Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 21


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Kembali kepov Inem dan Arjun tentu saja masih dihari yang sama.


Sekarang ini perasaan kesal sedang menyelimuti hati Arjun. Hari yang dibayangkan akan terasa indah bersama kekasihnya kini telah berubah menjadi menyebalkan karena dia harus menemani wanita yang tidak disukainya. Hal ini sungguh diluar dugaannya.


Diinjaknya pedal gas mobil dengan kecepatan tinggi hingga mobilpun melaju sangat kencang menerjang jalanan yang saat ini cukup ramai. Arjun sama sekali tak memperdulikan orang yang ada disebelahnya kini sedang tegang gemetaran karena ketakutan. Inem memegang erat handle yang ada disampingnya, matanya terpejam namun sesekali melirik kearah depan. Jantungnya berdebar keras dan cepat serasa mau copot saja.


Karena sudah tak tahan lagi akhirnya Inem memberanikan diri berteriak. Dia sudah nggak perduli terserah kalaupun Arjun mau marah atau apalah.


"Arjun tolong jangan begini! Pelankan mobilmu!" Teriak Inem.


Namun Arjun sama sekali tak bergeming. Dia hanya menyunggingkan sudut bibirnya dan tersenyum pahit, tapi pandangan tetap lurus kearah depan.


"Arjun,,, jangan gila kamu ya! Kamu kalau mau mati jangan ajak - ajak aku lah. Mati aja sendiri sana! Aku masih mau hidup." Teriak Inem lagi.


"Hah mati,,,? Ide yang bagus. Ok,,, kita akan mati bareng!" Jawab Arjun kecut.


"Gila,,,, apa maumu ha?" Inempun semakin kesal saja mendengar jawaban dari Arjun


"Mauku,,,? Mauku kamu enyah dari hidupku, aku sudah muak dengan hubungan ini." Pandangan Arjun tetap ke arah depan.


"Heh dasar bego,,, kamu pikir kamu aja yang muak? Aku juga muak dengan sikapmu selama ini. Dasar sombong nggak punya perasaan." Akhirnya Inempun ikut menyuarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?"


"Dasar kamu manusia sombong, dingin, egois nggak berperikemanusiaan!"


Mendadak Arjun menepi dan menginjak rem sehingga membuat mobil yang dikendarainya berhenti begitu saja dipinggir jalan. Sorot matanya tajam tertuju kepada Inem yang duduk disebelahnya.


"Katakan sekali lagi!"


"Hah,,, apa kau tuli? Apa kurang jelas aku mengatakannya?" Nada suara Inem yang masih meninggi karena emosi.


"Kau ini!?" Mendengar celoteh Inem membuat Arjun semakin geram dan mempertajam tatapannya.


"Kenapa? Kamu nggak terima?" Walau merasa ketakutan namun Inem memberanikan diri membalas tatapan mata Arjun.


"Apa?! Kamu berani mengusirku?" Setengah tak percaya Inem dengan sikap Arjun yang barusan.


"Keluar!?" Arjun berteriak dan melemparkan pandangannya kembali kedepan. Tangannya menggenggam erat stir dan nafasnya mulai tak beraturan. Nampaknya dia benar - benar marah karena diluar dugaannya, ternyata Inem berani bersikap seperti itu terhadapnya. Tak seperti biasanya yang hanya diam dan menurut.


Sama halnya dengan Inem. Kini hatinya juga di penuhi dengan perasaan dongkol dan amarah. Tanpa pikir panjang dia langsung melepas seatbelt yang tadinya melingkar ditubuhnya dan buru - buru keluar dari mobil. Inem juga menutup pintu mobil dengan kasar. Dipandangnya mobil Arjun yang kembali melesat kejalanan.


"Dasar cowok k@mvret,,, berani - beraninya dia nurunin aku dijalanan kayak gini. Si@l,,, si@l,,, si@l,,,, awas saja kamu Arjuuuuun! Aaaaaaaa,,,,, " Inem menggerutu dan berteriak kesal sambil menghentak - hentakan kedua kakinya dan mengepal keras kedua tangannya.


Dengan langkah berat kini Inem berjalan menyusuri trotoar. Disepanjang jalan dia tak henti - hentinya menggerutu dan juga mengumpat. Meluapkan kekesalan dengan menendangi batu kerikil yang dia jumpai. Hiruk pikuk dijalananpun tak lagi dihiraukan. Yang dilakukan hanyalah berjalan dan terus berjalan.

__ADS_1


Cukup lama Inem melangkahkan kaki. Dia sama sekali tak tau kemana arah tujuannya saat ini. Kota ini benar - benar asing baginya.


"Haishhh bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Alamat rumah akupun tak tau. Astaga,,,, semua ini gara - gara si brengs3k si@lan itu.! Sebel,,, sebel,,, sebel,,, !?" Inem kembali menghentakkan kakinya dengan kesal.


Tak selang berapa lama, sebuah mobil tipe sedan yang mewah berwarna silver datang dari arah belakang dan menghampirinya. Terdengar suara klakson dari dalam mobil tersebut namun kaca mobil masih tertutup rapat.


Inem tak menghiraukan keberadaan mobil itu. Dengan santainya dia berjalan menjauh dari mobil itu. Begitu juga dengan mobil silver itu. Sang pengendara melajukan mobilnya pelan mengiringi jalannya Inem sambil membunyikan klakson secara beruntung dan terus menerus.


"Hai nona!? Apa telingamu tuli ?" Teriak seseorang yang kebetulan berada disisi jalan.


Inem menoleh kearah suara namun Inem tak menanggapi orang itu. Dia masih saja berjalan dan klaksonpun juga tak hentinya berbunyi.


"Kalau ada masalah tuh diselesaikan dong! Jangan mengganggu orang seperti ini. Berisik tau!?" Lanjut teriak orang yang sama.


Akhirnya Inempun menghentikan langkahnya. Dengan terpaksa dan perasaan penuh kesal diapun masuk kedalam mobil itu. Seketika klaksonpun berhenti berbunyi.


Setelah memastikan Inem duduk, Arjunpun kembali melajukan mobilnya. Kali ini dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang biasa. Ternyata pemilik mobil silver itu adalah Arjun. Dia memutuskan kembali menjemput Inem setelah tadi meninggalkannya begitu saja dijalanan.


Sesampainya disalah satu mall yang besar di kota itu. Arjun memarkirkan mobilnya. Setelah mencabut kunci mobil , dia keluar dan lalu berjalan memasuki mall tersebut tanpa menghiraukan keberadaan Inem. Sedang Inem hanya bisa mengekor walaupun dalam hati dia menolak keras diperlakukan seperti ini.


Tiba didalam, Arjun merogoh ponselnya dari dalam saku jaketnya. Nampak dia menelpon seseorang. Selang beberapa lama datanglah seorang gadis cantik mengenakan dress berwarna putih dengan motif bunga berwarna pink dibagian bawahnya. Rambutnya panjang tergerai menambah elok penampilannya.


...🌸 Bersambung 🌸...

__ADS_1


__ADS_2