arah pembicaraan Selly.
"Tadi mami dan papi nggak sengaja melihat kamu dengan seorang wanita. Dan kami yakin hubungan kalian bukanlah sekedar teman ataupun rekan kerja. Kami khawatir itu akan berpengaruh buruk pada pernikahan kalian. Jadi kami memutuskan akan meresmikan pernikahan kalian." Jelas Angga.
"Mam,,, pap,,, ini nggak seperti apa yang kalian kira?"
Seberapa keras pembelaan Arjun, nampaknya nggak akan membuat orang tuanya percaya begitu saja. Mereka Akan tetep pada pendiriannya. Sepertinya ini akan menjadi keputusan yang tak bisa lagi diganggu gugat.
"Pap,,, mam,,, tolong mengerti aku. Kami sudah lama berpacaran, kami sudah berhubungan jauh sebelum ada Inem. Dan pernikahan ini telah mengacaukan impian kami. Aku mohon kepada kalian untuk bisa mengakhiri pernikahan ini. Kami tidak saling cinta bagaimana kami bisa bahagia bersama? Ini nggak adil buat kami mam."
"Mami nggak mau menerima alasan apapun. Mau seberapa lama kalian pacaran mami nggak peduli. Hubungan kalian harus diakhiri sekarang juga. Sekarang istri kamu adalah Inem. Dialah jodoh terbaik untukmu. Jangan sampai ada wanita lain diantara kalian. Mami nggak mau hal itu terjadi."
Permintaan Arjun hanyalah dianggap angin lalu oleh Selly. Dia sama sekali nggak mau mendengar apapun tentang wanita yang pada kenyataannya dia adalah pemilik hati anak pertamanya.
Tanpa disadari perdebatan antara ibu dan anak itu diketahui oleh Inem. Inem yang baru saja pulang bersama Vian mendengar semua keluh kesah Arjun. Merasa dirinya hanyalah sebuah beban, maka diapun memberanikan diri untuk angkat bicara. Walaupun ini berat baginya harus mengingkari janjinya kepada bundanya namun apalah daya dari pada dia harus terpaksa dan tersiksa Inem lebih memilih untuk pergi dari kehidupan pria yang tak mengharapkannya.
"Inem bersedia untuk tidak melanjutkan pernikahan ini mam." Suara Inem pelan.
Semua orang yang berada ditempat itu tercengang mendengar ucapan Inem. Semua mata sontak memandangnya. Selly yang tadinya berdiri jauh darinya kini berjalan mendekati Inem dan lalu mengusap lembut pipi Inem.
"Mami nggak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Apapun yang terjadi kamu akan tetap menjadi menantu mami."
__ADS_1
Selly memeluk Inem dan mengusap lembut rambut panjang inem. Pelukan Selly dirasa Inem sangatlah nyaman dan juga menenangkan. Disaat - saat inilah Inem merasa tak rela bila berada jauh dari Selly. Karna baginya Selly lah yang sekarang ini bisa menggantikan keberadaan bundanya. Tapi kalau mengingat sikap Arjun kepadanya membuat Inem ingin sesegera mungkin lepas dari jeratan pernikahan yang tak diharapkan. Dengan berat hati Inem melepaskan pelukan Selly dan mencoba meyakinkan Selly agar bersedia menyudahi ini semua.
"Tapi mam, tidak ada kecocokan diantara kami sama sekali. Mana mungkin kami bisa hidup bersama. Lagian masing - masing dari kami kan sudah mempunyai pilihan sendiri. Jadi Inem mohon ijinkan kami bahagia dengan pilihan kami!"
Entah kekuatan apa yang merasuki Inem hingga bisa berkata seperti itu didepan mertuanya. Padahal selama ini dia mencoba untuk bisa menerima kenyataan dan merelakan cintanya. Namun sekarang semua itu dirasa sia - sia saja.
"Dengarkan mami! Mami tau ini akan sulit buat kalian tapi percayalah perlahan cinta akan datang disaat kalian bisa saling menerima. Jadi jangan pernah merasa terbebani dengan pernikahan ini. Mami yakin kalian pasti bisa bahagia." Selly berusaha meyakinkan Inem dan juga Arjun supaya bisa memulai dari awal lagi.
"Tapi mam,,,"
"Keputusan sudah diambil dan kalian tidak akan bisa lagi mengubahnya."
Sekali lagi Selly menegaskan apa yang sudah menjadi keputusannya dengan suaminya. Mendengar hal itu Arjun mendengus kesal. Dia langsung melangkah pergi menuju arah pintu utama. Saat melewati Inem yang masih berdiri ditempatnya, Arjun melempar lirikan tajam kepada istrinya itu.
Lirikan tajam Arjun membuat Inem semakin tidak karuan. Dia menunduk seakan tak ingin menatap masa depannya bersama lelaki yang tak bisa menerimanya.
Disaat Inem hanyut dalam lamunannya tiba - tiba dia merasakan sebuah sentuhan ditelapak dan jemari tangannya. Sentuhan yang dirasa asing baginya namun terasa hangat dan juga lembut. Perlahan dia mengarahkan pandangannya ketangannya dan kemudian melihat siapa yang telah menggenggam tangannya.
"Vian,,,. " Ucap Inem saat mengetahui bahwa Vianlah yang telah menggenggam tangannya.
"Jangan khawatir,,, ada aku disini!" Sahut Vian sambil tersenyum.
...🌸 Bersambung 🌸...
__ADS_1