Inem Bukanlah Seorang Pelayan

Inem Bukanlah Seorang Pelayan
episode 22


__ADS_3

...🌸 Happy Reading 🌸...


Si gadis melenggang dengan anggunnya mendekati Arjun, melambaikan tangannya dan juga senyum manis mengembang dibibirnya. Arjunpun nampak terkesima melihat pemandangan ini hingga wajahnya yang tadi muram kini telah berubah menjadi sumringah kembali.


Berbanding terbalik dengan gadis yang ada disampingnya yang masih merasa kesal dan kini kesalnya semakin bertambah saja karna kedatangan gadis itu.


"Sayang, kenapa kamu nggak jadi menjemputku dan malah ngajak ketemuan disini? Kita mau ngapain disini?" Suara Lashira lembut dan manja.


"Maaf mendadak ada perubahan rencana." Arjun merangkul pinggang Lashira dan mencium pipi gadis itu.


Melihat itu membuat Inem berdecak kesal. Diapun memalingkan pandangannya seolah - olah tak melihat apapun.


"Iya nggak apa - apa kok sayang. Eh kok ada dia juga?" Tanya Lashira menunjukkan Inem.


"Mami menyuruhnya belanja jadi sekalian." Jawab Arjun melirik Inem.


"Oh,,, begitu ya. Trus kita mau ngapain sekarang? atau mau kemana?"


"Bagaimana kalau kita nonton aja?" Jawab Arjun.


"Hmmm boleh lah. Kebetulan ada film yang mau aku tonton." Kata Lashira.


"Terserah kamu aja."


"Tapi dia nggak ikut kita kan sayang?" Lagi - lagi Lashira menunjuk Inem.


"Tentu saja tidak, dia kan mau belanja." Jawab Arjun santai.


"Baguslah kalau gitu. Yuk sayang kita jalan sekarang!"


Lashira menggandeng lengan Arjun dan mengajaknya pergi. Namun langkah Arjun terhenti karna ada yang menarik bajunya.


"Apa?" Tanya Arjun.


Inem sang pelaku tarik baju tak menjawab pertanyaan Arjun, dia hanya menengadahkan tangan kanannya didepan Arjun.


"Mami nggak kasih?" Tanya Arjun lagi.


Inem menggelengkan kepalanya dan lalu berkata. "Disuruh minta ke kamu." Walau malas tapi Inem membuka suara.


"Haish,,, "


Arjun merogoh dompetnya dan mengambil sebuah kartu lalu memberikannya kepada Inem.


"Makasih!" Jawab Inem lalu menyimpan kartu itu kedalam tasnya.

__ADS_1


"Oh ya,,, tulis nomormu!" Arjun mengulurkan ponselnya.


"Ha,,, apa?" Inem terbengong.


"Tulis nomor ponselmu disini biar aku bisa menghubungimu nanti!" Jelas Arjun.


"Oh nomor ponsel. Hmm ok." Inempun mengambil ponsel Arjun dan lalu menuliskan beberapa angka disana.


"Tunggu aku sampai menghubungimu! Dan ingat,,,, pastikan nomormu aktif!" Setelah mengambil ponselnya kembali Arjun pun pergi bersama Lashira.


"Ughhh seenaknya aja. Suami macam apa itu meninggalkan istrinya belanja sendiri sedang dia bersenang - senang dengan wanita lain!" Guman Inem.


"Tapi emang sih penampilan wanita itu jauh lebih menarik jika dibandingkan denganku yang hanya seadanya aja." Lanjut Inem sambil menatap penampilannya sendiri dan merapikan rambutnya.


"Walaupun begitu tetep aja nggak boleh gitu dong. Dia seharusnya menghargai aku sebagai istrinya. Apa aku harus merubah penampilanku ya biar nggak dikacangin kayak gini? Ughh nggak enak banget rasanya." Inem kembali menggerutu.


"Haishhh aku ini mikir apa sih? Sadarlah Inem!" Inem memukul pelan kepalanya beberapa kali. "Mending aku belanja aja deh. Oh ya harus harus isi ponsel dulu ini biar nggak kelupaan." Inempun pergi berbelanja sendiri.


Cukup lama Inem berbelanja, memilah - milah barang yang hendak dibelinya. Setelah semuanya terkumpul diapun pergi kekasir. Ditengah perjalanan dia bertabrakan dengan seseorang yang akibatnya barang bawaannya terjatuh berceceran dilantai.


"Maaf,,, aku tak sengaja!" Kata orang yang menabraknya itu.


"Oh tak apa, aku juga tak perhatikan langkahku." Sahut Inem.


"Biar aku bantu mengumpulkannya." Orang itupun berjongkok membantu Inem memunguti barang - barang yang tergeletak dilantai.


Setelah memberikan barang milik Inem orang itupun pergi berlalu.


"Waahhh tampannya,,, " Inem terbengong menatap kepergian orang yang telah menabraknya barusan.


Tak disangka setelah beberapa langkah kepergiannya, orang itu menoleh kebelakang dan melempar senyum manis kepada Inem dan lalu pergi lagi.


"Uwaouw,,,, manis sekali 😍😍! Sungguh anugrah Tuhan yang indah." Gumannya.


Dengan senyumannya itu Inem semakin dibuat terpesona oleh pemuda itu. Pemuda tampan yang tinggi dan juga ramah.


"Hai nona,,, barangmu ada yang terjatuh." Tegur seseorang dari arah belakang.


Teguran itu membuat Inem tersadar dari lamunannya. Jadilah dia malu sendiri karena kepergok bengong dalam waktu yang lumayan lama.


"Oh iya makasih kak." Sahut Inem.


Tanpa pikir panjang lagi, Inempun mengambil barang itu dan lalu dengan langkah cepat pergi menuju ke kasir.


"Haishh,,, malunya aku." Guman Inem mengingat kejadian barusan.

__ADS_1


Saat dia melihat barang yang dipegangnya dia baru menyadari kalau barang itu tidak ada dalam daftar belanjaannya.


"Eh ini bukan punyaku." Inem membolak - balikan benda yang ada ditangannya. "Oh mungkin ini punya cowok ganteng tadi. Ya sudahlah bayar aja lah siapa tau berjodoh jumpa lagi hehehe." Inem terkekeh dalam hati.


Setelah ritual pembayaran selesai. Inem berencana pergi ketempat makan. Dia merasa lapar karena sudah muter - muter mencari barang yang diinginkannya. Namun,,, belum juga beranjak kesana tiba - tiba saja ponselnya yang tersimpan didalam tas bergetar dan mengalunkan musik yang menjadi kesukaannya. Inempun dengan segera mengambil ponselnya dan mengeceknya.


Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya. Sebenarnya Inem tergolong tipe orang yang cuek. Dia tak akan menggubris hal - hal semacam ini. Namun setelah memutar memorinya kembali, dia teringat akan perkataan Arjun tadi sebelum mereka berpisah. Jadi dia memutuskan untuk menerima panggilan itu.


...Call on....


"📞 Hallo assalamu'alaikum,,, " Suara Inem pelan.


"📞 Wa'alaikumussalam,,, datanglah ketempat makan dekat bioskop!" Jawab Arjun dari sebrang telpon.


"📞 Kemana?" Tanya Inem.


"📞 Rertoran Tulip namanya, letaknya tak jauh dari bioskop!" Jelas Arjun.


"📞 Dimana itu? Aku nggak tau, aku kan baru kali ini kesini."


"📞 Dasar bego,,, kamu kan bisa tanya sama petugas yang disana atau tanya orang - orang! Masa gitu aja nggak ngerti." Jawab Arjun ketus.


"📞 Acem,,, kalau aku bego nah kamu biangnya bego!"


...Call end...


Mendengar ucapan Arjun, membuat Inem berdecak kesal dan menutup panggilan itu secara sepihak. Dengan bermodal informasi dari beberapa orang akhirnya sampailah dia ditempat yang dimaksudkan oleh Arjun.


"Tuh orang mana sih?" Guman Inem sambil celingukan memutar pandangannya kesegala penjuru restoran.


Setelah menemukan yang dicari, Inem menghampiri dua orang yang sedang santai menikmati hidangan. Diapun ikut duduk bersama mereka. Namun nampaknya kehadiran Inem tak diinginkan oleh Lashira.


"Hei kamu,,, duduklah disana dan pesanlah makanan sendiri. Aku ingin makan berdua saja dengan Arjun." Perintah Lashira.


Inem tak mengindahkan perintah Lashira, dia hanya duduk diam sambil melihat - lihat daftar menu makanan.


"Kamu dengar nggak sih? Kamu pindah meja aja sana!"


Nampak Lashira mulai kesal karna dia tak dihiraukan dan Inem kembali diam tanpa bergeming sedikitpun.


"Kamu ini tuli ya? Atau memang tidak punya telinga?" Akhirnya Lashira hilang kesabaran dan mulai naik pitam.


"Sayang,,, "


Karena merasa usahanya tak berhasil, Lashira akhirnya mengeluarkan jurus andalannya. Memanggil Arjun dengan suara lembut dan manja dengan mimik wajah yang sendu memohon agar Arjun mau turun tangan menuruti apa yang dia mau.

__ADS_1


...🌸 Bersambung 🌸...


__ADS_2